Namun, tiba-tiba buliran bening justru mengalir dipipi Hana. Ia dengan cepat langsung menyekanya. "Maaf." Imbuh Hanna sambil menghadap ke arah berlawanan. Berniat untuk menutupi wajah sedihnya dari pandangan Rey.
"Ada apa?" Tanya Rey sedikit panik, karena tiba-tiba Hanna justru menangis.
"Tidak apa-apa." Elak Hanna. Lalu memilih masuk ke dalam.
Sedangkan Rey, justru hanya bisa mematung ditempat semula. Melihat gadis yang selalu tampak ceria itu tiba-tiba menangis membuat Rey bingung. Harus menghiburnya seperti apa.
Walaupun tanpa Rey tahu, apa yang membuat suasana hati Hanna terganggu. Ia tidak ingin bertanya, tapi ingin menjadi orang yang dapat kembali bisa mengubah suasana hati itu menjadi kembali ceria.
Rey masuk berniat untuk menghampiri Hanna. Namun yang ia dapati, Hanna sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya. Entah Hanna sudah benar-benar tertidur atau hanya pura-pura untuk menghindari Rey saja.
Cukup lama, Rey memperhatikan Hanna yang sedang tertidur. Seakan itu pemandangan indah yang sayang jika dilewatkan.
Akhirnya, Rey membopong tubuh Hanna. Dan merebahkannya di atas tempat tidur. Setelahnya, ia mengambil alih sofa sebagai tempat tidurnya malam ini.
*
Pagi kembali menyongsong. Hanna terlonjak dari tidurnya, dan dengan cepat langsung meraih ponselnya. "Kenapa alarmnya tidak berbunyi." Keluh Hanna, ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan alarm yang sudah disetelnya setiap pagi tak berfungsi hari ini. Hanna melihat sekeliling, sambil mengernyitkan kening. Karena seingatnya, semalam ia memilih tidur di sofa, tapi kenapa tiba-tiba sudah pindah ke tempat tidur.
"Kau sudah bangun?" Pertanyaan itu mengalihkan pandangan Hanna yang sedang sibuk ingin mengganti pakaiannya. Ia panik karena berfikir sudah terlambat masuk kantor.
Hanna tak menjawab, kini ia hanya terdiam setelah menghentikan niatnya untuk ganti pakaian.
Tatapannya tertuju ke arah Rey, yang datang sambil membawa nampan yang berisi makanan ditangannya.
"Ini sarapan untukmu!" Imbuh Rey, setelah meletakkan nampan itu di atas meja. "Aku akan menunggumu dibawah." Ucap Rey, setelah itu beranjak pergi.
"Apa kita tidak terlambat ke kantor?" Tanya Hanna, pada Rey yang sudah sampai di ambang pintu kamar.
"Santai saja." Rey keluar dan menutup pintu kamar itu.
Hanna menghela lega.
Pandangan Hanna teralihkan ke arah paper bag yang berada di atas nakas. Dengan sticky notes yang tertempel disana. Hanna mendekat dan meraih notes itu. 'Pakaian ganti untukmu!' Tertulis disana.
Hanna tersenyum. "Perhatian sekali." Imbuhnya, setelah itu langsung bergegas untuk mandi, ganti pakaian, sarapan dan setelah itu menemui Rey yang sedang menunggunya di lobby.
"Hallo, Mye." Ucap Rey, menerima panggilan dari Myesa.
"Aku merindukanmu." Rengek Myesa dari balik telpon sana.
Namun, Rey hanya terdiam tanpa meberi komentar.
"Apa kau tidak merindukanku?" Tanya Myesa, memastikan.
"Rindu." Jawab Rey datar. "Tapi kita masih belum bisa bertemu dalam waktu dekat ini. Kau tahu, aku akan sangat sibuk beberapa hari ini."
Dan itu benar, Rey tidak sedang membohongi Myesa. Rey akan memantau langsung pemotretan yang akan berlangsung diperusahaan, dan itu akan benar-benar menyita waktunya.
"Baiklah, aku mengerti."Jawab Myesa patuh. "Tapi setelah kesibukanmu berakhir, kau harus berjanji untuk menemuiku!" Pinta Myesa bersikeras.
"Iya! Yasudah, nanti aku hubungi lagi. Aku akan segera ke kantor sekarang." Ujar Rey, lalu langsung mematikan panggilan telpon itu.
Ia segera melempar senyum ke arah Hanna yang sedang berjalan ke arahnya.
