Kedatangan Carla

"Itu, bagaimana? Kau sudah mendapatkan semua informasi tentang istriku?" tanya Gemilang yang sudah tak sabar menantikan informasi dari Juna.

"Maaf tuan, saya belum bisa menemukan apapun tentang nona. Sepertinya segala informasi mengenai nona Mazaya sengaja disembunyikan oleh seseorang yang memiliki kekuatan besar."Tutur Juna membuat Gemilang terperangah.

Melihat Gemilang terdiam seakan menunggu penjelasan selanjutnya, Juna pun segera melanjutkan kata-katanya.

"Iya, tuan. Seperti yang tuan katakan, Nina Mazaya pernah bersekolah di SMP yang sama dengan tuan Jendra, tapi saat orang-orang kita mencari tahu tentang nona Mazaya, tak ditemukan satupun informasi m Saya juga sudah meminta orang-orang kita ke desa asal nona Mazaya, tapi menurut warga di sana, nona Mazaya dan kakeknya baru tinggal di sana beberapa bulan ini. Kakek nona memang memiliki perkebunan teh yang sangat luas di sana, tapi yang mengurusnya selama ini adalah orang kepercayaannya. Kakek nona bahkan nyaris tak pernah ke sana. Beberapa bulan terakhir inilah, tiba-tiba kakek nona pindah ke sana, tapi tidak dengan nona." Papar Juna membuat Gemilang benar-benar terdiam dengan pikiran yang sibuk berkelana ke sana ke mari.

Juna kebingungan sendiri melihat tuannya hanya terdiam dan tidak merespon perkataannya.

"Tuan, jadi ... bagaimana? Apa Anda memiliki tugas lain untuk saya?" tanya Juna hati-hati.

Gemilang melirik tajam Juna yang sudah memasang kuda-kuda untuk jaga-jaga kalau tuannya tidak terima dengan laporannya.

Gemilang menghela nafasnya, "Juna, tolong selidiki kasus kematian tuan Narendra Syailendra beberapa tahun yang lalu."

"Narendra Syailendra?" gumam Juna yang belum paham.

"Ya, dia adalah CEO Syailendra Group sebelumnya. Ayah dari CEO Syailendra Group saat ini. Aku Cari tahu apapun yang berhubungan dengan kecelakaan itu. Usahakan sesegera mungkin," titah Gemilang membuat Juna makin kebingungan.

"Maaf tuan, memangnya untuk apa Anda menyuruh saya mencari informasi tentang kecelakaan yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu itu?" tanya Juna memberanikan diri.

"Kerjakan saja tugasmu. Nanti kau pun akan tahu sendiri," ketus Gemilang membuat Juna menggaruk tengkuknya.

"Baik tuan, laksanakan!" Ucap Juna dengan menempelkan telapak tangannya di samping kepala. Gemilang mengibaskan tangannya agar Juna segera pergi dari hadapannya.

Karena sudah mendekati jam pulang bekerja, Gemilang pun membereskan meja kerjanya. Tak lupa ia menyimpan berkas-berkas penting di dalam brangkas pribadinya. Setelah semuanya dirasa beres, Gemilang pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.

"Kemana Carla?" tanya Gemilang pada Juna yang juga sedang beres-beres. Semenjak pertengkaran mereka siang tadi, ia memang tidak melihat keberadaan kekasihnya itu. Barulah sore ini ia tahu ternyata meja kerjanya kosong.

"Carla? Saya tidak tahu tuan. Saya pikir, dia pergi atas izin Anda. Dia sudah pergi sejak 2 jam yang lalu." Jawab Juna yang memang tidak mengetahui kemana Carla pergi.

Gemilang menghela nafas kasar, tak habis pikir dengan sikap Carla yang bukan hanya kekanakan, tapi juga tidak disiplin. Dia juga kerap semaunya. Sebenarnya sudah lama ia jengah menjalin hubungan dengan Carla, tapi untuk memutuskan gadis itu, tidaklah semudah itu.

Tak mau ambil pusing, ia pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Ia sudah tak sabar ingin pulang ke rumah. Entah apa sebabnya, yang pasti kini ia lebih bersemangat untuk menginjakkan kakinya di rumah. Bila dulu, ia sering sengaja bekerja sampai larut malam, tapi sekarang ia lebih suka pulang lebih awal. Mungkin lebih tepatnya semenjak ia memiliki seorang istri. Meskipun hubungannya dengan Mazaya belum baik, tapi tanpa sadar, kehadiran Mazaya mampu memberikannya ketenangan dan kenyamanan.

Sementara itu, tampak seorang gadis dengan tubuh sedikit semampai telah berdiri sejak satu jam yang lalu di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Gadis itu tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah sebab sejak tadi, boro-boro dia dihidangkan segelas minuman, dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk saja tidak.

"Dasar pembantu sialan. Awas saja kalau gue menikah dengan Elang, aku pastikan akan memecat kalian semua," geram perempuan yang tak lain adalah Carla tersebut.

Ia telah tiba di sana sejak atau jam yang lalu. Tujuannya untuk melabrak Mazaya yang telah menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Gemilang. Semenjak kehadiran Mazaya, sikap Gemilang makin dingin padanya. Seolah ada dinding tinggi dan kokoh yang tak kasat mata yang membuat hubungan mereka kian renggang dan Carla membenci itu. Tidak mudah untuk sampai di posisi ini. Tidak semua perempuan yang seberuntung dia. Walaupun harus melakukan sedikit pengorbanan, tapi bila uang didapatkan adalah sosok Gemilang, ia tak masalah. Ia akan mengorbankan apapun demi mendapatkan laki-laki tersebut.

"Cih, percaya diri sekali! Dia pikir, tuan Elang mau sama dia, cantik apanya, dandanan aja udah kayak ondel-ondel," cibir Rani dari balik jendela kaca. Ia berada disana seraya berpura-pura mengelap kaca, padahal aslinya ia sedang mengawasi Carla.

"Heh, apa loe bilang? Gue kayak ondel-ondel? Ngaca sana, ngaca, pembantu aja belagu. Dasar kampungan, ini namanya fashion, loe tahu, fashion!" sentak Carla tidak terima atas penghinaan yang dilontarkan Rani. "Dan apa kata loe tadi? Gue pikir Elang mau dengan gue, tentu saja mau. Kalau nggak, mana mungkin gue bisa bertahan menjadi kekasihnya sampai 2 tahun." Imbuhnya seraya berkacak pinggang.

"Jangan bangga bisa jadi pacar selama 2 tahun, yang udah nikah aja bisa pisah, apalagi cuma pacar. Jangan-jangan cuma jagain jodoh orang," timpal Ratih yang sudah berdiri di samping Rani. Jendela memang sedikit dibuka agar mereka bisa terus mengawasi Carla sambil mengejeknya.

"Kau ... Dasar pembantu brengsekkk. Sialan. Tunggu aja, kalo Elang pulang, gue aduin loe berdua buat kena pecat tanpa pesangon." Carla mendesis seraya menggerakkan jari-jarinya seolah ingin mencakar Rani dan Ratih yang sudah cekikikan.

"Weee ... nggak takut," balas keduanya yang makin tergelak.

"Heh perempuan kampung, cepat keluar kau! Apa kau takut bertemu denganku, hah? Hahaha ... Di depan Elang kau sok berani, padahal aslinya pengecut. Dasar perempuan kam- ... "

"Siapa yang kau sebut pengecut, hah?" Terdengar suara seseorang menyentak dirinya dari arah belakang. Matanya memicing saat melihat seorang perempuan berpenampilan elegan dengan sebagian wajah tertutup masker berjalan ke arahnya. Carla tidak merasa mengenalnya, tapi suara itu seakan tak asing di telinganya.

"Kau ... siapa? Mengapa kau masuk ke rumah orang seenaknya?" sentak Carla tak suka melihat keberadaan perempuan itu. Perasaannya tiba-tiba ketar-ketir, bagaimana bila perempuan itu adalah wanita lain kekasihnya?

"Aku siapa?" perempuan yang tidak lain adalah Mazaya itu menunjuk dirinya sendiri. Kalau pulang bekerja, ia memang kerap berpenampilan sama seperti saat di kantor. Dia sudah meminta Rani dan Rasti serta beberapa pekerjaan di rumah itu agar tidak mengatakan hal ini pada Gemilang. Ia malas bila harus kembali berganti pakaian. Lagipula ia selalu pulang lebih awal jadi tak masalah ia mengenakan penampilan seperti itu. Namun ia tidak menggunakan mobil yang biasa. Ia justru meminta sopir kantor untuk mengantarkannya tapi menggunakan mobil biasa agar tidak terlihat mencolok dan mengundang penasaran orang lain terutama orang-orang yang sedang mengincarnya.

"Tidak usah bertele-tele, cepat katakan, siapa kau, hah? Kenapa kau ada di sini, di rumah kekasihku?" Sentak Carla dengan sorot mata tajam, tapi Mazaya masih bersikap santai.

"Heh, yang sopan bicara dengan nyonya kami!" sentak Rani yang sudah keluar dari dalam rumah.

"Dasar, perempuan gila!" cibir Rasti.

"Nyonya? Apa maksud kalian? Apa jangan-jangan, perempuan udik itu sudah ditendang dan perempuan ini menjadi penggantinya?" gumamnya menerka-nerka.

"Terserah kau sajalah mau mengatakan apa. Yang penting, segera keluar dari sini, sebelum aku meminta sekuriti menyeretmu keluar dari sini," tegas Mazaya dengan tatapan penuh intimidasi.

"Kau pikir aku takut, hah! Sebelum kau menyeretku, aku yang akan lebih dahulu menyeretmu!" Pekik Carla yang segera mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Mazaya untuk menyeretnya. Namun, belum sempat Carla melakukan niatnya, Mazaya telah terlebih mencengkram pergelangan tangan Carla dan memitingnya ke belakang hingga ia menjerit kesakitan.

"Aaaakh ... lepaskan tanganmu, brengsekkk!" pekik Carla yang sudah kesakitan, bukannya melepaskan, Mazaya justru makin mengeratkan cengkramannya.

"Sakit, hah? Makanya jangan macam-macam denganku sebab aku bisa melakukan yang lebih dari ini," desis Mazaya.

Setelah itu, ia melepaskan cengkeramannya dengan sedikit menyentak membuat Carla terhuyung kemudian terjatuh hingga wajahnya terbenam di dalam pot yang baru saja diisi tanah dan pupuk kandang oleh Rasti. Rasti dan Rani tergelak kencang bersamaan melihat wajah cantik Carla yang telah kotor oleh tanah bercampur pupuk kandang itu.

"Aaaaaa ... bau. Ini bau apa. Huaaaa ... mommy, Daddy," pekik Carla sambil membersihkan wajahnya yang kotor.

"Rasain loe! Makan tuh pupuk kandang!" Seru Rasti membuat Carla terbelalak kemudian segera lari tunggang langgang karena ingin segera sampai di rumah dan membersihkan wajahnya.

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

TAK SEMUDAH ITU!!!! sebenarnya MUDAH banget,Kamu cari tahu ttg keburukannya,kamu jadikan itu sebagai alasanmu utk putus,gampang kan..Kamu aja yg BEGO bin BODOH,hal gampang tapi sengaja di sulitkan..🙄🙄🙄

2025-03-21

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Mazaya di lawan..

2024-05-19

1

Diana diana

Diana diana

emank enaaaak . .

2024-04-15

1

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!