Bab 4 Keputusan

Rupanya kedatangan Alan tadi di susul oleh Ardhan hanya berjarak beberapa meter saja di belakang. Tinggi postur keduanya tidak beda jauh, tetapi Ardhan lebih berisi ketimbang Alan yang jangkung.

Sama seperti wajah Alan. Ardhan juga nampak lesu dan tak bergairah sama sekali. Pasti Ia kurang tidur karena begadang terus setiap malam sampai lupa kuliahnya.

"Nah, ini dia para berandalan Abah baru pulang. Sini kalian!" Titah Pak Dullah sembari menunjuk kearah tiga buah kursi yang masih kosong.

Meski agak malas-malasan kedua pemuda itu langsung menarik kursi dan duduk di depan mereka.

"Kenapa Bah?" Seloroh Alan lirih. Tampak masih sibuk mengucek-ngucek bola matanya karena rasa kantuk.

"Athar mana?" Tanya Abah Dullah kemudian.

"Tidak tahu," jawab mereka kompak.

Pak Dullah menelisik kearah daun pintu. Ia berharap Athar segera muncul agar semuanya selesai hari ini. Sudah cukup rasanya Abah Dullah berbaik hati dengan membiarkan mereka selalu membangkang nasehat orang tua.

Mungkin lain ceritanya jika mereka sudah menikah dan memiliki anak. Abah Dullah berharap pola pikir mereka menjadi lebih dewasa, lalu sadar apa yang mereka lakukan selama ini adalah salah.

"Hey, sarapan sudah siap rupanya!" Seru Athar dari balik pintu. Melangkah cepat lalu ikut duduk di kursi yang masih kosong.

Kini ketiga pemuda itu sudah berkumpul di meja makan. Maka itu adalah kesempatan Pak Dullah untuk mengungkapkan niat pada anak-anaknya. Agar mereka bisa lebih dewasa jika sudah memiliki tanggung jawab terhadap istri-istri mereka.

"Lapar Bah ayo makan!" Athar ingin menyiuk nasi tapi Pak Dullah yang ada di sisi kirinya langsung menahan lengan Athar.

"Kenapa Bah?" Athar menatap netra bening milik pria yang sudah memiliki sisi keriput di bagian wajahnya itu.

"Tunggu dulu, Abah mau bicara penting sama kalian sekarang! O ya, kalian mau mobil mewah gak?" Tanya Pak Dullah pada ketiganya.

Tentu saja penawaran itu di sambut dengan sangat antusias oleh mereka, "Wah yang bener Bah, kok tumben mau ngasih kita-kita mobil mewah. Bukannya Abah gak pernah setuju ya saat kita minta kemaren?" Tutur Ardhan agak curiga.

"Iya nih, Abah pasti cuma becanda doang kan, kalau cuma bo'ongan entar aja deh, abis makan," protes Athar tak percaya tapi Pak Dullah tidak menghiraukannya.

"Abah sudah berbicara sama Bunda, Mimi dan Mama soal masa depan kalian nanti. Jadi, Abah mau kalian bertiga segera menikah secepatnya!" Tukas Pak Dullah mengejutkan.

Sontak ketiga pemuda itu melongo lebar, sesuai dugaan awal pasti Abah Dullah menawarkan impian mereka sejak lama karena sedang ada maunya. "Apa Bah? Menikah?" Timpal mereka kompak.

"Iya lah, kalian harus segera melepas lajang. Abah akan memberikan kalian masing-masing satu buah mobil mewah jika kalian bisa mengenalkan pasangan kalian di depan Abah nanti malam. Atau Kalian harus menerima

Abah jodohkan dengan gadis pilihan Abah tanpa ada kata menolak seperti apa pun rupa gadis itu nanti. Bagaimana? Apa kalian sanggup?" Tanya Pak Dullah yang menatap ketiganya secara bergantian.

Lama saling berpandangan, salah satu dari mereka bernama Ardan pun mengajukan pertanyaan, "Apa setelah kami perkenalkan pacar kami? Itu artinya kami harus segera menikah Bah? Atau cuma kenalan aja dulu sampai beberapa bulan ke depan?"

"Ya harus segera menikah, karena kalian udah cukup dewasa sekarang ini. Maka dari itu pilihlah wanita yang menurut kalian layak di jadikan istri. Karena Abah tidak mau dengar ada kata cerai atau semua fasilitas yang Abah kasih akan Abah tarik kembali," ucap Pak Dullah menegaskan.

Berbeda dengan Alan dan Ardhan yang merasa was-was tidak dapat memenuhi syarat-syarat itu. Lain halnya dengan Athar yang malah sangat bersemangat. Sebab sudah sangat lama Ia ingin punya mobil impian. Akan tetapi tak kunjung di penuhi. Jadi itu kesempatannya mendapat apa yang Ia mau.

