Lea selesai dengan pelajaran nya, dan rupanya dia di panggil guru musik untuk datang ke ruang musik. Lea pun menurut datang kesana, dan rupanya di sana juga masih ada Richard yang sedang bermain piano.
" Halo, Lea.." Ujar guru musik.
Lea menatap begitu ramainya ruang musik itu, ada banyak anak anak lain yang sepertinya sedang berlatih juga. Lea yakin, dirinya di suruh datang kesana adalah untuk ikut dalam pertunjukan music tahunan yang Richard beri tahukan.
"Jika anda memanggilku untuk ikut dalam hal hal konyol itu, lebih baik tidak usah. Saya tidak ada niatan untuk ikut serta dalam hal hal seperti itu." Ujar Lea langsung.
Guru musik dan Richard terkekeh mendengarnya, Lea bisa begitu peka menebak demikian.
" Kamu sudah tahu rupanya? " Ujar Guru musik.
" Aku ikut tambahan kelas musik bukan untuk ikut serta dalam hal hal seperti itu." Ujar Lea, dengan wajah datar nya.
" Ini bagus untuk perkembangan latihanmu, Lea.. Siapa tahu nanti kamu semakin terbiasa dan permainan pianomu semakin bagus. B." Ujar Richard.
" Maaf aku tidak tertarik, lebih baik aku pulang." Ujar Lea.
" Lea.. Semakin kamu sering latihan, maka akan semakin berkembang juga keterampilan bermain pianomu. Bukankah kamu ingin agar permainan pianomu hidup? " Ujar guru musik.
" Aku akan berlatih dengan Richard saja." Ujar Lea.
" Tapi kamu juga harus ikut acara ini, baru aku mau mengajarimu." Ujar Richard.
" Kau mengancamku??" Ujar Lea, dan Richahrd terkekeh mendengarnya.
" Aku tidak berani mengancamu, Lea.. Aku hanya orang buta. Aku hanya memberimu kesepakatan, jika kamu mau berlatih denganku, maka kamu harus ikut acara itu, anggaplah ikut meramaikan." Ujar Richard.
Lea terdiam.. dia ingin permainan piano nya hidup, tapi dia tidak mau berbaur dengan keramaian. Dia menimbang nimbang dari segi manapun hingga akhirnya..
" Oke, tapi dengan syarat.." Ujar Lea.
" Apa syaratnya?" Ujar guru musik.
" Aku hanya mau bermain dengan Richard dan tidak mau berlatih bersama mereka." Ujar Lea sambil melirik ke arah anak anak lain.
" Deal!!" Ujar guru musik dengan sangat antusias.
Baik Lea maupun Richard, tidak mengerti mengapa guru musik itu seperti terlihat begitu antusias, padahal itu hanya acara tahunan yang akan di gelar ketika kelulusan mereka nanti.
" Mari kita berlatih.. " Ujar Richard.
" Hm.. Tapi ini ramai, jadi aku tidak mau." Sahut Lea singkat.
" Apakah kita akan berlatih di rumahmu, atau di rumahku? Kita memilki dua opsi." Ujar Richard.
' Orang ini benar tidak kehabisan akal. ' Batin Lea.
" Besok saja apa tidak bisa?" Ujar Lea.
" Tidak, karena lagu yang akan kita mainkan ini sulit. Kamu tidak lupa bahwa partner bermainmu ini tuna netra bukan?" Ujar Richard.
" Cih, katanya pandai bermain tanpa melihat tuts." Ujar Lea.
" Aku bisa, tapi kamu belum tentu bisa mengimbangiku." Ujar Richard.
" Oke.. Oke.. Di rumahku. " Ujar Lea akhirnya.
" Kalau begitu, ayo kita pulang dan berlatih." Ujar Richard.
Lea langsung berbalik dengan kesal, dan pergi duluan. Guru musik sampai menggeleng gelengkan kepalanya melihat Lea yang sebegitunya.
" Lea.. Kamu meninggalkan aku?" Ujar Richard.
" Cepat, jalan.. Kau membuang buang waktu. Bukankah waktu adalah uang?" Ujar Lea dari ujung pintu.
" Aku buta Lea.." Ujar Richard sambil terkekeh kecil.
" Ya, terus??" Ujar Lea.
" Setidaknya kamu tuntun aku berjalan, kamu tidak mau aku sampai salah jalan, bukan?" Ujar Richard, dan Lea memutar bola matanya.
" Berikan ujung tongkatmu." Ujar Lea akhirnya.
Akhirnya mereka berjalan sambil saling berpegangan ujung tongkat. Lea yang pada dasarnya selalu berjalan dengan cepat itu membuat Richard kualahan. Richard bahkan hampir tersungkur karena Lea tidak memberitahukan bahwa ada anak tangga di hadapan Richard.
