"Aaa... Mbak Zena tolong. Kaki Malik sakit banget Mbak!" Teriak sepupunya itu meraung-raung. Malik tampak memegangi sebelah Kaki yang Zena sendiri tidak tahu seperti apa yang dirasakan bocah remaja itu.
"Malik...?"
Alzena sangat khawatir dan ingin menghampiri Malik akan tetapi Athar menahan lengan gadis bercadar itu dengan kuat. Alzena yang geram menarik-narik lengannya. Tapi semakin Alzena berontak Athar malam memperkuat pegangannya
"Lepas Bang, kita bukan mahrom!" Pinta Alzena baik-baik.
Namun sayang Athar tak mengabulkannya dan malah menarik tubuh gadis itu masuk kedalam pelukan hingga mengundang gelak tawa seluruh teman Athar.
Alzena yang jijik dan merasa kotor, benar-benar terkejut langsung mendorong tubuh Athar menjauh darinya. Pemuda itu sudah tega karena berani melecehkan tubuh yang selama ini selalu Ia jaga agar tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis.
"Ya Allah, lepas Bang. Jangan kurang ajar. Zena tidak suka Abang bertindak semena-mena seperti ini," Marah Zena pada Athar dan seluruh pemuda yang menatapnya begitu lekat.
"Buka saja Hijabnya Thar, aku penasaran secantik apa gadis itu? Yang benar saja, di jaman modern seperti sekarang ini. Masih ada aja yang memakai penutup cuma kelihatan matanya doang," pancing Farid dan kawan-kawan yang lagi-lagi tertawa menghina.
Athar mengerling nakal, dan berusaha melakukan apa yang mereka minta. Ia juga penasaran seperti apa wajah Alzena sebenarnya.
"Tidak Bang, jangan lakukan itu. Saya mohon hargai saya!"
Athar tidak perduli dengan hal itu hingga Ia nekat menarik hijab Zena bertepatan dengan beberapa penduduk yang datang menghampiri mereka.
"Woy, berandalan!" Teriak mereka emosi.
Athar dan seluruh kelompoknya sangat terkejut, namun Ia sempat Syok dapat melihat sekilas kesempurnaan yang dimiliki gadis itu. Hingga Athar kembali melemparkan hijab Alzena yang menangis atas tindakannya. Lalu bergegas naik keatas motor Trail yang sudah di nyalakan sahabatnya meninggalkan tempat itu dari masyarakat yang bisa. saja mengeroyok mereka.
Sebelum semua orang tahu, Alzena buru-buru memakai hijabnya lagi. Akan tetapi Ia tidak tahu kemana cadarnya. Hingga Ia menutupi wajah yang sejak lama di sembunyikannya itu dengan ujung hijab panjang melewati dadanya.
"Zen, Malik, kalian tidak apa-apa?" Tanya Pak RT khawatir. Mereka segera membantu Malik yang masih saja merintih kesakitan.
"Tidak Pak, Alhamdulilah," jawab Zena singkat. Ia menundukkan kepalanya pada para bapak-bapak itu agar tidak ada yang tahu seperti apa wajah yang di 6lindunginya itu.
Sejak berniat menggunakan cadar, Alzena telah berikrar hanya akan memperlihatkan wajahnya pada suami yang kelak bersedia meminangnya karena Allah.
Sebab Ia merindukan suami yang sholeh, pandai dalam ilmu keislaman agar kelak dapat membimbingnya menjadi wanita yang lebih baik lagi.
Mereka yang tidak ingin mengambil keputusan yang salah membawa Malik ke klinik memilih berduyung-duyung untuk mengantar keduanya pulang dan bertemu Paman Ardy dan Bibi Marwah yang tak kalah kagetnya melihat kondisi Malik karena kesulitan berjalan.
"Pak Rt, ada apa dengan Malik Pak? Kenapa dia sampai pincang begitu?" Tanya Bu Marwah sangat khawatir. Sebab Malik adalah satu-satunya anak mereka.
"Tadi Malik dan Alzena digoda anak berandalan itu lagi Pak, Bu. Mereka di keroyok hingga kaki Malik cidera seperti ini," jawab Pak Rt menerangkan.
"AstaughfiruLLahaladzim, Makasih ya Bapak-bapak. Kami akan segera mengantarnya kerumah sakit sekarang!" Ucap Pak Ardy dengan kerendahan hati. Sudah mendapat pertolongan mulia itu dari mereka.
"Sama-sama Pak, Assalamualaikum!" Pamit mereka sebelum pergi.
"Wa'allaikum salam!"
