Menangis

Axel baru datang kembali setelah mengantar sekretaris kesayangannya pulang. Di sofa putih sana, Axel duduk lalu meraih remote kontrol demi menghidupkan televisinya.

Alex turun dari tangga setelah Angel tertidur di kamar atas. Ini kesempatan Alex untuk menggali informasi tentang Lily seterang mungkin dari kembarannya.

"Ekm Ekm." Alex duduk di sofa lainnya.

Axel menoleh sekilas, menghiraukan saudara kembarnya. "Nggak tidur?"

"Belum ngantuk." Alex menggeleng. Axel tahu, Alex mungkin merindukan saat-saat bersama seperti ini.

"Yang tadi itu, ..." Alex mulai membuka obrolan, dan sasaran utamanya adalah, ...

"Lily?" Tanya Axel, lirikan sekilas tertuju pada wajah kepo Alex.

"Hmm." Alex mengangguk. "By the way. Sudah berapa lama kalian sedekat itu? Aku pikir dia tidak terlalu terkenal. Apa kau tidak selidiki dulu asal usulnya?" Cecarnya.

Axel terkekeh. "Dia anak yatim piatu. Besar di panti asuhan Kasih bunda. Kuliah di universitas Imperial College London jalur beasiswa." Jelasnya tanpa beralih dari layar televisi.

"Dia mandiri, tanggung jawab, dan yang pasti baik hati." Tambahnya, lalu menoleh pada Alex. "Kenapa? Kamu khawatir aku di tipu perempuan?"

Alex mengangkat kedua bahu. "Selama ini kamu terlalu cupu untuk urusan perempuan. Tentu saja aku khawatir." Katanya.

Axel terkekeh kecil. "Aku bisa mengurus diriku sendiri, sekarang urus saja dirimu. Selesaikan kuliah mu, coba lebih serius lagi, usahakan lulus tahun ini. Aku mau, kamu juga ikut berkontribusi mengolah saham saham mu!"

"Hmm." Sahutan tak serius Alex terdengar. Alex memang cukup sulit untuk diajak serius dibidang itu.

"Emmh, kekasih mu yang tadi siapa namanya?" Lagi, Alex beralih pertanyaan seputar Lily. "Lil, ..."

"Lily." Sambung Axel.

Alex mengangguk. "Yah dia. Apa dia tinggal di sini?" Cecarnya lagi.

"Yuapz." Dengan pasti kepala Axel mengangguk mengiyakan. "Tidak jauh. Dia tinggal di lantai 12."

"Kalian jadian?" Alex mencondongkan tubuhnya, berusaha lebih intens lagi.

"Belum." Geleng Axel.

"Mommy Daddy kenal dia?"

Axel tergelak. "Tentu saja. Lily sudah menjadi bagian dari Millers-Corpora, dia juga dekat dengan Ezra, Kak Cheryl dan lainnya. Kami semua cukup dekat."

Alex terhenyak. Sepandai itu Lily memanipulasi keluarganya. Bukankah ini berarti, ada banyak kemungkinan jika nantinya Lily pun meracuni pikiran Angel?

...🎬🎬🎬🎬🎬...

Tepatnya pukul tiga dini hari, Lily berdiri termenung di sisi jendela kamarnya.

Unit apartemen dengan tipe dua bedroom ini lumayan sedang ukurannya, di atas ranjang sana Baby Livia sudah terlelap bersama Nina.

Karena hanya ada dua kamar dan satunya dipakai tuan rumah. Lily dan Nina harus bergantian tidur di ranjang tergantung kapan Livia membutuhkan mereka.

Biasanya Lily akan tidur di ranjang saat Livia rewel ingin terus menyusu. Sementara Nina akan naik ke ranjang jika Lily harus lembur menyelesaikan tugas-tugas kantor.

Berapa banyak Axel menawarkan apartemen khusus, dengan tujuan agar Baby Livia bisa memiliki kamar sendiri. Namun sebanyak itu pula Lily menolak.

Malam ini mata Lily enggan terpejam, sedari satu setengah jam yang lalu ia terus menatap kelap-kelip lampu perkotaan dari lantai 12.

Lily dilema, satu sisi ia ingin pergi dari Millers-Corpora, sisi lainnya ada sesuatu hal yang berat sekali Lily tinggalkan.

Senyum tipis Axel, kehangatan perilaku Axel, perlindungan Axel, juga semua yang ada pada Axel. Mungkin kah itu alasannya?

Ting tong...

Lily menoleh spontan ke arah pintu, Mitha pasti baru pulang dari kelab malam. Kebiasaan Mitha memang begitu. Pergi malam pulang pagi, tak jarang juga dini hari.

Kebiasaan paling seringnya adalah, Mitha lupa membawa card lock miliknya. Maka tanpa curiga, Lily keluar dari kamar untuk kemudian menuju pintu masuk utama.

Putaran kenop Lily langsungkan, lalu dalam sekejap mata sosok berhoody hitam menyerobot masuk ke dalam apartemen tersebut.

"Udah pulang Mit?" Sapaan Lily tercekat ketika menyadari ketinggian raga itu berbeda dengan tinggi badan sahabatnya.

Yah, bukan Mitha melainkan orang lain. Lily mengernyit curiga. Dan benar saja, wajah Alex tertampil setelah pemuda itu membuka hoody hitamnya.

Lily mendelik. "Kamu?"

Alex menyeringai. "Rupanya kamu menunggu ku hmm?" Tanyanya.