"Asyik, akhirnya punya mobil juga. Yang paling bagus ya Bah. Cuma modal ngenalin pacar ma nikah doang kan? Siapa takut? Nanti Athar bakal kenalin pacar Athar deh ke Abah?" Jawab Athar penuh percaya diri.

Pemuda itu sangat yakin Abahnya tidak akan menjodohkan dia dengan sembarangan cewek yang mungkin tidak sesuai dengan seleranya. Karena sekarang dia udah punya pacar yang sangat cantik. Idola di kampung itu. Semenjak pulang dari Jakarta beberapa waktu lalu, Laila anak Pak Raden salah satu orang terpandang di kampung batuku ayum yang dulunya hitam dan dekil sekarang kulitnya jadi sangat mulus dan putih telah menerima pernyataan cintanya.

"Jangan senang dulu Thar, masih ada syaratnya?" Sangkal Abah, yang seketika mematahkan semangat pemuda itu.

"Syarat? Apaan Bah?" Tanya Athar lagi.

Sedang Alan terlihat sangat malas mengikuti keinginan Abah Dullah yang menurutnya banyak aturan. Tapi Alan tidak berdaya, karena seluruh kebutuhannya hanya bisa di penuhi oleh pria sekitar 55 tahunan itu.

"Gampang saja, Abah akan menuruti keinginan kalian untuk memilih merek mobil apa saja yang kalian mau. Asal pacar kalian harus berhijab, bukan perempuan yang suka pamer pinggul sama dada sana sini, sampai disini apa kalian faham?" Tanya Pak Dullah lagi membuat ketiga pemuda itu mau pingsan saja rasanya.

"Ta- tapi Bah_? Kenapa harus ada aturan begitu?" Sambung Ardhan pula. Sebab pacarnya si Bella suka sekali pakaian ketat dan sangat seksi.

"Gak ada tapi-tapian, atau kalian harus pasrah di jodohkan dengan wanita yang jelek sekalipun," Ulang Abah Dullah yang malah memberi ancaman.

Hanya itu jalan satu-satunya yang terbaik supaya anak-anaknya itu segera meninggalkan perbuatan mereka yang meresahkan orang banyak.

Keputusan Abah Dullah sudah mutlak, jadi protes pun tidak akan berguna. Jadi mereka memilih diam sampai akhirnya acara sarapan selesai.

Seharian ketiga pria itu mencoba berpikir keras, bagaimana supaya mereka dapat memenuhi permintaan Abah Dullah untuk mendapatkan wanita sesuai syarat. Apa lagi waktunya sangat sempit.

"Lan, gimana denganmu?" Tanya Ardhan resah.

"Ya usaha lah, mau gimana lagi. Dari pada di jodohin sama cewek tonggos atau bertompel. Kan malu-maluin kita juga nanti!" Jawab Alan dengan santai.

Mereka pun melirik Athar yang malah sibuk bersolek di depan cermin. Memakai kaos oblong tanpa lengan untuk memamerkan tatto yang ada di bagian lengan dekat dengan bahunya.

"Lan, kamu tahu gak siapa pacarnya Athar? Kok dia tenang-tenang aja ya?" Bisik Ardhan heran.

Alan menggeleng, Ia tidak mau ambil pusing masalah itu karena Athar tidak pernah mau berbagi dengan mereka.

"Udahlah biarin aja, mending kita fokus sama diri kita sendiri aja deh!"

"Hem, kamu benar Lan. Kalau. begitu aku pergi dulu ya. Otakku sedang bekerja dengan baik sekarang!"

Terpopuler

Comments

Rӊᷩуͦηᷠιͤєᷜ Kαⷼzⷻυⷿмꚟι

Rӊᷩуͦηᷠιͤєᷜ Kαⷼzⷻυⷿмꚟι

🤣🤣🤣 lucu sekali pemikiran Alan ..di jodohkan dengan gadis tonggos dan bertompel..semoga bayanganmu jadi kenyataan Alan ..gpp laa Alan..asal baik hati dan tidak sombong ...

2023-02-15

1

ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴅʀɪᴇᴀʀᴛʜᴀ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ️

ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴅʀɪᴇᴀʀᴛʜᴀ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ️

ckckck... bisa gak kalian menuhi syarat dari abah Dullah... secara kan kalian bertiga berandalan dan suka mabuk

2023-02-15

2

🍁ℝ𝕐❣️💋🄽🄸🄻🄰-🄰🅁🄰👻ᴸᴷ

🍁ℝ𝕐❣️💋🄽🄸🄻🄰-🄰🅁🄰👻ᴸᴷ

setiap orang tua pasti ingin yg trbaik tuk anak²nya, walau syaratnya diluar nalar anaknya

2023-02-15

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!