Paman Ardy segera menggandeng Malik masuk terlebih dahulu, sedang Bu Marwah memperhatikan Alzena yang masih terisak-isak.
"Sayang, ada apa nak? Kenapa menangis begitu?" Selidik Bibi Marwah keheranan.
"Bibi, Zena kesal. Pemuda itu sudah melecehkan Zena dengan membuka hijab Zena!" Timpalnya lirih. Berhambur memeluk Bibi Marwah.
"Apa? AstaughfiruLLahaladzim, keterlaluan sekali para berandalan itu. Tapi mereka tidak melakukan hal yang lain kan?"
Bi Marwah mengusap-usap kepala keponakannya itu dengan lembut. Dia sudah seperti Ibu kandung bagi Alzena karena sangat penyayang dan baik padanya.
"Alhamdulilah tidak Bi, tapi Zena merasa sudah kotor. Karena Zena maunya hanya suami Zena nanti yang lihat wajah Zena!"
"Iya, iya, Sabar Ya Ndok. Semoga mereka mendapat karma atas perbuatan mereka padamu!"
Bu Marwah membawa Alzena masuk dan mempersiapkan kebutuhan mereka untuk membawa Malik kerumah sakit.
Setelah di periksakan, ternyata benar kalau kaki Malik cidera dan tidak bisa berjalan dahulu sampai kondisinya kembali membaik.
"Ya Allah ya Robb, jadi Malik akan seperti ini terus Dokter?" Tanya Bibi Marwah sangat sedih. Begitu juga Paman Ardy dan Zena.
Bagaimana mungkin para berandalan itu tak punya hati sampai Malik harus mengalami hal itu. Apa lagi dia masih sekolah untuk menimba Ilmu dan mengajar anak-anak mengaji pada sore hari.
"Mereka benar-benar tak punya hati Bi, Alzena tidak percaya saat melihat mereka memukuli kaki Malik dengan balok hingga seperti ini. Sampai kapan pun Alzena tidak akan memaafkan mereka sebelum mereka datang dan meminta maaf!" Tukas Alzena kian Kesal. Ia tak pernah semarah ini sebelumnya. Tapi para berandalan itu tidak pantas di beri hati oleh siapa pun juga yang pernah di aniaya.
"Istighfar nak, jangan sampai kita menyimpan dendam karena itu adalah sifat syaiton!" Ucap Bibi Marwah menasehati dan sangat sabar menerima hal itu.
"Tapi Bi, mereka sangat keterlaluan. Jangan sampai deh, Alzena punya suami seperti mereka," timpalnya lagi masih belum ridho.
Apalagi mengingat bagaimana Athar tadi melihat Wajahnya tanpa hijab dan cadar hingga rambutnya yang sebahu jatuh berserakan di punggung.
Bu Marwah hanya menimpali dengan menghela nafas panjang lalu tersenyum ke arah Zena. Ia tak menyalahkan gadis itu karena Zena memang tidak pernah ingin wajahnya yang imut di lihat laki-laki yang bukan siapa-siapanya.
Usai pemeriksaan selesai, mereka di perbolehkan pulang. Malik tidak perlu di rawat inap karena cideranya hanya sementara saja.
Sesampainya di rumah, keluarga itu berkumpul di ruang tamu. Dimana rumah milik Paman Ardy sebenarnya sangatlah sederhana. Hanya memiliki 3 kamar dan beberapa ruangan yang tidak terlalu besar. Masih terbuat dari bata yang kasar sudah dari dua tahun yang lalu saat ada acara bedah rumah dari pemerintah. Beruntung Paman Ardy punya tabungan buat nambah-nambahin kala itu Maka berdirilah bangunan yang sekarang mereka tempati.
"Paman, Bibi, Zena ke kamar dulu ya mau mandi. Sebentar lagi azan soalnya!"
"Iya Sayang, kita juga mau mandi kok. Kamu di elap aja ya Malik!" Ucap Bibi Marwah begitu sayang.
"Iya Bu, maaf kalau Malik udah nyusahin!"
"Gak papa nak, anggap saja ini cobaan dari Allah buat kita ya!"
Hari berangsur-angsur semakin gelap, tepatnya setelah sholat isya dan Makan malam Paman Ardy dan Bibi Marwah mengajak Alzena mengobrol serius. Nampaknya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan pada gadis itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡
aku mampir 2 mawar untuk author jangan bagi-bagi sama Althar ya jahat orangnya🤭
2023-02-23
0
.
2023-02-23
0
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴅʀɪᴇᴀʀᴛʜᴀ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ️
kenapa syok liat Zena... cantik banget yaa Zena
2023-02-15
2