Perasaan yang mulai terganggu

Sementara itu, di sebuah apartemen, tampak seorang pria dengan tubuh yang gagah telah berdiri di depan pintu. Tak lama kemudian, pemilik unit apartemen itu membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.

Laki-laki itu mengernyitkan dahi saat melihat penampilan perempuan yang ada di depannya. Memang sehari-hari perempuan itu kerap berpenampilan seksi, tapi kali ini, apa yang dikenakannya jauh lebih terbuka dari biasanya.

"Sayang, aku sudah menunggumu sejak tadi. Akhirnya kau datang juga." Ucap perempuan itu dengan sedikit mendesah.

Perempuan itu adalah Carla. Sepulangnya dari kediaman Gemilang tadi, kekasihnya itu menghubungi dirinya dan mengatakan akan menemuinya untuk menjelaskan perihal pernikahan dadakannya. Tentu saja hal itu tak disia-siakan Carla. Ia sangat marah karena kekasih yang susah payah diperjuangkannya justru menikah dengan perempuan lain. Ia tidak terima. Ia takut, kekasihnya lebih memilih istrinya lalu meninggalkannya begitu saja. Tak mau dibuang begitu saja, Carla pun memikirkan rencana licik dan berencana menggoda Gemilang untuk melakukan hubungan terlarang dengannya.

Melihat penampilan Carla, Gemilang terpaku di tempatnya. Sorot matanya menajam, rahangnya mengeras. Meskipun jantungnya berdebar, tapi itu bukan karena hasratnya yang terpancing, melainkan amarah yang menggelegak. Namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya itu.

"Apa yang kau lakukan? Baju apa yang kau kenakan itu? Tidakkah kau memiliki rasa malu mengenakan pakaian terbuka seperti itu di hadapan lelaki yang belum menjadi pasangan halalmu?" sarkas Gemilang tak suka melihat penampilan Carla yang baginya menjijikan sebab saat ini Carla mengenakan lingerie yang super tipis membuat setiap lekuk tubuhnya terlihat jelas. Hanya area sensitifnya saja yang tertutup, itupun tak sempurna.

Carla mencebik kesal. Bila laki-laki lain sangat menyukai kekasihnya berpenampilan seperti ini, terbuka dan seksi, Gemilang justru sebaliknya. Ia justru memprotesnya terang-terangan tanpa mempedulikan perasaannya. Padahal ia melakukan itu untuk menyenangkan Gemilang. Ia ingin melayani kekasihnya dan memberikan servis terbaik agar Gemilang hanya mengingat dirinya dan tak terjerat istrinya.

"Sayang, aku melakukan ini hanya untukmu. Aku rela kau sentuh asal kau hanya menjadi milikku. Aku ingin menunjukkan kalau aku lebih baik dari istrimu itu. Ayo sayang, sentuh aku! Aku memasrahkan diriku untukmu." Ucap Carla dengan mimik wajah penuh damba dan menggoda.

Carla mendekati Gemilang dan berusaha untuk memeluk dirinya, tapi Gemilang justru memundurkan langkahnya. Matanya menyorot tajam pada Carla yang masih berusaha untuk merayunya.

"Kau tahu kan, aku tidak menyukai perempuan penggoda. Terlebih yang menggoda itu perempuan yang tidak memiliki ikatan halal denganku. Jangan menjadi perempuan murahan, Carla. Aku tidak menyukai itu. Kau pikir aku laki-laki pemuja selang kangan apa, hah?" sentak Gemilang kesal mendengar penjelasan Carla yang tidak masuk akal menurutnya.

"Oh jadi kau mau kalau perempuan yang menggodamu itu adalah istrimu? Apa karena servisnya memuaskan sampai kau tak tertarik sedikit pun padaku?" pekik Carla.

"Bukan begitu maksudku ... "

"Apanya yang bukan? Kalau memang tak mau melakukannya karena kita belum menikah, ayo kita menikah? Aku tak masalah bila hanya kau nikahi secara siri. Atau sebenarnya memang servisnya memuaskan? Kalau iya, aku akan buktikan kalau aku bisa melakukan yang lebih baik dari dirinya. Kau lihat, aku lebih cantik, lebih seksi, aku yakin kau akan puas dengan pelayananku." Potong Carla tak terkontrol. Lalu ia meringsek maju lalu dengan cepat melingkarkan tangannya di leher Gemilang. Kemudian, tanpa rasa malu, ia menempelkan bibirnya di atas bibir laki-laki itu. Belum sempat ia mencumbu bibir Gemilang, laki-laki yang merupakan kekasihnya itu mendorong kasar Carla hingga ia pun jatuh terduduk.

Mendapatkan perlakuan kasar, Carla pun menangis. Ia meraung tak terima perlakuan kasar Gemilang padanya. Gemilang yang merasa bersalah lantas menghampiri Carla mencoba untuk membantunya berdiri. Namun, Carla menepis kasar tangan Gemilang yang hendak membantunya.

Gemilang lantas beranjak dari sana membuat Carla makin menjerit pilu. Ia pikir Gemilang sudah tak memedulikannya lagi. Namun dugaannya salah. Ternyata Gemilang kembali mendekat lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Kemudian ia menggendong Carla dan membaringkannya di atas ranjang.

Gemilang duduk di tepi ranjang sambil mengusap puncak kepala sang kekasih. Lama menangis, Carla akhirnya kelelahan sendiri hingga tanpa sadar ia pun tertidur. Bukan hanya Carla, Gemilang pun ikut tertidur dengan posisi bersandar di kepala ranjang.

Gemilang baru terbangun saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Ia terlonjak dari tempat tidurnya saat menyadari ia telah tertidur di kamar Carla. Diliriknya kekasihnya yang masih tertidur lelap. Ia pun segera beranjak dari posisinya dengan perlahan. Ia harus segera pulang.

Gemilang baru tiba di rumahnya saat adzan subuh baru saja selesai berkumandang. Ia lantas berjalan menuju kamarnya dan membuka handle pintu dengan perlahan. Gemilang tertegun saat mendapati Mazaya tengah mengerjakan shalat subuh. Wajahnya yang masih dibasahi air wudhu terlihat begitu bersinar. Gemilang bahkan sampai mematung di tempatnya.

Mazaya melaksanakan shalatnya dengan begitu khusyuk. Tak lupa ia menengadahkan telapak tangannya, menghaturkan doa-doa pada sang pencipta. Setelahnya, ia mengambil Al Qur'an yang telah disiapkannya sejak tadi. Ia pun melanjutkan kegiatannya dengan membaca ayat demi ayat tanpa menyadari sosok yang sedari tadi mematung memperhatikan apa yang Mazaya lakukan.

Suara Mazaya terdengar begitu merdu. Membuat jiwa Gemilang terasa damai. Tanpa sadar, ia telah berdiri di sana hampir satu jam. Dia baru sadar dari keterpakuannya saat Mazaya menegurnya.

"Mas Elang? Sejak kapan kamu berada di sana?" tanya Mazaya dengan dahi yang mengernyit.

"Oh, baru saja," jawab Gemilang yang tentu saja tak mau berkata jujur. Malu, itu yang utama. Tak mungkin kan dia bilang ia telah berdiri di sana sejak satu jam yang lalu. Gemilang memiliki tingkat gengsi yang tinggi. Pantang baginya mengakui sesuatu yang ia pikir dapat menjatuhkan harga dirinya. Padahal tak ada salahnya berkata jujur.

"Oh." Hanya itu jawaban Mazaya membuat dahi Gemilang balik mengernyit. Bahkan Mazaya bersikap acuh tak acuh saja padanya. Ia pun tidak bertanya perihal ketidakpulangannya semalam.

Sebenarnya Mazaya pun penasaran. Namun, ia tahan rasa penasaran itu. Ia tak mau membuat laki-laki itu Ge-Er meskipun sebenarnya tak masalah. Kan bisa saja dengan sikap perhatiannya membuat Gemilang jadi jatuh hati padanya. Tapi Mazaya lebih suka melakukan hal yang sebaliknya. Bersikap tak acuh dan misterius sehingga memancing rasa penasaran laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.

"Kau mau kemana?" tanya Gemilang saat melihat Mazaya melewatinya begitu saja hendak keluar dari dalam kamar. Entah mengapa ia merasa terganggu dengan sikap masa bodoh Mazaya. Bukankah dia adalah suaminya. Bukankah dimana-mana seorang istri akan jadi cerewet dan banyak tanya bila suaminya tidak pulang ke rumah. Tapi Mazaya justru bersikap sebaliknya.

Harga diri Gemilang seakan tersentil. Ia sudah seperti suami yang tak dianggap. Aneh memang. Bila Mazaya banyak tanya, nanti dia marah. Bila Mazaya diam, dia pun jadi kesal. Padahal bila diingat, di dalam perjanjian pernikahan yang pernah Gemilang sodorkan pada Mazaya, salah satunya tertulis pihak kedua tidak boleh ikut campur urusan pihak pertama. Meskipun Mazaya telah merobek perjanjian itu, bukankah seharusnya ia ingat, dirinya sendirilah yang meminta Mazaya agar tidak ikut campur urusannya. Jadi jangan salahkan Mazaya kalau ia bersikap masa bodoh dengannya. Toh semua ini terjadi berawal dari dirinya sendiri, bukan.

Tanpa menoleh sedikitpun, Mazaya pun menjawab pertanyaan Gemilang, "aku mau menyiapkan sarapan."

Setelah mengatakan itu, Mazaya pun keluar dan tak lupa menutup pintu meninggalkan Gemilang yang dadanya sudah naik turun.

"Sialan. Kenapa aku marah dia bersikap tak acuh padaku? Sebenarnya aku kenapa? Seharusnya kan hal itu bagus. Jadi dia tak akan menggangguku apalagi ikut campur segala urusanku. Tapi ... Aaargh ... Sudahlah. Lebih baik aku tiduran dulu sejenak. Tubuhku jadi pegal semua karena tidur sambil terduduk," gumam Gemilang.

Lalu ia membuka jaket yang ia kenakan dan melemparkannya ke sembarang arah. Setelahnya, ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sesaat ia mencium aroma yang begitu menenangkan. Hidungnya mengendus sumber aroma menenangkan itu hingga ia menemukan kalau bantal Mazaya lah yang menguarkan aroma harum nan menenangkan itu. Gemilang lantas menukar bantalnya. Setelahnya, ia pun tertidur sambil tersenyum.

...***...

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Pisces97

Pisces97

suka gaya mazaya gk menye² gitu 🤭

2024-07-27

0

🗿

🗿

Heran ya lihat pria ini, maunya apa sih???

2024-05-31

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

jangan jadi lelaki pecundang yg munafik, Elang

2024-05-19

2

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!