Lea sudah selesai dengan kegiatan sekolahnya, ia pun berjalan menuju ke parkiran motor untuk pulang kerumah nya. Tiba tiba ia menghela nafasnya ketika melihat kondisi motornya.
" Pasti mereka lagi, dasar serangga." Gumam Lea.
Motornya di coret coret menggunakan lipstik, dan sudah bisa di pastikan siapa pelakunya, pastinya Alika and the gank. Dan benar saja, Alika muncul bersama dua teman nya.
" Hahahaha.. Lihat motor siapa ini? " Ujar Alika salbil tertawa terbahak bahak.
Lea menatap malas ketiga makhluk yang sejenis dengan dirinya itu, mereka sejenis tapi entah mengapa Lea merasa mereka seperti makhluk luar angkasa.
" Bibirmu..." Ujar Lea.
Alika menghentikan tawanya dan menyentuh bibirnya, mendengar Lea mengucap kata bibir.
" Ada apa dengan bibirku? Oh... kamu pasti iri kan, dengan bibirku? Tentulah.." Ujar Alika percaya diri.
" Hasil operasian saja bangga, dan lagi.. Bisakah kamu menghapus warna lipstik yang merah seperti darah itu? Kamu bagai penyihir yang baru saja makan bayi." Ujar Lea
" What!! Beraninya kamu!!" Teriak Alika.
" Bukankah sudah ada peraturan nya? Dilarang menggunakan make up di sekolah. Dan kalian.. Seperti badut di acara ulang tahun." Ujar Lea lagi.
" Ka- kamu!! " Ucap Alika kehabisan kata kata.
" Lain kali jadilah gadis yang bermutu. Apakah kau mendapat keuntungan dengan menggangguku?" Ujar Lea.
" Tentu saja, aku jadi terhibur.." Ujar Alika dan di susul tawa oleh kedua teman nya.
" Apakah hidupmu sesulit itu untuk tertawa, sehingga harus mengganggu orang terlebih dahulu? Ck..ck.. Dan juga, jika kau ingin mengganggu seseorang, setidaknya lihat dulu siapa yang kau ganggu." Ujar Lea.
Lea maju dan tiba tiba menarik paksa jaket sekolah milik Alika dari pinggang Alika. Lalu ia menggunakan jaket itu untuk menghapus noda lipstik yang Alika buat.
" Hei!! Beraninya kau! Kembalikan." Ujar Alika.
Lea tidak menggubris dan terus menghapus lipstik itu dengan jaket Alika. Setelah lipstik itu hilang, Lea pun melemparkan jaket Alika ke wajah Alika.
" Jaga jarak dariku selagi aku masih baik. Kamu tidak tahu orang orang yang menghangguku berakhir seperti apa, bukan? Aku sedang tidak ingin membuat orang menangis, jadi baik baiklah kau bersikap." Ujar Lea, sambil menatap tajam Alika.
Alika sedikit ngeri dengan tatapan Lea, Lea terlihat seperti singa yang yang sangat mengintimidasi walaupun sedang diam. Perlahan Alika mundur dan akhirnya Lea juga menaiki motornya lalu pergi dari sana.
" Ish!! Dasar gadis aneh." Ujar Alika ketika Lea sudah pergi.
Lea mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Namun tiba tiba lampu merah menghentikan nya, Lea pun berhenti. Tiba tiba muncul Richard yang hendak menyeberang dengan tongkatnya.
" Haish! Bodohnya dia, sudah buta masih saja berkeliaran. " Gumam Lea, sambil menatap malas Richard.
Lea melihat waktu detik lampu merah yang semakin menipis namun Richard belum sampai di ujung penyeberangan.
" Haish!! " gumam Lea.
Lea melajukan motornya, dan berhenti di tengah jalan dengan posisi motor yang menyilangi jalan. Ia membantu Richard menyeberang, dengan cara lain dari yang lain.
Dan benar saja, Richard belum sampai di ujung jalan dan lampu merah menjadi hijau. Lea mengangkat tangan nya ketika klakson mulai banyak terdengar.
' Cepat bodoh, lambat sekali.' Batin Lea mengumpati Richard.
Richard yang mendengar bunyi klakson pun mempercepat langkahnya hingga akhirnya ia sampai di ujung penyeberangan, setelah itu Lea sendiri langsung berbelok dan melanjutkan jalan perjalanan nya.
