Setelah kepergian Anton, Lea kembali duduk dengan emosi. Anton benar benar merusak mood baiknya yang ingin menikmati hot pot nya.
" Sayang, kamu tidak serius dengan kata katamu kan? " Ujar Livy.
" Kata kata yang mana? " Ujar Lea.
" Kamu tidak sungguhan ingin membalas dendam pada papa mu kan? " Ujar Livy.
" Kenapa?? Jangan bilang mama akan keberatan dengan keputusan Lea. " Ujar Lea kesal.
" Sayang, dia papa mu walau bagaimana pun.. dia papa biologismu, kamu mau menyakiti papa mu sendiri? " Ujar Livy.
" Memangnya kenapa kalau biologis? Dia bahkan tidak pandang bulu ketika menghina dan menyakiti perasaan kita. Dia bukan papaku, papaku sudah mati sejak dulu kala. " Ujar Lea.
" Lea.. "
" STOP, MA!! ayo kita pulang. " Ujar Lea, memotong ucapan Livy.
" Kamu makan dulu, ya... " Ujar Livy.
" Lea sudah tidak lapar. " Ujar Lea.
Lea memanggil karyawan dan meminta tagihan untuk makanan nya, karyawan restoran itu sampai bingung karena makanan di meja masih sangat banyak, bahkan utuh. Setelah membayar, Lea menggandeng tangan Livy lalu keluar dari sana menuju mobilnya.
" Antar nyonya pulang dengan selamat. " Ujar Lea kepada sang supir.
" Lea, kamu mau kemana? " Ujar Livy.
" Lea ada urusan, tolong mama pulang dan jangan kemanapun. " Ujar Lea.
" Jalan. " Ujar Lea kepada supirnya, dan sang supir pun mengangguk.
Setelah Livy pergi, Lea melambaikan tangan nya memanggil taksi, tujuan nya saat ini adalah ke rumah sakit guna mengecek sampel DNA milik Anton dengan DNA miliknya. Saat Lea mencekik Leher anton, dia juga mengambil rambut milik Anton.
" Sudah cukup kau menghina ibuku, tidak akan aku biarkan kau terus menginjak injak harga diri ibuku. " Gumam Lea, lalu taksi pun melaju kearah rumah sakit.
Tak lama Lea sampai di rumah sakit, ia memberikan sampel rambut milik Anton dan ia mencabut rambutnya sendiri lalu berkata kepada sang dokter..
" Tolong cek sampel ini, dok. " Ujar Lea.
" Baik. " Ujar sang dokter.
" Berapa lama kira kira hasilnya akan keluar? " Tanya Lea.
" Bisa dua atau tiga hari kerja untuk pencocokan DNA." Ujar sang dokter.
" Baik, terimakasih. " ujar Lea..
Lea pun kembali pergi dari rumah sakit.
Beberapa hari kemudian..
Lea sudah rapi dengan seragam sekolahnya, dan untuk kali ini dia kembali membawa motornya seperti biasa.
" Lea, sayang.. kamu belum sarapan. " Teriak Livy dari pintu masuk rumah.
" Lea terlambat ma.. " Teriak Lea dan langsung melesat pergi.
" Astaga.. Punya anak perempuan satu, kenapa serasa aku memiliki anak laki laki. Kemanapun dia pergi menggunakan motor." Gumam Livy sambil menggelengkan kepalanya.
Lea saat ini dalam perjalanan, sejujurnya dia tidak langsung ingin ke sekolah, melainkan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengambil hasil tes DNA nya.
Dan tak lama dia pun sampai di rumah sakit, ia langsung pergi mencari dokter.
" Bagaimana dengan hasilnya, do" Tanya Lea.
" Cocok.. 99,9 % sama. Yang artinya kedua sample itu memiliki hubungan darah." Ujar sang dokter.
" Bagus, terimakasih dok." Ujar Lea, dan Dokter mengangguk.
Lea pun keluar dari rumah sakit dan kembali menaiki motornya. Namun saat ia hendak keluar dari parkiran, dari jauh ia melihat sosok yang di kenalinya.
" Itu... Richard?" Gumamnya.
" Sedang apa dia di sini? Apa dia juga dari rumah sakit?" gumamnya lagi.
Lea pun melajukan motornya dan mendekat kearah Richard yang sedang melambaikan tangan nya ke udara.
" Sedang apa kau di sini?" Ucap Lea kepada Richard.
" Eh, Lea?? Kamu di sini? " Ujar Richard.
" Aku bertanya malah balik di tanya." Ujar Lea datar, dan Richard terkekeh.
" Maaf, aku hanya terkejut karena tiba tiba ada kamu disini. Aku sedang mencari taksi. " Ujar Richard.
" Kau tidak takut mobil yang kau naiki itu bukan taksi?" Ujar Lea.
Sebagai pengidap paranoid, Lea selalu berhati hati dengan apapun itu. Dia selalu mudah curiga dengan apapun yang orang lain lakukan terutama jika itu menyangkut dengan dirinya sendiri.
Lea tidak mudah percaya dengan orang lain, meskipun dia berusaha untuk menutupi ke paranoidan nya itu, dia masihlah sering menunjukan sikap khawatir yang berlebihan.
" Memangnya siapa yang akan mencilik orang buta seperti diriku? Di jual pun aku pasti tidak laku." Ujar Richard terkekeh.
" Aku dengar organ dalam manusia laku di jual, aku yakin kau sangat sehat selain kau buta. Pasti akan laku di jual bukan?" Ujar Lea, dan Richard pun terbahak mendengarnya.
" Aku serius, kau menganggapku lelucon? " Ujar Lea.
" Maaf.. aku tidak bermaksud membuatmu menjadi lelucon. Tapi kamu sangat lucu." Ujar Richard.
" Sudahlah, kau mau kemana?" Ujar Lea, kesal.
" Ke sekolah.. Aku akan berlatih untuk pertunjukan tahunan nanti." Ujar Richard.
" Pertunjukan tahunan? " Ujar Lea bingung.
" Saat kita lulus nanti, kita akan melakukan pertunjukan untuk perpisahan. Dan setiap orang harus ikut serta untuk meramaikan acara itu." Ujar Richard menjelaskan.
" Aku tidak mau tahu, cepat naik kita akan terlambat ke sekolah." Ujar Lea, dan Richard mengangguk.
Richard naik ke atas motor Lea, dan duduk dengan tenang. Anehnya ketika Richard memegang pundaknya, Lea tidak merasa risih sama sekali. Lea pun melajukan motornya menuju ke sekolah.
" Dimana supirmu?" Tanya Lea sambil memgemudikan motornya.
" Ha?? Aku tidak dengar." Ujar Richard.
" Dimana supirmu?" Teriak Lea lagi.
" Apa? Aku sungguh tidak dengar." Teriak Richard.
Richard memajukan kepalanya dan saat itu Lea menoleh ke kiri, dan Lea tidak sengaja mencium pipi kanan Richard.
' Astaga! 'Batin Lea terkejut. Lea langsung menghapus bibirnya yang tidak sengaja mencium Richard.
" Eh, apa itu yang menyentuh pipiku?" Tanya Richard bingung.
" Oi!! Bisa duduk dengan benar tidak?!! " ujar Lea kesal ketika Richard bersuara.
" Maaf, tapi aku merasa sesuatu mena.."
" Diam!" Bentak Lea semakin kesal dan memotong ucapan Richard.
" Maaf.." Ujar Richard.
Dan tak lama, mereka sampai di sekolah. Lea langsung meninggalkan Richard begitu saja setelah sampai di parkiran.
" Lea.." Panggil Richard.
Tapi Lea sudah melesat jauh entah kemana meninggalkan richard yang kebingungan.
" Prince.. Astaga, Peince kok ada di sini?" Tanya Alika ketika melihat Richard.
" Oh, hai Alika." Ujar Richard.
" Prince datang mau latihan, ya? " Ujar Alika
" Ah, iya.." Ujar Richard.
" Ayo aku antar, Prince." Ujar Alika.
" Dia akan pergi bersamaku." ujar Juno yang tiba tiba muncul.
" Maaf Alika, aku pergi dengan Juno saja. Terimakasih untuk niat baikmu." Ujar Richard.
" Iya , Prince.. " ujar Alika, walau sedikit kesal.
Juno pun menuntun Richard pergi dari parkiran.
" Kenapa kau ada di parkiran motor sendirian? Kau datang dengan siapa?" Tanya Juno.
" Lea, tapi dia pergi. Sepertinya dia terburu buru." Ujar Richard.
" Ish, si gadis dingin itu.. kejam sekali dia meninggalkan tuna netra sendirian." Ujar Juno dan Richard terkekeh.
Tapi rupanya.. Lea menatap keduanya dari jauh, Lea memastikan Richard baik baik saja setelah dia tinggal sendirian.
' Cih, aku pikir dia akan tersesat dan jalan ke arah yang salah, percuma aku khawatir kepadanya.Buang buang waktu saja.' Batin Lea dan pergi dari tempat nya.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Amara Agustina
goodjob lea
2023-03-02
1