Bab 6 Harapan Paman Dan Bibi

"I- iya dong Bah, masak bohong sih?" Jawab keduanya bersamaan.

Pak Dullah kembali menatap Dinda dan Mayra yang ternyata mau mengabulkan permintaan Ardhan dan Alan untuk memakai hijab juga pakaian gamis yang agak kegedean.

Mayra adalah gadis yang tinggal bersama Ibunya. Kebetulan Alan tadi membantu mereka saat kecopetan. Lalu sebagai balas budi Mayra bakal bersedia menjalani pernikahan kontrak dengan Alan asal ada yang mengurus dan memenuhi kebutuhan sang Ibu. Jadi Alan memutuskan membayar orang untuk mengabulkan permintaan Mayra yang tinggal di kampung sebelah.

Sedang Dinda memang pacar Ardhan sejak lama. Ia siap menikah dengan Ardhan kapan pun pemuda itu mengajak nya. Tapi sudah setahun berlalu. Baru sekarang Ardhan mengenalkan keluarga pada Dinda.

Pak Dullah pun memutuskan memberikan pertanyaan pada kedua gadis itu, "Dinda, Mayra, kalian tahukan tujuan Abah meminta Alan dan Ardhan memperkenalkan diri kalian malam ini?"

Keduanya menganggukkan kepala, "Iya Bah!"

Jawaban meyakinkan itu membuat Abah melanjutkan pertanyaan berikutnya, "Itu artinya kalian sudah siap kan menikah dalam minggu-minggu ini juga?"

"Minggu ini?" Sahut keduanya lagi bersamaan. Mereka cukup kaget dengan ucapan Abah karena Alan dan Ardhan tidak mengatakan apa pun sebelumnya.

"Iya, tujuan Abah ingin mengenal kalian lebih jauh adalah ingin segera menikahkan kalian dengan Ardhan dan Alan. Tapi ingat kalian harus pikirkan dulu masak-masak pernikahan ini sebelum terjadi. Sebab Abah tidak ingin mendengar ada acara perceraian di tengah jalan!"

Dinda yang melirik kearah Ardhan mengembangkan senyumnya, "Baik Bah, aku mau. Sudah lama aku menunggu keseriusan Bang Ardhan. Tapi dia tak kunjung memberi kepastian pada Dinda."

"Benarkah?" Pak Dullah nampak berseri mendengar hal itu. Bukankah sudah jelas pernikahan Ardhan dan Dinda bakal langgeng ke depannya.

"Bagus, Abah senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan kamu Mayra?" Pak Dullah beralih menatap gadis yang ada di samping Alan. Sejak tadi perempuan itu menundukkan kepala karena tak berani menatap Abah Dullah.

"I- iya Bah, tapi Mayra hanya anak yatim yang tinggal berdua sama Ibu. Kehidupan kami pun tidaklah baik. Tapi jika memang Alan ingin menikahi Mayra tentu saya sangat berharap Keluarga Alan mau menerima kekurangan Mayra," jawab gadis itu secara jelas. Agar nantinya orang tua Alan tidak terkejut saat berkunjung kerumahnya.

Pak Dullah mangut-manggut mengerti, "Abah tidak akan pernah mempermasalahkan itu Nak, asal kalian mampu mengubah tabiat buruk kedua anak Abah ini!"

Usai mengatakan ungkapan singkat tersebut, Pak Dullah menelisik kearah arloji di lengan kirinya, Ia masih menunggu kepulangan Athar. Sudah jam sembilan malam. Tapi anak itu tak jua menunjukkan batang hidungnya.

"Bunda, apa Athar belum bisa di telpon?" Tanya Abah Dullah pada perempuan yang melahirkan Athar.

"Hapenya gak aktif Bah, mungkin dia mau mangkir dari syarat-syarat Abah!"

Pak Dullah menghela nafas panjang, sudah biasa Athar paling bandel diantara yang lainnya. Tapi di balik keangkuhan Athar itu. Pak Dullah jadi bisa melanjutkan rencananya.

"Ya sudah, kalian antar Dinda dan Mayra pulang. Ini sudah sangat malam. Tapi ingat ya, jangan berhenti kan mereka di kebun pisang. Atau burung kalian akan hilang seketika!" Ucap Pak Dullah membuat lelucon.

"Hehehe... siap Bah, kalau begitu kami pergi dulu!"

Mereka menyalami Abah dan ketiga Ibu mereka sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.

"Bun, persiapkan anakmu besok!" Ucap Pak Dullah mengingatkan. Karena itu berarti mereka akan datang melamar gadis yang di persiapkan Abah untuk salah satu anaknya yang tak bisa menepati janji.

"Iya Bah!"

Bunda Alika sebenarnya sangat sedih dengan hal itu. Ia takut keputusan Abah akan menyengsarakan Athar, tapi mau bagaimana Lagi. Toh bunda Alika tidak akan pernah bisa menentang suaminya.

