Elang and the Gank

Pukul 6 lewat 30 menit, Gemilang telah terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap lalu ia merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya. Dihirupnya udara pagi yang entah kenapa aromanya begitu menenangkan dan ia ... suka.

Matanya mengerjap. Ia sadar ini merupakan aroma parfum perempuan. Bahkan ia tertidur lelap setelah menghirup aroma parfum yang tertinggal di bantal. Bukan hanya aroma parfum, tapi juga rambut. Entah shampo apa yang dipakai Mazaya sebab aromanya benar-benar membuatnya relaks.

Gemilang pun segera beranjak menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit kemudian, ia pun keluar dengan handuk berwarna abu-abu yang menggantung di pinggangnya. Tiba-tiba saja perhatiannya tertuju ke arah ranjang. Di atasnya telah tertata rapi setelan kerjanya, dari kemeja, celana bahan, jas, hingga dasi. Bahkan sapu tangan dan jam tangannya pun telah ia pilihkan yang serasi dengan pakaiannya. Tanpa sadar satu sudut bibirnya terangkat. Ternyata memiliki istri tak buruk juga pikirnya. Apalagi Mazaya melayaninya dengan baik meskipun dalam mode cuek. Ia juga memiliki selera fashion yang bagus. Tidak norak. Ia pikir perempuan kampung itu udik dan norak. Tak memiliki selera fashion. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Apa yang dipilihkan Mazaya benar-benar sesuai seleranya.

Gemilang pun segera mengambil setelan kerjanya dan mengenakannya. Perpaduan warna yang pas. Semuanya pun dalam kondisi rapi dan wangi. Membuat wajahnya yang tampak kian bersinar dan memukau.

"Ternyata gadis kampung itu tahu cara melayani suaminya dengan baik," gumam Gemilang yang tanpa sadar memujinya.

Setelah memakai pakaiannya, Gemilang pun segera keluar menuju ruang makan. Baru saja ia menginjakkan kakinya di area itu, hidungnya telah disambut dengan aroma masakan yang menggugah selera. Padahal ia biasanya sarapan dengan makanan ringan seperti oatmeal atau roti bakar, tapi mencium aroma ini membuat perutnya bergolak ingin diisi. Sampai-sampai ia tak sabar lagi ingin menyantap sarapan yang entah siapa membuatnya itu.

"Mas, kau mau sarapan apa?" tanya Mazaya saat melihat Gemilang telah berdiri di dekat meja makan. "Oh ya, kata Rani, biasanya kamu cuma sarapan sama oatmeal atau roti bakar. Kalau begitu, aku si-."

"Aku makan nasi goreng itu saja. Tak apa. Aku sedang buru-buru jadi tak bisa menunggu lagi." Kilah Gemilang yang sebenarnya sudah sangat ingin mencicipi nasi goreng buatan sang istri.

"Oh, baiklah." Jawab Mazaya singkat.

Lalu ia pun segera mengisi piring Gemilang dengan nasi goreng seafood buatannya. Tak lupa ia meletakkan telur dadar dan kerupuk sebagai pelengkap. Awalnya Gemilang ragu ingin menyantap sarapan itu. Ia tak pernah makan berat di setiap paginya, tapi kali ini lidahnya sudah basah ingin mencoba nasi goreng buatan anak istri. Ia pun segera menyantapnya dengan lahap membuat Mazaya yang meliriknya tersenyum simpul.

'Semoga saja dari perut turun ke hati ya, mas.' gumamnya sambil senyum-senyum.

Gemilang yang tanpa sengaja melihat sang istri tampak tersenyum diam-diam pun penasaran. Namun ia tak berani banyak tanya. Ia tak mau dikatai kepo oleh istrinya sendiri.

Setelah sarapan, Gemilang pun segera bersiap untuk berangkat. Ia dijemput oleh asisten pribadinya langsung sebab pagi ini ia ada meeting di luar.

"Mas," panggil Mazaya saat melihat suaminya sudah berada di ambang pintu.

"Apa?" jawab Gemilang dingin, tapi Mazaya tak mempermasalahkannya.

Ia lantas mendekat dan berdiri di depan Gemilang membuat laki-laki itu bergeming karena bingung. Apalagi jarak mereka cukup dekat, 'apa yang ingin dilakukan perempuan ini?' batin Gemilang. Gemilang sampai salah tingkah sendiri dibuatnya.

Hingga tangan Mazaya tiba-tiba saja terulur untuk membenarkan dasi Gemilang, barulah ia sadar kalau dasinya kurang rapi.

"Dasimu nggak rapi." Hanya itu yang Mazaya ucapkan. Gemilang menegang kaku di tempat. Aneh, pikirnya. Kenapa ia bisa setegang itu saat berdekatan dengan istrinya sendiri?

Untuk sekian detik, Gemilang terpaku memandang wajah cantik Mazaya. Rasanya ingin sekali ia membuang kacamata tebal itu agar bisa menatap matanya yang cantik, tapi ia ragu. Ia tak mau mengawali harinya dengan perdebatan. Jadi ia hanya bungkam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Sudah beres. Selamat bekerja," ucap Mazaya riang cenderung polos membuat tangan Gemilang tanpa sadar mengacak rambut Mazaya sampai perempuan itu terbengong-bengong ria. Gemilang jadi canggung sendiri. Lantas ia segera masuk dalam mobil yang pintunya telah dibukakan asisten pribadinya.

"Kami berangkat dulu, nona," ucap asisten pribadi Gemilang seraya mengulas senyum.

"Juna!" teriak Gemilang tiba-tiba membuat laki-laki yang menjabat sebagai asisten pribadinya itu gelagapan dan segera masuk ke dalam mobil.

