Juno masih berdiri menatap Lea yang pergi meninggalkan nya begitu saja.
" Begitu saja??" Gumam Juno.
Padahal Juno sudah mengumpulkan semua keberanian nya untuk meminta maaf, dia bahkan membayangkan setidaknya dia akan mendapatkan pukulan atau omelan Lea, tapi Lea hanya merespon demikian.
Begitulah Lea, dia tidak suka memperpanjang masalah. Jika orang yang menyinggungnya sudah mengatakan maaf, maka dia tidak lagi akan memperpanjang masalah yang terjadi dan menyuruh orang itu untuk melupakan nya. Bukan kah Lea adalah orang yang sangat simpel?
" Lea, tunggu. " Teriak Juno, dan berlari mengejar Lea.
" Kau memaafkan aku begitu saja? " Tanya Juno, ketika sudah berhasil sampai di sisi Lea.
" Jadi kau mau aku bagaimana?" Ujar Lea, sambil menatap Juno.
' Astaga, kenapa aku baru sadar kalau tatapan Lea sangat memikat. ' Batin Juno.
" Ya, setidaknya kau akan memukul diriku, atau marah marah kepadaku.. itu lebih logis." Ujar Juno.
" Jadi kau mau aku hajar? Kalai begitu kemarilah. " Ujar Lea, namun Juno justru langsung mundur.
" Ya bukan begitu juga kan.. maksudku, kau meenyuruhku melupakan begitu saja apa yang terjadi, bukan kah itu tidak adil? " Ujar Juno.
" Jika kau merasa begitu, kenapa kau menyebarkan video itu? " Ujar Lea, dan Juno terdiam.
" Aku bukan orang yang sulit di ajak bicara, masih banyak hal yang lebih penting yang harus aku urusi. " Ujar Lea lalu pergi meninggalkan Juno yang masih terdiam dengan keterpanaan nya.
Lea sampai di kelas, dan terlihat Alika yang duduk sambil tertawa tawa dengan teman temannya. Alika sama sekali tidah merasa bersalah pada Lea, padahal Alika adalah orang kedua yang mengtakan bahwa Lea adalah penjahat. Justru Alika malah semakin menatap Lea dengan kebencian.
" Athalea Adeline, kamu di panggil ke ruang kepala sekolah. " Ujar seorang siswa yang sepertinya ketua osis.
" Baik. " Ujar Lea. Lea pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah.
" Selamat pagi Athalea, silahkan duduk. " Ujar kepala sekolah, Lea pun duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kepala sekolah.
" Nak Lea, saya hendak meminta maaf kepadamu secara langsung, saya tahu kamu mendengar waktu kemarin saya mengatai dirimu. Saya tidak lebih seperti mereka yang menghujatmu. Tolong maafkan saya, Nak. " Ujar kepala sekoalah.
" Anda adalah kepala sekolah, sifat anda mencerminkan perilaku murid murid didik anda di sekolah ini. Tolong bersikaplah lebih rasional, dan jangan langsung menghakimi. Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi, saya pamit undur diri. " Ujar Lea.
" Terimakasih, silahkan kembali mengikuti pelajaranmu. " Ujar kepala sekolah.
Kepala sekokah sungguh merasa ter tampar oleh dirinya sendiri, Lea adalah anak yang baik dan dirinya menilai Lea jahat hanya karena wajah Lea yang seperti antagonis.
Lea berjalan menuju ke kelasnya, rasa pusing di kepalanya begitu mendominasi saat ini.. ia melihat ruang latihan musik, dan dia pun masuk ke sana.
" Shh!! jika begini aku tidak bisa mengikuti pelajaran. " gumam Lea,
Lea duduk di kursi piano dan merebahkan kepalanya di atas piano, dan terlelap tidur..
Waktu berlalu..
Sampai sekolah berakhir, Lea tidak kembali ke kelas. Dan karena Lea tidak kembali untuk mengikuti pelajaran, semua siswa dan siswi yang satu kelas dengan Lea kecuali Alika and the gank mencari keberadaan Lea.
Juno berjalan kearah ruang kepala sekolah, dan kebetulan dia melewati ruang musik. Ia tidak sengaja melihat sosok yang sangat di kenalinya sedang duduk di depan piano, Richard.
' Richard, dia... Lea?' Batin Juno ketika melihat sosok yang sedang terlelap tidur di sebelah Richard yang tampak seperti panik.
' Apakah sejak pagi Lea ada di sini?' Batin Juno.
Tak lama datang guru musik dengan dokter UKS yang berjalan dengan sangat terburu buru.
" Pak, ada apa?" Tanya Juno.
" Ada siswi yang di temukan tidak sadarkan diri di ruang musik." Ujar guru musik.
Guru musik dan dokter pun masuk, dan baru terdengar suara Richard yang berulang kali membangunkan Lea.
" Lea.. Lea.. Kamu dengar aku? Bangun Lea." Ujar Richard.
" Aku benci papa.." Gumam Lea, dan air matanya meleleh.
