Bab 3 Memberi Tahu

"Mau ngomongin apa ya Paman? Kok tumben Paman sama Bibi ngajak Zena berbicara, tak seperti biasanya kita yang ngobrol bareng sambil dengerin guyonan Malik?" Tanya perempuan itu dengan sopan. Ia sangat menghormati pasangan paruh baya yang begitu besar jasanya itu di hidupnya.

Bukannya menjawab, keduanya malah saling senggol. Sepertinya mereka masih bingung mau memulai pembicaraan itu dari mana.

Paman dan Bibi takut ucapan mereka nanti malah di anggap salah oleh Alzena yang bisa saja mengira mereka akan mengusir Zena dari rumah itu.

"Paman, Bibi, katakan saja. Zena siap banget dengerin apa kata kalian. Sebab Paman dan Bibi udah kayak orang tua Zena sendiri?" Sambung Alzena lagi. Masih setia menunggu keduanya mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan padanya.

"Em... I- itu Ndok, sore tadi Pak Dullah meminta kami datang kerumahnya. Kamu tahukan Pak Dullah pemilik kebun kofi?" Tanya Paman Ardy memastikan.

Alzena mengangguk kecil, siapa sih yang tidak kenal dengan orang berada di kampung itu. Meski Pak Dullah haji tiga kali, rumahnya ada tiga, tapi Istrinya ada tiga pula, serta Anak laki-lakinya juga tiga. Entah mengapa Pak Dullah tidak punya anak perempuan dari ketiga istrinya. Kemungkinan karena bibit punya Pak Dullah hanya akan subur jadi anak laki-laki selamanya.

"Emang kenapa dengan Pak Dullah Paman?"

Zena mulai tak enak hati mendengar kelanjutan dari ucapan Paman dan Bibinya.

"Tadi beliau berniat meminang Zena," jawab Bu Marwah hingga Alzena tersendat kaget.

"Aduh, Ndok kamu kenapa sayang?"

Bibi Marwah buru-buru mengambil air putih yang di berikan kepada Zena hingga perempuan itu meneguknya sampai habis.

Beberapa saat setelah melihat Alzena tenang, Paman pun menjelaskan semuanya secara mendetail. Keponakannya itu pasti salah paham mengira Pak Dullah lah yang akan meminangnya.

"Maksud Paman dan Bibi gini Zen, Pak Dullah itu sedang mencari perempuan shalihah untuk menjadi istri dari salah satu putranya yang sulit di atur. Ia yakin putranya itu bakal berubah jadi lebih baik jika menikah denganmu!"

"Kenapa harus Zena Paman? Bukankah Paman tahu, Zena hanya akan menikah jika di pinang pria yang jelas Agama dan perilakunya?" Tukas perempuan itu agak segan.

"Ya, itu karena Paman punya hutang dua puluh juta buat mondokin kamu Zen. Tapi bukan maksud Paman mengungkit apa yang sudah Paman berikan. Paman cuma pengen kamu punya kehidupan lebih baik dari sekarang?" Jelas Paman Ardy yang jadi serba salah.

Alzena nampak murung, bagaimana mungkin Ia menolak permintaan Pamannya itu jika masalahnya demikian. Emang benar Zena tak pernah melakukan apa pun untuk membantu keduanya. Ia benar-benar numpang hidup dan semua biaya yang ada saat ini itu semua atas kebaikan keduanya.

"Ndok, maaf jika kami jadi mengatakan ini. Tapi menurut kami, kamu akan bisa hidup layak disana. Tugasmu cuma merubah tabiat anak Pak Dullah itu saja!"

Alzena menatap keduanya lekat-lekat lalu mengembangkan senyum. Jujur sebenarnya Alzena sedih tidak menikah dengan pria seperti dalam angan-angannya selama ini. Akan tetapi Ia juga tak ingin mengecewakan keduanya kalau sampai Ia menolak pinangan itu.

"Beri Zena waktu untuk berpikir lebih dulu Paman? Sebab ini menyangkut sebuah pernikahan yang suci. Zena hanya ingin menjalani pernikahan seumur hidup sama suami Zena nanti. Bukan seumur jagung yang bosan lalu berpisah seenaknya," jawab Alzena sayu.

Keduanya mengangguk setuju. Mereka tidak akan memaksakan kehendak, jika memang Zena akan menolak pinangan dari Pak Dullah untuk menikah dengan putranya.

Selepas obrolan berakhir, Zena berpamitan masuk ke dalam kamar lalu berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit. Ia memikirkan ulang perkataan Paman dan Bibinya itu soal siapa pemuda yang akan datang meminangnya.

"Ya Allah, hamba serahkan jodoh Zena kepadaMu. Tolong kirimkan pemuda yang baik untuk Zena. Bukan seperti para berandalan itu yang sudah menghina Zena, Aamiin," gumam perempuan itu seorang diri. Hingga tak sadar Ia terlelap bersama mimpi-mimpinya.

