Hingga beberapa hari Video Lea yang memukuli pria itu beredar semakin luas. Dan Lea sebagai tersangka utama itu hari ini di skors selama sebulan.
" Athalea, renungkan baik baik perbuatanmu. Sekolah sudah sangat terkena dampak besarnya dari videomu yang beredar itu." Ujar kepala sekolah.
Lea hanya diam tidak berkata apapun, tidak terlihat sedih, marah atau apapun. Lea hanya berdiri diam tanpa emosi dan ekspresi di wajahnya. Tapi siapa yang tahu isi hati Lea??
Lea merasa kecewa, karena perbuatan baiknya justru di anggap kejahatan. Dia ingin menyelesaikan nya dengan otot seperti biasanya dulu, tapi dia teringat dengan perkataan Livy yang akan menyerah menyekolahkan Lea.. Lea juga masih ingin menimba ilmu.
Lea diam bukan karena Lea tidak berpikir atau tidak merasa peduli dengan nama baik sekolah, nama baik ibunya pun jadi terseret. Beruntungnya Livy belum memperkenalkan diri kepada seluruh dewan direksi bahwa dirinyalah sang CEO.
" Terimakasih." Ujar Lea, lalu langsung keluar dari kantor kepala sekolah.
" Sudah jelas terlihat dari wajahnya, dia anak yang tidak beres. Tidak terlihat sedikitpun rasa bersalah di wajahnya." Ujar kepala sekolah, dan Lea.. Masih bisa mendengarnya.
Lea hanya tersenyum smirk, lalu pergi dari sana. Kecewa.. Tentu saja iya. Lea adalah orang yang pandai menyembunyikan emosi di hatinya. Jadi orang lain tidak akan ada yang tahu atau menebak isi hati Lea.
' Manusia yang hanya bisa menggonggong seperti anjing tanpa alasan.' Batin Lea.
Wajah lea yang dingin itu membuat semua orang berpikir bahwa Lea jahat dan sombong. Karena sebagian orang menilai bahwa sifat manusia terlihat dari ekspresi wajahnya. Padahal tidak.. Karena sebagian orang pasti memiliki wajah seperti Lea, yang dingin dang terkesan seperti antagonis, tetapi sebenarnya baik.
Lea berjalan menuju ke kelasnya, padahal saat itu pelajaran sedang berlangsung. Lea masuk hanya untuk mengambil tas sekolahnya, karena mulai hari ini dia akan di hukum selama satu bulan lamanya.
" Lea, walaupun kamu di skors.. Tapi kamu juga harus tetap belajar, oke." Ujar Guru.
" Saya mengerti, permisi." Ujar Lea dan pergi keluar dari kelas.
" Ish, dasar penjahat." Ujar Alika.
" Alika.." Ujar sang guru, menegur
Sangat di sayangkan karena tidak ada satu pun cctv yang merekam kejadian itu. Dan saksi kunci satu satunya adalah anak kecil itu..
Dan membicarakan anak kecil itu, saat ini di kediaman sebuah rumah yang sangat sangat mewah. Anak kecil yang sebelumnya hampir di pukul oleh preman yang di hajar oleh Lea kini sedsng menonton video yang beredar itu.
Anak itu tidak sengaja melihatnya dari ponsel pengasuh yang sedang memutar video itu.
" Wah, gadis ini kejam sekali.. Memukuli orang sampai orang itu hampir meninggal." Ujar pengasuh gadis kecil itu.
" Kakak ini baik, kakak ini adalah kakak yang menolong Ara ketika Ara hampir di pukul paman jahat ini, sus." Ujar anak kecil itu yang menyebut dirinya bernama Ara.
" Ha! Ara kenal kakak ini?" Ucap pengasuh.
" Kakak ini yang menolong Ara, sus." Ujar anak kecil itu.
" Astaga, berarti dia yang sedang papa Ara cari cari." Ujar pengasuh.
Pengasuh itu langsung menggendong Ara dan mebcari keberadaan orang tua Ara.
" Tuan, nyonya.. Ara sudah menemukan penyelamat nya." Ujar pengasuh.
" Apa! Dimana dia? Siapa?" Tanya ibu Ara.
" Ini nyonya, Ara mengenali gadis yang sedang viral memukuli pria di internet. Dan Ara bilang pria itu yang hampir memukul Ara." Ujar pengasuh.
" Pa, cepat cari keberadaan nya." Ujar ibu Ara.
" Iya, sayang." Ujar papa Ara.
" Jika dari seragamnya, ini seragam yang sama dengan seragam Juno kan? Berarti anak ini satu sekolah dengan Juno." Ujar Ibu Ara.
" Papa akan datang ke sekolah Juno sekarang juga." Ujar papa Ara.
Sementara itu, di tempat lain..
