Di ruang tunggu depan kamar inap kelas VIP, Damar sedang ngumpul bersama 4 sekawan, Samsul, Aldy dan Erik. Ada juga Ina dan Shinta.
"Inna, sejak kapan kamu jadi pacar Samsul," tanya Damar tersenyum.
"Sudah dua tahun. Emang kamu gak tau, kalau aku jadian sama Samsul sejak kelas satu SMA," jawab inna.
"Gak tau, Samsul gak pernah cerita. Hanya sering lihat kalian di kantin.
Berarti sudah lama ya, dua tahun?"
"Tuh, yang masih jomblo, Aldi sama Erik," Sahut Shinta.
"Hahahaha, buruan kalian cari pacar, mumpung belum kiamat," timpal Damar.
"Hemmmm," gumam Aldi dan Erik.
Waktu terus berlalu, malam pun merambat semakin pekat.
"Damar, Sudah jam 12 mau balik dulu ya," kata Samsul.
"Tumben kamu pulang sore, biasanya juga subuh," kata Damar.
"Mau ngantar Inna dan Aldi juga Erik. Kan besok sekolah. Sebentar lagi juga ujian."
"Baiklah, hati - hati di jalan," kata Damar,
"Inna, mau pulang atau mau tidur di rumah Samsul..?"
"Hehehehe Shinta tersenyum mendengar," lelucon Damar.
"Mau tidur di rumah Samsul aja, biar tidur ada temannya," jawab Inna kemudian berdiri lalu pergi bersama Samsul,
"Shinta, aku balik dulu ya. Hati - hati sama Damar, awas di gigit," ujar Inna tersenyum.
"Ok Inna, hati - hati," jawab Shinta.
"Emang aku anjing, pakai mengigit," sahut Damar tersenyum.
Setelah Samsul dan teman - temannya pulang, Damar menyeruput kopi dingin lalu menyulut rokok sampoerna mill,
"Shinta, apa kamu kenal baik sama Inna adik kelas kita itu..?
Kok kelihatan akrab sama kamu waktu pamit."
"Yaah kenal baik, tetapi tidak begitu akrab.
Inna kan ikut grup WA Hello Kity, termasuk aku juga anggota grup.
Jadi sering ngobrol di grup WA.
Kadang kalau malam minggu suka ngumpul di cafe, kadang di tempat hiburan malam."
"Nama grup WA nya lucu ya, Hello Kity," ujar Damar.
"Yaah grup cewek anak SMA Pancasila Mas. Yang ikut grup Hello Kity itu harus punya mobil Honda jazz.
Kamu lihat di parkiran, kalau ada mobil Honda Jazz yang ada stikernya Hello Kity, itu mobil milik anggota grup Hello Kity, termasuk mobil ku juga mobil milik Inna."
"Hemmm, makanya banyak Honda Jazz yang berstiker Hello Kity.
Itu sebabnya Samsul ingin beli Honda Jazz. Pasti gara - gara pacaran sama Inna."
"Mas... Aku lagi bete banget, agak bingung.
Tadi sore aku debat sama Papa Mama ku. Papa Mama ku melarang berhubungan dengan mu. Bagaimana ini," ujar Shinta,
"Kalau aku masih saja menjalin berhubungan dengan mu, Papa akan mengirim ku kuliah ke London Inggris.
Jika aku tidak nurut... Aku di keluarkan dari keluarga dan di suruh angkat kaki dari rumah.
Gila gak kedua orang tua ku..!?
Jaman sudah berubah, bukan jaman Siti Nurbaya lagi, masih saja suka memaksakan kehendak.
Jaman demokrasi dan kebebasan berpendapat.
Sebenarnya aku mau berontak, tetapi mereka adalah orang tua ku, di sisi lain aku sudah bahagia bersama mu.
Dari kecil aku tidak pernah merasa senang dan bahagia.
Sejak aku mengenal mu... Aku sangat senang sekali, hidup ku selalu bersemangat. Setelah aku bisa dekat dan bersamamu, aku merasa sangat bahagia sekali. Belum pernah aku sebahagia saat bersama mu," ujar Shinta meneteskan air mata kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Damar.
"Sudah jangan menangis," kata Damar,
"Jalani saja hubungan di antara kita. Jika memang kita berjodoh, Tuhan pasti memberi jalan, dan kita tetap bersama selamanya.
