Akhirnya, Lea ikut saja dengan keinginan sang mama. Lea hari ini menurut dengan Livy karena Lea merasa bersalah telah membentak Livy sebelumnya.
Dan disinilah Lea, berdiri di ruang tengah kediaman Fitty, lebih tepatnya kediaman Richard. Lea datang dengan Livy dengan gaun biru dongkarnya. Dia sangat cantik malam ini, tidak heran jika dia menjadi pusat perhatian.
' Kenapa banyak teman kelas di sini? Aapakah anak tante Fitty satu kelas denganku?' Batin Lea.
" Lea sayang, ayo.." Ujar Livy.
Yang mendengar nama Lea di sebut tentu saja melirik tidak percaya, Lea yang tomboy dan dingin di kelas, di murid baru bisa berdandan begotu cantiknya.
" O.. Holly ****! apa dia gadis sedingin es yang parkir di tempat parkir motor prince? No way! Bagaimana bisa dia lebih cantik dari pada aku." Ujar Alika.
" Wah.. Lihat, make up dia lebih natural." Ujar teman Alika.
Livy berjalan mendatangi Fitty yang saat ini sedang berdiri dengan teman teman ny.
" Halo, Fi.. " Ujar Livy.
" Oh, hai.. Kamu datang juga? Mana putrimu?" Ujar Fitty.
" Lea, kemari." Panggil Livy.
" Wahh.. Inikah Leana kecil yang galak itu?" Ujar Fitty.
" Athalea tante, bukan Leana. Tante selalu salah memanggilku." Ujar Lea protes.
" Lihat, tidak berubah.. Masih saja galak. " Ujar Fitty.
" Kemari, tante akan pertemukan kamu dengan Richard." Ujar Fitty.
'Ck, si gendut yang cengeng itu.' Batin Lea.
Bagaimanapun Lea benci laki laki, tidak terkecuali. Tapi meskipun begitu dia masih punya hati untuk membantu makhluk berjenis kelamin laki laki yang sedang kseulitan, seperti kemarin saat Lea membantu Richard menyeberang jalan.
" Richard sayang, tebak siapa yang mama bawa." Ujar Fitty.
Lea mengikuti arah pandang Fitty, karena di tempat duduk itu ada beberapa anak muda yang sedang mengobrol bersama Richard.
' Semakin bulat saja dia.' Batin Lea menatap anak laki laki gemuk yang duduk percis di sebelah Richard. Anak laki laki yang di tatap begitu intens oleh Lea pun salah tingkah sendiri jadinya.
' Pria buta ini, kenapa dia juga ada disini? Apakah dia teman Richard.' Batin Lea lagi ketika melihat Richard.
" Siapa, memang nya ma?" Ujar Richard.
Lea terkejut tentu saja, yang menyahut justru pria buta yang dua kali di temuinya tanpa sengaja itu.
" Athalea.." Ujar Fitty.
" Athalea?? Apakah Lea yang galak itu?" Ujar Richard dan Fitty terkekeh mendengarnya.
" Apakah dia Richard, tante?" Tanya Lea.
Richard tentu mengenali suara itu, suara gadis yang membantunya mengambil tongkat saat kemarin lusa.
" Ya, Richard sedang terkena musibah, jadi tidak bisa melihat." Ujar Fitty.
" Lea galak, apakah kamu yang membantuku mengambil tongkat di tengah jalan kemarin lusa?" Tanya Richard.
" Hmm.." Sahut Lea.
" Ya sudah, bersenang senanglah kalian anak muda. Tante akan berkumpul dengan para orang tua yang lain." Ujar Fitty.
Fitty pergi dari sana, dan Lea hanya berdiri saja mematung sambil merasa kesal. Pasalnya semua di meja itu adalah laki laki, termasuk Richard.
" Lea, kamu dimana? Silahkan duduk.." Ujar Richard.
" Malas." Ucap Lea dan langsung pergi.
Teman teman Richard menatap penuh kagum pada Lea, dan Richard mendengar beberapa dari mereka berbisik tentang Lea.
" Dia cantik sekali.. Tapi sayang dia galak. Aku tidak berani menyapanya. " Ujar teman Richard.
" Apakah dia pergi?" Tanya Richard pada salah satu teman nya.
" Ya, dia pergi menuju kearah taman belakang." Ujar teman Richard bernama Ruben.
" Bisakah kamu antar aku kesana? Maaf merepotkan." Ujar Richard.
" Astaga Chard, kamu seperti dengan siapa saja, aku temanmu. Ayo aku antar kamu pada gadis galak itu." Ujar Ruben.
Ruben menuntun Richard menuju kearah pintu taman, tapi di tengah jalan mereka bertemu dengan Alika yang rupanya sedang berada disana. Alika pikir Richard akan menemuinya, jadi ia tersenyum senang.
" Hai Prince, Happy sweet seventeen." Ujar Alika.
