Lea sampai di rumahnya dan langsung turun tanpa menunggu Livy. Ia langsung masuk kedalam kamar nya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan make up nya.
Setelah benar benar bersih, ia pun mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai dan turun kembali ke bawah dimana Livy berada saat ini.
" Lea.. Apakah disana terjadi sesuatu yang memicu amarahmu?" Tanya Livy.
" Tidak usah di bahas, ma. Lea lupa." Ujar Lea bohong.
Tentu saja semua kata kata Richard masih begitu terngiang di telinga Lea. Tapi Lea tidak mau jika sampai lepas kendali dan berakhir membentak sang mama.
" Lho, kamu mau makan? apa disana tidak makan?" Tanya Livy heran melihat Lea membuka lemari yang berisi semua koleksi mi instan nya.
" Tidak, disana semua makanannya hambar. Mama kalau lelah istirahat saja, Lea bisa sendiri." Ujar Lea.
" Lea, mi instant tidak baik untuk kesehatan, jangan terlalu banyak." Ujar Livy.
" Hmm.." Sahut Lea singkat.
Livy menghela nafas dan pergi dari sana. Sejak perceraian itu, atau lebih tepatnya sejak pertengkaran malam itu Lea menjadi pribadi yang tertutup dan keras. Lea sangat keras bahkan dengan dirinya sendiri, ia tidak pernah menangis walau karena hal apapun.
Lea membuka ponselnya dan melihat sekiranya ada hal apa yang bisa membuat hatinya menjadi lebih baik, tapi malah melihat berita tentang ayahnya yang sedang merayakan acara ulang tahun anaknya dan di siarkan secara live di media mana pun.
" Ck, mengotori mataku saja." Gumam Lea dan ia mematikan ponselnya.
Setelah mi instan nya matang, Lea langsung memakan nya dengan hati yang kesal. Dan setelah selesai, ia pergi ke atas ke kamarnya. Kamar Lea adalah kamar paling besar di rumah itu, karena Lea disana memiliki ruangan khusus untuk dirinya bermain musik.
Lea membuka tirai panjang di kamarnya, sementara lampu lampu di dalam kamarnya ia matikan, hanya cahaya bulan yang menerangi kamar Lea.
Perlahan Lea duduk di kursi piano, dan jari jari nya mulai menari diatas tuts piano itu sambil bernyanyi..
" Oh setiap hari dan setiap malam, Rasa sakit dan pikiran kriminal yang terus menerus.. "
"Malam malam detak jantungku membuatku terjaga.. Bulan sabit yang sedih tergantung di luar jendela.. "
"Aku berharap malam yang indah.. Lebih dari statusku, adalah kehidupan yang terlalu besar.. Dengan putus asa memegang balon yang melayang. "
" Aku bertanya, dimana kau bisa berada sekarang, kemana kau pergi, kemana mimpimu.. "
" Akan menyebar, melintasi langit itu..nyalakan bunga.. Bunga.. Karangan bunga.. Bunga.."
Lea memainkan piano nya dengan menyanyikan sepenggalan lagu yang sering ia dengarkan akhir akhir ini, Wild flower.
Hanya dengan bermain musik atau mendengarkan musik, hati Lea yang sebelumnya begitu panas akan kembali tenang lagi.
" Aku bisa bahagia.. Aku tidak butuh mereka yang hanya bisa menyakiti. " Ujar Lea setelah selesai dengan pianonya.
Akhirnya Lea tidur dengan keadaan kamar yang gelap dan hanya di sinari cahaya bulan. Livy masuk kedalam kamar Lea ketika sudah tak terdengar lagi lantunan piano dari kamar Lea.
' Setiap kamu sedih, tidak pernah sedikitpun kamu membaginya dengan mama. Mama iri dengan piano yang selalu kamu jadikan tempat curhat, nak. Mama ingin kamu terbuka seperti anak anak lain nya. ' Batin Livy.
' Maafkan mama yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Mama tidak pernah bisa mengerti isi hatimu, karena kamu menguncinya dengan rapat dan kamu pendam sendiri.' Batin Livy lagi.
Ibu mana yang ingin melihat anaknya begitu tertutup dan dingin dengan sekitarnya. Lea pemarah, kasar, dan keras kepala. Dia tidak suka orang lain mengkritik dirinya dan kehidupan nya, karena bagi Lea mereka tidak berhak.
Livy selalu mencoba untuk perlahan maauk dalam keseharian Lea, tapi selalu tidak bisa karena dia sendiri sibuk. Jadilah Lea semakin dingin dan tertutup.
____________________
Ke esokan harinya..
Lea sudah rapi dengan seragam sekolahnya, dan ia turun dari atas kamarnya me uju meja makan.
" Ma, apakah ada sesuatu yang mama butuh Lea lakukan? " Ujar Lea.
" Mmm... Sepertinya tidak ada, kenapa sayang? " Tanya Livy.
