Cukup setengah jam berkemas, Zena segera berangkat dengan mengendari salah satu sepeda motor milik Paman Ardy. Ia sudah biasa melakukan hal itu setiap kali pulang dari pondok pesantren. Jadi sudah tak ada kesulitan lagi bagi Zena untuk pergi sendiri. Kecuali kalau kaki Malik baik-baik saja, biasanya anak itu yang selalu menawarkan diri untuk mengantar Zena.
Sesampainya di pasar, gadis bercadar pink itu segera membeli bahan-bahan yang di butuhkan. Ia tidak mau berlama-lama hanya untuk sekedar iseng dari satu penjual ke penjual yang lain hanya untuk melakukan penawaran.
Intinya Zena tahu kalau itu adalah harga umum, maka cukup baginya untuk segera membayar dan mendapatkan barangnya.
Usai berbelanja, Zena kembali ke lahan parkir. Kebetulan ada seorang pria yang membantunya memindahkan motor yang di bawa Zena ke tepi jalan dekat dengan air yang ada kubangan kecil di dalamnya. mUngkin sisa hujan kemaren yang belum mengering.
"Makasih ya Mang," ujar Zena dengan ramah. Mengulurkan selembar kertas uang dua ribuan untuk membayar biaya parkir.
"Sama-sama Neng."
Zena segera meletakkan sangkek itu di bagian depan dan hendak menyalakan mesin dengan santai tapi sebuah motor trail tiba-tiba melewati kubangan itu hingga airnya muncrat ke pakaian Zena.
"AstaughfiruLLahaladzim...!" Gadis itu kaget, bajunya jadi nampak sangat kotor dan basah.
Sedang motor trail tadi rupanya malah berhenti dan menoleh ke arah Zena, sepertinya pemuda itu pernah bertemu Zena beberapa waktu yang lalu. Berbeda dengan Zena yang tidak ingat sama sekali pada pria itu karena hari ini Athar memakai atribut keamanan berkendara secara lengkap berupa Helm, jaket, sarung tangan dan sepatu yang menutupi wajahnya secara sempurna.
Zena agak sedikit kesal juga melihat kearah Athar hingga akhirnya berkomentar, "Maaf Mas, hati-hati dong. Bajuku jadi basah kan?"
Athar malah memarkirkan motornya ke tepi jalan lalu menghampiri Zena, "Mau aku bantu?" Dengan lancangnya Athar berusaha membersihkan pakaian Zena dengan sapu tangan yang ada di sakunya.
"Eh, Ya Allah jangan sentuh saya Mas, kita bukan mahrom!" Protes Zena lagi menepis tangan Athar.
Pemuda berhelm itu mengembangkan senyum, tak salah lagi kalau itu adalah gadis yang di godanya tempo hari, "Oh oke, kalau begitu beri tahu aku caranya meminta maaf?"
Zena kembali menatap datar, "Sebenarnya cukup bilang aja aku minta Maaf, tapi jangan cari-cari kesempatan juga buat pegang-pegang. Agama Islam melarang keras kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom bersentuhan. Apa Mas tidak tahu itu?"
Pemuda itu menggeleng, "Aku bisa bersentuhan dengan puluhan wanita yang kumau, karena menurutku itu hal biasa!"
Zena yang ngeri mendengar langsung beristighfar secepatnya, "AstaughfiruLLahaladzim, Itu tidak benar Mas. Saya harap tidak akan memiliki suami yang berakhlak mengerikan seperti Mas. Karena itu dosa besar!"
Athar terkekeh kecil, sungguh aneh saja rasanya ada pantangan seperti itu dari Yang Zena maksudkan. Padahal pegangan tangan dan ciuman rasanya adalah sesuatu yang lumrah di muka bumi.
"Maaf Mas, saya mau lewat!"
Namun Athar menahan motornya, "Tunggu dulu!"
"Mau apa lagi Mas?"
Athar mengulurkan sapu tangan yang Ia gunakan tadi untuk membersihkan pakaian Zena, "Buat kamu saja!" Ucapnya buru-buru memasukkan benda yang di maksudkan kedalam genggaman Zena lalu berlalu pergi meninggalkan gadis itu.
Sedang Zena masih mematung memandangi benda yang di berikan Athar di tangannya, lagi-lagi Athar sesuka hati sengaja ingin menyentuhnya, "Is, kenapa buat aku? Dasar cowok gak punya Akhlak? Apa dia pikir dengan memberikan benda ini membuat aku berterima kasih?" Entah kenapa Zena kesal terus-terusan di perlakukan dengan tidak sopan seperti waktu bertemu Athar kala itu.
