Keduanya pun tersadar, dan Zizi tampak salah tingkah dan akhirnya gadis itu minta diantarkan pulang.
"Kita pulang aja, yuk! Udah malem nih, ya udah deh, gue ngikut aja apa kata elu, gue juga sayang banget sama orang tua gue, mereka tuh pasti tahu yang terbaik buat anaknya, thanks udah mau dengerin curhatan gue, cuma elu doang yang bisa menghibur gue di saat seperti ini, gue akan terima perjodohan itu dan gue akan coba adaptasi, tapi dengan satu catatan, gue nggak mau nyerahin diri gue begitu saja jika bukan dengan orang yang gue cinta, gue pelit dalam masalah ini, nggak perduli dia suami gue, kalau gue nggak sreg nggak cinta, nggak bakalan dia dapatin diri gue." Ungkap Zizi.
Entah kenapa Aksa merasa bangga dengan sikap Zizi, tidak mudah menyerahkan begitu saja dirinya kepada laki-laki yang tidak dicintainya, tapi jika dalam masalah rumah tangga itu berbeda, istri harus menuruti apapun perintah suaminya.
"Gue salut sama elu, Tapi Zi, ya elu nggak bisa gitu juga dong, elu udah jadi milik suami elu, ya mau nggak mau elu harus melayaninya." Ucap Aksa yang seketika langsung mendapat protes dari Zizi.
"Haahhhh ... elu kok tega sih, Kang? Masa gue harus ngelonin pria yang nggak gue kenal, ogah ah gue nggak siap, dah lah yuk pulang yuk! Ngomong sama elu lama-lama jadi ngelantur." Zizi terlihat menarik tangan Aksa dan mengajaknya pulang.
Aksa pun menurut saja permintaan sahabatnya itu, setelah mereka membayar minuman yang mereka pesan, keduanya pun pulang saat itu juga, Aksa mengambil motornya di parkiran dan Zizi menunggu di jalan depan.
Aksa mengantarkan pulang Zizi, sejenak Aksa menarik tangan Zizi untuk berpegangan pada pinggangnya, "Udah nggak usah protes! Gue nggak mau ya elu jatuh karena elu tuh suka molor, biar aman elu pegangan pinggang gue, selain buat safety juga buat penghangat badan." Seru Aksa.
"Penghangat badan penghangat badan, awas aja kalau elu berpikiran macem-macem, mana nempel banget lagi!" Zizi merasa jika ia begitu dekat dengan Aksa, meskipun pemuda itu adalah sahabatnya sendiri, tapi keduanya begitu dekat saat dirinya melingkarkan tangannya pada pinggang Aksa.
"Njiiir! Eh kok beda sih rasanya?" gumam Aksa yang merasa jika pelukan Zizi yang kali ini terasa berbeda. Selama dalam perjalanan rupanya hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan mereka, Zizi pun semakin mempererat pegangan tangannya karena dingin malam terasa begitu menembus kulit hingga sampai ke tulang.
Untuk sejenak Aksa dibuat sesak nafas karena bukan hanya dadanya yang merasa sesak, tapi ada tempat lain yang mulai terasa sesak.
"Njiiir celana gue kok sesak sih, eww malah nekuk lagi, sumpah ding nggak nyaman banget, eh kok gue bisa bangun, ya? Apa jangan-jangan karena ...!!" Aksa membatin sembari melihat kedua tangan dan sahabatnya itu melingkar begitu erat, belum lagi punggungnya yang merasa lebih empuk dan hangat. Ia tampak menyunggingkan senyumnya kala dirinya merasa jika dia bukanlah cowok pelangi seperti yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Asyik, ternyata gue bukan cowok pelangi, akhirnya bisa hidup juga nih Dede gue, eh eh tapi kok hidupnya sama si bawel ini sih?" batin Aksa kembali dibuat bingung, pasalnya dirinya dan Zizi bukanlah pasangan kekasih, mereka berdua hanya sebatas sahabat yang tak mungkin bagi keduanya untuk membangun komitmen apalagi saling mencintai.
Apapun itu Aksa pun terus melajukan motornya sampai tiba di jalan depan tempat biasa Zizi menunggu kedatangannya. Zizi pun merasa jika sudah sampai di rumahnya.
Gadis itu turun dari motor sport sang sohib, setelahnya ia pun berterima kasih kepada Aksa yang sudah meluangkan waktunya untuk mendengarkan sekedar curhat tentang perjodohannya.
"Thanks, Kang! Elu udah mau dengerin curhatan gue, gue pulang dulu, gue juga doain agar elu dapat jodoh yang baik, nasib kita yang sama-sama dijodohin, apapun itu kita sama-sama menyayangi kedua orang tua kita, sebagai sahabat gue cuma bisa berdoa yang terbaik buat elu." Seru Zizi sembari membalikkan badannya.
"Tunggu, Zi!" Aksa memanggil kembali sahabat nya itu. Zizi pun menoleh sembari bertanya, "Apa lagi? Udah pulang sono, elu jangan khawatir gue udah nggak apa-apa."
Aksa pun tersenyum dan berkata kepada Zizi yang membuat gadis itu melongo tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Aksa.
"Gue juga ucapin thanks banget sama elu, gara-gara elu ternyata gue tahu kalau gue masih bisa hidup." Ucapnya tersenyum sembari menutup kembali kaca helm dan segera melajukan motornya ke jalan raya.
"Masih bisa hidup? Apanya yang hidup?"
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Andi Fitri
🤣🤣🤣 Zizi jdi bingung
2023-05-26
1
Kenzi Kenzi
pawang masa depan bang...hehehe
2023-03-02
1
𝐀⃝🥀senjaHIATᴳ𝐑᭄⒋ⷨ͢⚤🤎🍉
🤣🤣🤣ada2 aja mereka berdua
2023-02-19
1