Lily memandang sekujur tubuh pria itu, terlihat Alex menenteng koper hitam di sebelah tangannya. "Mau apa kamu?"

Alex terkekeh getir. "Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kau menunggu ku! Buktinya kau langsung membukakan pintu untuk ku."

Lily menggeleng. "Aku menunggu teman ku." Sangkal nya.

"Persetan." Wajah Alex mendekat sinis, menghardik adalah kata yang pantas untuk penggambaran tatapannya.

"Setelah berhasil menipu ku dengan kehamilan mu. Kau pikir aku percaya pada pembual, penipu, dan pemeras seperti mu hmm? Berapa banyak pria yang kau jebak bermalam dengan mu lalu kau peras uangnya? Mungkin tidak terhitung!"

Lily tercekik. Melipir buliran bening yang sudah mengintip di sudut netranya, jejaknya menggelinding jatuh hingga ke bibir.

Alex tergelak singkat. "Jangan menangis, tidak perlu drama Lily. Mungkin Axel bisa kau tipu daya tapi aku tidak!"

Saat Luna membully, Axel selalu bilang, Lily harus kuat menghadapi orang-orang yang merendahkannya, lawan jika perlu.

"Apa mau mu?" Bersamaan dengan terjatuhnya air mata kedua, Lily mencuatkan wajahnya.

Alex terkekeh getir, rupanya keaslian Lily telah tampak. Di atas permukaan meja, Alex menghentakan koper hitam berisi gepokan uang yang benar-benar memenuhinya.

"Bawa uang ini pergi, dan jangan pernah lagi berkeliaran di sekitar Millers-Corpora! Enyah dari hadapan ku penipu kecil, terlebih keluarga besar ku. Jangan pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan saudara ku, atau aku tidak segan menyakiti mu!"

Lily tergagu mendengar sarkasnya ancaman Alex , tanpa ia kehendaki air di pelupuk mata terjatuh kembali.

Serendah itu Alex memandangnya, bahkan setelah pemuda itu sendiri yang 15 bulan lalu memberikan kartu kredit no limit padanya.

"Mammmma!" Di tengah keheningan, Lily dan Alex menoleh pada gadis menangis itu, baru saja Nina keluar dengan raut tak nyaman.

"Maaf Nona. Maaf, saya lancang. Saya tidak tahu kalau Nona sedang ada tamu, Baby Livia terbangun dan mencari mu."

Lily meraih Livia dari Nina. "Cup cup cup." Ia tepuk punggung gadis itu seperti biasanya.

"Mammmma." Livia memeluk erat leher ibunya, dan disaat itu pula netra bulat Livia menatap ke arah Alex.

Wajah Alex seperti tak asing namun suasana kedekatan mereka begitu terasa asing. Livia tak mengenal wajah familiar ini.

"Bubbu." Livia merengek lirih.

"Ok, kita bobo setelah ini." Lilyana mengecup telinga Livia sembari menatap Nina. "Mbak Nina bisa masuk sebentar kan?"

"Baik. Maaf sekali lagi Nona." Nina masuk ke dalam kamar setelah Lily mengangguk.

Jujur Nina merasa bersalah sudah memergoki sang Nona bertemu dengan seorang pria di jam begini. Apa lagi, pria itu bukan Tuan muda Axel melainkan Alex.

Nina direkrut karena ibunya sudah menjadi pelayan setia di keluarga Miller. Kendati pun tak pernah bertemu sebelumnya, tentu saja Nina mengenal wajah Alex.

Setelah Livia cukup tenang dalam gendongannya, Lily mengalihkan pandangan pada Alex.

Terlihat dari cara Alex terus menatap wajah cantik putrinya. Sepertinya pemuda itu tengah kebingungan.

Lily mendekat. "Aku akan turuti mau mu. Jadi sekarang pergilah. Besok pagi-pagi sekali, aku kirim surat pengunduran diri ku."

Tak menyahut, Alex justru bergeming seolah shock. Pertanyaan siapa bayi 8 bulan yang memanggil Lily Mama ini mulai melayang di otaknya.

"Alex!" Lily memekik hingga sang empunya terjaga dari lamunan. "Pergi dari sini, kau akan mendengar pengunduran diri ku besok!"

Meski terus menoleh pada Livia, Alex tak kuasa untuk melangkah gamang. Lily meraih koper hitam lantas mengikuti ayunan kaki ayah biologis putrinya.

"Take this with you!" Kata-kata yang dahulu Alex ucapkan ketika memberinya kartu kredit, Lily gaungkan seraya melempar koper di tangannya keluar.

Brakkk...

Sempat terlihat Alex mengernyit. "Em, ..."

Brakkk....

Entah bagaimana lagi ekspresi Alex, pintu putih itu menutup sosok tampannya.

Kembali Lily mengalirkan buliran bening, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Livia yang peka, ia mengusap pipi ibunya lembut.

"Mama fine, selama bersama mu Mama baik-baik saja. I'm fine Baby." Bisiknya.

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Semoga Lily baik2 saja setelah ini ....kuat.... tangguh.... mandiri....bekalmu banyak Ly.... jangan khawatirkan masa depan....💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍

2025-03-02

0

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

gimana nich lily akan mengundurkan diri MC /Sob//Sob//Sob/ gimana dengan axel

2025-01-04

0

yeni NurFitriah

yeni NurFitriah

😭😭 waduh Lily bkl ngundurin diri,bagaimana dengan Axel..?

2024-11-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!