" Oh, ya.. Terimakasih. Kamu pasti Alika, ya? " Ujar Richard.
" Astaga, Prince mengingat aku?" Ucap Alika senang.
" Karena hanya kamu yang memanggilku Prince." Ujar Richard.
" Hihi.. Itu karena kamu seperti pangeran di hatiku." Ujar Alika.
" Apakah kamu bisa minggir, Richard harus pergi." Ujar Ruben.
" Oh, ya.. Silahkan." Ujar Alika, namun menatap kesal kearah Ruben.
Dari dulu, Ruben itu yang sering menghalangi Alika mendekati Richard. Karena Ruben tidak mau jika sampai teman nya terkontuminasi oleh makhluk seperti Alika.
"Bye prince.." Ujar Alika.
Richard sudah sampai di taman belakang kediaman nya. Dan Ruben melihat Lea yang sedang duduk di taman belakang itu sambil menyeker. Heels nya ia letakan di samping kursidan dia sendiri fokus dengan ponselnya.
" Nah, gadis galak itu berada sekitar sepuluh langkah dari sini. Kamu hanya harus lurus, ingat sepuluh langkah. " bisik Ruben.
" Ah, ya.. Terimakasih. " Ujar Richard.
Ruben pergi dari sana, dan Richard mulai melangkah kan kakinya dang menghitung dengan suara pelan. Lea yang melihat Richard berjalan kearahnya pun menyernyit bingung karena Richard seperti menggumamkan sesuatu.
" Sedang apa kau?" Tanya Lea, dan tentu saja Richard terkejut.
" Oh.. Kamu melihatku?" Ujar Richard.
" Tentu aku lihat, aku tidak buta sepertimu." Ujar Lea tanpa perasaan.
Tapi bukannya sedih atau marah, Richard malah tersenyum dan terkekeh kecil mendengar Lea berbicara seperti itu.
" Kamu masih saja berbicara menohok." Ujar Richard.
" Dan kau masih saja tersenyum seperti orang bodoh saat di hina." Ujar Lea..
Richard meraba rabkan tangan nya di udara, dan Lea bingung dengan apa yang Richard lakukan.
" Sedang apa kau?" Tanya Lea.
" Em, mencari tempat duduk." Ujar Richard sambil masih meraba rabakan tangan nya.
" Aku tidak mau duduk denganmu, pergi sana." Ujar Lea mengusir.
" Haih.. apakah kamu masih benci laki laki?" Tanya Richard.
" Menurutmu?!" Ujar Lea.
" Yang bren*sek adalah ayamu, bukan seluruh kaum laki laki. Kenapa kamu membenci semua laki laki?" Ujar Richard.
Richard akhirnya menemukan sandaran kursi yang sedang Lea duduki, dan akhirnya dia pun ikut duduk di sana, di sebelah Lea.
" Semua laki laki sama saja, suka menyakiti perempuan, bermain perempuan, menjadikan perempuan seperti boneka. Mereka semua baj*ngan dan bren*sek." Ujar Lea.
" Tapi aku tidak.." Ujar Richard, dan Lea terdiam.
" Tidak semua laki laki itu sama, Lea.. Satu laki laki bren*sek, tidak berarti semuanya bren*sek. Kalau semua laki laki itu bren*sek, tidak akan mungkin ada anak anak yang tumbuh dengan kasih sayang." Ujar Richard.
Lea hanya diam sambil melirik sinis Richard.
" Kau tidak tahu apapaun, jadi tidak akan mengerti." Ujar Lea dan pergi dari sana.
Lea mencangking heels nya dan berjalan pergi meningvaljan Richard. Richard menghelakan nafasnya dan menggeleng.
" Dasar gadis berkepala batu." Gumam Richard.
Lea masuk kedalam dan mencari Livy, setelah terlihat Livy yang sedang bersama Fitty, Lea pun menghampirinya.
" Ma, Lea mau pulang." Ujar Lea.
" Eh, cepat sekali nak.. Apakah kamu bertemu Richard?" Tanya Livy.
" Ya, ayo pulang." Ujar Lea.
" Maaf Fi, Lea sepertinya bad mood. Aku pulang dulu, ya?" Ujar Livy pada Fitty.
" Ya, hati hati di jalan, kalian berdua.." Ujar Fitty.
Lea dan Livy pun akhirnya berjalan keluar dari kediaman Richard. Bahkan setelah sampai di mobil, Lea langsung melemparkan heels nya kesembarang arah dan duduk lalu memejamkan mata.
" Lea.. Kamu kenapa?" Ujar Livy.
" Lelah.. Lea mau tidur, kalau sudah sampai rumah tolong bangunkan Lea, ma." Ujar Lea tanpa membuka matanya.
Livy pun menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang putri. Lea sungguh pemarah.
' Tau apa dia tentang hidupku, anak anak yang tumbuh dengan kasih sayang.. Cih! ' Batin Lea mengingat ucapan Richard.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments