Lea dan Juno berada di ruang guru saat ini, Wajah Juno seakan sangat tersiksa untuk membuat guru jadi memihak padanya.
" Jelaskan, apa yang terjadi." Ujar Guru.
" Juno merusak motor saya." Ujar Lea singkat.
" Benar itu Juno?" Tanya guru pada Juno.
" Ya, tapi saya tidak tahu itu motor dia." Ujar Juno.
" Walau bukan motor Lea, kau jugs tidak boleh merusak motor orang sembarangan. Memangnya apa salah motor itu?" Ujar guru.
" Dia parkir di tempat parkirku, pak. Jadi saya beri dia pelajaran dengan merusak motornya saja. Tapi dia juga merusak mobilku. Harga motornya dengan mobilku itu tidak sebanding." Ujar Juno.
" Jika kau tidak merusak milikku, maka aku tidak akan merusak milikmu. Kau hanya tinggal memindahkan motorku saja, selesai.." Ujar Lea.
" Lea benar." Ujar sang Guru.
" Tapi dia membantingku ke tanah pak, dan dia juga menginjak tanganku dengan sepatunya. Lihat! Tanganku berdarah." Ujar Juno memperlihatkan jari tangan nya pada guru.
" Kenapa kamu membanting Juno ke tanah, Lea? " Tanya guru.
" Karena dia yang lebih dulu ingin menyerangku." Ujar Lea.
" Bohong.. Aku hanya ingin mendekat, tapi dia langsung membantingku ke tanah." Ujar Juno.
Hal seperti itu yang Lea tidak sukai, dimana orang orang yang mengganggunya justru memulai playing victim.
" Lea, kau tidak bisa berbuat seperti itu dengan teman kelasmu. Dia merusak motormu , dan kamu merusak mobilnya.. Bukankah itu impas? Kenapa kamu harus membantingnya ke tanah dan menginjak tangan nya?" Ujar sang guru.
" Jika anda tidak melihat keseluruhan kejadian, maka jangan menjadi hakim disini." Ujar Lea, spontan.
" Dan kau! Terus saja berlagak menjadi korban.. Laki laki seperti dirimu ini, cocok mendapat predikat sampah sekolah." Ujar Lea, menatap tajam Juno.
Juno tentu terkejut, Lea bisa begitu berani berkata tanpa berpikir konsekuensi nya, padahal pada gurunya sendiri tapi Lea langsung spontan bicara demikian.
" Jika anda ingin memberi hukuman, maka hukum saja.. Silahkan. Tapi maaf, saya tidak punya waktu berdiri disini lebih lama seperti orang bodoh dan melewatkan jam makan siangku." Ujar Lea dan langsung berbalik pergi meninggalakn guru itu dan Juno yang menatap tidak percaya dengan keberanian Lea.
" Jadi Juno.. Apakah sebenarnya yang terjadi??" Tanya guru itu.
" Bapak tahu siapa ayah saya bukan?" Ujar Juno tiba tiba.
" Jadi menurutmu karena ayahmu berkuasa, kau bisa berbuat semaumu??" Tanya Guru.
" Kamu tahu bahwa saya bukan seperti guru guru yang lain nya bukan? Saya tidak memihak pada siapapun itu. Saya mengadili, seadil adilnya tanpa memandang status dan latar belakang kalian." Ujar guru itu.
Juno mengeratkan rahangnya mendengar guru itu berbicara demikian.
" Kau di hukum, bersihkan toilet sekolah dan juga selesaikan baik baik masalahmu dengan Lea." Ujar guru itu lagi.
" Baik." Ujar Juno akhirnya, dan pergi keluar dari kelas.
Lea sendiri kini berada di kantin, dia sama sekali tidak mempermasalahkan motornya yang sudah rusak parah. Dia justru sedang menikmati makan siangnya
" Lea!!!" teriak Juno.
Lea sama sekali tidak menggubris teriakan Juno itu , ia fokus saja dengan makanan nya.
" Hei! Kau tuli? Aku memanggilmu." Ujar Juno.
" Berisik." Ujar Lea.
" Ish! Makhluk ini benar benar seperti beruang kutub. Gara gara kau, aku di hukum oleh guru." Ujar Juno.
Lea hanya diam saja sambil memakan makanan nya, tanpa menghiraukan Juno. Hingga saking kesalnya Juno sampai pergi sendiri dari sana
dan akhirnya kelas kembali di mulai.
Setelah kelas selesai Lea jalan menuju ke kelas musik yang akan dia ikuti. Dan disana dia bertemu dengan Richard.
' Kenapa dia disini.' Batin Lea.
" Halo, apakah kamu murid baru yang mengikuti les musik piano? " Tanya seorang pria yang seprtinya adalah seorang guru disana.
" Ya, saya Lea. " Ujar Lea.
" Lea?? Apakah itu kau? " Tanya Richard. Richard menghentikan lantunan pianonya ketika mendengar suara Lea.
" Hm, sedang apa kau disini? " Tanya Lea.
" Main piano, apa kau tidak lihat?" Tanya Richard.
" Tentu saja aku lihat, aku tidak buta. Justru aku bertanya orang buta sepertimu, sedang apa berada disini." Ucap Lea dan guru musik itu sampai terperanga mendengar ke spontanan Lea.
Richard justru terkekeh mendengarnya, dia sudah terbiasa dengan ucapan kasar dan bar bar Lea sejak kecil. Memang begitulah dia.
" Apakah kamu juga mengambil kelas tambahan musik?" Tanya Richard.
" Hm.." Sahut Lea singkat.
" Apakah dia bisa bermain piano? Dia bahkan tidak bisa melihat." Ujar Lea pada guru musik.
" Richard sudsh ahli dalam piano sebelumnya, dia bisa bermain tanpa melihat tuts piano nya. " Ujar guru piano.
" Oh, hebat juga." Ujar Lea.
Richard tak henti hentinya tersenyum mendengar Lea bicara.
" Kamu mau bermain bersama denganku? Untuk perkenalan kita di kelas musik. " Ujar Richard.
" Oh, itu ide yang bagus." Ujar Guru musik.
" Ya, boleh." Ujar Lea.
Lea duduk di sebelah Richard, dan Lea baru menyadari bahwa jari jari tangan Richard memang indah. mencerminkan jari seorang pemain piano.
" Kau tidak sekolah disini, kenapa kau bisa bermain musik disini?" Tanya Lea, dan Richard terkekeh.
" Aku sekolah disini, hanya saja aku sedang libur karena.."
" Kau buta?" Ujar Lea.
" Ya.. Jadi aku hanya mengambil les musik saja. Karena guru disini, adalah yang terbaik. " Ujar Richard.
" Aku tidak tanya." Ujar Lea, dan Richard tersenyum.
" Baiklah, ayo kita bermain." Ujar Richard.
Richard memulai alunan pertama piano itu dan Lea terdiam ketika mendengar apa yang Richard mainkan. Itu adalah alunan nada pertama yang pernah Lea dengar saat ia kecil dulu. Yang membuat Lea menyukai dan mencintai musik, terutama piano.
Dan dengan gerakan cepat Lea mengimbangi Richard. Keduanya bermain dengan tenang dan indah hingga guru musik pun menatapnya bagai lukisan yang indah.
Mereka berdua, bagaikan pasangan yang di takdirkan untuk bertemu, padahal sejujurnya baik Richard atau Lea hanyut dengan perasaan mereka sendiri saat ini.
Hingga nada terakhir dan alunan itu pun berhenti, guru musik itu mengusap air matanya saking begitu terkesima dengan permainan dua orang itu.
" Kamu juga ahli dalam memainkan piano? Kamu bermain dengan bagus. " Ujar Richard.
" Aku tidak butuh di puji." Ujar Lea.
" Richard, untuk kelasmu sudah selesai. Kini giliran Lea yang bermain." Ujar guru.
" Baik, terimakasih atas ajaran nya pak. Tapi saya ingin mendengarkan Lea bermain musik." Ujar Richard.
" Apa apan kau?" Ujar Lea.
" Aku hanya ingin mendengar, bukankah tadi kita sudah berteman?" Ujar Richard.
" Aku tidak bilang." Ujar Lea.
" Tapi kita sudah bermain piano bersama." Ujar Richard, dan Lea terdiam.
" Terserah." Akhirnya hanya itu yang Lea ucapkan.
Richard tersenyum, dan dia duduk di tempat duduk lain untuk mendengarkan bagaimana Lea bermain piano. Lea memainkan nada yang indah, karena namun terkesan dingin.
Tidak seperti saat Lea bermain bersama Richard, permainan Lea kali ini seperti jiwa tak bernyawa.
" Lea.. Apakah kamu sedang dalam suasana hati yang buruk?" Tanya guru itu.
" Tidak." Ujar Lea.
" Musik di mainkan dengan hati yang tenang dan damai, baru bisa melahirkan alunan alunan nada yang indah dan menyentuh hati. Permainan pianomu sudah bagus, tapi bagai jiwa tak bernyawa." Ujar guru itu.
" Jadi apa maksud anda, jangan berputar putar." Ujar Lea.
" Saat kamu bermain dengan Richard, permainan mu hidup. Tapi sekarang permainan mu sepi.. " Ujar Guru.
" Lea, kamu bisa belajar untuk mulai mengendalikan suasana hatimu. Agar kamu bisa melahirkan musik yang indah." Ujar guru itu lagi.
Lea menatap Richard yang hanya diam mendengarkan, memang benar.. Saat tadi bermain dengan Richard, Lea merasakan ketenangan. Dan Lea merasa aneh dengan hal itu.
' Kenapa bisa begini.' Batin Lea..
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments