...BAB 17...
...Ada Hubungan Apa Dengan Mereka?...
Ambarwati masih tak percaya, jika Lyra adalah mantan kekasih putranya saat masih di Semarang. Karna Ambar tak tahu tentang kisah cinta putranya di masalalu, dan yang Ambar ketahui hanya Dania saja yang menjadi kekasihnya Raffa.
Raffa pun bercerita keseluruhan tentang kisah cintanya dulu yang rumit, dimana awal Raffa bertemu Lyra hingga menjalin pacaran. Tapi Raffa memacari Lyra bukan karna cinta namun karna sebuah tujuan untuk membuat Dania cemburu dan resign dari pekerjaannya. Menjadikan Lyra sebagai tempat pelarian semata karna Dania yang selalu abai dengannya.
Lalu di saat Lyra semakin cinta dan berharap Raffa akan menikah dengannya, tetapi Raffa justru malah mengakhiri semuanya lalu mengungkapkan bahwa dirinya adalah kekasihnya Dania. Setiap kali mengingat hal itu, Raffa terus menyalahkan kebodohannya.
Jika saja wanita itu bukan Lyra mungkin Raffa tak masalah, tetapi Lyra adalah sahabat kecilnya Dania dan hubungan mereka sudah sangat dekat seperti layaknya saudara kandung. Dan tanpa Raffa sadari jika sebenarnya dia telah menghancurkan hubungan baik diantara mereka berdua. Ambar yang mendengar pun ikut meneteskan air matanya.
"Bunda tak pernah mengajarkanmu menjadi lelaki yang suka mempermainkan hati perempuan Raffa! Tentu jika Bunda berada di posisi Lyra pun, Bunda akan merasakan hal yang sama. Bagaimana rasa sakitnya di bohongi juga dikhianati oleh kekasih dan juga sahabat baiknya..." tegur Ambar dengan gelengan kepala. Ambar sangat kecewa sekali pada putranya itu.
Raffa tertunduk malu dan mengangguk membenarkan kata Bundanya.
"Iya Bun, untuk itu Raffa benar-benar menyesal jika mengingat lagi hal itu. Dulu pikiran Raffa memang masih dangkal. Raffa tahunya hanya bersenang-senang saja tanpa memikirkan bagaimana perasaannya Lyra..." sesalnya seraya mengusap wajahnya kasar.
"Meminta maaflah lagi padanya. Jika memang niatmu ingin menikahi Lyra, kamu harus bersungguh-sungguh, pergi dan temuilah kedua orangtuanya di rumahnya..." titah Ambar menyarankan.
Raffa mengangguk lagi. "Iya Bun, Raffa memang sudah merencanakan itu sejak kemarin. Raffa ingin temui lagi Ibunya Lyra. Karna selama kami pacaran dulu, Raffa juga sering main ke rumahnya. Sudah tentu Raffa pernah dekat dengan Ibunya Lyra. Kebetulan Lyra sudah tak punya lagi Ayah sejak dia SMP, mungkin itulah sebabnya Lyra putus kuliah karna sudah tak sanggup lagi membiayai kuliahnya sendirian. Sedang Ibunya juga sering sakit-sakitan dan berhenti jadi pembantu rumah tangga." terang Raffa.
Ambar terenyuh mendengar cerita kehidupan Lyra dari Raffa. "Ya sudah tunggu apalagi. Hari ini ajaklah Lyra dan Keyla bersenang-senang mumpung kamu masih ada di Surabaya, karna dua hari lagi kamu juga harus pergi ke Bandung. Malamnya antarkan Lyra pulang ke rumahnya dan utarakan maksud baikmu pada Lyra dan juga Ibunya. Ibu disini akan selalu mendukung dan mendoakanmu..." ucap Ambar tersenyum lembut seraya mengusap pundak putra keduanya.
"Terimakasih banyak Bunda..." Raffa menghela nafasnya lega setelah beban di hatinya berkurang dengan menceritakan semuanya pada Ambar.
Menyandang status duda selama lima tahun. Siapa juga lelaki yang akan bertahan seperti dirinya? Untuk itu, kenapa Raffa dulu berniat ingin cepat-cepat menikahi Viona. Selain ingin memberikan Mama untuk Keyla, Raffa juga khawatir tak bisa mengontrol dirinya, sebagai lelaki dewasa yang normal sudah pasti Raffa juga ingin menyalurkan kebutuhan biologisnya.
Tetapi ternyata cinta mengalahkan rasa segalanya. Lyra hadir kembali dan memberikan hidup yang baru untuknya dan juga putrinya. Raffa yang tak ingin membuat Viona semakin dalam mencintainya, lebih baik ia cepat-cepat mengakhirinya.
Demi untuk kembali dan melanjutkan lagi kisah kasihnya bersama Lyra. Raffa berharap masih ada cinta di hati Lyra untuknya.
****
"Bagaimana, apakah kamu sudah ada jawaban?!"
Sementara di perjalanan hendak menuju rumah Nyonya Ambar. Fadil sengaja menepikan mobilnya dulu dan memberanikan diri kembali bertanya soal semalam yang belum sempat Lyra jawab. Fadil pikir mungkin Lyra sudah mempersiapkan jawabannya. Karna semalam ia benar-benar tak bisa tidur karna terus memikirkan Lyra.
"Maafkan aku Mas Fadil... Tapi, aku belum siap untuk menikah..." ucap Lyra dengan suara yang lirih dan bergetar.
Lyra pun terpaksa menolak keinginan Fadil yang ingin meminangnya. Hatinya masih ragu untuk menentukan sebuah pilihan.
Fadil menarik nafasnya dalam, menahan rasa sesak dan gemuruh di hatinya. Penolakan Lyra dengan alasan yang masih belum siap untuk menikah. Membuatnya lelah hati dan pikiran.
"Apakah ada alasan lain yang membuatmu tak siap menikah denganku? Apakah, karna kamu belum bisa melupakan mantan kekasihmu itu?!" sindirnya tiba-tiba, dengan tatapan yang nanar ke depan jalanan.
Sungguh hatinya terluka. Karena di tolak oleh wanita yang sangat ia cintai.
Lyra tersentak kaget dengan tudingan Fadil padanya. Lantas ia menggeleng cepat kepalanya.
"Bukan Mas, sungguh bukan itu..." gelagapnya.
Tak sangka Fadil akan membahas soal mantannya. Namun bukan itu yang tengah Lyra pikirkan saat ini, tapi mengenai Keyla yang belum bisa dia tinggalkan.
"Lalu apa? Apa yang menyebabkanmu selalu menolak setiap lelaki yang datang ingin melamarmu, Lyra? Bahkan termasuk aku yang sudah memendam rasa suka ini padamu sejak dulu!" tanya Fadil lagi dengan suara tegasnya. Dia mulai blak-blakkan sebab tak sabar dengan sikap Lyra yang terlalu monoton menurutnya.
Fadil sedikit membentak Lyra, bukan ia membenci Lyra, tapi dia ingin menyadarkan wanita itu agar tak terus berlarut dengan kisah masalalunya yang sudah lama usai.
"Katakan padaku butuh berapa lama lagi, waktu untuk kamu bisa melupakan mantan kekasihmu itu Lyra, yang bahkan mungkin dia tak ingat dirimu sama sekali?! Dia sudah menikah kan dan mungkin saja dia sudah punya banyak anak bersama istrinya" cecar Fadil mengingatkan lagi wanita di sampingnya itu. Agar jangan berharap pada pria masalalunya.
Lyra pun berkaca-kaca. Menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Mungkin sebaiknya ia berterus terang saja soal Keyla.
"Keyla, Keyla Mas yang membuat aku belum siap menikah denganmu..." ucap Lyra dengan hati yang merana.
"Keyla?!" Fadil terkejut menatap bulat Lyra yang berwajah sendu. Lyra mengangguk pelan dan tersenyum lirih.
"Iya Mas, anak itu masih membutuhkan aku. Dia takut jika nanti aku pergi dan meninggalkannya... Karna aku bilang padanya, jika aku tak bisa berjanji untuk selalu menemaninya. Jika aku kelak menikah dan fokus dengan keluargaku sendiri. Maka otomatis kami tidak bisa lagi bersama... Dan itu membuat hati Keyla sedih aku jadi tak tega melihatnya menangis Mas..." ujar Lyra terus terang. Lyra tertawa lirih.
"Maaf Mas, aku juga sudah terlanjur menyayangi anak itu..." ucap Lyra seraya menundukkan kepalanya.
Fadil menghela nafasnya dalam dan sedikit lega. Fadil pikir Lyra tak mau menikah dengannya karna masih mencintai mantan kekasihnya itu. Namun ternyata dugaannya salah.
"Jadi karna Keyla?!" tanya Fadil lagi. Lyra mengangguk pelan.
"Kenapa kamu tidak katakan itu sejak kemarin. Untuk itu kita bisa mendiskusikannya bersama-sama." ucap Fadil. "Soal Keyla, jika memang kamu tak bisa meninggalkannya. Kamu bisa tetap mengasuh anak itu walau kita berdua sudah menikah..." ujar Fadil seraya menatap Lyra dengan senyuman tulusnya.
Lyra mendongak menatap Fadil. Matanya semakin berkaca-kaca. "Ta, tapi Mas, aku sudah terlanjur berjanji pada Ibu juga, kalau aku akan berhenti mengasuh Keyla, kalau aku sudah menikah nantinya..."
Fadil sedikit tertegun, menatap Lyra yang masih dengan wajah kebingungannya. Lantas Fadil tersenyum dengan lebar. "Kalau soal itu, aku akan coba untuk membujuk Ibumu, agar kamu masih bisa tetap mengasuh Keyla walau kita sudah menikah..." ujarnya meyakinkan. Lyra pun mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
"Terimakasih akhirnya kamu mau terbuka padaku Lyra, aku pikir kamu tak mau menceritakan keresahanmu padaku...." Fadil menatap Lyra lagi dengan lekat, lantas meraih tangan Lyra dan menggenggamnya lembut.
