Bekerja

"Bersiaplah!" Ucap Gemilang tiba-tiba saat mereka baru saja menyelesaikan sarapan mereka.

"Hah!" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Mazaya. Iya bingung, bersiaplah? Bersiaplah untuk apa dan kemana pikirnya.

"Kenapa bengong? Ayo cepatlah! 10 menit kau harus sudah siap." Ucapnya lagi makin cengo lah Mazaya.

"Mas, kamu ngomong sama aku?" tanya Mazaya bingung.

Pletak ...

Gemilang lantas menyentil dahi Mazaya membuat gadis itu meringis seraya mencebik.

"Mas Elang," protes Mazaya tanpa sadar mengeluarkan suara manjanya yang justru membuat Gemilang dag dig dug ser. "Sakit tau!" Mata Mazaya memicing tajam, sedangkan sumber kekesalan Mazaya tampak cuek-cuek saja. Tanpa Mazaya sadari, sebenarnya Gemilang tengah mati-matian menahan debaran tak menentu di dalam dadanya.

"Apa?" jawab Gemilang acuh tak acuh.

"Sakit tau. Ck ... "

"Makanya, disuruh buruan bersiap malah bengong aja."

"Iya, aku tahu kamu nyuruh aku bersiap, tapi yang buat aku bingung itu buat apa? Dan emangnya mas mau ajak aku kemana? Nggak mungkin kan ke kantor mas? Bisa-bisa si bibit pelakor ngakak ribut mulu. Mana belum ada yang tahu aku itu siapa. Terus juga, aku kan mau kerja. Mas amnesia atau apa sih?" cerocos Mazaya membuat Gemilang gemas dan menjepit bibir sang istri.

"Ini mulut kalau udah nyerocos, udah kayak kereta. Aku mau anterin kamu kerja, paham?" Ucapnya.

"Oooo ... bilang dong dari tadi." Ujar Mazaya sambil mesem-mesem membuat Gemilang mengepalkan tangannya menahan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya.

'Astaga, kenapa dia jadi imut banget sih? Eh, apa kataku barusan? Imut? Hah, kenapa aku bisa muji dia sih? Astaga ... '

Mazaya pun bergegas masuk ke dalam kamar dan sesuai perintah Gemilang tadi, ia harus sudah bersiap dalam waktu 10 menit.

"Aku sudah siap. Cepat kan. Tepat 10 menit tak lebih, justru kurang dari itu. Kurang 5 detik tepatnya," ujar Mazaya bangga.

Gemilang tak menanggapi Mazaya sama sekali. Ia justru segera berjalan menuju mobilnya dan masuk begitu saja. Mazaya pun ikut menyusul di belakangnya. Sebelum masuk mobil, Mazaya terlebih dahulu menyapa Juna.

"Hai Jun, makasih ya!" ucap Mazaya ceria seperti biasanya.

"Eh, i-iya Nona. Hai juga. Sama - ... "

"Juna, cepat jalankan mobilnya! Terlambat satu detik, 20% gajimu melayang," tegas Gemilang tak suka melihat Mazaya menyapa ramah Juna. Entah apa sebabnya, dirinya sendiri pun bingung. Mulutnya reflek saja menyatakan ketidaksukaan itu secara tidak langsung. Ingin rasanya ia menepuk mulutnya sendiri, tapi Gemilang urungkan. Ia tak mau menjatuhkan imagenya di hadapan Mazaya.

Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa Gemilang dan Mazaya pun tiba tak jauh dari depan gerbang perusahaan. Mazaya sendiri lah ya h meminta agar mobil itu tidak tiba tepat di depan sana. Mazaya beralasan ia malu dan takut dijadikan bahan pergunjingan orang-orang yang melihatnya. Alhasil Gemilang pun menurut meskipun ia merasa sedikit aneh dengan sikap Mazaya.

Setelah memastikan Mazaya masuk ke gedung perusahaan Syailendra Group, mobil Gemilang pun melaju kencang menuju perusahaannya sendiri, CB Group.

"Jun, minta orang-orang kita cari tau segala hal mengenai istriku. Jangan sampai ada yang terlewat satu info pun. Apa kau mengerti?" Titah Gemilang saat mobilnya baru melaju menembus padatnya jalanan ibukota.

"Baik tuan. Segera saya laksanakan!" sahut Juna sambil melirik sang atasan melalui kaca spion.

Sementara itu, Mazaya yang baru melewati gerbang Syailendra Group langsung berbelok menuju sebuah mobil yang terparkir sebelum lobby. Itu adalah mobil Windy, sekretarisnya.

"Akhirnya ... " gumam Mazaya saat telah berada di dalam mobil.

"Loe beneran diantar laki loe?" tanya Windy yang diangguki Mazaya.

"Loe udah pastiin kan nggak ada yang liat gue masuk ke mobil ini?" tanya Mazaya sedikit khawatir. Matanya celingak-celinguk memperhatikan sekitar, takut-takut ada yang melihatnya. Sebab biasanya ia datang ke kantornya dengan menggunakan masker. Bahkan karyawannya pun tak ada yang mengetahui wajah Mazaya, kecuali Willy dan Windy sebab mereka memang sudah saling mengenal sejak lama.

"Tenang aja, semua aman. Bahkan security kantor pun tak menyadari." Sahut Windy cepat. "Itu pakaianmu. Kau ganti di sini atau ... "

"Di sini aja. Kalau aku ikut masuk, bisa-bisa ada yang melihat diriku."

"Baiklah. Bergantilah pakaian." Setelah mengucapkan itu, sebuah kaca tepat di belakang jok kursi Windy tertarik ke atas membuat Mazaya bisa berganti pakaian dengan bebas tanpa merasa malu diperhatikan Windy. Mobil itu memang telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk kenyamanan Mazaya. Bahkan seluruh perlengkapan bekerja Mazaya hampir sepenuhnya berada di sana. Tak lupa Mazaya menyapu wajahnya dengan make up tipis khususnya area mata untuk mempertegas tatapannya. Apalagi ia menutupi sebagian wajahnya dan hanya menampakkan area mata, jadi ia perlu menunjukkan ketegasan dirinya melalui sorot mata yang dipertegas dan dipertajam. Setelah ia selesai melakukan ritual wajibnya sebelum bekerja, Windy pun segera menjalankan mobil dan memarkirkannya di tempat semestinya. Setelah mobilnya terparkir sempurna, barulah Windy turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Mazaya.

Dengan anggun, Mazaya turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Di perusahaan, Mazaya bersikap sebaliknya. Ia sama seperti CEO-CEO lain yang sengaja bersikap dingin dan datar agar para bawahannya segan dan tidak berani macam-macam. Semua tentu saja atas didikan sang kakek.

Awalnya memang ia seakan diremehkan bawahannya. Mereka menilai Mazaya bisa duduk di kursi tertinggi Syailendra Group hanya karena ia putri satu-satunya mendiang Narendra Syailendra. Namun seiring berjalannya waktu, Mazaya mampu membuktikan kalau dia mampu. Terbukti, meski saat beberapa bulan yang lalu ia hanya menjabat sebagai COO Syailendra Group, Mazaya mampu membuat beberapa terobosan dan menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan besar sehingga nama Syailendra Group makin berjaya dan mampu menduduki puncak kerajaan bisnis di tanah air. Setelah itu, barulah ia benar-benar diangkat menjadi CEO menggantikan sang kakek.

...***...

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, ada seorang pria paruh baya tapi tetap gagah diusianya yang menginjak hampir kepala lima sedang mendengarkan informasi yang diberikan anak buahnya.

"Jadi benar perempuan itu putri dari Narendra yang selama ini disembunyikan?"

"Saya tidak tahu pasti tuan, tapi kemungkinan besar iya sebab tampuk kekuasaan telah diserahkan sepenuhnya pada perempuan itu." Lapornya.

Brakkk ...

"Pekerjaanmu selama ini apa, hah? Bagaimana kau sampai kecolongan sampai-sampai tak tahu anak itu telah kembali dan bahkan telah menduduki posisi CEO? Bertahun-tahun aku menugaskan mu mencari tahu keberadaannya dan segera melenyapkannya, tapi kau justru lalai. Kau mau anak istrimu ku habisi, hah?" bentak pria paruh baya itu.

"Ampun, tuan! Maafkan saya! Saya mohon jangan sakiti keluarga saya, saya mohon! Saya akan melakukan tugas saya dengan baik kali ini." Mohon anak buah laki-laki itu sambil bersimpuh di kaki tuannya.

"Saya beri kamu kesempatan satu kali lagi, cari tahu segala hal mengenai perempuan itu. Bila ada kesempatan, habisi dia! Aku ingin semua anak keturunan Narendra habis tanpa sisa." Sentak laki-laki itu dengan rahang mengeras.

...***...

Terpopuler

Comments

Memyr 67

Memyr 67

ooo, bapaknya si pelakor carla, yg bunuh orangtuanya mazaya. walaupun mazaya hadir setelah suaminya pacaran ma carla, tetap saja carla yg pelakor, karena mazaya istri dari pacarnya. pelakor itu perebut laki orang, kalau perebut pacar orang kan sudah biasa, carla aja yg jagain jodoh orang lain. prempuan bodoh.

2024-11-23

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Wkwkwkw kenapa baru sekarang mau cari tau,Sini aku bisikkan,Zaya di sana seorang CEO lho

2025-03-21

0

Mariani SPd

Mariani SPd

waduh.....sapa lawannya nih yaa

2024-10-29

0

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!