" Lea ada kelas tambahan musik, mungkin Lea akan pulang semakin sore." Ujar Lea.
" Oh... Baiklah, mama tidak butuh Lea hari ini." Ujar Livy.
" Ya sudah, Lea berangkat dulu ma." Ujar Lea.
" Lho, kamu tidak makan sarapanmu dulu?" Ujar Livy.
" Lea terlambat." Teriak Lea.
Lea menaiki motornya dan langsung tancap gas pergi menuju ke sekolah. Hingga sampailah dia di sekolah, beruntung dia tidak benar benar terlambat.
" Haish! Penuh." Ujar Lea ketika melihat parkiran motor yang penuh.
Akhirnya Lea memarkirkan motornya di parkiran mobil karena waktu sudah sangat mepet. Ia bahkan berlari menuju ke kelasnya.
BRUK!!
Lea menabrak seseorang yang ternyata adalah Juno.
" Hei, jalan yang benar apa tidak bis... Eh, halo Lea.." Ujar Juno.
Lea hanya melirik sekilas lalu masuk kedalam kelas meninggalkan Juno yang kini wajahnya berubah menjadi sinis.
" Ck, gadis sok dingin itu benar benar.. Aku akan buat pelajaran untukmu nanti." Gumam Juno.
Juno masuk ke kelas, dan melihat kearah Lea dengan senyum misteriusnya. Kelas di mulai dan Lea pun mengikutinya dengan fokus, hingga jam istirahat di mulai.
Lea keluar dari kelas, dan melihat beberapa orang berlarian menuju ke lapangan sekolah yang dekat dengan tempat parkir.
" Hei, Juno sedang merusak motor siswi baru itu." Bisik seseorang pada teman nya dan Lea mendengarnya.
Lea pun berjalan membelah kerumunan dan berakhir melihat motornya yang sedang di rusak oleh Juno. Lea melirik ke belakang motornya dan sepertinya itu adalah mobil Juno terlihat dari platnya yang menggunakan nama Juno.
KKRAK!! Suara spakbor motor Lea yang di tendang hingga pecah.
" Ini adalah ganjaran karena memarkir motor sembarangan, siapa pemilik motor ini!! Beraninya parkir di tempat parkirku."Ujar Juno.
" Aku." Sahut Lea.
Juno tersenyum sinis melihat Lea, lalu ia maju dan menghampiri Lea.
" Jadi itu motormu? Maaf aku tidak tahu bahwa itu motormu." Ujar Juno.
" Tidak masalah." Ujar Lea.
Lea pergi dan mengambil batu yang besar, Lea tidak hanya mengambil satu, tapi dua. Lea berjalan menuju kearah motor nya lalu melayangkan satu batu di kaca depan mobil Juno, san saru lagi di bagian kap depan mobil Juno.
" Hey!! beraninya kau merusak mobilku!!"Teriak Juno.
" Oh, jadi itu mobilmu?? Maaf aku tidak tahu bahwa itu mobilmu. " Ujar Lea santai.
Juno sampai mengepalkan kedua tangannya karena menahan emosi. Itu adalah mobil kesayangan nya, hadiah dari sang papa di ulang tahun nya beberapa minggu lalu, dan Lea merusaknya.
" Jika barangmu tidak mau di sentuh orang, maka jangan sentuh barang orang lain." Ujar Lea.
Juno mebcengkeram kerah baju Lea tapi dengan sigap Lea juga mencengkeram kerah baju Juno lalu membantingnya kelantai.
BRUK!!
" Ugh!! " Lenguh Juno kesakitan.
Semua yang menatap itu sampai ngeri melihatnya. Juno, di banting begitu saja bagai karung beras. Lea menghampiri Juno dan menginjak jarinya
" Aaarrg!!! Sakit, bren*sek! " Teriak Juno.
" Katakan, tanganmu harus di hukum karena merusah barang milik orang lain." Ujar Lea dan semakin menekankan kakinya di atas tangan Juno.
" Aaargh!!! Sakit, ampun.. Ampun.. Aku minta maaf." Ujar Juno sampai menangis merasakan sakitnya tangan nya di injak.
Lea turun dari tangan Juno, lalu kemudian dia menatap tajam Juno.
' Inilah mengapa aku membenci laki laki, sok jagoan, sok berkuasa, padahal lemah. Hanya bisa bermulut besar, baj*ngan.' Batin Lea lalu membawa pergi motornya dan ia parkirkan di tempat parkir motor.
" Ada apa ini!!" Teriak suara guru.
" Pak, tolong saya.. Lea menyiksa saya. Dia memukuli saya dan merusak mobil saya." Ujar Juno mengadu.
' Mampus kau! Beraninya membuatku di permalukan.' Batin Juno.
" Athalea Adeline! Ikut saya ke kantor, kau juga Juno." Ujar guru itu.
"Ck! Pecundang." Ujar Lea pada Juno dan pergi mengikuti sang guru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments