Axel ada pertemuan penting dengan semua pemegang saham. Seharusnya Lily tidak segegabah itu mengundurkan diri.
Pagi-pagi sekali apartemen Lily kosong, entah lah Lily tak pamit pada Axel. Ponsel masih aktif namun terus di acuhkan begitu saja.
Dalam seharian ini Axel terus meluapkan amarahnya pada seluruh karyawan karyawati yang tidak bersalah.
Setelah melalui hari yang panjang dan mengemosikan Axel berakhir di rumah utama Dhyrga Miller demi mendapatkan saran dari sang Ayah.
Alex, Axel, Queen, Dhyrga, ada di ruangan yang sama. Bukan untuk berkangen ria melainkan cek cok tak jelas. Alex menentang keras adik kembarnya.
"Aku tidak pernah ikut campur urusan mu, kali ini kau sudah sangat ikut campur Lex." Axel menatap tajam saudaranya.
Alex terkekeh. "Kamu ngapain cari gadis yang sudah punya anak di luar pernikahan? Kamu lupa, kamu bahkan belum pernah pacaran! Cari yang sekelas dengan kita, bisa kan? Yang sudah lari untuk apa repot-repot dicari?"
"Alex!" Dhyrga menegur. Seharusnya untuk masalah hati Alex tidak ikut campur. Dhyrga saja tak pernah ikut campur meski anaknya tak pernah berhasil dijodohkan.
Alex beralih pada ayahnya. "Daddy juga, kenapa semua hal yang Axel lakukan selalu mendapat dukungan, sedang aku tidak?"
"Karena kami tahu siapa yang Axel pilih. Sementara kamu, siapa yang kau bawa itu? Bukan lagi berbeda keyakinan, Angel tidak meyakini adanya Tuhan. Meskipun asal kita dari negara yang sama dengannya, tapi keluarga kita masih punya Tuhan." Sanggah Dhyrga.
Alex mengangguk, Yah dia setuju kalau Angel tidak layak dijadikan istri, itulah mengapa Alex selalu ragu-ragu mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.
"Biar aku urus hubungan ku dengannya nanti, sekarang yang Alex protes adalah, kenapa Daddy harus mendukung niat Axel yang tidak masuk akal? Apa di dunia ini tidak ada wanita lagi selain sekretaris beranak satu?"
"Jaga bicaramu!" Tangan Axel sampai pada kerah leher kembarannya.
Alex tergelak kesal. "Kau bahkan tidak selidiki dulu siapa yang menghamilinya, kau terlalu naif." Cibirnya.
"Aku mau dia dan masa depannya, bukan masa lalunya." Cetus Axel. Tatapan keduanya saling menusuk satu sama lain.
"Lalu bagaimana dengan anaknya? Bukankah itu bagian dari masa lalu? Selidiki dulu latar belakangnya, setidaknya kau tahu siapa ayah dari anaknya, dan berapa banyak yang pernah tidur bersamanya!"
"Lex!" Axel naik pitam. Tangan kanan itu mengudara, ingin sekali mendaratkan tinju namun Queen sang ibu mencegah. "Kalian ngapain berantem begini?" Lerai nya.
"Kalian punya pacar sendiri-sendiri, tapi masih saja ribut! Kalian sudah dewasa, berpikir juga yang dewasa!" Queen lalu menatap Alex.
"Terutama kamu Alex! Kamu nggak perlu ikut campur urusan hati Axel. Lebih baik, urus hubungan kamu sama Angel yang nggak jelas mau di bawa ke mana!"
Alex terdiam, rasanya sulit menerima perasaan Axel pada wanita yang pernah bersamanya? Entah ini muncul karena rasa sayang pada Axel, atau rasa bersalah karena sudah mendahului adik kembarnya.
"Setelah Lily pulang. Aku mau, Daddy segera melamarnya untuk ku." Axel sengaja berujar demikian, mungkin benar kata orang-orang, Alex memang iri pada semua yang dia punya.
"Terserah kalian saja!" Alex ngeluyur pergi setelah mengatakan itu. Langkah arogan terayun menuju pintu utama.
Bersamaan dengan keluarnya ia, Miko sang asisten pribadi memunculkan batang hidungnya. "Tuan."
Alex menoleh ke belakang, kanan dan kiri demi memastikan tak ada yang mendengar percakapan rahasia mereka. Untuk lebih aman lagi keduanya memasuki sebuah mobil.