Myesa hanya bisa menatap ke layar ponselnya bingung. Itu hal yang tidak pernah dilakukan Rey sebelumnya. Ia tidak pernah mematikan panggilan telpon dari Myesa secara langsung seperti itu sebelumnya. Myesa benar-benar merasa ada sesuatu yang berubah dari Rey.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Rey, pada Hanna yang kini sudah berada di hadapannya.
"Em.." Lengkap dengan anggukan kepalanya.
Ditengah perjalanan menuju perusahaan, ponsel Hanna berdering.
"Iya, hallo Raf." Jawab Hanna, menerima panggilan itu.
"Kau dimana? Kenapa belum masuk kantor sudah jam segini?" Tanya Raffael, yang memang sudah menunggu kedatangan Hanna dari tapi pagi.
"Kau di perusahaan sekarang? Kau sudah kembali?" Alih-alih menjawab, Hanna justru berbalik bertanya. Karena setahunya, Raffael sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota selama 3 hari. Dan seharusnya ia kembali besok.
"Iya, aku sudah di perusahaan sekarang. Kau dimana?"
Hanna menoleh ke arah Rey, yang sedang fokus mengemudi. Dan merasa tidak enak mengganggu keheningan didalam mobil itu.
"Aku sedang dalam perjalan ke perusahaan. Nanti kita lanjut lagi." Bisik Hanna, setelah itu langsung mematikan panggilan itu.
"Maaf.." Imbuhnya merasa tidak enak pada Rey, karena sudah bising dengan obrolannya itu.
"Hm!" Jawab Rey singkat.
*
Sesampainya diperusahaan, Hanna langsung disibukkan dengan pekerjaan yang diberikan Rey. Pun begitu dengan Raffael, yang harus mengerjakan beberapa laporan yang diminta oleh Rey.
Seakan sengaja membuat mereka berdua sama-sama sibuk hingga tak punya waktu untuk bertemu.
Saking sibuknya, Hanna bahkan melewatkan jam makan siangnya.
Rey, bahkan meminta Hanna untuk mengadakan rapat dadakan dengan Tim Perencanaan.
"Kau kenapa?" Tanya Rey pada Hanna yang tampak sangat pucat, disaat mereka sedang berada didalam lift menuju ruang rapat.
"Tidak apa-apa." Hanna menggeleng pelan, sambil memijat pundaknya. Sedangkan fokusnya, masih tertuju ke arah iPadnya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus di cek oleh Hanna sebelum rapat benar-benar dimulai.
Selama rapat berlangsung, Rey beberapa kali mendapati Hanna sedang menggigit area bibir bawahnya seperti sedang menahan rasa sakit.
Dan benar saja, Hanna sedang menahan rasa sakit yang amat sangat di area perutnya. "Aku mohon jangan sekarang." Gumam Hanna pada diri sendiri, sambil memegang perutnya.
Kini, keringat dingin sudah bercucuran diwajah pucat Hanna.
"Kita lanjutkan rapatnya besok." Pungkas Rey tiba-tiba. Membuat Lidia yang sedang menjelaskan beberapa hal di depan layar proyektor langsung terdiam dengan mulut menganga.
"Kenapa?" Tanya Hanna bingung.
"Aku lupa ada janji dengan klien." Rey berbohong. Padahal jelas-jelas itu karena Hanna. Nalurinya berkata, Hanna pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Yasudah kalau begitu Anda pergi saja, nanti aku siapkan laporannya." Imbuh Hanna bersikeras melanjutkan rapat.
"Tidak, karena kau harus ikut denganku." Sarkas Rey.
"Tidak apa-apa Hanna, kita bisa lanjutkan rapatnya besok." Imbuh salah seorang dari Tim Perencanaan, mendukung keputusan Rey. Sebenarnya Hanna menjadi tidak enak pada mereka. Karena tadi sudah membuat mereka terburu-buru mempersiapkan bahan untuk rapat. Tapi sekarang justru dibatalkan begitu saja.
"Baiklah kalau begitu. Kita lanjutkan rapatnya besok." Imbuh Hanna dengan sangat menyesal.
Hanna beranjak dari duduknya. Namun baru beberapa langkah, ia yang seakan sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit hilang keseimbangan dan pingsan. Untung, seseorang yang sedang berjalan disamping Hanna cepat menahan tubuh Hanna hingga tak sempat jatuh ke lantai. Namun, yang membuat mereka panik adalah, Hanna tak hanya pingsan. Tapi juga mengalami pendarahan.
TO BE CONTINUE >>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
Aduh... Thorr... Napa kasih Hanna penyakit seperti ini... Kasian deh hanna
2023-12-23
2
Oki Pramana
rey sudah mulaii
2023-12-22
1
Jingyi Xiao
semoga Hanna bisa segera sembuh dan bisa Hamil..
2023-12-06
1