Lea tidak mungkin mengatakan pada Livy bahwa dirinya di skors selama sebulan lamanya. Ia tahu Livy pasti sangat pusing memikirkan dirinya, Lea jadi semakin tidak memiliki keberanian untuk pulang.. Ia tidak tega melihat wajah sedih sang mama.
" Aku harus kemana.." Gumamnya.
Saat ini, Lea sedang berada di dalam mobilnya dan menyusuri jalan tidak tahu mau kemana. Intinya Lea tidak akan pulang ke rumah.
" Haish!! Mereka sangat menyebalkan, seandainya aku tidak berjanji pada mama, sudah ku hajar mereka satu persatu." Ujar Lea.
Lea melihat seperti ada taman kecil yang menghadap ke sungai kecil. Sungai itu sangat bersih dari sampah sampai airnya pun terlihat sangat jernih. Lea memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan turun kesana.
Lea dusuk menghadap sungai kecil itu dan menatap orang orang yang berlalu lalang. Tiba tiba terdengar benturan tongkat yang bertabrakan dengan jalanan disana. Lea melirik kearah suara dan rupanya Richard sedang berjalan menyusuri jalanan itu.
' Kenapa ada dia disini?' Batin Lea.
Lea melihat ke sekelilingnya dan ya, taman itu dekat dengan rumah Richard.
Richard meraba raba udara seperti berusaha meraih sesuatu.
" Dimana bangkunya, seharusnya di sini bukan, apakah sudah di pindah? " Gumam Richard.
Richard hampir meraba Lea yang sedang duduk di sana, dan dengan cepat Lea melesat ke samping dan menghindari tangan Richard.
' Kalau aku tidak tahu dia buta, pasti sudah aku pukul dia. Sembarangan meraba.' Batin Lea.
" Ah, ini dia." Ujar Richard ketika berhasil menemukan bangku tempat duduk.
Lea memperhatikan Richard yang berada di sampingnya itu. Mereka duduk hanya berjarak sekitar tiga jengkal jari. Hingga tiba tiba ponsel Richard berdering.
' Apakah orang buta bisa mengangkat panggilan telepon?' Batin Lea heran.
Dan rupanya Richard bisa mengangkat panggilan telepon nya karena bagaimanapun dia dulunya bisa melihat.
" Halo ma.." Ujar Richard.
" Kamu di mana, nak? " Ucap suara Fitty yang terdengar di telinga Lea.
" Richard sedang berjalan jalan di luar, ma. Mama tidak perlu khawatir." Ujar Richard.
" Sayang, baru saja mencarikan donor mata lain, di rumah sakit lain. Dan dokter mengatakan bahwa di sana ada seseorang yang akan mendonorkan matanya." Ujar Fitty.
" Ma, apakah orang itu sungguh bisa mendonorkan matanya untuk Richard? Richard tidak mau seperti kemarin jang tiba tiba gagal di menit terakhir." Ujar Richard.
Dan Lea mendengarkan percakapan Richard dengan Fitty.
' Rupanya dia gagal mendapatkan donor matanya.' Batin Lea.
" Baiklah, Richard akan pulang." Ujar Richard.
Richard bangun dari duduknya namun dari arah kanan Richard ada seseorang yang sedang berlari dan akhirnya menabrak Richard hingga Richard hampir terjerambab ke depan.
Lea refleks menangkap tubuh Richard yang hampir terkena besar, dan berakhir Lea memeluk tubuh Richard.
" Pakai matamu saat berlari, bodoh!" Teriak Lea.
" Maaf.." Teriak pria yang menabrak Richard namun sambil berlari.
" Lea, apakah itu kau?" Ujar Richard.
Lea spontan melepaskan pelukan nya dari Richard dan mengibas kibaskan tubuhnya seolah Richard adalah kotoran.
" Hm.." Sahut Lea.
" Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah ini jam jam sekolah?" Tanya Richard.
" Bukan urusanmu." Ujar Lea.
" Kamu bolos? Aku akan katakan pada tante Livy bahwa kamu bolos." Ujar Richard.
" Eh! Jaga bicaramu, mana ada aku bolos." Ujar Lea, sewot.
" Terus?? Ini jam jam sekolah, Lea.. Jika bukan bolos lalu apa? " Ujar Richard.
Lea panik sendiri, dia tidak mau Livy tahu bahwa dia di skors selama. Sebulan.
" Mancarimu." Ujar Lea asal.
Richard tentu saja terkejut, ada angin badai apa seorang Athalea Adeline si kepala batu itu mencari dirinya.
" Apa? Aku tidak dengar." Ujar Richard, ia ingin memastikan pendengaran nya.
" Aku kemari mencarimu, puas?" Ujar Lea.
" Mencariku?? Mau apa?" Tanya Richard.
' Aduh, aku harus bilang apa?' Batin Lea.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments