Lea sudah selesai dengan kelas tambahan nya dan kini dia berdua bersama Richard.
" Lea, apakah kamu bisa temani Richard? supirnya belum datang, jadi dia masih harus menunggu." Ujar guru musik.
" Kenapa tidak anda saja?" Ujar Lea.
" Biasanya begitu, tapi saya ada urusan mendadak." Ujar guru musik.
" Tidak apa apa, saya sendirian saja. Mungkin Lea sedang terburu buru juga." Ujar Richard.
" Kalau begitu saya duluan, ya? Richard, Lea." Ujar guru musik, dan pergi.
Richad duduk duduk di depan kelas musik untuk menunggu supirnya datang. Dan Lea masih berdiri disana menatap Richard.
" Lea.. Apakah kamu masih di sana?" Ujar Richard. Namun Lea diam saja tidak berkata apa apa.
" Dia sudah pergi." Gumam Richard.
Lea menghela nafasnya lalu ikut duduk di sebelah Richard namun berjauhan dan mendengarkan musik dengan ear piecenya. Keduanya saking diam, tentu saja karena Richard mengira Lea sudah pergi dari sana.
Setengah jam berlalu, dan orang yang akan menjemput Richard belum juga tiba. Lea yang bukan orang penyabar itu pun sampai di ujung kesabaran nya.
" Berapa lama lagi supirmu sampai?" Ujar Lea tiba tiba.
" Lea, kamu belum pergi?" Ujar Richard.
" Meninggalkan tuna netra sendirian di tempat seluas ini, aku tidak setega itu." Ujar Lea. Dan Richard rerkekeh mendengarnya.
" Sebenarnya kamu orang yang baik, hanya saja kami terlalu kaku." Ujar Richard, dan Lea hanya diam.
" Mungkin dia akan terlambat. Ujwr Richard.
Lea melihat langit yang mulai mendung , dan lembali mebghela nafas.
" Ayo bangun, aku antar kau pulang." Ujar Lea.
" Kamu serius?" Ujar Richard.
" Aku tidak akan mengulangi ucapanku dua kali." Ujar Lea.
Richard tersenyum lalu bangun. Lea menghela nafas lagi ketika Richard berjalan kearah yang salah.
" Kau mau kemana? Jalan pulang nya kemari." Ujar Lea.
" Oh, aku salah rupanya." Ujar Richard.
Dan Akhirnya Lea menggandeng Richard, namun bukan bergandengan tangan melainkan Lea memegang ujung tongkat Richard, dan Richard memegang ujung lain nya.
Kebetulan sekolah sudah mulai sepi karena mereka yang mengikuti kelas tambahan juga sudah pulang. Lea membawa Richard ke parkiran motor dan menyuruh Richard untuk diam di tepi jalan.
" Tunggu disini, aku ambil motorku dulu. " Ujar Lea, dan Richard mengangguk. Tak lama Lea datang dengan motornya.
" Ayo naik." Ujar Lea.
Richard meraba motor Lea dan mulai menaiki motor Lea. Lea sama sekali tidak membantu Richard, karena Lea sendiri saat ini sesang kesal. Setelah Richard sudah naik, Lea pun menjalankan motornya.
Namun karena Richard terkejut, Richard spontan memeluk Lea. Lea pun langsung menghentikan motornya kembali.
" Apa apaan kau!!" Ujar Lea.
" Maaf, aku terkejut karena kamu menhalankan motor tanpa aba aba." Ujar Richard.
" Suka suka aku lah! Lepas!" Ujar Lea, dan Richard pun melepaskan pelukan nya dari perut Lea.
Namun rupanya Richard kembali memeluk Lea karena Lea melajukan motrnya tiba tiba. Pada akhirnya Lea membiarkan saja Richard memeluknya, dan ia mengemudikan motornya dengan kesal.
Richard tersenyum ketika bisa memeluk Lea. Tidak dia sangka Lea tidak kembali memarahinya, dan juga ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan membonceng motor pada seorang gadis.
Dan tak lama , mereka sampai di depan gerbang kediaman Richard.
" Tuan muda, anda pulang dengan teman anda? Supir anda terjebak macet." Ujar pelayan.
" Tidak apa apa. Lea.. Apakah kamu.. " Ujar Richard tertahan ketika mendengar suara motor Lea yang pergi menjauh.
" Eih, teman tuan muda sepertinya sangat terburu buru." Ujar pelayan.
" Ya, dia terburu buru." Ujar Richard sambil tersenyum.
Richard masuk kedalam rumah, dan terlihat Fitty yang sedang duduk di ruang tengah.
" Halo sayang, kamu pulang dengan siapa? Mamang masih terjebak macet." Ujar Fitty.
" Dengan Lea, mah." Ujar Richard.
" Le- Lea?? Apakah Athalea?" Tanya Fitty dan Richard mengangguk.
" Astaga, mencetak sejarah sekali seorang Lea bisa begitu baik." Ujar Fitty.
" Dia sebenarnya baik, hanya saja dia terlalu keras." Ujar Richard.
" Ekhem, sepertinya ada yang mengerti seseorang." Ujar Fitty.
" Mama.." Ujar Richard, dan Fitty terkekeh.
" Tapi memang benar, dia terlalau keras terutama pada dirinya sendiri. Jika kamu sering bertemu dengan nya, pelan pelan buatlah dia agar mengerti bahwa tidak semua laki laki itu jahat, nak. Kasihan dia, sejak kecil menjadi keras kepala." Ujar Fitty.
" Richard akan mencoba nya, ma. Lea memang baik sejak dulu. Sejak kami masih sama sama kecil.." Ujar Richard.
Berpindah pada Lea, Lea sampai di kediaman nya dan belum terlihat tanda tanda Livy di rumah.
" Nona, nyonya mengabari bahwa nyonya akan lembur di butiknya, nyonya berpesan untuk nona agar makan malam lebih dulu saja." Ujar pelayan.
" Baik, terimakasih." Ujar Lea.
Lea langsung naik keatas menuju kamarnya, ia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya lalu berganti pakaian. Dia langsung melakukan itu karena sebelumnya Richard memeluk dirinya.
Lea duduk di depan pianonya, tapi tiba tiba yang ia ingat adalah Richard. Bagaimana dia bermain piano bersama Richard tadi.
" Kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama? Padahal aku yang memainkan piano, tapi memang terasa berbeda." Gumam Lea.
Lea memainkan pianonya, dan ya.. Lagi lagi hambar. Hingga akhirnya ia memainkan lagu lain yang biasanya ia mainkan.
______________________
Ke esokan harinya..
Lea berangkat sekolah, dan di jalan dia melihat seorang anak kecil yang sedang di marahi oleh pria bertato. Dengan gerakan cepat Lea turun dari motornya dan menghampiri pria itu.
" Berhenti! Apa yang anda lakukan?." Ujar Lea, menangkis tangan pria itu yang hendak memukul anak kecil itu.
" Siapa kau! Ikut campur urusan orang saja. Lepas!! " Ujar pria itu menghempaskan tangan Lea.
" Kenapa anda memarahi dia?" Tanya Lea.
" Dia sudah menabrakku dan membuat pakaianku kotor, lihat! Ini adalah noda es krim darinya." Ujar pria bertato itu sambil menunjukan bahian bawah kaosnya yang terkena es krim.
" Hanya terkena noda es krim apakah anda pantas memarahi anak kecil? Dan apa yang akan anda lakukan tadi? Memukulnya? Ck! Badan anda besar tapi otak anda kecil." Ujar Lea.
" Beraninya kau mengataiku!! Kau tidak tahu siapa aku, huh!" Ujar Pria itu.
" Tidak ada yang bertanya siapa dirimu." Ujar Lea.
Lea menghadap anak kecil itu dan berkata..
" Pergilah, nak.. Biar kakak yang tangani paman galak ini." Ujar Lea.
" Terimakasih kakak." Ujar anak kecil itu, dan langsung berlari.
" Hei!! Beraninya kau menyuruh dia pergi! Setidaknya dia harus mengganti pakaianku, atau memberi Ukh!!" Ucap pria itu seketika kesakitan karena Lea meninju perutnya.
" Jadilah pria dewasa yang bermutu, Bren*sek! Kau mau memeras anak sekecil dia, apa kau tidak punya otak?" Ujar Vaye.
" Beraninya kau memukulku!!" Ujar pria itu.
" Kau mau balas, kemari.. Biar aku beri kau pelajaran enjadi manusia yang baik." Ujar Lea.
Sekali tendang, Lea berhasil membuat pria itu jatuh terkapar, lalu Lea hendak melayangkan tinjunya namun pria itu menyilangkan tangan nya dan berkata..
" Ampun.. ampun! Maaf, saya tidak akan melakukan nya lagi." Ujar pria itu.
Lea berdiri dan hendak berbalik pergi, namun pria itu mengeluarkan belati dan hendak menusuk Lea, namun seakan Lea memiliki mata di belakang kepalanya, dia meraih kerah baju pria itu dan membantingnya ke tanah.
BRUGH!!
Tidak hanya itu, Lea memukuli pria itu sengan brutal hingga wajahnya babak belur dan berdarah darah.
" Pria memang sampah." Gumamnya, sambil mengelap tangan nya lalu pergi dari sana meninggalkan pria itu yang terkapar penuh luka.
' Gila.. dia memang monster.' Gumam Juno yang kebetulan melihat kejadian itu.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sadiah Suharti
hebat aku suka 👍🏻👍🏻
2024-02-08
1