"Thar, apa pacarmu seorang muslimah?"
Alan bertanya sambil merebut sisir dari tangan Athar yang hanya menoleh kearah Alan dengan tatapan mencelos.
"Bukan lah, emang kenapa?" Tanya Athar balik.
Ia tidak menunjukkan ke khawatiran sama sekali. Karena itu bukanlah hal yang sulit baginya.
"Lalu apa rencanamu?"
Alan kembali mendorong Athar untuk gantian menyisir rambutnya di depan cermin Sebenarnya Ia tak kalah tampan dari saudaranya yang lain. Tapi kenapa dia belum tertarik sama sekali untuk menikah dengan Bella ke kasihnya. Mengingat gadis itu agak kasar jika diajak berbicara. Entah apa maksudnya. Jika di tanya oleh Alan apakah Bella mencintainya, gadis itu bilang iya.
"Udah lah Lan, kamu sewa aja gadis yang berhijab untuk kawin kontrak denganmu selama setahun. Toh Bella matrealistiskan? Gak cocok buat kamu?" Usul Athar yang memberi solusi atas kebimbangan Alan.
"Bagaimana mungkin Thar, Kan Abah sudah bilang. Dia akan menarik fasilitas yang sudah diberikannya jika kita bercerai dengan istri kita."
"Ah, payah lo. Bikin perempuan itu hamillah. Supaya dia gak punya alasan untuk minta cerai darimu selama masa kontrak itu habis," saran Athar lagi cukup jitu.
Wajah Alan seketika berseri bak indahnya bulan purnama, siapa sangka Athar yang cuek mampu membantu dirinya, "Wah ide cemerlang Thar, aku pengen banget punya mobil yang atapnya bisa di buka otomatis. Makasih ya, aku duluan!"
Alan tak lagi menoleh kearah Athar yang terkekeh melihatnya. Semoga saja Alan bisa menemukan perempuan yang cocok dan bersedia dinikahinya.
Hari itu Athar memutuskan pergi ke rumah Laila. Ia ingin mengajak pacarnya itu berdiskusi bagaimana agar Laila mau merubah penampilannya.
"Malam ini? Pakai hijab?" Tanya Laila dengan raut wajah terkejut.
"Iya Sayang, kamu mau kan menikah sama aku. Kitakan sudah cocok!" Ucap Athar meyakinkan.
"Ya, kalau menikah aku mau aja sih Thar. Tapi kalau untuk berhijab aku belum siap. Ngaji sama sholat aja jarang, gak pernah malah!" Tukas Laila lagi jujur.
"Terus gimana dong?" Athar mulai bingung. Sebab Ia akan mendapat masalah jika Laila kekeh menolak rencana yang sudah dipersiapkannya secara epik..
"Ya gak tahu lah, aku pusing Thar. Gimana kalau nanti aku di suruh ngaji coba? Iqro' aja aku gak bisa?"
Athar menatap nanar wajah perempuan yang dicintainya itu. Ternyata Laila tak sesempurna anggapannya sampai ngaji pun tak bisa.
"Aduh Yang lagian kenapa sih, kamu gak belajar ngaji dulu waktu kecil?"
Athar makin puyeng hingga garuk-garuk kepala. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk membujuk Laila jika perempuan itu sama sekali tidak mengerti tentang agama.
"Emang kamu bisa?" Tanya Bella balik. Menatap kearah Athar yang masih kebingungan seolah balas mengejek.
"Dulu sih bisa, tapi udah lama gak di asah, jadi agak sedikit lupa. Terus keputusannya gimana ni? Kamu mau menikah ama aku apa gak? Sekarang udah jam lima lo, waktunya mepet banget?" Desak Athar lagi merundung.
"Aduh, gak tahu deh Thar. Aku juga belum siap kalau menikah sekarang-sekarang ini. Sebab seminggu lagi aku bakal pergi lagi ke Jakarta. Soalnya ada panggilan kerja jadi sekertaris di sebuah kantor!" Timpal Laila lagi tak perduli.
"Lah kok pergi sih, terus aku gimana Yang?"
Athar hendak menggenggam tangan Bella tapi perempuan itu malah menepisnya, "Ya udah kita putus aja. Lagian perasaan aku ke kamu itu belum jelas Thar. Baru kenal beberapa hari aja dah berani ngajak nikah. Emang kamu gak sadar ya. kalau tampangmu itu mengerikan. Bapakku aja gak setuju kok aku deket-deket sama kamu," ungkap Laila kian mencengangkan Athar.
"Astaga, jadi selama ini_?"
