Sekitar dua hari lamanya, Athar akhirnya rampung juga meminta orang yang membuat tatto itu membersihkannya. Beruntung Ia tidak memakai yang permanen, sehingga mudah saja untuk di hilangkan.
Dalam hati sebenarnya Athar keberatan, karena Tatto itu adalah cerminan kegarangannya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak di lakukan Abah dan Bunda selalu mengancamnya.
"Ah Sial, demi perempuan yang masih belum jelas rupanya itu, aku terpaksa melakukan ini. Semoga parasnya tidak mengecewakan aku nanti atau aku akan menyesal seumur hidup," umpat Athar saat masih mengendarai motornya.
Kesendiriannya itu rupanya bukan sesuatu yang bagus karena Nicko dan kawan-kawan tengah mengejarnya dan melakukan pengeroyokan.
Brum!
Brum!
Sengaja mereka mengiringi sisi kiri, kanan dan belakang Athar sambil menarik gas di barengi dengan tawa meremehkan hanya untuk menggodanya. Mereka ingin lihat seperti apa kuatnya seorang Athar jika dia sedang sendirian.
"sohibmu mana Thar?" Seringai Nicko, mengerling dengan picik dan sok akrab.
Athar tidak perduli dan mempercepat laju motornya, tapi Nicko dan kawan-kawan tidak akan berhenti melakukan tindakan mereka.
"Ayolah Thar, jangan cemen begitu. Gak asyik banget deh!" Seru salah satu kawan Nicko.
mereka akan menjepit kendaraan Athar yang masih tidak mau bicara, dan semakin mempercepat laju kendaraan. Hingga Nicko dan yang lainya saling melempar kode, membuat Athar hilang kendali karena terjangan kaki lawannya hingga ringsek di badan jalan. Beruntung Athar baik-baik saja.
"Hahaha... cemen lo Thar!"
Gelak tawa memecah suasana yang sudah semakin tegang, Athar tentu tidak terima dengan tindakan mereka lalu bangkit dan melepas helmnya, kemudian menyerang geng motor itu seorang diri.
Bag!
Bug!
Bag!
Bug!
Baku hantam mewarnai aksi mereka, Athar di keroyok dari berbagai sisi hingga Ia cukup kewalahan.
"Ayo Thar, keluarkan jurus andalanmu!" Tantang Nicko yang nampak sangat puas melihat Athar mulai lemah.
Pemuda itu mencari selah, agar tidak kalah. Athar berlari masuk kesebuah perkebunan milik warga dan melihat ada pohon kelapa.
situasinya yang terus di kejar dan hampir dekat, Athar menapaki batang pohon itu beberapa kali untuk menjadi tatanan tubuhnya melambung dan menerjang dada mereka yang mengitarinya dengan kekuatan kaki.
Melihat aksi mencengangkan itu, Nicho yang baru saja menyusul di belakang kian emosi melihat kawan-kawannya tergeletak.
"Sial, kuat juga dia!"
Kini Nicko menyerang seorang diri satu lawan satu, seperti tadi, Athar tidak banyak bicara. Ia hanya fokus melawan Nicho hingga salah satu teman Nicko tadi mencuri cara untuk melumpuhnya dengan berbuat kecurangan. Pemuda itu mendapatkan kayu yang cukup keras lalu memukul sebelah kaki Athar hingga pemuda itu terkejut dan meraung.
"Arghhh....!"
Athar merasakan sakit teramat sangat. Memegangi kakinya sambil menatap Wawan dengan tatapan mendendam.
"Wah, keren Wan. Sepertinya itu aksi yang luar bisa!" Dengan bangga Nicho menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
"Bangsat, aku tidak akan tinggal diam Nicho!"
"O ya, kamu yakin?"
Nicko hendak kembali menyerang Athar tapi pemuda itu terlalu cerdik, hingga Ia melompat dan menerjang perut Nicko yang di pukul mundur.
Meski kaki Athar sakit, pemuda itu langsung berlari mencari tempat perlindungan. Ia tidak mungkin melawan mereka dalam kondisi cidera seperti itu.
"Woy kalian, ayo kejar dia jangan sampai lolos!" Nicho meneriaki gengnya.
"Iya Bos, ayo!" Ajak Hengky yang masih berusaha bangkit meski tubuhnya terasa sakit.
Athar kembali masuk ke perkampungan, Ia tidak boleh binasa atau genk motor itu akan membuatnya kalah tenaga.