Berbeda halnya yang terjadi di tempat lain, teman Athar yang sejak sore tadi datang ke diskotik bersamanya merasa sangat aneh akan tingkah mereka. Karena sejak tadi mereka terus saja terpingkal-pingkal melihat ada yang tak biasa dengannya.

"Ada apa sih? Kok liatin aku terus?" Tanya Athar yang sangat terganggu dengan tingkah konyol para sohibnya itu.

"Sepertinya perempuan bercadar tadi akan menjerat dirimu Athar," timpal Farid yang tertawa lagi sampai harus menambah volume suaranya jadi lebih besar.

"Bener banget tu, sampai betah banget nyantol disana," Imbuh Riky pas duduk di sebelah Radit. Pemuda satu-satunya yang memiliki rambut keriting dari yang lainnya.

"Nyantol apaan?"

Athar bergegas memeriksa diri dari pucuk kepala lalu turun ke pundak. Sampai akhirnya tertunduk dan melihat ada cadar perempuan itu masih nyangkut di kancing jaketnya.

Pemuda itu pun melepas cadar itu dan mengamatinya secara seksama. Ia teringat lagi dengan apa yang sudah dilakukannya tadi hingga dapat melihat bagaimana ayunya seorang Zena. Meski hanya sekilas, Athar sangat yakin penglihatannya tadi tidaklah salah.

"Kenapa Lo? naksir ma Ukthy sok alim tadi ya Thar?" Ganti Radit yang menggoda.

"Bukan urusan kalian, cepat minum sepuasnya aku yang traktir malam ini!" Sengaja Athar mengalihkan topik pembicaraan agar para temannya itu tidak banyak bicara lagi mengenai wanita yang mereka Zholimi barusan.

"Asyik, Athar emang the best banget deh. Kalau di jadiin Bos," Ucap Yudi senang.

Tanpa sepengetahuan mereka yang sibuk meneguk bir, Athar memutuskan menyimpan Kain tipis dan wangi yang masuk dalam satu genggamannya itu buru-buru ke dalam saku lalu melanjutkan pesta mereka untuk berulang dan senang-senang.

Pagi-pagi sekali sekitar pukul tujuh tepatnya, Cahaya penghangat telah muncul dari ufuk timur tersenyum begitu indah, menembus embun di pagi buta hingga bersinar dengan sangat terang. Melepaskan rasa dingin yang semalam seakan menusuk sampai ke dasar tulang.

Keluarga Pak Dullah nampak tengah berkumpul di meja makan. Meski ketiga istrinya tinggal dalam satu atap rumah yang megah. Mereka bisa hidup begitu rukun dan damai.

"Bun, anakmu kemana?" Tanya Pak Dullah pada istri pertamanya. Sedang dua istrinya yang lain masih pada diam. Karena mereka selalu merasa iri jika Pak Dullah lebih perhatian pada Bunda Alika.

"Belum pulang Bah?" Jawab Bunda Alika lirih.

Selalu saja Athar yang sering di tanyakan Pak Dullah meski Ia punya 3 anak laki-laki yang sangat jarang sekali berada di rumah dan lebih memilih menginap di rumah sahabat mereka atau justru menghabiskan waktu di luar untuk mencari hiburan yang dapat membebaskan otak mereka dari stress. Jujur saja sebagai anak mereka merasa segan tinggal dengan para Ibu dari istri Pak Dullah yang sejatinya adalah saingan Ibu mereka.

"Pagi Mimi!" Sapa Alan yang baru pulang dari dugem. Membawa tubuh yang lemas dan mata yang sedikit susah diajak terbuka.

Ia pasti habis minum banyak dan tidur di sembarang tempat. Karena sikap itulah Pak Dullah sampai pusing tujuh keliling akan sikap anak-anaknya yang suka sekali berbuat liar. Tidak tahu dengan cara apa lagi Pak Dullah menasehati ketiga putranya itu.

Terpopuler

Comments

ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴅʀɪᴇᴀʀᴛʜᴀ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ️

ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴅʀɪᴇᴀʀᴛʜᴀ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ️

waduh jangan- jangan dijodohkan sama Athar

2023-02-15

1

༄༅⃟𝐐Vita Shafira𝆯⃟ ଓε💞🌏

༄༅⃟𝐐Vita Shafira𝆯⃟ ଓε💞🌏

ternyata anak pak dulan jg suka mabok mabokan, kasihan alzena kalau mendapatkan laki laki kayak gitu

2023-02-15

0

👙⃝ʀɪsᴍᴀ 𝐙⃝🦜

👙⃝ʀɪsᴍᴀ 𝐙⃝🦜

Wah si althar udah terpesona sama si zena nihh tp nunggu kamu berubah dl lah

2023-02-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!