Waktu berputar begitu cepat. Pagi-pagi sekali Abah sudah menelpon Paman Ardy untuk menyampaikan ikhwal kedatangan mereka selepas ba'da Zuhur.

"Hari ini Pak?"

"Iya, kalian tidak perlu mempersiapkan apa pun juga. Karena kami akan datang membawa banyak makanan," tutur Abah Shihab yang bertujuan tidak ingin memberatkan keluarga Paman Ardy.

"Baik Pak, itu artinya kami tidak akan pergi kemana-mana !"

Usai menelpon, Paman Ardy gelimpungan. Ia harus menyiapkan sedikit makanan ringan untuk menyambut tamunya. Karena bagaimana pun juga Ia pasti malu jika tidak menyediakan apa-apa.

"Bu, Ibu!" Teriak Paman Ardy dari ruang depan.

Bibi Marwah yang masih mengurus Malik di kamar putranya itu bergegas keluar, "Ada apa sih Pak? Kok panik gitu? Gak enak lho di dengar tetangga sebelah?" Tanya Bibi Marwah keheranan.

"Itu Bu, Pak Dullah dan keluarganya mau datang. Mereka berniat meminang Alzena hari ini. Cepat kasih tahu ponakanmu itu sekarang. Setelah itu segera pergi ke warung sana buat beli roti atau gorengan apa lah. Ada uang dua ratus ribu di celana Bapak! Gak enak kan kalau gak di sediain cemilan!"

"Oh itu Iya Pak, biar Ibu bilang ke Zena bentar!"

Bibi Marwah melangkah cepat ke halaman belakang, dimana Zena sedang mencuci banyak pakaian keluarga pamannya. Hanya itu yang bisa di lakukan Zena untuk membalas kebaikan Paman dan Bibi. Sampai nanti ada yang datang meminang Zena. Sebab untuk mencari pekerjaan, Paman Ardy tidak memperbolehkan. Mengingat zena adalah gadis shalihah. Jadi kegiatan sehari-hari Zena hanya membantu Malik mengajar mengaji di musholla.

"Zena, udah biarin yang jemur Bibi aja. Cepat kamu mandi sana. Soalnya orang yang akan meminang kamu akan datang siang ini selesai Ba'da zuhur!"

Zena yang kaget sedikit melongo, "Meminang? Maksud Bibi?"

Bibi Marwah yang sadar kalau Zena belum memberi keputusan soal perkataan mereka kemaren pun mematung sejenak. Ia tidak tahu apakah Zena suka atau tidak dengan keputusan itu. Tapi menurut Bibi Marwah apa salahnya Zena bertemu dulu dengan calon suaminya itu agar mengenal lebih dulu.

Lamat-lamat Bibi Marwah memberi pengertian dengan lembut, "Zen, maafkan Paman dan Bibi. Setidaknya kamu hargai kami untuk bertemu dengan calonmu itu sekali saja. Setelah itu terserah kamu, mau menikah sama dia atau enggak, Paman dan Bibi tidak akan memaksa."

Tak ingin mengecewakan harapan kedua orang yang sudah seperti pengganti orang tua di dalam hidupnya, Zena pun mengangguk, "Baik Bi, Zena akan menemuinya?"

Bibi Marwah langsung melebarkan senyum, sungguh hanya itu yang ingin mereka dengar dari bibir mungil Alzena. Paman Ardy dan Bibi Marwag mengambil keputusan itu bukan tanpa dasar. Mereka hanya ingin Alzena hidup berkecukupan di rumah suaminya tanpa harus memikirkan kebutuhan sehari-hari. Jujur saja Paman Ardy hanya mengandalkan kebun sayur yang tidak seberapa di tanah petak yang hanya memiliki luas seperempat hektar peninggalan Kakek Zena.

Dulu kebun Kakek sebenarnya sangat luas, tapi habis di jual hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup guna bisa makan dengan beras, atau harus ektra sabar mengkonsumsi tiwul yang di buat dari umbi singkong.

Terpopuler

Comments

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

mungkin itu memang yg terbaik bu

2023-02-23

0

Rӊᷩуͦηᷠιͤєᷜ Kαⷼzⷻυⷿмꚟι

Rӊᷩуͦηᷠιͤєᷜ Kαⷼzⷻυⷿмꚟι

maafkan author Zena yang menjodohkanmu dngn orang yang kamu benci ...moga Athar berubah jadi lebih baik lagi Yaa Zena...marya dan Alan moga langgeng Yaa keblakangnya...kasian marya....kalo di pakek am Alan gmn kalo hanya untuk di ceraikan...🤧🤧

2023-02-15

0

nahh....ardhan dan alan ydah ada calon....kmu athar gimana....nunggu aja lh....keputusan abah kmu....pasti yg tetbaik juga buat kmu athar

2023-02-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!