Babysitter

Axel melanjutkan makan siang setelah Queen dan Dhyrga pergi. Lanskap langka yang tak pernah ada ini membuat karyawan dan karyawati mengecumik bibirnya dengki.

"Makin menjadi-jadi tuh anak jelek! Makan satu meja sama Pak Axel!" Namun sebatas itu saja, sebab tak mungkin juga mereka membully secara fisik, sekarang ada Axel yang mungkin akan membela gadis itu.

Sedari tadi sorot mata Axel tak pernah beralih dari bibir Lily. Salad garnis, kentang goreng, sampai chicken Cordon blue nya pun dilahap dengan santai oleh Lily, bahkan sempat menambah menu lain setelahnya.

Menyadari tatapan Axel Lily menyengir, ia meneguk minuman lalu membereskan sisa mayonaise dan brown sauce di bibirnya dengan tisu. "Bapak nggak habisin makannya?"

"Kenyang liat kamu!" Axel menyudahi makan dengan meneguk seperempat gelas air putih.

Matanya stuck pada Lily, ketika gadis tak jelas itu menyodorkan tisu. "Tidak perlu, kamu lanjut saja makan." Tolaknya.

Lily menggeleng. "Saya juga kenyang Pak." Dari pada terlihat rakus, Lily lebih memilih berbohong.

Lily mengakui semenjak hamil dan menyusui porsi makan Lily memang menjadi lebih banyak dari sebelumnya.

Alex menatap Lily, serius. "Ok, kalau begitu kita perlu bicara." Katanya.

"Siap."

Sedikit demi sedikit gagap Lily berkurang, sebab meski sedemikian dinginnya Axel masih memperlakukan dirinya secara baik.

"Kamu belum menjelaskan pada ku, kenapa bisa, ... Emmh, anu mu, ..." Axel menghentikan ucapannya, ia bingung harus memulai dengan bahasa apa agar sekiranya pantas.

Lily mengangguk, "Yah, anu?"

"Begini, aku mau tanya, kenapa bisa kau mengalami basah di bagian itu, ..." Axel tunjuk dada Lily tapi segera ia urungkan kembali.

"Ck, sial," Axel merutuk pelan tanpa diketahui Lily, jujur ia bingung.

Lily menoleh ke kanan dan kiri, begitu pun dengan Axel. Dan yah di sekitar mereka orang-orang masih membidikkan tatapan penasaran.

"Bapak tanya apa, yang jelas?"

Axel akhirnya mendekati wajah Lily agar lebih bisa berbicara lugas. "Dada mu! Jelaskan padaku kenapa bisa basah begitu? Bukannya kamu masih gadis?" Cecarnya.

Seketika Lily menunduk, ekspresi pun berubah menjadi sendu yang mana membuat Axel tidak nyaman hati. "Saya memang belum menikah Pak." Lirihnya.

"Lalu?"

"Saya, ..." Lily bingung harus menjawab dengan kata-kata yang seperti apa, toh dia juga bersalah dalam hal ini.

"Di campakkan?" Terka Axel. Sebelumnya kakak perempuan Axel juga mengalami hal yang serupa, meski nyatanya tidak sama.

"Iya." Angguk Lily.

"Berarti ada yang tidak kamu masukkan ke dalam CV mu. Kau memiliki seorang balita di luar pernikahan, begitu?" Kata Alex.

Lily kembali mengangguk. "Iya, putri ku empat bulan Pak."

"Suami mu, ... Emmh, maksud ku mantan kekasih mu, ..."

Lily menggeleng. "Dia bukan mantan Pak, kami tidak punya hubungan apa pun dari sebelum dan sesudahnya, yang pasti itu pengalaman terburuk yang pernah aku lalui."

Entah kenapa Lily merasa lebih baik setelah mampu menceritakan kejadian kelam itu. Jika jujur ini membuatnya dipecat, Lily ikhlas.

"Jadi selama tinggal di luar negeri, kamu sendiri?" Seketika pertanyaan Axel beralih, dan Lily menjawab dengan anggukan kepala.

Setelah cukup lama terdiam, Lily beranikan diri untuk bertanya. "Apa Bapak mau pecat saya, karena, ..."

"Kau yakin bisa diterima di tempat lain dengan kondisi mu yang sudah punya anak bayi di luar pernikahan?" Sela Axel.

Lily menggeleng. "Tidak juga."

Axel mendengus. "Mengganti posisi mu juga bukan mau ku. Aku paling tidak suka berkenalan dengan wanita. Terlebih harus mempelajari lagi karakter orang lain, aku malas berhubungan dengan wanita yang kebanyakan membuat ku repot. Jadi, atas dasar itu, kau masih ku pertahankan."

Lily melebar senyum. "Benar kah Pak?" Saking senangnya, suara Lily mengeras, yang mana membuat orang-orang di sekitar semakin penasaran dengan isi percakapan mereka.

"Hmm." Axel bersandar pada pokok kursinya. Dan yah, Lily terlihat begitu bahagia.