Sesampainya di depan sebuah warung, Athar kembali di pertemukan dengan Zena yang masih menenteng beberapa belanjaan yang tidak di belinya di pasar kemaren. Gadis itu baru saja menyalahkan mesin motornya hendak pulang.
"Bawa aku!" Pinta Athar yang langsung membonceng di belakang motor Zena.
"Eh, ka- kamu mau apa?" Tanya Zena ketakutan.
"Lakukan saja atau mereka semua akan membunuh kita!" Athar menunjuk kearah Nicko dan kawan-kawan yang masih berlari kearah mereka.
Zena yang juga jadi ikut takut langsung melajukan motornya, pikiran gadis itu mendadak buntu hingga Ia menurut apa yang di katakan Athar.
Hos!
Hos!
Nicko menghentikan kawan-kawannya untuk mengatur nafas yang lumayan ngos-ngosan.
"Sudah berhenti! Mengejar pun sia-sia. Bawa saja motor Athar, kita tahan di markas!"
"Siap Bos!"
*****
Setelah merasa aman, Athar menepuk pundak Zena agar menghentikan motornya, "Sudah, turunkan aku disini!"
"AstaughfiruLLahaladzim, jangan pegang-pegang Mas!" Protes Zena kesal.
Gadis itu menurut untuk menghentikan mptornya, dan melihat Athar yang sudah turun dari motornya masih meringis kesakitan, melihat itu ada kepuasan di hati Zena, "Rupanya hukum karma berlaku yq, hari ini kamu merasakan sendiri kan? Kalau sakit itu gak enak!"
"Apa katamu?" Athar menatap lekat tepat padi netra bening milik Zena. Seperti biasa Cadar indah itu menutupi wajah gadis di depannya dengan sempurna.
"Bukankah tempo hari kau membuat sepupuku cidera? Sebenarnya aku gak pernah ikhlas, memberikan bantuin ini para berandalan tak berhati sepertimu, tapi anggap saja aku sedekah kebaikan!" Tilas Zena lagi.
"A- apa? Kau_?"
Entah kenapa Athar jadi mati kutu, Ia kesulitan menanggapi Zena yang sudah melajukan kembali motornya, "Assalamualaikum!" Ucap Zena yang masih tertangkap sayu di telinga Athar.
Pemuda itu hanya mengamati Zena sampai menghilang, akhir-akhir ini Athar tidak mengerti sama sekali, kenapa Ia jadi sering bertemu dengan Zena padahal perempuan itu cukup menyebalkan.
"Astaga, aneh sekali dia. Kenapa juga aku malah meminta tolong pada perempuan itu?" Gerutu Athar seorang diri.
Pemuda itu melanjutkan langkahnya meski sedikit pincang. Ia mencari tempat duduk di tepi jalan lalu merogoh ponselnya untuk menelpon agar Farid segera menyusul.
Cukup sepuluh menit, pemuda yang di maksid sudah datang dengan mengendari motor gedenya, "Ayo Thar!"
Athar bergegas membonceng untuk mengumpulkan Kawan-kawan. Mereka harus membangun siasat untuk mengambil kembali motor yang sudah pasti di tahan oleh mereka.
"Jadi, apa rencahamu Thar?"
"Kita serang markas mereka agar motorku balik lagi," jawab Athar yang masih menggulung celananya ke atas. Memeriksa betisnya yang sedikit memar.
"Wah, sialan. Mereka bikin kakimu sampai begitu Thar, sepertinya mereka minta di hajar!"
Radit tidak terima akan hal itu karena tim anak berandalan bukan lah genk yang bisa di kalahkan oleh musuh.
"Bener Dit, kita harus bikin perhitungan sama mereka agar tidak semena-mena lagi seperti ini!"
"Iya Thar, lagian sebentar lagi kamu akan menikah. Kita harus mengamankan tempat itu, takutnya geng anak motor itu berencana mengacaukan semuanya!" Usul Riky.
"Bener banget Bro, aku akan sewa Geng Anak macam di kampung sebelah deh, gimana?" Tanya Farid, yang minta persetujuan Athar.
"Iya deh, kita lihat nanti. Sebab kalian tahu sendirikan Abah tidak menyukai kalian?" Athar tak mau ambil resiko karena itu akan berdampak besar dalam hubungan mereka.
"Kamu benar Thar, yang ada malah kita yang kacauin," sahut Dodi pula.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
nah...padan muka kmu thar...di pukul kaki.....
2023-02-17
1
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
kalau sudah jodoh mau gimna thar
2023-02-14
1
🍁𝐀𝐑𝐀❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
ketemu lagi kan kalian🤭🤭
2023-02-14
2