"Ya Allah, apa tabiat semua pemuda di kampung ini rata-rata begitu ya? Kenapa Zena jadi takut dengan calon suami Zena, gimana kalau kelakuannya juga begitu? Naudzubillah min dzalik, pertemukan Zena dengan pemuda yang tidak sembarangan seperti dia ya Allah?" Ucapnya seorang diri lalu menyimpan sapu tangan itu masuk ke dalam sangkek karena Zena berharap bisa bertemu lagi dengan pemuda itu dan mengembalikan kepada pemiliknya.
Sekitar setengah jam perjalanan Zena sudah sampai di rumah dan melihat Malik mulai belajar jalan tapi masih pincang seperti sebelumnya.
Zena cukup sedih melihat itu, hatinya sedikit marah mengingat perlakuan keji Athar pada sepupunya itu. Pukulan gila dan membabi buta, rasanya memilin hati Zena.
"Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikum salam Mbak!"
"Kamu sudah pulang dari terapi, Lik?" Tanya Alzena.
"Udah Mbak, baru aja. Tapi di suruh belajar jalan biar cepat membaik katanya!"
"Iya Lik, yang sabar ya. Allah pasti akan menghukum. perbuatan para berandalan itu!"
"Ya Allah, jangan begitu Mbak. Gak baik menyimpan dendam dan mendoakan yang jelek. Kita doakan saja agar mereka segera bertobat," timpal Malik seraya mengembangkan senyum. Begitu mulia hati adiknya itu meski sudah dianiaya tetap tidak ingin mendoakan sesuatu yang di larang oleh Allah.
"AstaughfiruLallhaladzim, kamu benar dek. Pasalnya akhir-akhir ini Mbak sering banget ketemu cowok tak bermoral. Makannya Mbak jadi berpikir seperti ini." Zena mengusap dadanya yang hampir di kuasai oleh amarah dan kebencian.
"Iya Mbak, terus itu kenapa bajunya jadi kotor?" Malik menelisik ke arah baju Zena.
"Oh ini, ya seperti yang Mbak bilang tadi. Karena pemuda gak punya akhlak jadi gini deh hasilnya. Ya udah deh Mbak masuk dulu ya!"
Zena menenteng sangkek yang di penuhi beberapa barang-barang itu untuk masuk dan membersihkan diri. Kemudian berlanjut menunaikan Ibadah sholat zuhur.
Mengarah jauh ketempat lain, Athar kembali bertemu dengan teman-temannya. Mereka sedang membahas soal pertikaian mereka dengan geng motor kemaren yang hendak berniat menyerang lagi.
"Thar, sepertinya kumpulan geng motor itu menantang kita lagi deh, lihat ini!"
Farid memperlihatkan surat yang di lemparkan salah satu anak geng motor tadi ke arah mereka.
Athar segera menerima kertas itu dan membacanya, "Astaga, berani sekali mereka? Belum tahu apa siapa kita?"
"Lantas, kita harus apa Thar?" Anak-anak berandalan itu harus dapat solusi agar tetap menjadi pemenangnya.
"Kita pikirkan nanti, soalnya aku mau pergi dulu untuk menghapus tatto di lenganku?" Athar kembali menaiki motor trailnya.
"Lah, tunggu dulu thar! Ngapain di hapus?" Tanya mereka penasaran.
"Calon istriku perempuan shalihah Kawan, bagaimana bisa aku menolak permintaan Bunda untuk membiarkan tatto ini abadi. Kalian lihat ini!" Athar menunjukkan cincin yang telah tersemat di jari manisnya.
"Ah, kalau kamu menikah. Apa itu artinya kita tidak akan bersama lagi," Ucap salah seorang teman Athar nampak khawatir. Karena hanya Athar yang paling kuat dan berani di antara merek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
mmg althar tdk punya akhlak...cowok brandel kn..seperti itulah,suka ngusik2 cewek,merogol aja belum pernah....jgn terlalu dendam zena,jgn juga terlalu sangat menilai..nanti2 itu jodoh kmu....
2023-02-16
1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝒀𝑹ᵃᶦ🕊️⃝ᥴͨᏼᷛˢ⍣⃟ₛ 𒈒⃟ʟʙᴄ
GK kelakuannya aja kayak gitu Zena....tp memang dia orangnya 🤣🤣
2023-02-15
1
🍁𝐀𝐑𝐀❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
jangan gitu Zena itu calon pendampingmu lho
2023-02-14
2