Richard sendiri kini sedang merasa heran, ia yakin seharusnya mungkin lampu sudah menjadi hijau sejak tadi, tapi dia masih bisa menyeberang dengan aman.
" Apakah ada yang membantuku menyeberang jalan, tadi?" Gumam Richard merasa heran.
Namun ia tak begitu mengambil pusing, dia pun melanjutkan perjalanan nya. Sejujurnya Richard saat ini sedang tersesat, karena maps nya sedikit kehilangan koneksi internet.
" Halo, mang.. Apakah bisa jemput saja di pinggiran jalan. Saya kirimkan lokasi saya saat ini." Ujar Richard menghubungi supirnya.
Tentu saja dia menggunakan suaranya untuk menggunakan ponselnya, beruntungnya di dunia yang serba canggih ini membuat apapun itu serba mudah. Bahkan orang buta saja bisa menggunakan ponsel.
" Terimakasih, saya sudah mengirimkan lokasinya." Ujar Richard.
Di tempat lain, Lea sudah sampai di rumahnya. Dan ternyata Livy juga sudah ada di rumah.
" Mama sudah pulang?" Tanya Lea.
" Ya, sayang. Bersiaplah, malam ini kita akan menghadiri acara ulang tahun anak tante Fitty. Kamu ingat tante Fitty tidak?" Tanya Livy.
" Tante Fitty, bukankah dia pindah jauh?" Ujar Lea.
" Ya, dia sebenarnya sudah kembali dan menetap lama di Jakarta. Bersiaplah, jam lima sore kita jalan dari rumah." Ujar Livy.
" Lea banyak PR ma, mama saja yang pergi." Ujar Lea.
" Eih, kok begitu.. Sayang, kamu harus bersosialisasi.. Kamu tidak punya satupun teman, entah itu laki laki atau perempuan. Mama ingin melihat kamu berbaur dengan teman teman sebayamu nak." Ujar Livy.
" Ma, ini Lea.. Beginilah Lea apa adanya ma, mama tidak bisa memaksa Lea menjadi ini dan itu. Mama tahu sendiri Lea.." Ujar Lea membuncah, tapi kemudian ia diam ketika melihat Livy diam dan berkaca kaca.
" Maaf, mama hanya.. hanya.." Ujar Livy.
" Maaf, ma.. Lea tidak bermaksud membentak mama. Baiklah , Lea pergi dengan mama." Ujar Lea akhirnya mengalah dan memeluk Livy.
Lea paling tidak bisa melihat ibunya itu menangis, walau sejujurnya dia juga tidak suka jika harus di atur dengan sesuatu yang tidak dia sukai.
" Terimakasih, sayang." Ujar Livy.
Dan akhirnya.. Mereka kini sama sama bersiap. Lebih tepatnya Livy yang sedang menyiapkan Lea. Lea yang begitu tomboy itu tidak bisa sama sekali ber make up, apalagi memilih gaun.
" Apakah sudah ma? Kenapa aku merasa seperti sedang di kuliti hidup hidup, ini sangat lama." Ujar Lea dan Livy pun terkekeh.
"Mana ada di kuliti seperti ini rasanya? Memangnya kamu peranh menguliti orang? " Ujar Livy sambil terkekeh.
" Apapun itu, intinya ini sangat lama. Aduh, punggung Lea sampai sakit dusuk sangat lama. " Ujar Lea mengeluh.
" Sudahi keluahanmu.. Mama sudah selesai, sekarang buka matamu." Ujar Livy.
Lea membhka matanya dan menatap kaca, Lea sangat terkejut melihat pantulan dirinya di kaca.
" Astaga!! Ondel ondel dari mana dia?" Ujar Lea melihat pantulan dirinya sendiri.
" Ih... Kok ondel ondel, mama kan mendandani kamu sangat cantik begini, masa di bilang ondel ondel." Ujar Livy.
" Eh, ini Lea ma?? Kok beda?" Ujar Lea heran sendiri.
" Itulah the power of make up sayang. Kamu sangat cantik sekarang. " Ujar Livy.
" Tapi ma, Lea merasa wajah Lea seperti terasa tebal. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan gatal." Ujar Lea.
" Eit, jangan di sentuh.. Nanti rusak." Ujar Livy saat Lea hendak menggaruk pipinya.
" Gatal ma.." Ujar Lea.
" No.. No.. No.. Jangan di garuk. Ayo kita bersiap sekarang, kita terlambat." Ujar Livy, dan Lea hanya bisa pasrah saja dengan sang ibu.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments