Bab 14 Saling Sindir

Tak jauh berbeda dengan Athar Azmi yang sejak tadi menunggu siapakah gerangan wanita yang telah diperistrinya. Perasaan gugup bercampur keringat dingin membuat bola mata Athar yang sejak tadi terpaku ke arah pintu tengah tidak sabar untuk melihatnya.

Dalam hati Athar terus berdoa agar bukan perempuan bertubuh gempal yang di sodorkan Abah Dullah padanya. Karena jujur saja Athar juga pria normal yang ingin memiliki seorang istri dengan wajah cantik dan menyenangkan.

Sekitar sepuluh menit lamanya menunggu Zena, penantian itu akhirnya datang juga, Asyifa keluar bersamaan dengan mendampingi Alzena Asahy dengan menggunakan gaun putih yang tertutup menyeluruh membungkus tubuhnya hingga hanya terlihat dua manik matanya saja.

Pemandangan itu membuat bola mata Athar membulat dengan sempurna, gadis itu mengingatkannya pada gadis yang akhir-akhir ini sangat sering Ia jumpai. Tapi Athar belum yakin sepenuhnya, apa benar gadis itu gadis yang sama hingga Ia terus berusaha mengenali wajah perempuan itu. Tatapan Athar sepertinya tidak akan usai sampai Alzena di bawa duduk di sampingnya.

Alzena sendiri menundukkan kepala. Ia belum berani untuk menatap wajah paras agung sang suami. Karena rasa malu dan takutnya akan zina mata karena pria itu masih sangat asing untuknya.

Alzena memang selalu menghindari hal-hal yang bersifat di larang, hingga sampai saat ini hanya segelintir pemuda yang Alzena kenal tapi tidak ada keakraban sama sekali dengannya. Alzena hanya akan tahu nama dari mereka jika Malik yang memberi tahukannya pada Zena.

Athar masih tertegun dengan perasaan penuh kebingungan, kali Ia semakin yakin bahwa Alzena adalah perempuan bercadar tempo hari.

"Zena, ayo cium punggung tangan suamimu. Kok malah ngelamun sih!" Titah Bibi Marwah pada keponakannya itu. Tapi Bibi Marwah tidak pernah membeda-bedakan Zena dan Malik sedikit pun.

zena mengangguk lalu menghadap ke arah Athar dan menggapai tangan pemuda yang sejak tadi masih penasaran dengannya.

"Ayo Thar, cium juga kening istrimu. Kalian sudah syah lo masak di anggurin!" Titah Bunda Alika juga menyadarkan Athar dengan suara lirih di telinga Athar.

Meski masih belum sepenuhnya percaya, Athar mengangkat dagu Zena dengan jarinya agar mereka saling menatap. Disana lah Zena yang masih diam seribu bahasa sejak tadi baru menyadari siapa pria yang ada di depannya saat ini.

"Ka- kamu Mas?"

Belum selesai Zena berkata, kecupan Athar berhasil menyentuh kening Zena lebih dulu. Sungguh itu adalah hal yang menyesakkan bagi Zena. Bagaimana mungkin berandalan itu adalah suamimu. Padahal Ia selalu berdoa agar tidak di pertemukan dengan pemuda seperti Athar.

Bayangkan saja, beberapa kali Athar merugikannya dengan melukai kaki Malik, lalu menarik cadarnya dengan paksa. Kemudian mengotori bajunya dengan air kubangan, setelah itu Athar juga meminta bantuannya. Tapi ternyata pria yang menikahi Zena adalah pemuda menyebalkan itu.

"Nah Zena, Athar, kalian adalah suami istri sekarang. Jadi berjanjilah kalau kalian akan setia, jujur dan menjaga marwah kalian sebagai suami istri di hadapan Allah," Ucap seorang Ustadz yan datang menghadiri pesta itu sebagai penceramah dan pelantun ayat suci Al Qur'an.

Keduanya hanya bisa pasrah dengan menganggukkan kepala, Athar dan Zena tidak bisa mundur lagi dengan pernikahan itu, karena mereka sudah terlanjur syah dalam ikatan janji suci dihadapan Allah SWT.

Pesta berjalan dengan sangat kondusif, sepertinya banyak yang tidak tahu siapa Athar sebenarnya. Mereka hanya mengenal BMX adalah kumpulan anak-anak berandalan.

Seharian yang sangat melelahkan itu tidak pula terjadi sia-sia. Abah Dullah membagikan banyak bingkisan secara adil untuk mereka yang ikut serta dalam membantu acara tersebut sampai selesai.

Kini Athar dan Zena ada di dalam bilik sederhana milik perempuan bercadar itu. Athar baru boleh pulang dua hari setelahnya karena itu sudah menjadi kebiasaan di kampung mereka jika ada pemuda yang menikahi para gadis disana.

"Aku tidak percaya kenapa wanita itu adalah kamu?" Ucap Athar pelan. Tanpa mau menatap perempuan yang ada disampingnya.

"Sama, aku juga tidak percaya punya suami seorang berandalan. Semoga saja kamu bisa bertaubat," timpal Zena tak mau kalah.

"Apa? Berani sekali kamu bicara begitu?" Athar tidak suka mendengarnya.

"Memangnya kenapa? Apa itu melukaimu?" Zena melebarkan senyum yang masih tertutup kain tipis di sebagian wajahnya. Namun tarikan di kedua sudut bola mata Alzena dapat memperlihatkan itu secara nyata.

"Apa wanita bercadar juga jaminan seorang perempuan itu di bilang Sholihah? Sebab banyak tero**is berkedok sepertimu!" Ujar Athar. Mampu mematahkan ucapan Alzena yang sebenarnya juga tidak ada kesalahan. Tapi mungkin karena Athar seorang yang bejat, jadi Ia berdalih mengatas namakan ter***ris untuk menjatuhkan kehormatannya.

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

suami istri ini ya bukanny menikmati malam pertama debat Mulu 🤭

2023-02-23

1

ngomel si berandal di nasihati isterinya,tdk boleh marah2 athar,isterimu menasihati mu kerna amanah juga....

2023-02-18

2

☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋

☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋

gak boleh gitu thar dah kaya tom n jery

2023-02-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!