BRUK!!
" Aduh, hei! Kenapa kamu malah menabrakku?" Ujar Lea ketika Richad menabrak dirinya dari belakang.
" Maaf, kamu tidak bilang kalau mau berhenti." Ujar Richard sambil menggosok bibirnya yang menabrak kepala Lea.
" Issh!! " Ujar Lea sambil menggosok gosok kepalanya.
" Apakah sakit? " Ujar Richard.
" Tidak! tunggu di sini, jangan kemana mana, aku mau ambil motor." Ujar Lea, dan Richard mengangguk.
Setelah mengambil motornya, Lea berhenti di depan Richard yang hanya diam saja seperti patung dan sesekali berkedip.
' Bibirnya berdarah, apa karena menabrak kepalaku?' Batin Lea.
" Hoi! Cepat naik." Ujar Lea.
" Ah, ya.." Ujar Richard.
Setelah Richard sudah duduk, Lea pun melajukan motornya menuju ke kediaman nya. Dan sepanjang jalan itu hanya keheningan yang mengisi perjalanan mereka. Lea menghentikan motornya di pinggirsn jalan, dan meminta Richard untuk turun.
" Turun.. " Ujar Lea..
"Apakah kita sudah sampai? Rumahmu dekat dengan sekolah, ya? " Ujar Richard.
" Turun saja apa tidak bisa? " Ujar Lea kesal.
" Oh, baik.. " Ujar Richard.
Perlahan Richard turun dari motor Lea, dan Lea juga turun dari motornya.
" Tunggu disini. Baik baik kau.. jangan keman mana. " Ujar Lea dan Richard mengangguk sambil terkekeh.
Lea menyeberang jalan, meninggalkan Richard yang patuh berdiri di samping motor Lea. Lea masuk ke dalam sebuah apotek dan membeli sesuatu, tak lama Lea kembali keluar dari apotek dan kembali menyeberang menghampiri Richard.
" Nah, obati luka di bibirmu. " Ujar Lea.
" Ha? " Sahut Richar kebingungan.
" Bibirmu berdarah, obati lebih dulu. " Ujar Lea.
" Oh, iya kah? Aku tidak tahu. Tapi bagaimana caranya aku mengobati luka di bibirku, aku buta. " Ujar Richard.
" Aku instruksikan, ini.. bersihkan darahmu dengan ini." Ujar Lea sambil memberikan sebuah kapas yang sudah di beri alkohol.
Richard meraih kapas yang berada di tangan Lea dan mengusapkan nya ke bibirnya, karena Richard tidak tahu dimana letak lukanya, ia pun mengelap keseluruhan bibirnya.
" Bodoh, kenapa kau ratakan.." Ujar Lea.
" Aku tidak bisa melihat Lea, aku tidak tahu dimana letak luka ku. " Ujar Richard.
" Ck, kemarikan! " Ujar Lea.
Akhirnya Lea yang membersihkan sisa darah di bibir Richard, sejujurnya Lea enggan membantu Richard tetapi dia juga tidak punya pilihan lain.. akhirnya dia membantu Richard. Dengan sangat pelan, Lea mengusap bibir Richard dengan alkohol untuk membersihkan kuman yang menempel di luka itu, baru dia menempelkan sebuah plaster.
Lea baru sadar jika plaster yang ia tempelkan itu bermotif anak anak, dan juga.. berwana pink.
" Pft! " Lea hampir tertawa.
" Kenapa kamu tertawa, Apakah ada yang lucu?? " Ujar Richard.
' Eh, apakah aku sungguh tertawa barusan? ' Batin Lea..
" Akhirnya kamu bisa tertawa juga?" Ujar Richard.
" Mana ada aku tertawa, ayo cepat sebentar lagi hujan." Ujar Lea.
Richard terkekeh dan kembali naik keatas motor Lea.. Dan seolah doa Lea terkabulkan, tak lama setelah mereka melaju pergi dari sana, langit tiba tiba menjadi gelap dan semakin gelap. Lea yang benci hujan itu pun menepikan motornya ke sebuah bengunan kosong di tepi jalan.
" Apakah kita sudah sampai? " Ujar Richard.
" Belum, sebentar lagi hujan, dan aku tidak mau kehujanan. " Ujar Lea, dan benar saja.. hujan turun setelah Lea berkata demikian.
ZZZZRRRRAAAASSSS!!!!! Suara hujan besar yang turun.
" Kamu masih benci hujan? " Ujar Richard.
" Siapa orang dewasa yang suka hujan, tidak ada.. " Ujar Lea.
Lea benci hujan, karena hujan mengiringi teriakan pertengkaran antara Livy dan Anton saat dirinya kecil dulu. Jika dia melihat hujan turun, maka dia akan teringat dengan kejadian kelam itu.
TO BE CONTINUED.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments