Malam yang kelabu untuk Zena, sedari tadi nafasnya terasa sesak melihat Athar masih saja rebahan di atas ranjang. Sedangkan dia sudah menyelesaikan sholatnya dan berharap Athar segera pergi bersuci. Tak ingin Ia ikut hanyut dalam dosa suaminya. Zena bermaksud mengingat kan lagi tapi sesuatu seakan menghalanginya.
Tok!
Tok!
Tok!
Sebuah ketukan bak gayung menyambut asa, tiba-iba terdengar nyaring dari balik pintu yang tertutup gorden pink dari balik kamarnya.
"Zen, ayo ajak suamimu makan malam dulu, Sayang. Kalian pasti sangat lapar!"
Sudah pasti itu suara dari teriakan Bibi Marwah tadi, yang memang sudah terbiasa mengingatkan Zena jika perempuan bercadar itu tak kunjung keluar kamar saat hendak pergi makan malam bersama.
"Iya Bi, sebentar," timpal Zena dari dalam. Perempuan itu segera merapikan mukenanya ke atas nakas lalu menghampiri Athar yang rupanya menyimak ajakan Bibi Marwah tadi.
"Ayo, Mas!"
"Tidak mau," tolak Athar mentah-mentah tanpa berbelit-belit sedikit pun pada Zena.
Hal itu membuat bola mata zena mengerling ke kiri dan ke kanan, "Memangnya kenapa Mas? Apa kamu masih kenyang?" Zena berusaha menghormati Athar dengan tetap bicara baik-baik.
Athar menyeringai lirih, lalu menunjuk pipinya, "Ayo cium dulu, bukankah itu akan menjadi ladang pahala untukmu?" Ucapnya sangat percaya diri.
Bagaimana tidak, Athar baru saja melihat artikel yang tak sengaja lewat di berandanya ketika Zena sholat tadi tentang apa saja kewajiban seorang istri kepada suaminya Hingga mendapat ganjaran berupa pahala yang besar.
Kedua bola mata bulat dan bening seperti setitik embun fajar di atas daun itu kembali bergerilya. Entah kenapa sepertinya Athar sengaja melakukan hal itu untuk menggodanya.
"Em... A- apa harus sekarang, Mas?" Zena merasa malu melakukannya. Tapi Athar benar, mana mungkin Ia memilih berdosa hanya karena menolak permintaan Athar.
"Iya dong Istriku, bukankah kita sudah halal?" Athar memprovokasi Zena terus menerus. Ia ingin lihat seperti apa polosnya perempuan yang masih saja kekeh memakai cadarnya itu di depannya meski mereka sudah syah sebagai suami istri.
Zena merasa sangat gugup akan hal itu, hingga tak sadar kedua tangannya memilin tepian pinggir gamis sederhana bermotif lumba-lumba yang di pakainya.
Sedang Athar masih menyodorkan pipi kearahnya cukup lama sampai Zena mengabulkan permintaan tersebut atau Athar tidak akan ikut makan bersama Paman dan Bibi.
"Baiklah Mas, aku ingin meraih surganya Allah," tandas Zena yang akhirnya mengalah dan menyerah. Tapi Zena sedih saat mau mencium suaminya itu, Athar malah menghindarinya.
"Nah kan, Jadi benar dugaanku. Kamu itu sok suci Zena. Masak segitu aja kamu sampai tergiur banget," goda Athar seraya terpingkal-pingkal.
Zena tertunduk malu akan hal itu, sungguh cara Athar memperlakukannya tentu bukanlah cerminan yang baik untuk di tiru. Tak lama kemudian dalam sesak, Zena baru tersadar kalau seorang berandalan seperti Athar tidak mungkin bisa berubah seperti imam yang diharapkannya.
"Makasih Mas, kamu sukses melakukannya," ucap Zena yang sebenarnya sangat kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Athar memang benar-benar keterlaluan sampai tega meminta hal itu lalu membodohinya.
Athar menatap dengan senyum yang terasa sedikit hambar, lalu menyusul Zena ke ruang keluarga. Namun sesampainya disana Athar sedikit terkejut saat bertemu dengan Malik yang duduk dengan susah payah di bantu oleh Paman Ardy akibat perbuatan binalnya tempo hari.
"Malik? Jadi dia benar-benar cidera sekarang?"Gumam Athar yang bingung sendiri menghadapi keadaan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
terkejut ya thar,nampk lelaki yg kmu pukul tempo hari tu...🤭🤭🤭🤭....bertemu juga kmu ya.....nahh awas2...hehe
2023-02-19
1
ekellehhh....mengarut aja sikap athar...mau juga di cium dulu....
2023-02-19
2
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐
Kurang ajar memang..suami apaan kamu itu Athar..teganya sama istri sendiri kok kelakuannya gitu..lihat saja suatu hari nanti kamu pasti akan bertekuk lutut pada istrimu.
2023-02-16
2