Waktu bergulir begitu cepat, malam itu sahabat Zena yang bernama Asyifa tengah pergi ke warung. Gadis yang juga berhijab namun tidak bercadar itu pulang dengan menenteng hasil belanjaannya sambil telponan dengan Zena.
Kangen rasanya karena jarang bertemu sejak Alzena pergi mondok. Padahal mereka selalu berbagi banyak hal jika ada sesuatu yang seru.
"Aduh Zen, aku kangen banget tauk, kapan ya kita bisa ketemu lagi?"
"Aku juga Syif, pengen banget bisa curhat banyak sama kamu. Tapi kita belum sempat ketemu," timpal Alzena dari seberang.
"Bagaimana kalau besok?" Asyifa mengajak dengan nada girang dan sangat antusias.
"Em... boleh deh, tapi kamu yang kesini ya!"
"Siap, ya udah Syifa tutup dulu ya telponnya, Assalamualaikum!"
"Wa'allaikum salam!"
Baru juga menyimpan ponselnya, Asyifa di kejutkan oleh Farid dan kawan-kawan yang tiba-tiba muncul di depannya, sejak lama Farid memang mengincar Asyifa akan tetapi gadis itu menolak karena Farid bukan pemuda yang berakhlak baik, "Cepat kalian bawa dia !" Titah Farid.
"Eh... apa-apaan ini?" Asyifa yang tahu mereka adalah geng anak berandalan sangat ketakutan. Tapi Kedua tangannya langsung di pegang oleh teman-teman Farid sedang mulutnya di tutup dengan sapu tangan agar tidak menimbulkan suara.
"Ikuti aku, jangan sampai ada yang lihat!" Titah Farid lagi.
Asyifa yang tahu maksud dan tujuan mereka berusaha meminta tolong, akan tetapi Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya yang hanya berakhir dengan merintih dan memberontak.
Para berandalan itu membawa Asyifa masuk ke sebuah rumah kosong hanya dengan bermodalkan flashlight dari Ponsel. Bahkan Syifa jadi tak dapat mengenali wajah para biadab itu.
"Aku duluan," ujar Farid yang sudah kebelet melepas hasrat. Sebab memang dia lah yang marah dan kesal karena cintanya telah di tolak. Ia ingin menjadi orang pertama yang merenggut tubuh Asyifa.
Apa yang bisa ASyifa lakukan selain⁸ kecuali menangis dan menghujat dalam hati aksi bejat mereka mereka karena telah menggaulinya secara bergiliran tanpa belas kasihan. Sedang tangannya terikat oleh tali tambang hingga tak bisa berkutik sama sekali.
"Cepat Selesaikan segera!" Radit dan Riky saling dorong pengen duluan hingga mereka join. Syifa sudah seperti perempuan malam yang sudah tidak ada harganya akibat tindakan mereka.
"Bagaimana apa kalian sudah selesai?" Farid khawatir ada yang memergoki perbuatan mereka.
"Sudah Rid, mantep banget dah punya gadis itu!" Gelak Radit sangat puas.
"Kalau begitu lepas ikatannya, supaya dia bisa pulang!"
Farid dan kawan-kawan segera pergi dari tempat itu membiarkan Asyifa menangis dan hancur seorang diri.
"Ya Allah, kenapa jadi seperti ini? Syifa sudah kotor Ya Allah!"
Dengan tubuh yang lemas dan sakit semua, Syifa segera mencari dengan cara meraba-raba bajunya. Beruntung ponsel Syifa ketemu di dekatnya jadi Ia bisa menyalakannya dan memakai pakaian yang sudah berserakan kemana-mana itu secepat mungkin agar bisa segera pulang.
Dimana Ibunya yang sudah sakit-sakitan cemas memikirkannya, sedang barang belanjaan itu sudah tidak ada di tangan Syifa.
"Ya Allah Syifa, kamu kenapa nak? Kok berantakan begini, pipi kamu juga jadi pada lebam?"
"Ibu...!" Syifa langsung memeluk Perempuan yang tengah terbatuk-batuk itu dengan sangat erat.
Tapi setiap Ibunya bertanya ada apa, Syifa tidak mau bercerita apa pun, dan malah memilih menyembunyikannya, "Gak papa Bu, tadi ada orang yang gak sengaja mau nabrak, alhasil Syifa jadi tersungkur ke aspal dan belanjaannya udah gak bisa di pungut lagi!"
"AstaughfiruLLahaladzim, ya udah cepat masuk sana dan ganti pakaianmu. Biar kita bisa ngompres pipi kamu!"
"Iya Bu.
Masuk ke dalam kamar tak membuat Syifa tenang, dia masih terus menangis sambil sesekali melaknat para berandalan itu karena sudah tega menyentuhnya tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun.
*****
Waktu bergulir begitu cepat, Syifa akhirnya benar-benar bertandang ke rumah Zena dan mengobrol seperti biasa. Bahkan Syifa juga tidak mau jujur dengan Zena penyebab pipinya masih meninggalkan lebam.
"Syif, beberapa hari lagi aku akan di nikahi oleh seorang pemuda. Kamu harus dateng ya buat bantuin aku!" Pinta Alzena penuh semangat.
"Pasti Zen, apa sih yang gak buat kamu?" Keduanya kembali berpelukan.
"Ah, kangen banget ketemu kamu Syif, o ya gimana kabar Ibumu?" Zena mengalihkan topik pembicaraan.
Alzena sedih mengingat kondisi sang Ibu, lalu tersenyum getir ke arah Zena. Jangan sampai sang Ibu tahu kalau dia baru saja di perkosa beramai-ramai.
"Masih seperti biasa, Zen. Tapi mau gimana lagi, Syifa udah belikan obat tiap bulan. Tapi kondisi Ibu tak kunjung membaik juga!"
Zena tahu kesedihan Syifa, sebab Zena juga beberapa kali menemani Syifa mengantar sang Ibu untuk check up rutin sebulan sekali kala Ia pulang dari pondok.
"Kamu yang sabar ya Syif, semoga saja akan ada keajaiban nanti. Yang penting kamu harus terus berdoa dan bersabar untuk itu!"
Hanya itu yang bisa Zena lakukan untuk menguatkan Syifa, karena untuk membantu soal Uang. Zena sendiri hidup karena kebaikan dari Paman dan Bibinya.
Pertemuan singkat itu harus memisahkan mereka lagi, Syifa tidak bisa berlama-lama meninggalkan Sang Ibu kecuali pas kerja di sebuah supermarket yang berdikari dari jam tujuh sampai jam empat sore mulai hari senin hingga sabtu.
Zena memutuskan akan memasak di dapur untuk santap malam, Ia membongkar sisa belanjaan di sangkek yang belum di tata semua dan tak sengaja terpantik dengan sapu tangan milik Athar tadi.
Meski agak kotor karena mengusap bajunya yang basah akibat terpercik air comberan, tapi hidung Alzena tak bisa bohong kalau sapu tangan itu amatlah wangi.
"Ternyata rajin juga anak berandalan itu," gumam Zena seorang diri.
"Punya siapa, Ndok?" Tanya Bibi yang rupanya sudah pulang dari kebun di belakang rumah.
Zena sedikit gugup dan salah tingkah, mana mungkin Ia bilang itu milik dari salah satu anak berandalan itu sedang dirinya sudah bertunangan dengan pemuda lain.
"Oh, ini Bi. Buat ngelap muka Zena tadi," ucapnya sedikit berbohong demi kebaikan mereka atau Bibi akan menegurnya. Karena Zena sudah tidak bisa lagi dekat dengan pemuda mana pun kecuali dengan calonnya.
Zena pun menyisihkan sapu tangan itu ke dalam bak pakaian kotor untuk di bersihkan. Suatu saat nanti jika bertemu dengan Athar lagi, Zena pasti akan mengembalikan kepada pemiliknya. Beban saja untuk Zena kalau benda itu masih berada di tangannya. Seperti ada sesuatu yang tak bisa di jabarkan lewat lisan.
"Hem, benar-benar bikin kesel. Kenapa juga berandalan itu memberikannya sama aku? Kan jadi bikin gak tenang sekarang?" Celoteh Zena ke arah benda itu.
Malam mulai menyambut gelapnya, Zena dan keluarga Paman Ardy sedang menikmati makan bersama sambil sesekali bersenda gurau.
"Zen, jangan lupa jaga baik-baik cincin itu jangan sampai hilang!" Pesan Paman Ardy.
"Iya Paman, Zena gak akan melepaskannya dari
jari Zena!"
"Iya, itu benar. Untuk menghindari apa yang tidak diinginkan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
tdk perlu pusing soal kain tu zena...simpan aja..
2023-02-16
1
hnya kerana cinta di tolak aja,farid sanggup buat begitu...klo cinta mu tulus,bukan begitu...itu cinta syaitan...
2023-02-16
1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝒀𝑹ᵃᶦ🕊️⃝ᥴͨᏼᷛˢ⍣⃟ₛ 𒈒⃟ʟʙᴄ
sapu tangan itu di kembalikan di pelaminan aja Zena, pasti orangnya ketemu
2023-02-15
1