Di sebuah rumah yang terlihat mewah berdomisili di tengah-tengah kampung batuku Ayum, Pak Dullah masih mondar-mandir gelisah pasalnya sudah hampir jam dua belas siang Athar belum juga kembali. Ia heran kenapa anaknya itu selalu membuat kepalanya sangat pusing.
"Bun, anakmu itu kemana sih? Abah pusing mikirinnya?"
"Bunda juga gak tahu Bah, temen-temen Athar juga gak ada yang bisa di hubungi sampai sekarang," jawab Bunda Alika sedikit cemas. Ia takut Athar berbuat onar lagi di luaran sana hingga menimbulkan permasalahan baru.
Sedang si tempat lain, tim anak berandalan yang di ketua Athar itu rupanya sedang berkelahi dengan sekelompok pemuda sebuah geng motor yang juga di pimpin oleh anak jalanan yang sama sadisnya seperti Athar yaitu Nicko.
Kondisinya memanas karena keduanya terus saling serang, bahkan mereka saling balas meremukkan kendaraan salah satu anggota.
perkelahian sengit itu di picu oleh dendam karena Sandy teman Nicko sudah berani mengegas-ngegas kendaraan bak kaleng rombeng itu di depan Athar dan kawan-kawan.
"Ayo sini, emang kamu mampu ngelawan aku!" Tantang Nicko pada Athar.
Bukan Athar namanya kalau dia penakut. Pada dasarnya Athar sangat ahli dalam berkelahi tapi Ia hanya memberlakukannya pada musuh bebuyutan. Bukan pada seseorang yang Ia hormati seperti Kakak Laila misalnya. Karena Ia masih menghargai Laila. Tapi beda cerita jika saat itu Kakak Laila benar-benar menghajarnya.
"Ck, jangan berlagak jagoan Nick. Soalnya aku males ngelawan orang yang lemah!" Timpal Athar sembari menoel hidungnya sendiri.
"Brengs*k Lo, emang aku takut ya sama tim anak berandalan cemen kayak kalian. Bisanya cuma bikin onar di kampung doang. Lihat dong kami, sudah pernah menjelajahi bukit terjal!" Ledek Nicko lagi.
Tak terima di rendahkan, Athar langsung meluncurkan serangannya lagi hingga baku hantam terus terjadi.
Karena gerakan cepat Athar, Ia berhasil memukul mundur Nicko dan gengnya.
"Gimana? Apa masih meragukan kekuatan kami?" Seringai Athar meremehkan.
"Sial, aku tidak akan tinggal diam ya!" Nicho sedikit mengancam sambil menunjuk wajah
Athar dan teman-teman. Mereka pasti akan kembali lagi untuk menuntut balas akan kekalahan itu suatu saat nanti.
Setelah geng motor Nicho pergi, Athar terhenyat oleh sebuah telpon masuk yang bergetar di saku celananya.
"Aduh, Abah lagi!"
Tadinya Athar ingin mengabaikan panggilan itu, akan tetapi urung saat melihat pesan WA yang mengancamnya.
PULANG SEKARANG! ATAU MINGGAT SEKALIAN TANPA UANG SEPESER PUN!
Athar menghela nafas panjang, Ia mencoba santai akan hal itu lalu berpamitan pada Farid dan teman-teman.
"Hari ini aku akan bertemu perempuan itu, jadi aku harus pulang!"
"Semoga cantik ya Thar!" Ucap mereka memberi semangat.
Athar pun melakukan tos pada semua teman-temen sebelum akhirnya Ia meninggalkan lokasi perkelahian tadi.
Siang itu, Abah meminta Bunda menyiapkan pakaian terbaik untuk Athar. Abah tidak ingin tatto Athar yang menyeramkan itu sampai terlihat oleh orang lain.
keberangkatan mereka menuju rumah Paman Ardy sekitar pukul satu siang. Kedua kendaraan roda empat itu sudah terparkir rapi di depan rumah.
Pak Ardy dan Bu Marwah yang menunggu kedatangan mereka sejak tadi langsung menyambut mereka dengan hangat. Mereka masih bingung siapa dari ketiga pria itu yang akan jadi calon suami Alzena sebenarnya.
"Silakan masuk Pak, Bu, dan semuanya. Maaf rumahnya sempit!"
"Duluan aja Bun, Athar ada telpon ni sebentar dari temen!"
Pemuda itu masuk belakangan. Sedang Zena masih di dalam kamar. Ia sangat gugup jika harus bertemu dengan calon imamnya itu. Sedang dari balik jendela, Gadis bercadar itu agak terkejut mendengar suara laki-laki sedang mengobrol dengan seseorang.
