FLASHBACK ON
"Apa? Jadi kakek memintaku segera pulang hanya untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan aku tak kenal? Kakek jangan bercanda." Ucap Mazaya tak habis pikir saat tiba-tiba kakeknya menyuruhnya segera pulang.
Padahal ia sedang banyak pekerjaan, tapi karena ia anak yang berbakti, saat kakeknya menitahkan dirinya untuk segera pulang, tanpa basa-basi, Mazaya pun segera pulang.
Mazaya pikir kesehatan kakeknya memburuk karena itulah memintanya segera pulang. Atau mungkin kakeknya begitu merindukannya yang hampir 2 bulan ini tidak pulang ke desa. Padahal kakeknya baru tinggal di desa itu selama 3 bulan. Tapi anggap saja begitu.
Sebenarnya selama ini pun Mazaya tidak tinggal dengan kakeknya. Ada alasan khusus yang membuatnya harus berjauhan dengan keluarganya satu-satunya itu. Namun, selama beberapa bulan sebelum kakek Syailendra pindah ke desa, mereka sempat tinggal bersama untuk memberikan bimbingan sebelum terjun langsung melanjutkan usaha peninggalan mendiang ayahnya.
Kakek Syailendra menepuk sofa di sisi kanannya. Mazaya yang paham pun segera berpindah tempat dan duduk di samping kakeknya.
"Ini untuk kebaikanmu, Zaya. Kakek tidak bisa terus-menerus menjagamu. Kakek sudah terlalu tua. Kakek membutuhkan seseorang yang kuat yang bisa menjaga dan melindungimu kelak."
"Kenapa kakek bisa yakin sekali orang itu bisa melindungi Zaya? Apa kakek nggak takut, dia justru melakukan sebaliknya, menyakiti Zaya?"
"Kalaupun dia menyakitimu, ada orang tuanya yang akan melindungimu."
"Memangnya siapa dia?" tanya Mazaya penasaran dengan laki-laki yang akan dinikahkan dengannya.
"Dia Gemilang Cakrabuana, putra Guntara dan Anika."
"Putra sulung Om Guntara dan Tante Anika? Tapi aku kan belum mengenalnya kek?" Sebisa mungkin Mazaya ingin menolak. Ia tak mau dijodohkan. Ia tak mau nasibnya berakhir seperti tokoh-tokoh novel bertema perjodohan yang nasibnya mengenaskan. Menikah yang diawali rasa cinta saja belum tentu berakhir bahagia, apalagi menikah karena perjodohan.
"Kau memang belum mengenalnya, tapi setelah menikah kan kalian bisa saling berkenalan."
"Kek, bagaimana kalau dia sudah memiliki kekasih yang ingin dia nikahi? Aku nggak mau nasibku kayak tokoh wanita dalam novel bertema perjodohan, berakhir perceraian."
"Kalau nggak mau, ya pertahankan."
"Kalau bertahan tapi menyakitkan, masa' Zaya harus terus mempertahankan sih kek?"
"Cucu kakek ini perempuan tangguh. Jadi kakek percaya, cucu kakek bisa mempertahankan rumah tangganya dan menghalau pelakor-pelakor busuk yang mencoba menghancurkan rumah tangga kalian. Jangan mau kalah. Hempaskan mereka yang mencoba merebut suamimu."
"Tapi kan tetap saja, yang salah ya aku. Kan aku yang masuk ke dalam hubungan mereka."
"Tapi kamu tetap yang utama. Kamu istri sah. Kamu punya power dan kedudukan kamu jelas lebih unggul. Udah, jangan pesimis. Cucu kakek itu tak terkalahkan. Kamu mau ya?"
"Emangnya Zaya bisa menolak perintah kakek?" Mazaya bersungut-sungut. Ia kesal, tapi ia tidak bisa membantah.
"Percaya sama kakek. Ini memang yang terbaik untuk kamu."
"Baiklah. Tapi Zaya punya syarat?"
"Apa?" tanya kakek penasaran.
"Sebelum itu, Zaya mau tanya, apakah laki-laki bernama Gemilang itu tahu siapa kakek sebenarnya?" tanya Mazaya penuh selidik.
Kakek Syailendra menggeleng, "tidak. Kamu kan tahu, selama ini kakek mengutus orang kepercayaan kakek untuk mengurus segalanya."
Mazaya mengangguk-anggukan kepalanya, "bagus. Kalau begitu, Zaya mohon kakek bilang ke om dan Tante jangan kasih tau siapa Mazaya yang sebenarnya. Biarkan laki-laki itu mengenal Zaya sebagai gadis kampung." Ucap Mazaya membuat dahi kakek Syailendra mengerut bingung. Lantas Mazaya mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kacamata. Kacamata tebal yang kerap ia pakai dulu saat masih sekolah. Kemudian ia memakai kacamata itu membuat kakek Syailendra makin kebingungan. Bagaimana tidak, bila gadis lain ingin berdandan secantik mungkin di depan calon suaminya, Mazaya justru ingin menutupi kecantikannya. Walau tak dapat dipungkiri, meskipun memakai kacamata tebal, kecantikan Mazaya masih terlihat jelas. Karena itulah, saat masa sekolah, meskipun Mazaya kerap bergaya ala anak cupu, tapi ternyata masih banyak saja anak laki-laki yang mencoba mendekatinya. Apalagi Mazaya terkenal sebagai anak yang cerdas dan sering mewakili sekolah untuk mengikuti lomba maupun olimpiade terutama di bidang sains.
"Kenapa kamu pakai kacamata itu lagi, nak?" tanya kakek Syailendra yang penasaran.
"Kek, kita tidak tahu sifat asli putra Km Guntara dan Tante Anika. Bisa saja saat tahu siapa Mazaya sebenarnya, dia malah pura-pura baik. Bukan bermaksud su'udzon, hanya sedikit was-was. Selain itu, Zaya ingin dicintai dengan tulus apa adanya, bukan karena ada apa-apanya. Kakek paham kan maksud Zaya?"
Kakek Syailendra menghela nafasnya, tapi tak pelak ia mengangguk setuju. Menurutnya, apa yang cucunya ucapkan itu benar adanya.
Flashback off
...***...
"Surat kontrak pernikahan? Really?" Ucap Mazaya seraya tertawa geli. Ia pikir surat kontrak pernikahan hanya ada di dalam novel saja, tapi nyatanya itu memang benar ada dan Mazaya sendiri yang kini mendapatkannya.
Lalu Mazaya melanjutkan membaca poin demi poin yang tercantum di dalamnya.
Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama 1 tahun.
Pihak kedua dilarang ikut campur urusan pribadi pihak pertama.
Tak ada kontak fisik termasuk nafkah batin. Kontak fisik hanya berlaku di depan orang tua.
Pihak kedua wajib mematuhi kata-kata dan peraturan dari pihak pertama.
Selama kontrak pernikahan berlangsung, pihak kedua dilarang menjalin hubungan dengan orang laki-laki lain.
Saat perceraian, pihak kedua tidak berhak menuntut harta gono gini selain apa yang diberikan pihak pertama.
TTD,
Pihak pertama : Gemilang Cakrabuana
Pihak kedua : Mazaya Claudia
Setelah membaca poin-poin yang tercantum di dalam kontrak pernikahan yang diberikan Gemilang, Mazaya tergelak kencang. Bisa-bisanya laki-laki yang sudah bergelar sebagai suaminya itu membuat perjanjian yang menguntungkan dirinya sendiri. Enak saja, pikirnya.
"Apa yang kau tertawakan? Lekas tanda tangani itu, cepat!" ucap Gemilang sedikit meninggi.
Namun bukannya menuruti perintah Gemilang, Mazaya justru merobek surat kontrak pernikahan itu tepat di depan mata Gemilang.
Sreeetttt ...
Mazaya merobeknya menjadi potongan kecil kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah membuat Gemilang melotot tak percaya sebab baru kali ini ada orang yang berani menentangnya selain kedua orang tuanya dan kakeknya.
"Kau ... " pekik Gemilang murka. "Apa yang kau lakukan, hah? Mengapa kau merobeknya?" sentak Gemilang kesal.
Tangan Mazaya sudah kembali bersedekap di depan dada, "memangnya kenapa? Ada yang salah kalau aku merobek perjanjian konyol itu?" cibir Mazaya santai membuat Gemilang makin kesal.
"Kau bilang itu konyol? Kau yang konyol."
"Ya, memang surat itu full berisi kekonyolan. Apa kau pikir pernikahan itu ajang permainan, hah? Bisa-bisanya baru sehari menikah, tapi kau sudah mengajukan surat perjanjian yang salah satu isinya menyatakan akan bercerai satu tahun kemudian? Kalau kau tak mau menikah denganku, mengapa kau menyetujui pernikahan ini? Ingat, kau itu bukan hanya berjanji di depan kakekku dan kedua orang tuamu, tapi juga di depan Allah. Itulah kalau di otaknya isinya hanya tentang dunia, sampai lupa, kita tak selamanya berada di dunia, tapi masih ada tempat yang lebih kekal lagi setelahnya dan setiap apa yang kau lakukan akan kau pertanggungjawabkan di sana. Termasuk janjimu saat ijab Kabul tadi."
"Tutup mulutmu! Aku tak membutuhkan ceramah darimu. Kau pikir aku mau menikah dengan perempuan kampungan sepertimu," cemooh Gemilang sambil menatap Mazaya yang masih mengenakan kebaya jadul milik art kakeknya. Ia juga mengenakan kacamata tebalnya tanpa make up sedikitpun. "Kalau bukan karena permintaan kakekku, mana sudi aku menikah dengan perempuan kampungan seperti dirimu," ujar Gemilang dengan suara baritonnya.
"Oh ya?" Sahut Mazaya acuh membuat Gemilang makin tersulut emosinya.
Gemilang baru saja akan kembali menumpahkan kekesalannya hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan di depan pintu membuatnya terpaksa menahan kekesalannya bulat-bulat.
"Baiklah kalau kau masih mau mempertahankan pernikahan ini. Kita lihat sebatas mana kau mampu bertahan. Aku pastikan akan membuatmu menderita hingga lebih memilih bercerai daripada bertahan." Ancam Gemilang sebelum beranjak dari sana.
"Oke, siapa takut." Jawab Mazaya acuh tak acuh dengan seringai di bibirnya.
Kepala Gemilang rasanya mau pecah. Ia benar-benar kesal. Gemilang pikir perempuan yang ia nikahi akan mudah ia tindas dan intimidasi, tapi nyatanya tak semudah itu. Gemilang jadi makin tertantang untuk menghancurkannya.
...***...
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Cuuiihh Egois,Dia boleh tapi isteri nya gak boleh..
Zaya juga boleh tambah point utk kamu,Jangan mau kalah..ayo Zaya tambah point kamu...💪💪💪
2025-03-21
0
Qaisaa Nazarudin
Waahh dia belum tau siapa kamu Mazaya..Tunjukkan siapa kamu Zaya...👏👏💪💪
2025-03-21
0
Qaisaa Nazarudin
Diihh ngotot banget nih si kakek..😂
2025-03-21
0