Pertemuan

Semenjak perdebatan kala itu, suasana canggung menyelimuti kediaman Gemilang. Baik Mazaya maupun Gemilang seakan terlibat perang dingin. Keduanya bungkam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan Mazaya sampai menolak mentah-mentah ajakan Gemilang yang ingin mengantarkannya ke tempat kerjanya.

"Apa schedule ku hari ini?" tanya Mazaya pada Willy. Di Saat bersamaan, Windy masuk untuk menyerahkan beberapa proposal kerja sama Syailendra Group dengan beberapa perusahaan lainnya.

"Anda ada pertemuan dengan pihak Mitra Insurance untuk memperbarui perjanjian kerjasama pukul 10 pagi ini dan dilanjutkan pertemuan dengan pihak Mega Architecture." Ujar Willy yang tengah membacakan jadwal sang CEO hari itu.

"Ini Bu dokumen pembaruan kerja sama dengan pihak Mitra Insurance. Di dalam berkas terkait, ada pembaruan mengenai peningkatan manfaat perlindungan nasabah hingga 5 Milyar dari yang sebelumnya hanya 4,2 Milyar dan peningkatan pertanggungan hingga 85 tahun dari yang sebelumnya hanya 75 tahun." Papar Windy sambil menerangkan isi berkas pembaruan kerja sama Syailendra Group dengan pihak Mitra Insurance.

Pihak Syailendra Group memang bekerja sama dengan pihak asuransi terkemuka untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Bukan rahasia umum, kadang kala kita tidak bisa memungkiri ada saja hal tak terduga yang bisa saja terjadi, baik itu sakit, kecelakaan, bahkan kematian, dan lain-lain, sedangkan biaya hidup terus meningkat dan kondisi yang tak memungkinkan membuat mereka tak lagi dapat bekerja.

Untuk itulah, Syailendra Group mengikutsertakan semua karyawannya untuk menjamin kelangsungan hidup mereka selama masih bekerja di Syailendra Group. Jadi, selama mereka masih berstatus karyawan, bila terjadi sesuatu yang tak inginkan seperti kecelakaan ataupun sakit keras, semua biaya akan ditanggung perusahaan melalui Mitra Insurance. Begitu juga bila ada karyawan yang mengalami kecelakaan kerja maupun meninggal dunia, maka pihak keluarga akan mendapatkan santunan sesuai dengan isi perjanjian.

Mazaya mengangguk, ternyata pengajuannya di setujui pihak Mitra Insurance. Mazaya melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya, sudah pukul 9 lewat 25 menit. Ia pun segera meminta Willy untuk bersiap bertemu dengan pihak Mitra Insurance.

"Siapkan mobil, sebentar lagi kita menuju lokasi," ucapnya pada Willy yang langsung diangguki oleh laki-laki itu. "Dan kau Windy, kau juga ikut denganku. Bilang pada Amara, bila ada yang mencari ku, hubungi kami saja." Titahnya pada Windy, sedangkan Amara adalah sekretaris kedua Mazaya.

Beberapa saat kemudian, Mazaya, Willy, dan Windy telah tiba di lokasi pertemuannya dengan pihak Mitra Insurance. Saat memasuki tempat yang merupakan restoran mewah yang berada di sebuah hotel ternama, kedatangan Mazaya mengundang tatapan penuh tanya dari beberapa pasang mata. Apalagi restoran itu pun termasuk restoran mewah, tentu orang-orang yang makan di sana pun merupakan kalangan elit dan mereka pun sedikit banyak tahu mengenai siapa itu Mazaya. Belum lagi dengan ciri khasnya yang selalu memakai masker membuat semua orang dapat langsung menebak siapa perempuan yang dikawal oleh asisten pribadi dan sekretarisnya itu.

Saat baru saja masuk ke sebuah ruangan VVIP, mata Mazaya seketika terbelalak ketika matanya bersirobok dengan sepasang mata milik seseorang yang ia kenali. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang, seolah-olah tidak mengenal sosok itu.

"Selamat pagi menjelang siang. Senang bisa bertemu Anda secara langsung Nona Mazaya," ucap laki-laki itu. "Perkenalkan, saya Jendra Wiryata, direktur operasional Mitra Insurance," imbuhnya sambil mengulurkan tangan.

Mazaya pun segera menyambut tangan itu dan bersalaman.

"Senang bertemu dengan Anda juga. Silahkan duduk." Tak ingin basa-basi, Mazaya langsung mempersilahkan Jendra kembali duduk. Namun sorot mata Jendra begitu kentara mengawasi setiap gerak-gerik Mazaya yang memang sengaja tak mau banyak bicara.

"Maaf, bisa tolong jaga pandangan Anda! Sepertinya, CEO kami merasa kurang nyaman dengan tatapan Anda." Windy menginterupsi. Dirinya seorang perempuan, tentu dapat merasakan ketidaknyamanan Mazaya pada sosok bernama Jendra tersebut.

"Oh, maaf. Aku hanya sedikit penasaran sebab saya memiliki teman yang baik sorot mata maupun suaranya begitu persis dengan nona Mazaya. Ah, bahkan namanya pun sama, hanya beda nama belakang saja." Ujar Jendra menjelaskan sambil terkekeh. Ia tak mau terjadi kesalahpahaman pada pihak Syailendra Group. Bagaimana pun, pihak Syailendra merupakan klien terbesar perusahaan tempat dirinya bekerja. Tentu ia tak mau karirnya hancur hanya karena kesalahpahaman dengan pihak Syailendra Group.

"Oh. Ya sudah, kalau begitu kita mulai meetingnya sekarang." Ucap Willy. Jendra dan temannya pun menyetujui.

Satu jam pun berlalu, mereka lantas segera menutup meeting itu dengan salaman pertanda kerja sama telah disepakati. Rekan Jendra pun mengambil foto sebagai dokumentasi begitu pula Windy pun melakukan hal yang sama.

Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Mazaya terlebih dahulu pergi ke toilet. Terdengar seseorang menyerukan nama 'Aya'. Tak mau identitasnya diketahui, Mazaya pura-pura mengabaikan.

"Sepertinya hanya mirip," gumam Jendra saat melihat Mazaya tidak menoleh sama sekali saat ia menyerukan nama Aya.

Kini ketiganya sudah berada di dalam lift hingga tiba-tiba dari arah berlawanan sesaat Mazaya melangkahkan kakinya keluar dari kotak besi tersebut, seseorang menabrak pundak Mazaya hingga Mazaya sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung ada Willy yang sigap menahan pundak Mazaya hingga ia tidak sampai terjatuh.

"Ah, maafkan saya, nona. Maafkan, saya. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap pria paruh baya tersebut.

"Tidak apa-apa, pak. Saya tidak apa-apa. Permisi," ujar Mazaya sopan. Mazaya pun hendak melangkah menjauh, tapi tiba-tiba seseorang itu menyebutkan sesuatu membuat Mazaya seketika menoleh.

"Kamu CEO Syailendra Group kan? Kamu putri dari Narendra kan?" celetuknya membuat dahi Mazaya mengernyit. Ya, perihal pengangkatan dirinya menjadi CEO Syailendra Group memang telah beredar luas jadi ia merasa wajar beberapa orang mengenalnya. Hanya saja ia penasaran, bagaimana pria paruh baya itu mengenal ayahnya?

...***...

Setelah melakukan meeting dengan pihak Mega Architecture membahas tentang proyek kerja sama pembangunan gedung pencakar langit di kota P, Willy pun segera melajukan mobil kembali ke perusahaan.

Sepanjang perjalanan Mazaya hanya sibuk melamun, mengingat pertemuannya dengan pria paruh baya tersebut. Selama ini kakeknya tidak pernah membahas teman-teman mendiang ayahnya. Pun membahas tentang kematian kedua orang tuanya. Namun, tanpa kakeknya tahu, ia telah mengetahui perihal kecelakaan tragis yang menewaskan kedua orang tuanya. Ada yang menyabotase mobil kedua orang tuanya sehingga mereka mengalami kecelakaan dan keduanya meninggal di tempat. Itupun tak sengaja ia ketahui saat mendengar kakeknya berbicara dengan Guntara beberapa tahun silam.

Saat itu memang ia masih terlalu kecil dan tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mencari tahu dalang kematian kedua orang tuanya, tapi untuk kali ini ia bukan hanya memiliki kekuasaan tapi juga banyak uang. Jadi ia perlahan akan mulai bergerak mencari tahu siapa orang yang begitu tega membunuh kedua orang tuanya.

Saat mobil mereka melaju, tiba-tiba dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju kencang menuju ke arahnya. Willy memang yang telah dilatih untuk menghadapi situasi tak terduga seperti ini pun segera bermanuver. Sebisa mungkin ia menghindari mobil tersebut yang ia yakini ingin menabrak mobil mereka.

Mazaya yang menyadari hal tersebut pun sontak menegakkan punggungnya. Matanya memicing saat Willy berhasil menghindari mobil tersebut. Namun, karena saat ini jalanan tidak begitu padat, mobil tadi segera berbalik arah. Kini mereka telah berada di belakang mobil Mazaya. Kap mobil di belakangnya terbuka, salah seorang penghuni mobil itu pun menampakkan setengah badannya dengan sebuah senjata laras panjang di tangan. Willy yang ikut menyadari hal itupun segera menaikkan kecepatannya hingga tak lama kemudian terdengar bunyi memekikkan dari luar sana.

Dorrr ....

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Waahh mulai deh keseruannya..Ini nih yg aku tunggu-tunggu..👏👏👏👍👍👍👍💪💪💪

2025-03-21

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Antonio bapaknya Clara..Hati2 Zaya..

2025-03-21

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ehem ehem.. Ternyata gebetan nih..😂😂😜

2025-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!