Kalau menurut ku.... Lebih baik kamu menuruti kedua orang tua mu, karena merekalah yang melahirkan kan mu, yang membesarkan mu, yang menyekolahkan mu hingga kamu pintar dan dewasa.
Bagaimanapun sikap orang tua kita, mereka tetap orang tua kita.
Kalau aku adalah orang luar."
"Begitu ya," sahut Shinta lirih,
"Memang orang tua ku memandang orang itu dari segi status dan materi.
Repot punya orang tua kayak Papa Mama ku."
*****
Malam terus merambat, serbuk embun bertaburan tertempa angin mengikuti kodrat sang Ilahi.
Ufuk timur menggeliat.
Waktu subuh menampakkan kemegahan dan kebesarannya, walau sedikit orang yang bisa merasakan keberkahannya.
Dingin lambat laut merasuk menembus kulit hingga menguasai ruang rasa yang ada dalam pikiran setiap makhluk.
Shinta yang tertidur di pangkuan Damar terbangun ketika mendengar suara samar - samar adzan subuh. Dengan rasa dingin yang di transfer dari arah laut pinggiran kota Surabaya, membuat Shinta semakin erat memeluk pinggang Damar.
Damar yang tertidur duduk bersandarkan bangku ruang tunggu yang panjang, terasa kurang nyaman hingga sebentar - sebentar terbangun, apalagi Shinta yang tidur di pangkuannya, membuat beku rasa hati Damar hingga ada rasa ingin mencumbu nya.
"Shinta... Ayo sholat," ajak Damar yang masih ngantuk sekali.
"Hemmm, ngantuk banget Mas. Kamu saja yang solat ya," jawab Shinta sambil memeluk erat pinggang Damar.
"Ya sudah, aku pulang kalau gak mau solat," goda Damar.
"Hemmmm,
Iya - iya aku temani solat," sahut Shinta kemudian bangun, lalu berjalan menuju mushollah rumah sakit.
*****
Pagi yang cerah secerah senyum istri tetangga di saat tanggal muda. Sinta masih tertidur di pangkuan Damar. Begitupun Damar tertidur sambil duduk bersandar bangku panjang di ruang tunggu.
"Damar, Damar... Bangun Lee," ujar Pak Likin, kakak nya Pak Yasin.
"Eh, Pakdhe. Sama siapa Pakdhe..?"
"Sama Budhe mu dan Ririn sepupu mu.
Kamu pulang ya, istirahat di rumah. Biar Pakdhe yang jaga Bapak mu."
"Iya Pakdhe," jawab Damar kemudian membangunkan Shinta,
"Kalau gitu Damar pulang dulu Pakdhe.
"Iya, hati - hati di jalan."
*****
"Shinta, kamu pulang duluan ya," kata Damar, "Aku naik motor. Dari kemarin motor ku parkir disini."
"Mas, motor mu biar disini dulu ya, aku ingin istirahat tidur di rumah mu. Lagian di rumah juga bete banget."
"Iya, iya," sahut Damar yang tak menyangka,
"Hemmmm, perempuan kalau sudah senang sama lelaki, segalanya di kasih," gumam Damar dalam hati, sambil masuk mobil.
*****
"Assalamualaikum," sapa Damar sambil masuk rumah kemudian menaruh tas milik Shinta di kamar.
"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida,
"Loh nak Shinta ikut kesini..? Apa gak sekolah, gak di cari ibu nya?"
"Bolos Buk, Papa dan Mama lagi di Jakarta," sahut Shinta kemudian salim cium tangan.
"Ya sudah, kalau begitu Shinta mandi dulu ya, terus sarapan. Ibu masak pecel lauk ayam goreng kesukaan Damar."
"Baiklah Buk," jawab Shinta kemudian ke kamar mandi yang berada di dapur.
"Damar..?"
"Iya Buk,"
"Temani Shinta sarapan ya."
"Iya Buk."
"Ingat, kalau pacaran jangan sampai berzina sebelum kalian menikah.
Ingat itu pesan ibu baik baik. Biar hidup kalian berkah, dan tak menanggung beban dosa yang berat."
"Iya Buk."
*Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
ACHMAD GOZALI
Bnr2 bgt dah...
2025-03-27
0
Issri Masamah
versi lain hamim
2024-09-19
1
Jihan Padila
dadi murete gus panji cocok ki
2024-06-06
0