"Bapak baik sekali. Saya doakan yang terbaik untuk Bapak. Semoga Bapak cepat sadar, kalau wanita lebih enak dari pada laki-laki,... Khaa?" Seketika Lily menutup mulutnya bahkan menampar sendiri bibir itu.

Axel mengernyit. "Kamu masih berpikir aku menyukai laki-laki?"

"Eh, ..."

Krik krik...

Lily keceplosan, ia menyengir sembari menyatukan kedua tangan. "Bu-bukan begitu, maksud ku Pak, tapi..."

"Jam istirahat mu selesai! Sekarang kembali ke ruangan mu!" Dingin, Axel bangkit seraya mengatakan titah itu.

Lily menghela. "Apa yang aku lakukan, sudah bagus tidak dipecat. Malah bikin Pak Axel marah." Rutuknya.

...🎬🎬🎬🎬🎬...

Semua berjalan lancar, hari pertama masuk kerja saja Lily sudah harus pulang sore. Dan yah ia juga harus menaiki ojek untuk sampai ke apartemen Mitha.

Sekilas Lily melirik, senja kejinggaan itu begitu mempesona. Namun tak ada satu pun seseorang yang membuatnya merenjana.

Semburat merah di ufuk sana hanya menjadi sesuatu yang nampak kemudian berlalu baginya, sebab tak ada yang ia kenang selain pahitnya dicampakkan.

Lily memasuki unit apartemen Mitha. Rasa pegal di tengkuk membuat Lily menggeleng geleng sedikit kepalanya.

Brugh....

Sekejap Lily merebahkan punggung di sofa ruang tamu. Biasanya jam segini Livia sudah wangi, tapi karena Lily baru sampai, mungkin Livia belum mandi.

"Selamat sore Nona."

"Astaghfirullah!" Lily sontak berteriak, suara serak seorang wanita mengagetkan dirinya.

Dipandanginya wajah wanita asing, Lily terkejut, bagaimana bisa ada orang asing menggendong bayi mungil miliknya. Terlihat Livia tenang di pelukan wanita itu. Livia juga sudah wangi dan rapi.

"Livia!" Lily bangkit dan merebut Livia secara asal saja. "Anda, siapa?" Tanyanya panik.

Wanita berusia 27 tahun itu membalas dengan tersenyum. "Saya babysitter baru Baby Livia Nona." Ucapnya.

"Oh, ya ampun." Lily melepaskan desah lega ke udara. "Aku pikir siapa, maaf aku tidak diberi tahu sebelumnya."

Lily tak nyaman hati. Mitha pasti kerepotan lalu mencari babysitter untuk Livia. Sedang dirinya sudah terlalu banyak berhutang pada sahabatnya.

"Baru pulang Ly?" Mitha datang dari kamar mandi luar. Lily pun beralih pada wanita itu.

"Iya, ternyata jam kerjanya lebih banyak dari karyawan lainnya. Maaf yah, bikin kamu repot sampai sore begini, makasih babysitter nya. Aku janji setelah gajian aku balikin uangnya."

Mitha terkekeh. "Bukan, mbak ini bukan aku yang cari. Tapi dikirim langsung dari perusahaan kamu katanya."

"Hah?" Lily mendelik.

"Emangnya kamu belum tahu?" Sahut Mitha keheranan.

Lily kemudian beralih pada babysitter Baby Livia. "Mbak dari mana sebenarnya? Dan siapa namanya?"

"Saya Nina, saya di perintah langsung oleh Tuan muda Axel untuk datang ke sini, dan merawat Baby Livia." Jelasnya.

"Pak Axel?" Lily terhenyak.

"Iya." Sambung Nina.

"Kamu kok kaget gitu sih?" Mitha menimpali kebingungan Lily.

Lily duduk di sofa, kemudian meletakkan Livia di sisinya. "Dia nggak bilang apa-apa, dia irit banget kata-kata. Jadi gimana aku tahu?" Katanya lirih.

Sekali lagi Mitha penasaran. "Dia kok tahu kamu punya anak?"

"Aku cerita semuanya." Jawab Lily.

"Termasuk siapa bapak Livia?"

"Sstt!" Lily bangkit dan menarik Mitha menjauh dari Nina. Sedang Nina kembali meraih Livia dari sofa.

"Jangan sembarangan ngomong! Jangan sampai keceplosan!" Lily berbisik di telinga sahabatnya.

"Terus kok bisa kembaran Alex mengirim babysitter buat Livia? Aku pikir dia tahu Livia keponakannya." Sambar Mitha menerka.

"Ya enggak lah. Dan nggak ada yang boleh tahu, sekalipun itu Alex sendiri!" Cetus Lily.

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

wow segitu perhatiannya pria dingin 1000 pintu/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2025-01-03

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Wooooow....ada apakah dengan Axel.... sampai mencarikan baby sitter untuk Lily....🤭🤭🤭🥴🥴

2025-03-01

0

Ma Malikha

Ma Malikha

wkwkwkwk... 😆😆😆🤣🤣🤣🤣

2025-01-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!