Kebetulan bilik kamar Alzena ada di samping tengah, dan Athar nampak serius mengobrol tak jauh dari daun jendela.
Alzena yang menjadi sangat penasaran, siapa gerangan pemilik suara pemuda itu pun memutuskan mengintai pelan-pelan. Tapi sangat di sayangkan hanya punggung Athar yang terlihat.
"Ya Allah siapa dia? Apa pemuda itu adalah calon imam Zena? Kok perasaan Zena makin gak karuan ya?" Gumam Zena seorang diri.
"Rid, siapkan aja segala sesuatunya ya. Aku tahunya besok kelar!" Ucap Athar di akhir kalimatnya. Ia berbalik menghadap jendela lalu Alzena langsung bersembunyi.
"Kok, kayak ada orang ya di jendela itu? Apa cuma perasaan aku aja?" Tanya Athar pada dirinya sendiri. Menatap beberapa saat ke arah kamar Zena. Tak mau ambil pusing, Athar segera menyusul masuk ke dalam.
"Athar, ayo salaman sama Paman dan Bibi dari calon istrimu!" Titah Pak Dullah padanya.
Athar mengangguk dan segera menyalami kedua orang yang di maksud, "Paman, Bibi?" Seloroh Athar sesopan mungkin.
"Ayo duduk nak, saya tinggal ke dapur sebentar ya!" Bibi Marwah sengaja ingin meminta Zena menghidangkan cemilan yang sudah di persiapkan sembari membawa beberapa bingkisan keluarga Pak Dullah tadi.
"Zen, apa kamu sudah siap?" Tanya Bibi Marwah yang melihat Zena memilin ujung hijabnya.
"Zena malu Bi, apa bisa Zena ketemunya pas akad nikah aja?" Tawar Zena penuh ragu.
Bibi Marwah mengembangkan senyum simpul, lalu mengusap pucuk kepala yang masih berbalut hijab yang di kenakan Zena, "Jadi kamu yakin mau menerima perjodohan itu Nak? Biar Bibi bicara dengan Paman Ardy jika kamu segan menemuinya!"
"Iya Bi, begitu saja ya. Alzena yakin kok pilihan Paman dan Bibi tidak akan pernah salah!" Mohon Zena berharap Bibi Marwah mengerti.
"Ya sudah kamu dengerin aja keputusan Paman dan Pak Dullah dari sini. Tapi ingat, jangan sampai Zena menyesal lo!"
Zena mengangguk setuju, "Iya Bi, Zena serahkan semuanya sama Paman dan Bibi!"
Bi Marwah pun terpaksa keluar dengan membawa gelas teh hangat dan camilan ringan yang di belinya tadi sendiri. Sebenarnya Bibi Marwah bisa membuat kue, akan tetapi waktunya terlalu mepet.
"Zena kemana Bu?" Bisik Paman Ardy cuap-cuap.
"Oh iya maaf sebelumnya ya Pak, Bu, Alzena katanya malu untuk ketemu. Jadi dia cukup mendengarkan saja dari dalam!" Ungkap Bibi Marwah dengan jujur.
Athar mengernyit mendengarkan itu, kenapa dia jadi sangat penasaran seperti apa wajah dari calon istrinya itu. Kenapa juga gadis yang hendak di jodohkan dengannya malah menolak untuk bertemu.
Ah, mengesalkan secantik apa gadis itu?
Pak Dullah yang tidak sabar memastikan kesediaan Zena, segera memulai pembicaraan, "Jadi gini Pak, Bu, jika Alzena benar-benar menerima Athar putra kami menjadi suaminya. Niat kami adalah seminggu lagi pernikahan itu akan segera di raya kan. Jadi gak perlu pacaran, supaya terhindar dari yang namanya fitnah atau Zina. Apalagi Kami kan tahu betul, kalau keponakan Bapak dan Ibu adalah perempuan yang shalihah yang bercadar. Tentu Ia takut bertemu dengan yang bukan mahromnya!"
"Iya Pak, itu benar. Tapi bagaimana dengan nak Athar sendiri? Apakah kamu bersedia membimbing Alzena dan bertanggung jawab penuh sebagai suami di dalam hidupnya?" Pak Ardy membalikkan pertanyaan ke pada Athar yang sejatinya akan memiliki tanggung jawab penuh terhadap Zena kedepannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻ɢ⃟꙰ⓂSARTINI️⏳⃟⃝㉉
mewah klok punya uang bnyk bsa bikin rumh mwah
2023-02-23
0
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
nah loh... abah dah marah
2023-02-23
0
perjodohan yg di rancang sudah di laksanakn...antara athar dan zena,zena wanita yg sabar dn tabah,dia hnya menurut aja,apa rancangn paman nya...moga kmu bersedia zena.
2023-02-16
1