"Gimana? Sudah tahu di mana dia?" Diam-diam Alex pun mencari tahu keberadaan Lily lewat asistennya.
"Nona Lily tidak pindah Tuan, sore tadi dia masih pulang ke apartemen temannya." Jelas Miko.
"Temannya?" Alex baru tahu bahwa ternyata tempat tinggal Lily menumpang.
Miko mengangguk. "Iya, itu apartemen milik temannya. Dan Nona Lily sudah tinggal di sana sejak pulang dari London."
"Lalu? Apa dia benar-benar hamil? Apa anak cantik itu benar-benar anaknya?" Sergah Alex.
Miko menggeleng. "Belum bisa dikuatkan dugaan nya, karena ternyata menurut rumor sekitar teman Nona Lily juga simpanan dari pria kaya. Dan besar kemungkinannya bayi cantik itu milik temannya, itu lah kenapa Nona Lily aman dari cecaran teman kantornya."
"Begitu kah?" Alex seperti mendapat angin segar. Jika benar milik temannya, syukurlah Livia bukan putrinya.
"Jadi besar juga kemungkinannya, dia sedang berusaha memanipulasi keluarga ku dengan adanya bayi itu? Atau mungkin dia sengaja membuat ku merasa bimbang setelah melihat bayi itu?"
"Soal itu aku belum bisa memastikannya Tuan. Tapi, ..." Miko mengambil kotak hitam dari jok belakang lalu menyodorkannya pada Alex.
"Tadi ada kurir datang dan ini ditujukan untuk Anda. Sepertinya ini dari Nona Lily. Seharian ini aku mengikutinya. Dan dia sempat membeli beberapa perhiasan, lalu di kemas dalam kotak yang sama persis seperti ini." Terang Miko lagi.
"Benarkah?" Alex membuka kotak hitam itu, ada tiga kotak perhiasan berukuran sedang yang tertumpuk di dalamnya.
Satu persatu Alex buka kotak kotak tersebut, dan hanya ada tiga set perhiasan yang tertata indah di dalamnya.
Total jumlahnya masing-masing ada tiga pieces cincin emas, tiga pieces kalung emas, tiga pieces gelang rantai emas, tiga pasang anting emas.
Alex meraih lipatan kertas putih yang terselip di salah satu kotaknya. Ada tulisan tangan Lily yang harus ia baca.
...Terima kasih sudah meminjamkan uang mu padaku. Hitung lagi jumlahnya, nominal ini sama persis seperti saat aku membelanjakan kartu kredit mu. Tidak kurang, tidak juga lebih. Aku harap, mulai saat ini sudah tidak ada lagi dendam di antara kita, anggap tidak ada yang terjadi di antara kita....
"Tiga set perhiasan emas?" Alex menoleh heran pada Miko. "Kau yakin hanya ini?"
Miko mengangguk pasti. "Yakin, dari kotak ini datang aku belum membukanya Tuan."
Alex berpikir keras, jika Lily mengaku hanya membeli tiga set perhiasan saja. Lalu siapa yang membeli berlian berlian seharga miliaran?
Alex meraih ponselnya, ia kemudian membuka kembali rincian pembelanjaan kartu kredit miliknya di bulan yang sama saat Lily kabur begitu saja.
Gegas Alex kirimkan bukti-bukti pembelian diamond ternama dan termahal pada ponsel Miko.
"Kamu selidiki lagi, 15 bulan yang lalu, siapa yang membelanjakan berlian semahal ini di toko ini." Titahnya.
"Cek ulang. Bila perlu minta CCTV nya. Cari tahu sedetil mungkin, benar atau tidak Lily hanya membeli tiga set perhiasan emas saja, aku perlu bukti itu!" Tambahnya.
"Baik Tuan." Miko mengangguk.
"Secepatnya aku harus bisa menjauhkan Axel dari wanita manipulatif sepertinya." Dalam hati Alex masih yakin Lily penipu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
EsTefaYe
iiiih dasar alex, pantesan anak2 nya jg kacau lha wong bapaknya kacau/Panic/
2025-03-01
0
Nanik Kusno
Huuuuhhhhh....semoga kamu juga ditipu perempuan lain....moga2 saja Angel .....😡😡😡😡😡😡😡😡😡
2025-03-02
0
Yuyu sri Rahayu
cih dasar pecundang kamu akan menyesal setelah tau semua yang terjadi
2025-01-04
0