Makan malam

Menjelang malam, Mazaya keluar dari dalam kamarnya. Semenjak perdebatannya siang tadi dengan Gemilang, laki-laki itu menghilang begitu saja. Entah kemana ia, yang pasti Mazaya tak mau ambil pusing.

Mazaya lantas mencari keberadaan dapur. Tak sulit baginya untuk menemukan tempat itu. Ia lantas menghampiri dua orang pelayan yang sepertinya merupakan juru masak di mansion itu.

"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Mazaya tiba-tiba membuat kedua wanita yang tengah menyiapkan makan malam itu tersentak dan hampir saja menjatuhkan apa yang mereka pegang.

"No-nona muda? Apa yang Anda lakukan di sini?" cicit salah satu dari mereka yang memiliki usia paruh baya.

"Maaf, aku buat kalian terkejut ya!" ucap Mazaya sambil menggaruk tengkuknya. "Aku hanya ingin membantu kalian, boleh kan?" ucap Mazaya dengan wajah memelas.

"Jangan nona!" seru keduanya bersamaan.

"Kenapa? Kalian takut aku mengacaukan kegiatan memasak kalian ya? Tenang saja, gini-gini aku bisa masak kok," ucap Mazaya penuh percaya diri.

"Bu-bukan begitu, nona. Kami hanya tidak mau kalau sampai Nyonya atau tuan marah ke kami kalau membiarkan nona memasak." Ucap Bu Murti.

"Ibu saya benar nona. Nona sebaiknya duduk saja. Mau saya buatkan jus atau siapkan cemilan?" tawar Marta, putri Bu Murti.

Mazaya menggeleng, "aku nggak mau apa-apa. Aku cuma mau bantu masak. Percaya deh, nggak ada yang bakal marah. Kalaupun ada, aku yang akan bertanggung jawab. Boleh ya, boleh ya! Please!" melas Mazaya memasang mimik polos nan lugu membuat Bu Murti tak sampai hati.

"Tapi kalau nona capek, nona berhenti ya. Apalagi kan nona baru sampai tadi siang menjelang sore di sini, pasti masih capek banget. Seharusnya non Mazaya istirahat saja."

"Aku bakal lebih capek kalo cuma mengurung diri aja. Kan ini hari pertamaku di sini, jadi aku ingin membuat sesuatu yang spesial, kalian mau bantu aku kan?" tanya Mazaya membuat kedua juru masak ibu dan anak itu saling bertatapan. Marta mengangguk membuat Bu Murti pun ikut mengangguk pasrah.

...***...

Setelah hampir satu jam berkutat di dapur, akhirnya semua menu masakan pun telah terhidang. Bu Murti dan Marta sampai tercengang tak percaya ia bisa memasak aneka hidangan yang menggugah selera. Bahkan mereka telah mencicipinya terlebih dahulu dan memang rasanya benar-benar enak. Awalnya mereka mencicip karena khawatir masakan itu tidak sesuai selera anggota keluarga Cakrabuana. Selain itu, mereka khawatir rasanya tak sesuai ekspektasi. Aroma bisa saja harum, tapi soal rasa, lidah tak bisa bohong.

Mereka pun mengacungkan kedua jempolnya sebagai apresiasi kalau masakan Mazaya memang benar-benar istimewa.

Makan malam tiba, semua orang tampak sudah berkumpul di meja makan. Mata mereka sampai membulat melihat aneka hidangan yang telah tersaji dengan aroma yang mampu membuat air liur menetes.

Gemilang pikir ini pasti kerjaan ibunya sebagai sambutan selamat datang untuk Mazaya. Untuk apa pula menyambut perempuan udik itu pikirnya. Namun, ia enggan berkomentar sekarang. Ia sudah bersiap akan memprotes tindakan ibunya setelah makan malam ini usai. Sebab ia yakin, semua makanan itu akan tersisa banyak dan berakhir mubazir.

"Ayo Zaya, silahkan dimakan, sayang," ucap Anika lembut. Mazaya pun tersenyum dan mengikuti gerakan sang ibu mertua yang membantu mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk sang suami, sedangkan dirinya membantu mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Gemilang. Syukurnya laki-laki itu tak protes. Mungkin segan dengan kedua orang tuanya.

"Kamu mau makan dengan apa, mas?" tanya Mazaya lembut.

Degh ...

Mendengar suara lembut Mazaya memanggilnya 'mas' tiba-tiba saja membuat jantungnya berdegup kencang.

"Terserah," jawab Gemilang singkat, padat, dan tidak jelas. Biasanya perempuan yang memberikan jawaban seperti itu, tapi kali ini justru jawaban itu keluar dari seorang laki-laki.

"Mana ada lauk dan sayur yang namanya terserah, Lang. Kamu ini ada-ada saja," celetuk Anika tapi tak direspon Gemilang sama sekali.

Tak mau ambil pusing, Mazaya pun mengambilkan lauk yang menurutnya mungkin akan Gemilang sukai. Gemilang menerimanya dengan datar. Sengaja ia bersikap seperti tidak ada masalah apa-apa diantara mereka agar kedua orang tuanya tidak terlalu banyak ikut campur urusan mereka.

Saat satu suapan nasi dan lauknya masuk ke dalam mulut, dahi Gemilang mengernyit. Bu Murti memang sering memasak menu yang salah satunya ada sup iga, tapi kenapa rasanya hari ini lebih enak dan pas di lidahnya yang memang sedikit pemilih. Begitu pula sambalnya yang begitu menggoyang lidah. Gemilang sampai makan begitu lahap. Bukan hanya dirinya, tapi ternyata kedua orang tuanya pun makan dengan begitu lahap. Lauk pauk yang ia sangsi akan habis tadi dan berakhir mubazir justru kini nyaris tanpa sisa.

"Apa mama memesan menu makan malam kita dari restoran? Mama jangan terlalu memanjakannya, nanti dia bisa besar kepala," cibir Gemilang sambil melirik sinis Mazaya yang tampak acuh tak acuh. 'Kurang ajar! Kenapa dia kayak santai banget gitu?' rutuk Gemilang dalam hati.

"Apa maksud kamu, Lang? Oh, kamu kira mama pesan ini dari restoran ya? Apa menurut kamu ini terlalu istimewa ya? Makan malam kali ini memang enak banget ya, pa, tuh anak papa sampai ngira mama sengaja pesan makanan ini dari restoran," ucap Anika sambil tersenyum lebar.

"Emangnya ini bukan mama pesan dari restoran?" Ternyata Pak Guntara pun berpikir hal yang sama dengan putranya.

Anika terkekeh kecil lalu mengalihkan pandangannya pada Bu Murti,"jelasin deh, mbak." Usia Bu Murti yang hanya terpaut beberapa tahun di atas Anika membuat Anika lebih suka memanggil Bu Murti mbak.

"Maaf tuan, tuan muda, masakan malam ini bukan dipesan dari restoran melainkan masak sendiri. Nona Mazaya sendiri yang memasak makan malam hari ini. Ternyata, nona Mazaya sangat pandai memasak." Ucap Bu Murti membuat Gemilang yang sedang minum, nyaris tersedak.

"Baguslah. Artinya dia memiliki keahlian khusus. Setidaknya gadis kampung seperti dirinya ada gunanya," sinis Gemilang membuat Anika dan Guntara melotot tak percaya atas ucapan pedas Gemilang.

"Jaga ucapanmu, Lang! Mau dia tidak memiliki kemampuan khusus pun, dia tetaplah istrimu. Tak pantas kau mengucapkan kata-kata pedas seperti itu!" sentak Guntara dengan sorot mata tajam.

"Apa kamu lupa Lang, mama pun tidak memiliki kemampuan khusus. Masak pun tidak bisa, tapi papa sangat menghargai mama apa adanya," tekan Anika ikut kesal dengan sikap putranya pada Mazaya. "Zaya, maafin Elang ya! Dia emang gitu sifatnya, ketus dan keras sama orang yang baru dikenalnya. Tapi aslinya dia anak yang baik. Mama yakin, perlahan dia akan merubah sikapnya itu ke kamu. Kamu sabar ya!" Ucap Anika tak enak hati.

"Mama nggak perlu khawatir, Zaya nggak apa-apa kok. Biasa itu. Zaya mengerti, namanya juga kami baru saling kenal hari ini. Kami belum tau tabiat masing-masing jadi mama nggak perlu terlalu merisaukannya," sahut Mazaya lembut membuat perasaan kedua orang tua itu makin tak enak hati.

"Elang, ikut papa sekarang!" titah Guntara tegas. Gemilang mendengkus. Baru satu hari gadis itu berada di rumah itu, tapi sepertinya ia telah berhasil merebut kasih sayang kedua orang tuanya.

...***...

Brakkk ...

Guntara menggebrak meja kerjanya membuat Gemilang terhenyak.

"Papa sudah memperingatkan kamu, bersikap baiklah pada Mazaya. Dia itu sekarang telah menjadi istrimu. Tanggung jawabmu. Tapi kenapa sikapmu justru sebaliknya? Apa mama dan papa mendidikmu untuk bersikap semena-mena seperti ini? Khususnya pada perempuan? Apa kamu pernah dengar papa bicara sembarangan pada mama? Menghina? Merendahkan? Menyepelekan? Nggak kan. Tapi kenapa kau seperti ini?" sentak Guntara murka.

"Pa, papa tahu sendiri kan, aku menolak untuk dijodohkan dengan gadis kampung itu, tapi kalian yang memaksa. Seandainya ini bukan amanat kakek, aku sungguh takkan sudi menikahinya. Aku yakin, dia bersedia dijodohkan denganku karena aku kaya raya dan tampan, coba kalau tidak, mana mungkin dia mau. Dia hanya mengincar harta kita, pa. Papa jangan terlalu baik dengannya."

"Kau jangan keterlaluan, Lang. Kau hanya belum mengenal Mazaya dengan baik. Dia bukanlah perempuan seperti yang kau pikirkan. Bahkan kita belum apa-apanya dibandingkan dia. Dan harus kau tahu, kita memiliki hutang budi dengan keluarganya jadi jangan buat papa menyesal memiliki anak tak tahu diri sepertimu. Pokoknya mulai sekarang ubah sikapmu itu pada Mazaya. Mama dan papa tak mau dengar kau melakukan hal-hal yang tidak terpuji padanya. Bila sampai itu terjadi, siap-siap saja kau papa coret dari ahli waris papa. Kau mengerti!"

Setelah mengatakan itu, Guntara mengusir Gemilang dari ruangannya. Gemilang pun keluar dengan raut wajah memerah.

"Belum apa-apanya dibandingkan dia? Bulsshhiit!" umpat Gemilang yang langsung menuju ruang kerjanya.

...***...

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Memyr 67

Memyr 67

kenapa guntara dan anika bisa punya anak yg pikirannya kolot dan picik? apa salah didik?

2024-11-22

0

Pisces97

Pisces97

jangan menilai orang dari cover belum tau saja isinya malah jauh lebih istimewa

2024-07-26

0

v taehyung

v taehyung

lang sini looo gue bejed" Sampek bonyok lo kesel gue m LO Lang ,, entar kalau udah bucin yang yang bikin enek awas LO Lang ,😠😠😠

2024-07-22

0

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!