Menghindar

Lily membersihkan diri, lanjut beribadah menurut kepercayaannya, lalu menyusui Livia.

Rutinitas ini lah yang membuat dirinya tenang setelah seharian dipenuhi banyaknya pekerjaan kantor.

Bersandar pada sofa, cukup menghilangkan pegal di sekitar pundak yang lumayan terasa.

Kakinya ia tumpang ke bantal sofa. Rupanya ada sedikit lebam di tumit karena sepatu heels miliknya tidak terbiasa ia kenakan.

Terlebih, langkah kaki Axel yang panjang membuat Lily kewalahan saat mengejarnya.

Sembari menyusui, Lily juga bercanda tawa dengan anak lucu itu. Nina berada di sisinya, ikut tertawa, tersenyum, terkikik melihat kelucuan Baby Livia.

"Ly, aku berangkat yah, si Om ngajakin aku makan malam di fine dining." Mitha keluar dari kamar dengan busana menawan.

"Iya, hati-hati Sayang."

"Kamu juga istirahat, biar besok nggak telat."

Lily menerima kecupan manis dari sahabatnya sebelum wanita itu benar-benar berlalu dari hadapannya.

Meski tak jelas juntrungan pekerjaan Mitha, tapi Lily bisa apa, hidupnya juga masih kacau, sesimpel saling mengingatkan saja Lily tak berani. Selagi Mitha bilang I'm okey, selebihnya Lily hanya bisa mendoakan.

Mendengar pesan Mitha, Lily jadi teringat agenda Axel untuk besok yang harus ia periksa malam ini.

Lily membetulkan pakaian busui miliknya, kemudian meletakkan Livia ke dalam stroller.

"Sayang, kamu sama Tante Nina dulu yah. Mama masih harus periksa agenda besok."

Nina yang paham, lalu mengambil alih anak kecil itu. "Ok, biar Baby Livia sama Tante ya, sekarang." Ujarnya.

Lily tersenyum. "Makasih yah Mbak." Di jawab dengan senyum manis Nina.

Lilyana masuk ke dalam kamar miliknya, kakinya ia ayunkan menuju meja di sudut tempat. Tab dinasnya ia ambil dan kembali keluar dari kamar tersebut.

Dreeeett....

Baru saja pantatnya mendarat di sofa krem, ponsel di atas meja bergetar. Lily beralih pada benda pipih tersebut. Rupanya Axel lah yang memanggilnya.

Tanpa lama, ia mengangkatnya. "Selamat malam, ..."

📞 "Kamu belum mengirimkan jadwal harian ku untuk besok!" Potong Axel.

Saking tersentak, Lily sampai menaikan kedua bahunya. "Maaf Pak, saya baru selesai mengurus, ..."

📞 "Kan sudah saya kasih babysitter khusus! Kamu mau beralasan apa lagi? Sudah baik kamu aku pertahankan."

Lily mendengus. "Iya maaf, dan makasih sekali lagi sudah mengirimkan mbak Nina."

📞 "Jadi tunggu apa lagi? Bacakan agenda ku besok!"

"Iya." Lily merengut, namun menurut untuk membuka gadget khususnya. Ia swipe beberapa file di layar lalu mengawali suaranya dengan berdehem.

"Untuk besok lumayan padat pertemuan di luar kantor Pak. Pukul 09 pagi kita ada pertemuan dengan Mr. Song Lei Feng dari China di hotel Millers-Corpora kawasan Jaktim, dan untuk pembahasan masih seputar interior design, lalu setelahnya Bapak dan beberapa direksi lainnya perlu meninjau langsung pembangunan properti di puncak, sekaligus juga bertemu dengan Pak Hartono dari Jawa tengah mengenai progresif cabang di Jogjakarta."

📞 "Hanya itu?"

"Iya. Tapi cukup memakan waktu Pak, karena kita harus berpindah-pindah tempat, dari kota satu ke kota lainnya."

📞 "Kamu keberatan?"

"Ti-tidak." Lily kembali mendengus, sejauh ini Axel tak pernah berpikir positif padanya.

📞 "Kalau begitu siap-siap, itu berarti kau juga ikut menginap."

"Hah?" Lily mendelik, yang mana membuat Nina dan Livia menoleh padanya.

📞 "Why?"

"Jadi kita tidak langsung pulang saja Pak?" Protes Lily, semalam tak bertemu dengan Livia apakah mampu dia tidur nyenyak?

📞 "Kamu pikir aku tidak perlu istirahat? Melakukan perjalanan antar kota?"

Lily menghela. "Iya juga sih." Lirihnya.

📞 "Keberatan? Mau menyerah?" Ada suara gelak cibiran yang terdengar samar-samar.

"Tidak."

📞 "Bagus. Kalau begitu kemasi pakaian ganti mu. Jam delapan, kamu sudah harus sampai kantor. Aku tidak suka orang yang telat datang."

"Baiklah." Lirih Lily kembali. Ternyata ini alasan Axel memberinya fasilitas babysitter khusus, supaya dia tidak punya alasan mengeluh tentang bayinya.

...🎬🎬🎬🎬🎬...

Axel mematikan sambungan telepon, lalu duduk di kursi santainya, secangkir teh hijau, sepotong kue dari pelayan tersuguh di meja bulat.

Matanya menikmati tenangnya permukaan air dari kolam renang panjang yang sesekali bergoyang tertiup angin malam.

Celana pendek putih juga singlet berwarna senada ia kenakan.

Sejatinya Axel menyukai ketenangan, dan di rumah ini ia hanya tinggal bersama ayah ibunya saja.

Lalu ketika seluruh keluarga besar Daddy Dhyrga berkumpul, Axel lari ke penthouse sendirian. Tak jauh berbeda. Dahulu ayahnya pun melakukan hal yang sama.

"Kamu kirim Nina ke mana?" Kakak perempuan Axel bernama Cheryl Arsya Kiehl Miller duduk di kursi malas lainnya.

Hari ini suami Cheryl ada kunjungan keluar negeri, dan putranya di ambil Chika sepupunya untuk menginap di rumah kakek buyut nya.

Tak mau ketinggalan, Daddy dan Mommy Axel pun ikut nimbrung.

"Iya, kamu bawa Nina ke mana Xel?" Timpal Queen sang ibu. Wanita itu duduk di sofa bersama suaminya.

Axel beralih pada Queen. "Ke apartemen Lily."

"Untuk?" Dhyrga menyahut penasaran.

"Ternyata Lily punya bayi di luar pernikahan, siang tadi dia mengaku, dia dicampakkan laki-laki yang menghamilinya. Putrinya masih baru empat bulan." Jelas Axel.

"Oya?" Queen sedikit meninggikan suaranya. Bukan karena status Lily, tapi lebih kepada nasib malang Lily.

"Mommy paling benciiiiii kalo ada cowok ninggalin ceweknya dalam keadaan hamil, amit-amit jabang bayi, jangan sampe ada anak cucu Mommy yang begitu!" Imbuhnya.

"Aamiin." Sahut Dhyrga.

"Kamu nggak mau pecat dia?" Cheryl menatap serius wajah adiknya.

Axel menggeleng. "Kasihan, dia sebatang kara. Di lihat dari karakternya. Aku yakin Lily korban. Dia terlalu bodoh, seperti mu." Ujarnya.

Plakk...

Cheryl memukul kepala Axel. "Suamiku bertanggung jawab, beda urusan dong!" Ketusnya.

"Cheryl, jangan main kepala." Dhyrga menegur. Axel hanya mengelus pelan bagian kepalanya.

"Tapi sama saja bodohnya, kenapa kalian para wanita terlalu menganggap remeh keperawanan?"

"Itu karena kamu belum pernah menyukai wanita." Sanggah Cheryl.

"Kasihan Lily, ..." Memikirkan nasib Lily, Queen jadi teringat pada putra lainnya.

"Makanya Daddy, mending kita lamar saja deh, Angel untuk Alex. Lama juga kan Alex hubungan sama Angel. Suruh mereka menikah secepatnya. Dari pada statusnya pacaran terus di negeri orang, mending nikahkan sekalian." Usul Queen kemudian.

Dhyrga terkekeh. "Sampai sekarang Alex sendiri belum ada niat. Mungkin mereka tidak serius. Apa lagi Angel berbeda keyakinan dengan kita. Sudah berapa kali Mama Rania protes, Alex terlalu keras kepala."

"Jangan bedakan Alex dan Axel, Daddy. Gimana pun dia putra mu juga, pikirkan juga masa depannya." Tegur Queen.

"Kita tunggu sampai Alex mau berubah! Baru Daddy mau memikirkan masa depannya." Dhyrga bangkit dari duduk kemudian berlalu dari tempat itu.

Pembahasan tentang Alex selalu membuat Dhyrga naik darah. Dari pada berdebat dengan istrinya, lebih baik menghindarinya.

Terpopuler

Comments

Abinaya Albab

Abinaya Albab

pantas ada Hartono mall dijogja itu yg bikin pak Hartono /CoolGuy/ tapi sekarang udh ganti nama jadi Pakuwon /Silent/ mungkin udh gk kerja sama dg Miller /Left Bah!/

2025-01-06

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Huuuuhhhhh... kalau tau yang melakukan itu ke Lily adalah Alex.....🥴🥴🥴🥴🥴☹️☹️☹️☹️

2025-03-01

0

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

dia cucumu mommy jangan amit amit karena itu kelakuan anakmu sendiri

2025-01-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!