"Ternyata kau disini." Ujar Raffael dan spontan mengangetkan Rey dan Hanna yang sedang membahas masalah serius. Keduanya langsung menoleh ke arah Raffael secara bersamaan. "Kenapa ekspresi kalian seperti itu? Seperti baru tertangkap basah melakukan sesuatu." Lanjut Raffael.
"Kau mencariku?" Tanya Rey. Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bukan kau, tapi Hanna." Ucap Raffael lalu ikut duduk di sofa bersama Rey dan Hanna.
"Untuk apa kau mencariku?" Tanya Hanna kemudian.
"Apa aku sudah tidak boleh mencarimu?" Raffael balas bertanya.
"Bukan seperti itu-."
"Aku bercanda." Raffael terkekeh, ketika melihat Hanna semakin gugup. Lalu mengacak puncak kepala Hanna. Dan itu langsung menarik perhatian Rey, tatapan Rey langsung tertuju ke arah tangan Raffael yang sedang mengacak puncak kepala Hanna tanpa canggung.
"Apa kalian sudah selesai mengobrol?" Raffael memastikan.
"Belum."
"Sudah."
Jawaban yang sama sekali tidak sinkron. Rey menjawab belum sedangkan Hanna menjawab sudah.
Raffael menatap silih berganti di antara keduanya.
"Aku rasa sudah, Rey. Aku akan melanjutkan pekerjaanku sekarang." Imbuh Hanna, setelah itu beranjak dari duduknya.
"Rey...?" Raffael kembali terkekeh dan menghentikan langkah Hanna yang hendak bergegas keluar.
"Sejak kapan kalian menjadi sedekat itu, hingga saling panggil nama?" Tanya Raffael penasaran.
"Apa kau akan tetap disitu? Bukankah katamu kau mencariku?" Ucap Hanna, lalu meraih tangan Raffael dan membawanya keluar dari ruangan Rey.
*
"Jadi kalian sudah mulai dekat?" Raffael seakan belum puas, jika belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang serius itu.
"Apa kami tidak boleh dekat? Apa kami harus bermusuhan?" Tanya Hanna yang kini sudah duduk di balik meja kerjanya.
"Maksudku-"
"Aku tahu maksudmu!" Sela Hanna. "Kenapa kau mencariku?" Lanjut Hanna.
"Ingin saja." Jawab Raffael santai.
Hanna tersenyum penuh arti. "Aku pikir wakil Presdir itu memiliki pekerjaan yang menumpuk dan sibuk. Ternyata aku salah!"
"Tentu saja aku punya pekerjaan yang menumpuk untuk dikerjakan. Tapi ini semua karenamu!" Imbuh Raffael yang seakan sedang protes.
"Karena aku?" Tanya Hanna bingung.
"Iya, aku salah menempatkanmu disini. Seharusnya aku menempatkan mu sebagai sekertaris ku, agar aku bisa lebih fokus bekerja." Gombalnya.
Sebenarnya sudah beberapa kali Raffael memberikan kode keras pada Hanna tentang perasaannya. Tapi entah mengapa Hanna tak pernah peka akan hal itu.
"Apa sebaiknya kau minta tukar saja pada Rey? Biar aku yang ke lantai 12 dan sekertaris mu kesini?" Tawar Hanna.
"Kau benar, sepertinya aku harus mencobanya." Raffael langsung bangkit dari duduknya.
Hanna dengan cepat langsung menarik tangan Raffael untuk menghentikannya.
"Apa kau gila! Bukannya setuju, dia justru akan memecatku detik itu juga." Imbuh Hanna dengan raut seriusnya. Ia pikir Raffael benar-benar akan melakukannya.
Raffael tertawa terbahak melihat ekspresi tegang Hanna.
"Apa kau setakut itu?" Tanyanya yang masih belum bisa berhenti tertawa.
"Kau mengerjai ku!" Rutuk Hanna kesal.
"Hai, Raf." Sapa seseorang. Yang membuat Raffael langsung menoleh.
"Hai, kau datang mencari Rey?" Tanya Raffael pada Myesa. Yang keras kepala tetap datang ke perusahaan walaupun sudah dilarang oleh Rey.
Sedangkan Hanna langsung menelan salivanya kasar.
"Silahkan masuk, Pak Rey ada didalam ruangannya." Ucap Hanna seakan ingin mengusir Myesa dari hadapan Raffael. Ia tak ingin mereka mengobrol lebih lama, atau sesuatu akan saling di curigai.
"Yasudah kalau begitu aku masuk dulu ya, Raf." Imbuh Myesa sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Iya Mye, silahkan." Ujar Raffael mempersilahkan.
Selepas kepergian Myesa, yang sudah menghilang di balik pintu ruang kerja Rey. "Dasar pengantin baru, padahal baru semalam berc*inta dan sekarang sudah di susul lagi." Gumam Raffael sambil terkekeh.
"Aku lapar, ayo temani aku ke kantin." Ajak Hanna sambil menarik paksa tangan Raffael untuk ikut dengannya.
*
"Sayang.." Panggil Myesa, sambil berjalan ke arah Rey.
Mata Rey langsung terbelalak. "Bukankah aku sudah melarang mu datang kesini!" Imbuhnya, lalu berdiri dari duduknya.
"Salahmu, kenapa tidak angkat telepon dariku kemarin dan juga tidak menghubungi kembali saat pulang kerja." Rengek Myesa.
"Apa kau bertemu dengan Rafa didepan?" Rey memastikan.
Myesa mengangguk polos. "Apa Rafa berpacaran dengan sekertaris mu? Mereka terlihat sangat dekat." Imbuh Myesa.
"Itu bukan urusanmu!" Jawab Rey datar.
Rey bergegas, ingin memastikan keberadaan Raffael.
Ia lega, Raffael sudah tidak lagi berada didepan ruangannya. Namun bukan hanya Raffael, Hanna juga menghilang dari sana.
"Kau kenapa? Kau marah padaku?" Protes Myesa, sambil menarik tangan Rey yang masih berdiri di ambang pintu. Kini Myesa sudah berdiri tepat di hadapan Rey sambil memasang wajah sedihnya.
"Bukan seperti itu, Mye. Aku kan sudah melarang mu datang. Dan kemarin aku sangat sibuk, aku pulang kerja sudah hampir tengah malam. Seharusnya kau bisa mengerti! Aku baru saja menjabat, dan sudah pasti banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kau jangan egois, kau bisa dengan begitu saja menghilang dan aku masih memaafkan mu. Tapi giliran aku sibuk, kau tidak mau mengerti?" Ucap Rey panjang lebar, namun yang didapat bukan pendapat dari Myesa. Tapi justru kecupan yang seakan ingin membungkam Rey.
"Iya aku minta maaf, lain kali tidak seperti itu." Ujar Myesa dengan wajah memelasnya. "Lain kali aku tidak akan menggangu jam kerjamu, aku mengerti. Kesibukan mu juga demi masa depan kita, bukan?" Celoteh Myesa sambil memainkan jarinya dengan manja di dada bidang Rey.
"Baguslah jika kau mengerti." Ucap Rey. "Apa kau bisa berjanji padaku? Jangan mencari ku sebelum aku hubungi terlebih dulu. Bukankah sudah aku katakan, aku harus membuat Papa dan Mama luluh terlebih dulu." Lanjut Rey, kembali mengingatkan Myesa.
"Em, aku janji. Tidak akan menemuimu tanpa persetujuan dari mu."
Tumben sekali gadis ini patuh.
"Sayang! Apa aku boleh minta sesuatu padamu?" Ujar Myesa kemudian. Tentu, ia pasti ada maunya, makanya berubah jadi sangat penurut.
"Bisa kau hadiahkan cincin pernikahan kita untuk ku? Lagi pula seharusnya aku sudah memakainya sekarang seandainya saja kecelakaan itu tidak terjadi." Pandai sekali ia merayu.
Rey, langsung terbata. "Aku, tidak membawanya. Cincinnya ada dirumah."
"Kalau begitu bagaimana jika kau berikan nanti saat kita bertemu." Usul Myesa.
"Hm, akan aku berikan nanti." Rey, mengiyakan permintaan Myesa.
"Terima kasih, sayang." Kembali sebuah kecupan mendarat di pipi Rey untuk sekian kalinya. Seakan menunjukkan rasa terima kasihnya.
"Kalau begitu aku pergi sekarang, selamat bekerja sayang. Bye!" Myesa pergi dengan wajah sumringahnya.
"Bye!" Balas Rey datar.
Seakan ada sesuatu yang membuat dia bingung. Dekapan Myesa tak lagi membuatnya bergelora seperti dulu.
Kecupannya juga terasa biasa saja.
Mungkinkah perasaannya pada Myesa mulai berubah? Secepat itukah?
Apa karena Myesa sudah melakukan kesalahan? Tapi jelas-jelas Rey sudah memaafkan kesalahan Myesa dengan sadar.
Saat itu saja Rey masih berfikir untuk kembali membawa hubungannya dengan Myesa ke altar pernikahan.
Atau contohnya tadi pagi, ia masih belum rela jika posisi Myesa digantikan oleh Hanna.
Tapi apa yang terjadi kini? Ia justru merasa hambar ketika melihat Myesa.
TO BE CONTINUE >>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Muri
ternyata menghilang karena hamil dgn pria lain mulai ada titik terangnya ni👍
2024-02-15
2
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Hmm...ada apa di balik Myesa...? ? ?
2023-12-28
1
Deasy Dahlan
Rey.. Rey.. Udah ditinggal nikah.. Msh aja.... Msh Mau di deketin si myesa
2023-12-23
1