"Apakah itu artinya, kamu mau menerimaku sebagai suamimu..." tanya Fadil dan kembali ia menanyakan itu untuk memastikan.
Lyra tersentak kaget menatap Fadil yang masih begitu mengharapkannya.
"I, itu..."
Namun saat Lyra akan menjawab pertanyaan Fadil. Tiba-tiba saja ponsel Lyra berdering nyaring. Fadil menghembus nafasnya kasar, lalu tersenyum dengan lebar menutupi rasa kesalnya, sebab lagi-lagi moment pentingnya harus terganggu dengan sebuah panggilan telepon di ponselnya Lyra.
"Maaf, aku angkat dulu teleponnya..." Lyra tersenyum geli melihat Fadil yang seperti menahan kesabaran.
Lyra pun lekas mengambil ponselnya di dalam tas. Lyra terkejut saat melihat nomer Raffa yang meneleponnya. Lantas ia teringat dengan Keyla.
"Ha-hallo?"
["Tantee!! Tante dimana saja sih?! Kok jam segini masih belum dateng juga?!"] teriak Keyla dengan suara kesalnya di seberang telepon.
"Ya ampun maaf sayang Tante masih di jalan. Ini sebentar lagi juga sampai kok!"
["Cepetan Tante! Key tungguin di depan rumah!"] teriaknya lagi.
"I-iya sayang... Sabar ya..."
Lyra merasa tak enak sama Fadil karna harus menjeda dulu pembicaraan serius mereka. Tapi ia pun sudah berjanji pada Keyla akan pergi ke Taman Bermain pagi ini.
"Mas, maaf aku sudah di tunggu Keyla..." ujar Lyra setelah menutup teleponnya.
Fadil mengerucutkan bibirnya, rasa kesal kembali menggelitiki hatinya. Karna lagi-lagi pertanyaannya harus di gantung dulu seperti jemuran. Entah sampai kapan keringnya?
"Ya baiklah, tapi nanti malam aku tunggu jawabanmu..."
Lyra mengulum senyumnya dan mengangguk cepat. Fadil pun tersenyum bahagia menatap lurus ke depan jalan. Melajukan mobilnya lumayan kencang.
Ada sedikit kelegaan di hatinya, walau Lyra belum sempat mengucapkan kata 'iya' tapi dari pembicaraan dan ekspresi Lyra barusan, Fadil dapat merasakannya. Jika sudah ada tanda sinyal bahwa Lyra akan menerimanya. Semoga, dan itulah yang selalu Fadil harapkan dalam hatinya.
Tak berselang lama mobil Fadil pun telah sampai di depan gerbang rumah Nyonya Ambar.
Benar saja Keyla sudah standby menunggu kedatangan Lyra di depan gerbang rumahnya bersama Raffa.
Mobil Fadil pun berhenti tepat di depan Raffa dan Keyla. Lalu gegas ia keluar dari mobil dan berlari kecil memutar ke depan, membukakan pintu untuk Lyra.
Sontak Raffa terkejut karna pagi itu Fadil yang mengantarkan Lyra ke rumahnya. Karna biasanya Lyra selalu membawa motornya sendiri.
"Tante..." Keyla berseru, menghampiri dan memeluk Lyra.
"Maaf ya Tante telat dateng..." ucap Lyra.
"Iya nggak papa Tante!" jawab Keyla sembari mendongakkan wajahnya ke atas, menatap Lyra yang tersenyum padanya.
"Hai Raf! Apa kabarmu?!" sapa Fadil, ia lekas menghampiri Raffa yang masih bergeming, terpaku di tempatnya berdiri.
Ada hubungan apa dengan mereka? Kenapa Lyra bisa bersama Fadil? tanya Raffa dalam hatinya, yang tiba-tiba hatinya merasa tak nyaman melihat kebersamaan mereka.
Lantas lelaki berprofesi Dokter itu menangkap tangan kanan Raffa lalu memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya Raffa.
"Ke-kenapa kalian berdua bisa datang barengan?" tanyanya pada Fadil dengan raut tak suka.
Fadil pun menatap Lyra yang sedang berbicara dengan Keyla. Lalu tersenyum manis memandanginya.
"Menurutmu?!" Fadil menaikan satu alisnya, menatap Raffa agar menebaknya sendiri.
Tapi Raffa semakin mengerutkan dahinya, sebab tiba-tiba perasaannya jadi semakin tak tenang.
Bersambung...
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Beatrys Abbas
JANGAN lyra...baik dgn fadil saja
2024-08-27
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Lyra masih berharap Raffa ya ? 🤪
2024-01-02
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Lyra mending terima lamaran Fadil ..
2024-01-02
0