Aroma yang sama

Mendengar ucapan Mada, mata Gemilang seketika terbeliak. Baru saja ia akan menolak keinginan teman-temannya yang ingin bertandang ke rumahnya, tiba-tiba Nugie memberikan kabar yang cukup mengejutkan di dunia perbisnisan sambil menunjukkan ponselnya.

"Bro, udah liat berita viral hari ini?" seru Nugie memotong kata-kata yang belum sempat Gemilang ucapkan.

"Apaan sih? Kayak heboh bener." Sambar Mada dengan dahi mengernyit.

"Syailendra Group, loe pasti pada tahu kan perusahaan itu? Raja properti dan beberapa bidang bisnis digelutinya."

"Setiap pebisnis pasti tahu lah. Emang kenapa dengan Syailendra Group?" ucap Jendra yang ikut bertanya-tanya.

"Selama ini kan Syailendra dipimpin asisten pribadi almarhum Narendra Syailendra atas pengawasan ayah tuan Narendra. Tapi sang ayah tidak pernah menampakkan dirinya. Bokap gue pernah cerita pas berhasil dapat tender sama Syailendra Group, ternyata tuan Narendra beserta anak istrinya dikabarkan meninggal akibat kecelakaan tragis. Nah, yang buat berita kali ini viral, ternyata putri tuan Narenda masih hidup dan hari ini resmi diangkat sebagai CEO Syailendra Group."

Nugie lantas menyodorkan ponselnya yang menunjukkan tautan tentang berita pengangkatan CEO baru Syailendra Group.

Dalam berita tersebut, terpampang foto seorang perempuan yang berpenampilan menawan dan elegan. Namun yang jadi pusat perhatian adalah sang CEO yang mengenakan masker seolah tak mau menunjukkan jati dirinya pada dunia.

Gemilang tampak memperhatikan CEO Syailendra Group itu secara seksama. Terutama foto-foto yang diambil dari jarak dekat. CEO Syailendra, seorang perempuan yang tampak berkharisma dan berwibawa. Tapi semakin ia mengamati, mengapa ia seperti begitu mengenal perempuan itu. Tapi siapa?

'Ah, mungkin aku pernah tanpa sengaja bertemu dengannya di suatu tempat.' Pikir Gemilang.

"Wow, aku juga pernah dengar cerita itu! Banyak yang mengatakan kecelakaan keluarga tuan Narendra itu merupakan pembunuhan berencana, tapi sampai sekarang kasus itu belum juga terungkap kebenarannya. Mungkin karena itu putri mereka selama ini disembunyikan." Timpal Mada.

"Mungkin karena itu juga dia menutupi wajahnya menggunakan masker. Bisa jadi kan pembunuh orang tuanya itu masih ada. Tapi yang menjadi tanda tanya itu, siapa dan mengapa? Sebegitu hebat kah dia sampai kedoknya tidak terbongkar hingga saat ini." Sambung Jendra sambil menyesap kopinya.

"Apa kalian hanya akan membahas CEO Syailendra Group itu terus? Kalau iya, aku lebih baik pergi. Masih banyak yang harus aku kerjakan," tukas Gemilang sambil melirik jarum jam di pergelangan tangannya.

"Ya ya ya, silahkan, go, go, go. Kami masih mau ngobrol di sini, siapa tau bisa dapat gebetan cantik," seloroh Jendra sambil terkekeh.

"Berhenti jadi playboy, Ndra. Mau sampai kapan loe kayak gitu, mainin cewek aja kerjanya," cibir Gemilang yang memang tahu sahabatnya itu seorang playboy.

"Sampai aku menemukan cintai pertamaku, mungkin," jawabnya sambil memainkan kedua alisnya.

"Ck ... move on, move on, mau sampai kapan loe nungguin cinta monyet loe itu. Kalau dia udah nikah, emang loe mau nungguin jandanya?" sambar Nugie sambil geleng-geleng kepala.

"Kalau dia tidak bahagia, why not? Aku nggak masalah sama janda." Sahut Jendra acuh tak acuh membuat teman-temannya termasuk Gemilang menggelengkan kepalanya.

Setelah berbasa-basi sebentar, Gemilang pun melangkahkan kakinya keluar dari cafe tempat mereka melakukan pertemuan. Saat baru saja hendak mendorong pintu kaca cafe, ternyata pintu telah lebih dahulu terbuka. Dari sana, masuklah seorang perempuan bermasker yang dikawal beberapa orang laki-laki di samping dan di belakangnya.

Namun yang menarik perhatian Gemilang yang pertama adalah sorot mata yang sempat meliriknya meskipun hanya beberapa detik saja itu dan yang kedua adalah aroma tubuh perempuan itu. Entah mengapa ia begitu familiar dengan aroma itu. Harum yang menenangkan. Gemilang sampai mematung dengan sorot mata tak berhenti memperhatikan langkah perempuan itu yang kemudian mengambil tempat duduk tak jauh dari tempatnya tadi.

Merasa penasaran, Gemilang lantas membelokkan langkah kakinya hendak kembali ke tempat duduknya sebelumnya. Namun, belum sempat ia melangkah ke sana, suara panggilan telepon terdengar begitu nyaring dari dalam saku celananya. Ia pun segera mengambil ponselnya.. Gemilang menghela nafasnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

"Ya."

"Sayang, kata kamu setelah meeting langsung balik ke kantor, tapi kenapa sampai sekarang belum tiba juga? Jangan bilang kamu lagi nemuin jalaang itu?" pekik Carla dari seberang telepon.

Tiba-tiba Gemilang mengernyitkan dahi saat mengingat sosok sang istri, "aroma itu ... "

Gemilang menyadari aroma perempuan itu sama persis dengan aroma sang istri. Sangat menenangkan dan ia menyukainya.

'Ah, mungkin hanya kebetulan saja. Lagipula mana mungkin itu dia. Perempuan udik itu ... ' gumam Gemilang dalam hati. Namun ia justru tanpa sadar menyunggingkan senyuman.

"Sayang ... Jadi benar kalau kau sedang menemui jalaaangmu itu!"

"Tutup mulutmu, Carla!!! Dia bukan jalaang, tapi istriku. Jangan bicara sembarangan kalau kau tak mau melihat kemarahanku?" desis Gemilang sebelum menutup panggilan itu secara kasar.

Gemilang yang tadinya hendak kembali ke tempat duduknya jadi mengurungkan niatnya. Perasaannya sedang buruk sekarang. Entah mengapa, ia tidak terima saat kekasihnya menyebut Mazaya jalaang. Hatinya mendadak panas.

Gemilang lantas melangkahkan kakinya keluar. Di samping mobil, tampak Juna telah siap membukakan pintu mobil untuknya.

"Kita mau pergi kemana dulu, tuan?" tanya Juna setelah memakai seat beltnya.

"Langsung ke kantor." Ucapnya singkat sambil merebahkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya terpejam. Aroma parfum tadi ternyata masih tercium di indra penciumannya. Gemilang tiba-tiba tersentak saat mengingat sesuatu. Ia lantas membuka ponselnya.

"Jadi ... dia tadi CEO Syailendra Group," gumamnya saat melihat foto-foto CEO Syailendra Group yang sedang viral. Lantas ia melanjutkan membaca mengenai CEO Syailendra Group tersebut. "Mazaya Syailendra. Jadi namanya Mazaya Syailendra."

Gemilang menyunggingkan senyuman, "ternyata bukan hanya nama saja yang sama, tapi juga aroma parfumnya sama. Apakah seseorang yang bernama Mazaya memiliki selera yang sama termasuk parfum?" gumamnya sambil terus menscroll berita mengenai Mazaya Syailendra.

Gemilang tak pernah terpikir kalau mereka orang yang sama. Bahkan ia sudah lupa nama ayah Mazaya. Sebab saat ijab ia hanya membaca sekilas tulisan nama ayah Mazaya untuk keperluan akad nikah. Oleh sebab itu, setelahnya ia benar-benar lupa. Ia pikir hal itu tidaklah penting.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 30 menit, tibalah Gemilang di kantornya. Semua orang menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan CEO mereka. Gemilang bukan hanya terkenal datar dan dingin, tapi ia juga dikenal sebagai CEO yang kejam. Ia tak segan-segan menghukum orang-orang yang berani macam-macam dengannya. Bahkan sekedar menjadikan Gemilang bahan pembicaraan mereka pun, mereka tak berani.

Pernah ada kliennya yang mencoba melecehkan karyawan wanitanya. Tanpa segan-segan, Gemilang menghukumnya dengan menghancurkan bisnis orang itu. Sejak itu, Gemilang menjadi sosok CEO yang paling ditakuti dan disegani.

Namun biar begitu, ia tetap saja memiliki lawan bisnis. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang memiliki kebencian dan sakit hati karena berbagai alasan khususnya masalah persaingan bisnis. Tapi Gemilang masa bodoh. Ia tak takut sama sekali. Baginya hal tersebut wajar dalam dunia bisnis.

"Sayang," pekik Carla yang langsung berhambur ke pelukan Gemilang saat laki-laki itu membuka pintu.

Gemilang yang terkejut, tanpa sadar mendorong Carla sedikit kasar. Untung saja perempuan itu tidak sampai terjatuh lagi seperti malam tadi.

"Lang ... kenapa kamu makin kasar sama aku, hah? Apa salah aku? Apa ini karena jalaang itu?" sentak Carla tak terima dengan perlakuan Gemilang padanya.

"Mau harus aku ingatkan berapa kali lagi, profesional lah saat berada di kantor! Dan satu lagi, jangan sekali-kali kau menyebut istriku jalaang. Dia perempuan baik-baik. Ingat itu!" tegas Gemilang membuat wajah Carla memerah menahan emosi. Ia tahu, sikap Gemilang selama ini memang keras, dingin, dan cenderung kasar, tapi apa yang dilakukan Gemilang beberapa hari ini benar-benar membuatnya marah. Ia tidak terima.

'Aku yakin, ini pasti karena perbuatan jalaang itu. Entah apa yang telah dilakukannya sampai-sampai Elang makin dingin dan kasar. Sialan. Awas kau jalaang. Tunggu pembalasanku!' geram Carla dalam hati dengan kedua tangan terkepal. Merasa tak diacuhkan sama sekali, Carla pun segera keluar dari ruangan itu sambil menghentakkan kakinya.

...***...

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Memyr 67

Memyr 67

ternyata selain emosional, carla juga sombong dan bodoh. karena kesombongannya, tidak mau tau siapa istri pacarnya, kecuali dia dari kampung. makanya bodoh.

2024-11-23

0

Sry Handayani

Sry Handayani

lanjuuut

2024-08-03

0

SR.Yuni

SR.Yuni

Kok bisa lupa nikah belom lama , aku sampai ngulang baca part 1 gara2 ini karena kalo nikah pasti nyebut binti dan jelas disana disebut nama bapaknya...

2024-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!