"I-iya, tuan." Jawab Juna gugup.

Mata Gemilang melotot tajam, membuat Juna kian ketakutan, "tak usah tebar pesona dengan istriku, kau mengerti!" Sentak Gemilang.

"Hah?"

"Kau mau ku tembak di sini?" Raung Gemilang seraya mengeluarkan pistolnya yang ia selipkan di pinggangnya dan mengacungkannya ke depan wajah Juna membuat laki-laki itu mendadak pias.

"A-ampun, tuan. Mohon maafkan saya. Saya tidak akan tebar pesona pada istri Anda karena memang saya tidak melakukannya."

"Kalau tidak, kenapa kau senyum-senyum pada istriku tadi?"

"Aku ... aku hanya bersikap sopan saja tuan. Tidak mungkin saya memasang wajah masam. Nanti nona malah salah paham dan mengira saya tidak menyukainya." Papar Juna tanpa ia sadari jawabannya justru memancing emosi Gemilang kian menggelak.

"Apa? Apa yang kau bilang tadi? Kau bilang kau menyukai istriku? Kau mau mati, hah?" Bentak Gemilang.

"Bu-bukan begitu tuan. Maksud saya ... "

Tok tok tok ...

Terdengar kaca mobil diketuk, Juna pun dengan cepat menurunkan kaca mobilnya.

"Mas, kok belum berangkat? Apa ada masalah?" tanya Mazaya bingung sebab sudah 10 menit berlalu, tapi mobil Gemilang tak kunjung berangkat.

"Tidak," jawab Gemilang cepat. "Juna, cepat jalankan mobilnya!" Titah Gemilang datar. Juna pun segera menjalankan mobilnya sambil menghela nafas lega.

'Selamat, selamat, untung saja ada nona. Si bos kok horor banget sih? Benar-benar mengerikan. Dikit-dikit tembak, dikit-dikit mati.'

Juna pun melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi seperti biasanya sebab bosnya itu tidak menyukai kecepatan standar yang menurutnya seperti siput berjalan. Saat mobil telah melaju kencang, terdengar dering ponsel Gemilang. Lantas laki-laki itupun segera mengangkatnya setelah melihat nama penelpon.

"Halo."

"Sayang, kamu kok pergi nggak pamitan lagi sih?"

"Kau kan masih tidur."

"Tapi kan kau bisa membangunkan ku."

"Aku terburu-buru."

"Sayang," rengek Carla.

"Aku tutup dulu. Nanti kita bertemu di kantor." Ucap Gemilang pada Carla yang juga merupakan sekretarisnya.

...***...

Siang ini Gemilang baru saja menyelesaikan pertemuan yang membahas kerja sama antara dirinya dengan beberapa teman dekatnya. Mereka lantas melanjutkan pertemuan itu dengan makan siang.

"Lang, gue denger, beberapa hari yang lalu loe nikah?" tanya salah seorang temannya bernama Jendra.

"Hah, serius loe? Demi apa?" timpal Nugie penasaran.

"Loe nikah sama siapa, bro? Kok nggak bilang-bilang lagi? Jangan bilang sama tuh cewek? Udah dapat restu loe?" timpal Mada.

"Ck ... nanya satu-satu bisa?" omel Gemilang membuat ketiga temannya terkekeh.

"Maklum bro, kepo tingkah maksimal," seloroh Jendra.

"Lagian, loe dapat kabar dari mana sih? Udah kayak biang gosip loe pada."

"Soal darimana, itu nggak penting. Yang penting itu sekarang jelasin sama kita, berita itu benar atau bohong?" sambar Nugie.

"Ya, ya, ya. Itu benar, kenapa? Nggak rela loe pada gue langkahin."

"Jadi berita itu beneran? Siapa? Siapa bini loe? Kenalin kek?" Mada menimpali.

"Bukan siapa-siapa. Kalian pasti nggak kenal. Dia cuma gadis kampung yang kebetulan kakeknya temen baik kakek gue. Jadi sebelum kakek meninggal, kakek kasi amanat buat gue nikahin tuh cewek, terpaksa deh gue nikahin." Ucap Gemilang dengan memasang wajah nelangsa.

"Kenapa loe kayak nggak ikhlas itu? Emang cewek itu jelek, hitam, dekil and the kumel? Bodoh?"

Gemilang menggaruk kepalanya, dibilang jelek? Nggak. Hitam? Nggak sama sekali. Bahkan putih bersih. Dekil and the kumel seperti yang ditanyakan Jendra, juga nggak. Hanya tampilannya aja yang kampungan. Mana pakai kacamata tebal juga, pikirnya.

"Kenapa loe diem?" sambar Mada. "Atau jangan-jangan dia cantik banget ya? Wah, gue jadi penasaran. Guys, gimana kalau entar malam kita main ke tempat Elang, kalian setuju kan? Gue jadi pingin kenalan sama tuh cewek. Siapa tau emang beneran cantik. Kalau Elang nggak suka kan siapa tahu, salah satu dari kita bisa dapetinnya."

Mendengar ucapan Mada, mata Gemilang seketika terbeliak. Baru saja ia akan menolak keinginan teman-temannya yang ingin bertandang ke rumahnya, tiba-tiba Nugie memberikan kabar yang cukup mengejutkan di dunia perbisnisan sambil menunjukkan ponselnya.

...***...

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

3sna

3sna

untuk kata gntinya gk konsist nich

2025-03-28

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Elang.. jgn sampai mengabaikan ghibain istri atau menjelek²anya.. nanti kualat trus bucin lho

2024-05-19

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒔𝒆𝒓𝒖 𝒏𝒊𝒉 👍👍👍

2024-04-01

0

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!