" Ayo bawa dia ke uks." Ujar guru musik.
Guru musik itu hendak membantu Lea bangun dan menggendong nya, tapi Lea berontak.
" Pergi.." Gumam Lea sambil mengibas kibaskan tangan nya.
" Lea, kamu harus di tangani.. Kamu sakit, tubuhmu panas sekali." Ujar Guru musik.
" Jangan sok peduli padaku, pergi." Ujar Lea.
" Pak, dia sedang tidak sadar saat ini.. Tolong jangan di ambil hati. Biar aku yang coba." Ujar Richard.
' Richard mengenal Lea?' Batin Juno.
" Lea.. Lea.. Ini aku Richard. Patuh ya, kamu demam, kamu harus di beri obat." Ujar Lea, dan Lea mengangguk.
" Dia mengangguk.." Ujar dokter, keheranan.
" Lea, patuh ya.. Dokter dan guru akan menggendongmu ke uks." Ujar Richard, dan kali ini Lea menggeleng.
" Dia menggeleng." Ujar Dokter.
" Dia hanya mau denganmu." Ujar guru musik.
" Kalau begitu biar aku yang gendong dia." Ujar Richard.
" Kau gila, melihat saja kau tidak bisa." Ujar Juno angkat bicara.
" Juno, kamu disini? " Ujar Richard menjadi emosi.
Richard tentu saja mendengarkan pengakuan Juno di video yang Juno dan Dean unggah di media sosial. Dan Richard ikut kesal mendengarnya.
" Aku mencarinya." Ujar Juno.
" Apakah kau masih belum puas membuatnya menjadi bulan bulanan masa di seluruh media sosial? Mau apa kau mencarinya?" Ujar Richard.
" Aku sudah minta maaf kepadanya, dan dia sudah memaafkan aku." Ujar Juno meninggi.
" sudah sudah, Lea lebih penting sekarang. Ayo Richard, kamu gendong saja Lea, bapak akn mengarahkan jalan menuju ke UKS." Ujar Dokter.
" Ya." Sahut Richard.
" Lea.. Aku gendong kamu ya, tolong jangan berontak." Ujar Richard, dan Kea diam saja.
Akhirnya dengan susah payah, Richard berhasil menggendong Lea di depan. Juno spontan membuka jaketnya untuk menutupi paha Lea yang sedikit terbuka dan ikut menggiring Lea dan Richard ke uks.
Beruntungnya sekolah sudah lumayan sepi karena siswa dan siswi disana sudah pulang kerumah mereka masing masing.
" Astaga!! Itu prince.. Kenapa prince ada disini, dan siapa yang di gendong prince? " Ujar Alika ketika melihat Richard.
Alika langsung lari menghampiri Richrad yang sedang berjalan menuju uks.
" Prince!!" Teriak Alika.
" SSSHH!!! " Ujar Juno, guru musik dan dokter bersamaan. Alika jadi tersentak kaget mendengarnya.
" Ma- maaf.. ada apa pak? Siapa yang pingsan?" Tanya Alika.
" Pelankan suaramu." Ujar Juno dan Alika menutup mulutnya.
Hingga sampailah mereka di UKS, dokter dan Richard masuk ke uks sementara guru musik dan Juno menunggu di luar pintu dan menghadang Alika yang ingin ikut masuk kedalam.
" Ih, kok di tutup.. Aku mau lihat Prince." Ujar Alika.
" Ada orang sakit, kau tidak tahu malu sekali mengejar pria begitu." Ujar Juno.
" Suka suka aku lah, kok kamu yang sewot." Ujar Alika.
" Bapak kembali ke kelas musik dulu, ya.." Ujar guru musik.
" Ah, iya pak. Terimakasih pak." Ujar Juno.
" Sok baik.. ngomong ngomong siapa yang di gendong prince tadi?" Tanya Alika.
" Lea.." Ujar Juno.
" What!!! Lea??" Ujar Alika.
" Ish, pelankan suaramu dasar kenalpot racing. " Ujar Juno kesal.
Sementara itu di dalam uks, dokter menginpus Lea dan memberi lea paracetamol. Sementara Richard duduk di sebelah sambil menggenggam tangan Lea.
" Aku benci papa.. Aku benci papa.." Gumam Lea.
" Lea.. Tenang ya, ada aku di sini. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian seperti dulu." Ujar Richard.
Sang dokter sampai menghela nafas mendengar Lea yang berulang kali mengatakan benci pada sang ayah. Dokter itu yakin Lea mengalami hal yang berat.
" Apakah ayah nya seorang yang kejam?" Tanya dokter.
" Maaf, saya tidak berhak mengatakan privasi orang lain dok. Intinya, ayah dan ibunya bercerai." Ujar Richard.
" Anak anak selalu menjadi korban ketika orang tua mereka bercerai." gumam sang dokter sambil mengangguk anggukan kepalanya.
" Aku benci papa.. Aku benci papa.." Gumam Lea.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments