Insiden sebelum tidur

Dengan kesal, Gemilang memasuki ruang kerjanya. Baru saja ia merebahkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya, terdengar dering handphonenya berbunyi. Gemilang melirik nomor ponsel itu kemudian menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau ke atas hingga terdengarlah suara lembut seorang perempuan.

"Sayang," pekik perempuan itu setengah merajuk. "Akhirnya kamu angkat juga telepon dariku. Kamu kemana sih seharian ini? Ke kantor nggak. Aku hubungi susah banget, nggak kayak biasanya," protes perempuan itu terdengar kesal.

"Aku menikah hari ini." Jawab Gemilang singkat, padat, dan jelas membuat perempuan di seberang telepon sampai menjatuhkan ponselnya karena terkejut.

"APA?" pekik perempuan itu sambil menjatuhkan ponselnya. Ia terdiam sepersekian detik, kemudian kembali mengambil ponselnya yang terjatuh. "Sayang, kamu jangan bercanda! Kamu mau buat aku jantungan apa?" pekik perempuan itu membuat Gemilang menjauhkan handphonenya sambil mengusap telinganya yang pengang akibat suara sang perempuan yang melengking.

"Aku serius. Pagi tadi aku baru saja menikah." Terang Gemilang datar.

"SIAPA? SIAPA JALAANG YANG BERANI-BERANINYA MEREBUTMU DARIKU, HAH? KATAKAN PADAKU? ATAU KAU SELAMA INI BERSELINGKUH DARIKU? KAU MENGHAMILINYA DAN DIA MEMINTA PERTANGGUNGJAWABAN DARIMU? JELASKAN GEMILANG!!!" Teriak perempuan itu frustasi.

Gemilang mengusap rambutnya kasar. Sebenarnya ia malas sekali banyak bicara seperti ini, tapi bila tidak segera dijelaskan, maka kekasihnya itu akan terus-menerus merengek menumpahkan kekesalannya.

"Aku tidak pernah melakukan itu. Aku dijodohkan, puas. Sudahlah. Aku lelah. Aku mau istirahat dulu." Ucap Gemilang. Tanpa menunggu respon kekasihnya, Gemilang lantas langsung menutup panggilan itu begitu saja. Terdengar lagi-lagi ponselnya berdering. Sepertinya kekasihnya itu belum puas mendengarkan penjelasannya. Namun kepalanya sudah terlanjur pusing. Ditambah lelah dan kurang tidur membuatnya segera menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu istirahatnya.

Setelahnya, Gemilang segera beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang kerjanya itu. Ia langkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Mata Gemilang seketika membulat saat melihat ada seorang perempuan yang tengah tertidur dengan lelapnya di atas ranjangnya.

Tanpa perasaan, Gemilang menarik selimut yang menutupi tubuh gadis tersebut sehingga tubuhnya yang hanya mengenakan baju tidur serba pendek tersingkap. Matanya membulat saat melihat kulit seputih dan semulus porcelaine itu terpampang di depan matanya.

Gleg ...

"Mas, kamu apa-apaan? Kenapa selimutku ditarik? Aku mau tidur, tau. Usil banget jadi orang," pekik Mazaya kesal yang kini sudah terduduk di ranjang membuat kesadaran Gemilang segera hadir.

"Kau ... kau yang apa-apaan. Kenapa kau tidur di ata ranjangku, hah?" teriak Gemilang dengan mata melotot.

"Heh, apa kau amnesia? Aku ini sudah resmi menjadi istrimu sejak tadi pagi. Tentu saja aku berhak tidur di sini. Masa' aku tidur di kamar papa, yang ada aku digorok mama. Aku nggak mau viral kayak menantu yang ketahuan selingkuh sama ibu mertuanya itu. Ih, amit-amit," ucap Mazaya yang tiba-tiba teringat kisah perselingkuhan yang tengah viral baru-baru ini. Ia sampai bergidik ngeri membuat mata Gemilang melotot.

"Laki-laki itu aja yang bodoh, dapat produknya, malah mengincar pabriknya. Dikasih yang kencang, malah milih yang kisut."

Entah mengapa pasangan suami istri itu kini justru membahas mengenai kisah perselingkuhan viral menantu dan ibu mertuanya itu.

"Nah, itu. Bodoh banget kan mas. Lagian tuh suami, tega banget. Nggak mikir apa gimana perasaan istrinya saat melakukan itu. Si ibunya juga, bukannya menjadi pelindung dan pengayom anaknya, eh malah ada main sama menantunya sendiri." Sahut Mazaya sambil geleng-geleng kepala.

"I-, eh, kenapa jadi malah bahas berita perselingkuhan ini," gumamnya setelah sadar. "Cepat, pindah. Ini ranjangku, kamu pindah sana. Jangan tidur di sini." Usir Gemilang dengan memasang wajah seram.

"Nggak mau. Kalau mas nggak mau satu ranjang denganku, mas aja yang pindah," jawab Mazaya acuh tak acuh. Ia malah kembali membaringkan tubuhnya pura-pura bodoh.

"Aku bilang turun!" pekik Gemilang sambil menarik selimut Mazaya yang baru dipakainya lagi.

"Aku bilang nggak mau ya nggak mau." Balas Mazaya dengan mata melotot sambil mempertahankan selimutnya.

"Cepat turun!"

"Nggak!"

"Turun!"

"Nggak!"

"Turuuuun!"

"Nggaaaaaak ... "

Kesal Mazaya tak mau menuruti perintahnya, Gemilang lantas menyentak selimut itu sekuat tenaga membuat Mazaya tertarik hingga terduduk. Tak mau mengalah, Mazaya pun menyentak selimut itu tak kalah kuat. Gemilang yang sedang dalam posisi kaki tak siap tiba-tiba saja terhuyung kemudian terjatuh hingga kepala mereka saling membentur dengan kuat. Bahkan separuh tubuh Gemilang telah menimpa tubuh Mazaya.

"Aduh," pekik keduanya.

"Aaaarghhh ... sakiiiitttt ... mamaaaa ... " jerit Mazaya kencang sambil mengusap dahinya yang telah benjol.

Melihat Mazaya memekik dengan begitu kencang, Gemilang lantas membekap mulut istrinya itu dengan telapak tangan.

"Hmmmmppph ... hmp ... hhh ... " Mazaya hendak menjerit tapi telapak tangan Gemilang membekapnya dengan kuat.

"Diam. Kau berisik sekali!" bisik Gemilang dengan mata melotot. Tapi Mazaya tetap berusaha memberontak membuat Gemilang makin mengeratkan bekapannya.

Bila Mazaya merasa kesusahan bernafas karena mulut dan sebagian hidungnya tertutup telapak tangan Gemilang, maka Gemilang kesusahan bernafas karena tangannya yang menempel di bibir kenyal Mazaya. Apalagi saat ini Mazaya tidak mengenakan kacamata tebalnya membuatnya bisa melihat dengan jelas wajah cantik Mazaya. Alis matanya yang tebal dan terbentuk rapi, bulu matanya yang lentik, matanya yang bundar menggemaskan dengan bola mata kecoklatan, hidungnya yang bangir, kulitnya yang putih bersih tanpa cela membuat Gemilang sampai terpana.

Tanpa mereka sadari, dari balik pintu kamar mereka, ada dua orang yang sedang berusaha menguping.

"Wah, Nya, ternyata tuan Elang sok-sokan aja galak. Pura-pura nggak suka, taunya nona kena terkam juga."

"Kamu benar, mbak. Wah, semoga aja langsung jadi ya. Aku udah nggak sabar mau nimang cucu," ujar Anika dengan mata berbinar.

"Aamiin. Semoga ya, Nya. Saya juga udah pingin dengar suara tangis bayi di rumah ini. Pasti rame banget jadinya."

"Kamu benar, mbak. Dari suara teriakan Zaya tadi, kayaknya Elang mainnya kasar juga. Apalagi ini pertama kalinya untuk Zaya, pasti dia kesakitan banget. Mbak, entar pagi buat sarapan yang bisa memulihkan stamina ya. Terus minumnya yang bisa meningkatkan kesuburan. Mbak bisa kan?"

"Itu sih gampang, nyonya. Serahkan sama saya. Ilmu dari emak kan sekarang udah diturunkan ke saya. Buktinya kan nyonya sendiri, sekali coblos langsung cespleng. Sampai punya anak 3 pula."

"Kamu benar, Mbak." Anika mengangguk membenarkan ucapan Bu Murti.

Setelahnya, mereka pun tertawa bahagia berdua tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana.

Keadaan di dalam mansion itu, berbanding terbalik dengan keadaan sebuah kamar yang ada di sebuah apartemen mewah yang letaknya di pusat kota. Kamar tersebut tampak begitu berantakan. Semua barang berhamburan di lantai dan beberapa juga pecah hingga pecahannya berhamburan.

Tampak seorang perempuan dengan wajah memerah menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Ia sedang marah, sangat-sangat marah. Ia tidak terima dengan berita yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin kekasihnya menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuannya? Tentu saja ia tidak terima sebab ia menganggap hanya ia yang pantas menjadi pendamping seorang Gemilang Cakrabuana.

"Kurang ajar. Brengsekkk. Sialan. Berani-beraninya kau menikah dengan perempuan lain. Aku tidak terima. Takkan aku biarkan perempuan itu merebut Elang dariku. Hanya aku yang pantas menjadi nyonya Cakrabuana. Hanya aku yang pantas bersanding dengan Gemilang Cakrabuana. HANYA AKU. Aaaargh ... "

Prang ...

...***...

...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Memyr 67

Memyr 67

prempuan emosian, tukang ngatur gitu, dicintai mati matian ma gemilang? belum nikah aja, calon suami dah dibentak bentak seenaknya, apalagi setelah nikah? kalau gemilang nggak nurut sama dia, langsung ditinggal kali, ditinggal tapi ngarep dijemput. prempuan nggak jelas.

2024-11-22

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Cuiihh JALANG teriak JALANG..

2025-03-21

0

Pisces97

Pisces97

mau jadi pelakor mba 😁🤭

2024-07-26

0

lihat semua
Episodes
1 Mazaya Claudia
2 Surat Kontrak Pernikahan?
3 Tak mudah ditindas dan intimidasi
4 Makan malam
5 Insiden sebelum tidur
6 Hal tak terduga
7 Mazaya vs Carla
8 Perasaan yang mulai terganggu
9 Elang and the Gank
10 Aroma yang sama
11 Perkara Makan malam
12 Perdebatan
13 Curiga
14 Bekerja
15 Mashhh ...
16 Kesurupan?
17 Perdebatan lagi
18 Pertemuan
19 Bagaimana
20 Kedatangan Carla
21 Siapa dirimu yang sebenarnya?
22 Dia yang lebih berhak dan pantas
23 Perkara tembak-menembak
24 Ke butik
25 Ciuman pertama
26 Menunggu
27 Di pesta
28 Gangguan di tengah malam
29 Gangguan di tengah malam II
30 Perasaan Gemilang
31 Kapan
32 Alasan
33 Pergi with mamer
34 Jebakan?
35 Perdebatan
36 Keraguan dan ide Anika
37 37
38 Hadiah
39 Kacau
40 Rahasia
41 Jujur dan pemberitaan heboh
42 Kekecewaan seorang ibu
43 Serbuan wartawan
44 Penjelasan
45 Perbincangan dengan keluarga
46 Kematian dan Dendam
47 Istri Tangguh
48 Kedatangan Carla
49 4 Sekawan
50 Salah menduga
51 Sang Dalang
52 Masa lalu Antonio
53 Live
54 Kedatangan Maria
55 Kacau
56 56
57 57
58 Disekap
59 Darah
60 Hamil?
61 Sakit parah?
62 Meminta pertanggung jawaban
63 Pentungan dan keceplosan
64 Nasib Carla dan mood wanita hamil
65 Kalang kabut
66 Anti mainstream
67 67
68 Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69 Wedding
70 Ngemall bareng
71 End of happiness
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Mazaya Claudia
2
Surat Kontrak Pernikahan?
3
Tak mudah ditindas dan intimidasi
4
Makan malam
5
Insiden sebelum tidur
6
Hal tak terduga
7
Mazaya vs Carla
8
Perasaan yang mulai terganggu
9
Elang and the Gank
10
Aroma yang sama
11
Perkara Makan malam
12
Perdebatan
13
Curiga
14
Bekerja
15
Mashhh ...
16
Kesurupan?
17
Perdebatan lagi
18
Pertemuan
19
Bagaimana
20
Kedatangan Carla
21
Siapa dirimu yang sebenarnya?
22
Dia yang lebih berhak dan pantas
23
Perkara tembak-menembak
24
Ke butik
25
Ciuman pertama
26
Menunggu
27
Di pesta
28
Gangguan di tengah malam
29
Gangguan di tengah malam II
30
Perasaan Gemilang
31
Kapan
32
Alasan
33
Pergi with mamer
34
Jebakan?
35
Perdebatan
36
Keraguan dan ide Anika
37
37
38
Hadiah
39
Kacau
40
Rahasia
41
Jujur dan pemberitaan heboh
42
Kekecewaan seorang ibu
43
Serbuan wartawan
44
Penjelasan
45
Perbincangan dengan keluarga
46
Kematian dan Dendam
47
Istri Tangguh
48
Kedatangan Carla
49
4 Sekawan
50
Salah menduga
51
Sang Dalang
52
Masa lalu Antonio
53
Live
54
Kedatangan Maria
55
Kacau
56
56
57
57
58
Disekap
59
Darah
60
Hamil?
61
Sakit parah?
62
Meminta pertanggung jawaban
63
Pentungan dan keceplosan
64
Nasib Carla dan mood wanita hamil
65
Kalang kabut
66
Anti mainstream
67
67
68
Willy, Fatiyah, Windy, Juna
69
Wedding
70
Ngemall bareng
71
End of happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!