Alzena mengangguk paham, dia sudah belajar banyak tentang hal itu tapi entah kenapa dia replek melakukannya pada Athar tadi.
Bagaimana tidak, mengingat Athar adalah berandalan. Bukan tidak mungkin pria itu akan mencabik-cabiknya nanti.
"Iya Bi, Maaf. Nafisa malu soalnya. Belum terbiasa sama pemuda asing."
"Kalau begitu ayo temui suamimu lagi. Berbaktilah pada suamimu sekarang. Karena dia adalah Imammu!" Bibi Marwah menasehati keponakannya itu demi keharmonisan rumah tangga mereka kelak.
Alzena tersenyum kecil, Ia bimbang untuk melakukannya tapi tidak ada pilihan lain kecuali berpamitan dengan Bibi Marwah untuk kembali.
Sesampainya dikamar, Gadis yang memiliki bola mata bening sedikit sipit itu menerawang ke seluruh ruangan. Akan tetapi Athar sudah tidak ada. Kemungkinan pemuda itu sedang mandi atau meratapi kekecewaan karena ulah konyolnya tadi.
"Ya Allah, Zena sudah melakukan kesalahan tadi. Mungkinkah Mas Athar bakal marah pada Zena nanti?" Tanya Zena pada diri sendiri.
Zena tidak mau berdiam diri, Ia harus segera melepas pakaian dengan cepat-cepat karena harus membersihkan diri juga untuk menunaikan kewajibannya yang sudah mendekati waktu Maghrib.
Usai melihat Athar rampung, Zena langsung berhambur keluar. Tak ayal tingkah Zena membuat perut Athar sakit di buatnya, "Dasar perempuan polos? Segitunya dia takut denganku? Apa jangan-jangan dia belum pernah pacaran sebelumnya?"
Athar memutuskan memakai baju yang di bawakan Bunda Alika tadi. Hanya berisikan baju-baju koko dan kaos lengan pendek, sarung juga beberapa celana pendek.
"Ah sial, kenapa Bunda tidak memasukkan jaket kesayanganku sih? Bagaimana mungkin aku bisa menemui sohib-sohibku kalau begini?"
Athar tak punya pilihan selain lagi-lagi pasrah memakai pakaian yang ada. Pemuda itu lalu berbaring dan bermain ponsel karena tubuhnya terasa lelah.
Tak lama Zena kembali dengan pakaian baru, Perempuan itu menggulung rambutnya yang basah dengan handuk. Tapi sama seperti tadi, Zena masih saja melindungi wajahnya dengan ujung handuk tersebut agar tidak bisa di lihat oleh Athar yang malah kian penasaran di buatnya.
"Eh, tunggu dulu!"
"Siapa? Aku?" Tunjuk Zena kearah dirinya sendiri.
"Iyalah siapa lagi. Sini, duduklah di sampingku!" Ajak dengan menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
"Nanti ya Mas, Zena sholat dulu. Emang Mas Athar gak sholat?" Zena harap pemuda itu mau menawarkan diri mengimaninya.
"Sholat? Nanti aja deh, Lelah?" Jawab Athar sekenanya. Karena penolakan Zena membuat hatinya cukup meradang.
Berputar kearah kehidupan yang lain, Farid merenung seorang diri ke kamar. Mengenang bagaimana mereka merenggut kehormatan wanita yang dicintainya beramai-ramai hanya karena Asyifa selalu saja menolak cintanya.
Sebetulnya ada rasa sesal di hati, tapi Farid sudah terlanjur sakit hati pada sikap Asyifa yang selalu saja mengacuhkan niat baiknya.
"Hem, bagaimana nasib gadis itu sekarang? Apa dia depresi atau sedang sibuk mencari suami yang mau menerimanya?"
Farid tidak bisa tenang sebelum dapat memastikan lebih dulu kondisi Asyifa. Pemuda itu beranjak dari ranjang dan bergegas menaiki trailnya menuju kerumah Syifa.
Dari balik pohon dan cahaya lampu remang-remang Farid melihat Syifa sedang menyapu teras. Tapi jelas tatapan gadis itu terlihat kosong. Pasti perilaku bejat mereka malam itu telah menganggu pikirannya.
"Dasar bodoh!" Rutuk Farid sembari meninju batang di depannya. Sakit jua tak di rasa. Antara puas dan menyesal melakukan itu pada Asyifa yang sejatinya perempuan baik-baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
kmu itu bodoh farid....seperti itu kah kmu menyintai wanita mu......sampai berganti sama teman2 mu....otak mu otak udang......coba pake otak kuda nggk sampai gitu...
2023-02-18
1
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
ayolah farid tanggung jawab sma syifa kesian dia
2023-02-14
1
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Smoga kamu ada hidayah yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk suamimu....
2023-02-14
2