Malam itu adalah malam terakhir mereka bertemu, sejak malam itu Zizi sudah tidak diperbolehkan untuk keluar rumah dikarenakan ia harus dipingit dulu sebelum akad nikah yang dilakukan beberapa hari lagi. Dan itu membuat Aksa bingung setengah mati, sudah dua hari ini ia tidak melihat sohibnya itu datang ke kampus.
"Zizi kemana sih? Apa dia sakit, ya? Kok nggak ngampus lagi? Gue telpon, teleponnya nggak aktif, apa dia ngambek ya ama gue gara-gara sedotan itu!!" ucap Aksa bingung, hingga membuat salah satu temannya menepuk pundak Aksa.
"Eh Bro! Mikirin apa lu? Kayak mikirin janda gitu?" seru Robi, salah satu sahabat Aksa.
"Ngapain mikirin janda, dari dulu udah bolong. Gue lagi mikirin si Zizi, udah dua hari ini dia nggak ngampus, gue telpon nggak aktif nomornya," jawab pria itu sambil memperhatikan ponselnya, kali aja Zizi menelepon dirinya. Robi pun tertawa kecil melihat sang sohib yang seperti kebingungan tidak ada Zizi disampingnya.
"Ya coba aja samperin ke rumahnya, tanyain apa yang terjadi sama si doi, bukannya elu dan dia sahabatan?" bujuk Robi.
Sejenak Aksa berpikir tidak ada salahnya datang ke rumah Zizi, hanya saja Zizi pernah bilang jika Daddy nya tidak pernah suka Zizi berteman terlalu dekat dengan cowok, apalagi sampai datang ke rumahnya.
"Ogah ah! Zizi nggak pernah ngizinin gue untuk datang ke rumahnya, alasannya karena bokap dia nggak suka jika anaknya berteman dengan laki-laki, bokap nya protektif banget, takut dikepret gue," sahut Aksa menjelaskan. Hingga akhirnya ia mendapati ponselnya berdering dan yang lebih mengejutkan lagi itu adalah telepon dari Zizi.
Seperti orang yang mendapatkan sebuah lotre, wajah Aksa yang awalnya murung berubah menjadi ceria, secerah cahaya mentari di pagi hari.
"Nah Zizi nih!" sahut Aksa yang langsung membuka percakapannya dengan sang sahabat, sementara itu Robi ikut tersenyum melihat tingkah sohibnya itu.
"Halo, eh elu kemana aja sih? Kenapa elu ngga ngampus? Gue cari-cari nggak ada, gue telepon nggak aktif, main ngilang gitu aja! Elu sakit, ya? Atau elu masih gondok sama gue gara-gara sedotan itu?" seru Aksa yang memberondong pertanyaan kepada Zizi.
"Et dah satu-satu dong tanya nya? Gue jadi bingung mau jawab yang mana. Iya sorry, gue nggak bilang dulu sama elu, seperti yang gue bilang kemarin, sekarang gue lagi dipingit, Kang! besok lusa gue akad nikah." Jelas Zizi membuat Aksa terkejut, bagaimana bisa acara akad nikahnya sama dengan hari dirinya akan menikah dengan wanita pilihan kedua orang tuanya.
"Eh kok harinya sama sih? Jangan-jangan elu lagi jadi pengantin gue." Celetuk Aksa.
"Diihhh nggak mungkin lah, ogah banget lah punya suami modelan kayak elu, elu tuh bekas banyak cewek, secara ya elu tuh udah nyosor sana sini, ewww bibir elu udah ternoda." Mendengar ucapan dari Zizi, Aksa pun tertawa terbahak-bahak.
"Halah itu kan cuma bibir doang, yang lainnya kan masih orisinil, ibarat kata gue ini perjaka tulen yang nggak mudah tergoda dengan banyak cewek, icip-icip dikit ngga apa-apa lah, biar nyeni!" balas Aksa dengan senyum smirk nya. Robi yang berada di samping Aksa hanya bisa tertawa kecil mendengar gombalan Aksa kepada sahabatnya itu. Aksa yang sengaja mengeraskan loud speaker ponselnya sehingga apa yang mereka bicarakan, Robi ikut mendengarkannya.
"Eh ngomong-ngomong kenapa sih pake acara dipingit segala?" Aksa bertanya sambil mengupil dan menjentikkan jarinya sehingga upilnya mengenai dahi Robi yang saat itu sedang berada di sampingnya. Seketika Aksa melototkan matanya saat melihat harta Karun yang ia dapat dari lobang hidungnya menempel sempurna pada wajah Robi yang banyak jerawatnya itu.
"Waduh! Nempel, hihihi!" batin Aksa sembari menahan rasa ingin tertawa nya.
Sementara itu Zizi pun menjawab pertanyaan dari sang sahabat, "Mana gue tahu, gue ngikut aja, kata Mommy biar gue selamet dari para buaya sebelum acara akad nikah dimulai, gue juga nggak ngerti bagaimana Mommy bilang seperti itu, mungkin Mommy tahu kali ya kalau gue mainnya bersama buaya Empang kayak elu, hmm maka dari itu gue nggak bisa ngampus, takut kena buntut elu!" Jawaban Zizi seketika membuat Robi tertawa terbahak-bahak.
"Jiahaaa, Zizi nggak bohong tuh, emang gitu kenyataannya, buaya Empang wkwkwk." Robi tampak terbahak-bahak hingga tak sadar tangannya menyentuh jidatnya sendiri, ia merasa ada sesuatu yang nempel di sana.
"Apaan nih!" Robi mengambil sesuatu yang menempel itu, sementara Aksa tampak sedari tadi menahan tertawa. Setelah Robi melihat ternyata itu adalah upil, seketika Robi melototkan matanya.
"Njiiir upil siapa nih!!? Sialan jorok banget sumpah, ini pasti kerjaan elu kan, prend?" tunjuk Robi kepada Aksa yang wajahnya sudah memerah sedari tadi.
"Eh elu nuduh gue lu, emang tadi gue mengupil, gue buang tuh si upil tapi nggak sengaja nempel di jidat elu, kok gue yang disalahin sih, salah sendiri ada di samping gue, kena tuh jidat, bagus tuh buat obat jerawat wkwkwk!"
Zizi pun mendengar percakapan Aksa dan Robi sambil ikut tertawa, hingga akhirnya sang Mommy memanggil Zizi dan memaksa gadis itu menutup ponselnya. Aksa kembali berbicara dengan Zizi, tapi nyatanya Zizi sudah memutuskan sambungan teleponnya.
"Ya ... putus lagi, ah ini gara-gara elu sih, ditutup tuh sama Zizi!" protes Aksa kepada Robi.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Shenaylin..😌😌
😂😂😂😂
2024-11-11
0
Dyah Oktina
😂😂😂😂😂😂😂gokil emang aska... jorok ish..
2023-11-20
1
bunda abie
iih
2023-04-04
0