"Ya mana ada orang tua sudi anaknya menikah sama kaum berandalan seperti kamu, Thar. Bisanya cuma bikin onar seluruh isi kampung doang," timpal Pak Raden yang tiba-tiba menyahut. Beliau sudah berdiri di belakang mereka.
"Eh Mang, tapi kan Athar bisa berubah kok?" Yakin Athar sambil memasang wajah melas. Berharap Pak Raden hanya sedang mengujinya saja, lalu memberi restu.
"Gak ada, percuma mohon-mohon juga. Paling insyaf bentaran doang. Entar juga kumat lagi. O ya kamu tahukan arah jalan pintu keluar. Ayo silakan pulang sebelum aku meminta Abang Laila menghajarmu!" Usir Pak Raden secara gamblang. Ia yakin hidup Laila akan blangsak kalau sampai mau menerima ajakan Athar untuk menikah. Sedang mengurus diri sendiri saja Athar belum mampu.
Mengingat Abang Laila adalah ahli taekwondo bertubuh kekar, Athar pun segera berpamitan. Bisa bonyok wajahnya yang tidak seberapa itu jika Athar tetap nekat memaksakan kehendak.
"Ah sial, ngasih Alan solusi. Nyatanya aku yang gelimpungan sendiri. Bagaimana kalau Abah menjodohkanku dengan perempuan jelek, tonggos dan hitam legam. Oh ya ampun, bagaimana ini?"
Athar terus merutuk tanpa henti, sambil memikirkan ucapan Abah Dullah tadi pagi.
"Kenapa pilihan yang Abah berikan begitu sulit? Jika aku ingin punya mobil harus segera menikah. Jika tidak punya pasangan maka di jodohkan. Ah entahlah kenapa aku jadi gak bisa mikir sih menyebalkan?"
Malam berlalu begitu cepat sedang Athar belum mendapatkan cara melepaskan diri dari perjodohan. Ia malah sibuk ngumpul bareng sohib tanpa perduli kan panggilan telpon dari Abah Dullah.
"Bodo amat lah, Bah. Athar gak mau pulang. Suka-suka Abah aja mau jodohin Athar sama monyet kek, atau sama karung butut sekalian!" Ocehnya sambil mengamati layar ponsel yang terus menyala diantara musik disko yang berdendang ria di sebuah tempat nongkrong mereka.
"Kenapa Thar?" Tanya Radit heran. Tak biasanya Athar kelihatan gelisah seperti itu.
"Gue di putusin Laila, Dit. Padahal malam ini Abah mau ketemu sama dia!"
"Lah, kok bisa?"
"Ya, mana aku tahu. Alasannya gak masuk akal. Udah lah bodo amat. Yang pasti kalau malam ini aku gak bawa cewek. Abah bakal jodohin aku sama gadis pilihan Abah!"
"Ya udah ngapain pusing, justru enak malah tinggal nikah doang. Dari pada ribet nyari dulu. Belum tentu juga cocok!" Sahut Farid yang ikut masuk dalam obrolan mereka.
"Nah, aku setuju sama kamu Rid. Kalau nanti kita gak suka kan. Kita jadi punya alasan buat pisah. Tapi kalau pilihan kita sendiri. Ada apa-apa. Orang tua gak bakal mau perduli sama Kita!" Tambah Doni pula.
Athar pun terdiam, mencerna setiap ucapan sahabatnya itu beberapa saat hingga akhirnya mengulas senyum kembali, "Sepertinya usul kalian benar, ngapain aku pusing-pusing mikirin hal ini. Mending kita senang-senang aja sekarang!"
Athar sengaja mematikan ponsel itu secepatnya supaya Abah dan Bunda tak menelpon lagi. Lalu mengajak mereka turun dari kursi untuk berjoget ria.
Jauh di tempat lain, Abah terus memandangi Alan dan perempuan di sampingnya begitu juga Ardhan dan pacarnya.
"Benar, ini pacar kalian?" Tanya Abah meragu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Rӊᷩуͦηᷠιͤєᷜ Kαⷼzⷻυⷿмꚟι
macam apa pacar Alan dan Ardan...?? jadi penasaran...ah pasti nanti athar nikah kontrak...gk tau aj jodohnya cantik jelita macam bidadari...
2023-02-15
0
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴅʀɪᴇᴀʀᴛʜᴀ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ️
syukurin kamu Thar, ternyata cewekmu gak mau berhijab kan
2023-02-15
1
🍁ℝ𝕐❣️💋🄽🄸🄻🄰-🄰🅁🄰👻ᴸᴷ
wkwkwk malah diputusin, lah puyeng sendiri kan jadinya🤣
2023-02-15
3