After shining

"Kok Bapak ngatur-ngatur di luar ranah pekerjaan?" Protes Lily.

Axel menatap Mbak BA yang masih setia melayaninya. "Bungkus saja semuanya!"

Lily menepuk dahinya. "Kenapa nggak tanya dulu berapa harganya?" Cicitnya.

Lagi dan lagi Axel tak mau peduli ocehan Lily, ia terus berjalan sesuai keinginannya, dari outlet skincare makeup, Axel menuju kepada gerai baju dan sepatu ternama.

"Ini, ini, ini, yang ini dan ini juga, semuanya, bungkus!" Tanpa bertanya cocok atau tidak, Axel menunjuk semua barang yang ia kehendaki.

"Buat siapa bapak belanja sebanyak itu?"

"Kamu."

"Ngapain Pak? Baju saya sudah banyak!" Lily terus berkicau di belakang sembari menenteng banyak paper bag di lengannya.

Brugh... Mulut Lily tersumpal oleh banyaknya paper bag berisikan belanjaan mereka.

"Kita pulang." Axel menyengir.

"Oh Tuhan." Lily terduduk lemah di sofa customer. "Kenapa Bapak kasih saya semua ini? Kalo di total. Harga semua ini berapa bulan gaji ku Pak?" Lirihnya.

Axel ikut duduk di sisinya. "Boleh menjadi diri sendiri, boleh cuek dengan penilaian orang lain, tapi jangan lupa, perhatikan dirimu sendiri." Katanya.

Lily menatap polos wajah Axel.

"Love yourself. Semua orang perlu memikirkan penampilan, bukan untuk lebih unggul dari yang lain, tapi untuk menghargai diri mu sendiri." Imbuh Axel kembali.

Lily menggeleng. "Tapi saya harus nabung buat masa depan Livia Pak, Bapak tahu kan saya single mom. Setelah berbelanja sebanyak ini, berapa lama saya harus merelakan gaji ku?" Katanya.

Tersenyum, Axel menepuk puncak kepala wanita itu. "Anggap itu reward dari ku."

"Hah?" Mata Lily membulat sempurna.

"Kamu sekretaris ku. Kamu juga perlu berpenampilan menarik di depan seluruh kolega dan klien ku. So, belajar lebih glow up lagi. Be smart but also beautiful." Kata Axel.

Lily terdiam, sudah sejauh itu pertemanan diantara mereka. Lily pasti merindukan pria ini ketika nantinya, Lily dan Livia harus pergi meninggalkan Millers-Corpora.

...🎬🎬🎬🎬🎬...

"Ba-ba ma-ma ma-ma." Di sudut tempat, Livia asyik berteriak-teriak. Axel terkekeh gemas ketika bayi itu menyambut kedatangannya.

Bahkan acap kali Livia mencoba belajar duduk sendiri demi mendapat perhatian dari Om tampan itu.

Sudah sekitar satu bulan ini Axel sering datang membesuk Livia. Tak jarang Axel juga datang bersama Ezra keponakan laki-lakinya.

Yah, Ezra memang berharap bisa punya adik perempuan seperti Livia. Cantik, gembul, lucu, dan banyak celotehannya, namun sampai saat ini Cheryl sang ibu belum juga hamil anak ke dua.

"Livi, ..." Axel mengulurkan jari telunjuk, dan Livia berpegangan untuk bisa tetap mempertahankan posisi duduknya.

"Ba-bah ma-mah."

Axel gemas dibuatnya. Apa lagi mata gadis itu sangat indah ketika membulat sempurna, tak ayal Livia datang dari negeri asing, mungkin ayah Livia pun bule London.

"Livi, ..." Axel sengaja melepas genggaman tangan mungil Livia, dan bayi cantik itu terguling di atas matras empuknya.

Axel tergelak. "Om pulang yah. Livia istirahat dulu, nanti Om datang lagi sama Bang Ezra." Katanya.

"Bu-bu-gu." Livia sudah bisa melambaikan tangan ketika ada seseorang yang akan pergi.

Usianya sudah enam bulan, Livia sudah belajar meraih benda, berkomunikasi lebih intens dengan orang lain, dan belajar duduk.

Namun, berat badannya cukup besar untuk ukuran bayi enam bulan, Livia sedikit lambat untuk bisa membawa tubuhnya bergerak.

Lily yang sedari tadi menatap kedekatan mereka, kini bersuara. "Terima kasih sudah mau mampir besuk Livia Pak." Ucapnya.

"Hmm." Axel berjalan keluar dari pintu apartemen lalu menoleh pada Lily yang masih setia mengikuti langkahnya.

"Besok jangan telat!"

"Baik, Bapak hati-hati di jalan, dan sekali lagi terima kasih buat semua belanjaannya." Ucap Lily yang di balas dengan senyuman irit Axel.

Pintu pun tertutup setelah Axel berlalu dari hadapannya. Lily membalik tubuh, lalu Mitha berdiri menatapnya dengan berkacak pinggang.

"Kamu serius Axel nggak suka sama kamu? Lihat dong, udah segitu dekatnya dia sama Livia. Beliin kamu baju, sepatu, skincare."

Lily berdecak. "Apaan sih, ya nggak mungkin lah, Pak Axel mah emang dasarnya baik ajah." Katanya.

Lily duduk di sisi putrinya. Ada Nina juga yang selalu mendampingi mereka.

"Tapi sebaik-baiknya orang, apa lagi lawan jenis, masa iya sih bayarin semua belanjaan kamu sebanyak ini?" Mitha beralih pada Nina.

"Iya nggak sih Mbak Nina? Ini aneh kan?"

"Saya setuju. Mungkin Tuan muda suka sama Nona Lily." Sambung Nina.

"Itu karena Pak Axel nggak mau aku terlihat kucel di depan koleganya. Apa lagi di kantor aku sering dikatain jelek sama karyawan lain." Potong Lily.

Mitha berdecak. "Siapa bilang kamu jelek. Kamu cantik Ly, cuma nggak mau dandan ajah, kamu terlalu cuek sama penampilan."

"Bukan cuek, tapi sadar budget. Aku juga pengen kayak yang lain, tapi kamu tahu sendiri, dari dulu aku cuma mengandalkan beasiswa buat melanjutkan pendidikan." Kata Lily.

"Boro-boro bisa dandan cantik, buat beli sepatu yang bagus saja aku nggak mampu. Aku hidup sebatang kara setelah lepas dari panti asuhan. Apa pantas aku mengejar gaya, sementara hidup ku serba kekurangan?" Tambahnya.

Mitha terkekeh. "Mungkin Axel jawaban hidup mu setelah cukup banyak melalui kesulitan mu."

"Mitha." Lily menegur.

"Tapi emang gitu Ly, aku tuh ngerasa, gelagat atasan kamu tuh beda!" Sanggah Mitha, Nina pun sebenarnya setuju pendapat wanita itu.

Lily terkikik. "Di luar sana banyak wanita cantik, anak orang kaya, seksi, dan yang pasti masih gadis. Ngapain suka sama aku, gadis jelek yang udah punya anak satu." Ujarnya.

"Selera orang beda-beda Ly. Mungkin bagi Axel, kamu tipenya. Kamu tenang dan bukan wanita penggoda seperti kebanyakan wanita yang selama ini dia temui." Kekeuh Mitha.

Lily menjentikkan jari. "Sudah, bangun dari mimpi, sekarang ajarin aku gimana caranya pake make up, sama skincare yang sebanyak ini!"

Mitha tergelak. "Ok, gampang itu mah, asal ada niat kamu pasti glow up. Yang penting bagi aku juga yah." Nyengirnya.

"Pilih yang mana ajah terserah." Kata Lily. "Mbak Nina juga boleh ambil mana yang Mbak mau."

"Terima kasih Nona."

"Ba-ba-bah." Teriak Livia keras-keras.

Mitha beralih pada anak itu. "Iya sabar Nak, Papa Axel kamu lagi pulang dulu, nanti ke sini lagi kok Livia."

"Mitha!"

"Aw!" Mitha meringis mendapati cubitan keras di sebelah lengannya. "Sakit Lily!"

"Jangan sekali-kali ajari anakku manggil Axel Papa! Awas ajah kamu!" Larangnya, garis keras.

Mitha dan Nina hanya terkekeh, bahkan Livia pun tergelak lucu seolah mendukung ucapan Tante Tante nya.

Visual Lily after shining, cantik yah...

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

sangat cantik bisa bisa axel cinta doong/Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2025-01-04

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Cantiknya......gimana dengan Axel ini....masak g klepek-klepek....☺️☺️☺️☺️☺️😍😍😍

2025-03-01

0

Nersi Ika nilasari

Nersi Ika nilasari

semangat baca kalo ada visualnya😁

2025-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!