Kopi

Terbirit-birit Lily berlari, padahal Axel sudah mewanti-wanti untuk jangan terlambat hari ini, tapi lihat lah karena ritual dandan terlebih dahulu, Lily jadi telat.

Dari lobby, ke lift, sampai ke lantai 18 pun Lily berlari hingga berhenti tepat di meja kerjanya.

Terlihat Lily ripuh dengan berkas-berkas miliknya. Dan yah dia tidak sekalipun menyadari pandangan sekitar mengarah padanya.

"Eh, itu Lily kan?" Karyawan pria berdasi biru dongker itu menatap pangling setiap gerakan Lily.

Sebelum pekerjaan di mulai kebiasaan para karyawan adalah berkumpul di pantry kantor demi menikmati secangkir kopi, teh, atau coklat panas.

"Cantiknya Nak Lily." Disahuti oleh ibu-ibu cleaning service (CS) bertubuh gemuk.

Perempuan berbaju merah muda juga ikut menimpali dengan kalimat yang ambigu, antara memuji atau mencurigai.

"Jadi apa bener gosip Luna kemarin yah, yang katanya dia punya guna-guna? Gila sih, tapi kelihatan cantik banget hari ini!"

"Dia lulusan luar negeri, nggak mungkin juga pake begituan, selama ini Nak Lily kucel karena nggak dandan ajah!" Bela Ibu CS.

"Iya sih, setuju aku Buk. Secara, ibu-ibu berdaster ajah kalo udah mulai dandan, bisa ngalahin Lisa black pepper cantiknya!" Imbuh pemuda bernama Rico.

Gadis ber name tag Disha menaikan ujung bibirnya, seolah meragukan Lily. "Tapi kenapa juga baru mau dandan hari ini coba? Emang dasar aneh tuh anak!" Hardiknya iri.

"Ya mungkin setelah kemarin di hina-hina, sekarang Lily mau membuktikan ke Luna, kalo dia juga bisa cantik, bahkan ni yah, kalo Gue lihat-lihat, cantiknya Lily ngalahin Luna loh." Sambar Kenzo.

Disha menukik bibirnya. "Alah, sekarang kamu bilang gitu, kemarin ajah bilang Luna paling cantik sejagat raya!" Sindirnya.

"Emang cowok mata keranjang!" Sahut perempuan lainnya.

Kenzo tergelak. "Tapi subyektif dong, lihat, sekarang setelah dandan dan pake pakaian mahal, Lily lebih cantik!" Katanya.

"Btw, nggak kebayang sih kalo Luna buka riasan make up nya, jangan-jangan lebih ancur dari penampilan Lily yang kemarin lagi." Tiba-tiba saja, Titie justru usil dengan wajah asli Luna.

"Wah, iya juga, pantesan kalo mau Gue lihat pas nggak pake make up dia nggak mau!" Kenzo berapi-api.

Disha yang semula membela Luna, jujur ia juga sedikit merasa janggal dengan keaslian wajah temannya. "The power of makeup berarti?"

"Topeng cantiknya!" Pria lainnya menimpali dengan gelak tawanya.

...🎬🎬🎬🎬🎬...

Di atas kursi meeting Millers-Corpora, Axel sibuk berputar-putar cemas. Sebentar lagi klien penting dari Dubai akan datang, dan Lily belum juga mendatangi ruangan tersebut.

"Ke mana Lily?" Tanyanya. Mata biru itu melirik visus Rudolf yang asyik berselancar dengan ponsel dinasnya.

"Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja, mending minum dulu kopinya." Kata Rudolf.

Axel berdecak, lalu meraih kopi hangat di depannya untuk di teguk.

"Selamat pagi Pak!" Lily datang. Sontak mata Axel dan Rudolf beralih menatap masuknya gadis itu.

Brukk...

Glek...

Ponsel Rudolf terjatuh. Sementara Axel tak sengaja menumpahkan setetes kopi dari cangkirnya.

"Ya ampun Pak!" Setengah berlari Lily mendekati Axel. Ia raih tisu lipat dari sisi nampan kopi, kemudian membersihkan noda kecoklatan yang tercecer di kemeja putih Axel.

"Kok bisa begini? Kan bentar lagi ada pertemuan penting sama klien." Lily merutuk. Sementara Axel masih terpaku pada wajah, busana, dan semua yang melekat pada Lily.

Lily terlihat berbeda dengan balutan busana formal yang sedikit lebih slim dari sebelum sebelumnya. Wangi parfum pun tak kalah elegannya.

Rambut lurus yang biasanya tercepol acuh kini tergerai dengan indah. Axel kagum pada pemilihan warna soft lipstik Lily, samar-samar tampak sapuan pink blush on di tulang pipi Lily, sedikit warna segar di kelopak mata Lily, juga garis yang membingkai tepian kelopak Lily.

Belum lagi alis yang alami sudah terbentuk sempurna, menjadi pelengkap dari pahatan luar biasa ciptaan Tuhan sang maha esa.

"Ly, ..." Rudolf memiringkan kepala, sekali lagi ia ingin memastikan wajah Lily dengan seksama. "Ini Lily cantik ku?"

Plakk...

"Aw!" Spontan saja pulpen Axel menggetok kepala Rudolf hingga meringis. Entah lah, ia tak menyukai pandangan nakal Rudolf.

"Dari pada godain teman mu, mending cek lagi, sudah sampai mana klien kita!" Ketus Axel.

Rudolf menepuk dahinya. "Ya Tuhan, aku sampai lupa, aku ke lobby dulu sebentar, soalnya tadi asisten Mr. Abdal Halim sempat chat minta dijemput di bawah." Ia berlari keluar setelah itu.

"Ya Tuhan, ..." Lily kembali merutuk. Ini semua berawal dari keterlambatannya. Dan yah, Axel juga bertanggung jawab atas ini. Coba saja kalau Axel tidak menyuruhnya berdandan, ia pasti bisa lebih menyingkat waktu bersiap.

Sambil merutuk dalam batin, Lily masih fokus dengan kemeja kotor Axel. "Mending Pak Axel ganti baju."

"Hmm." Seperti biasa, sahutan irit Axel terdengar.

Sementara Axel membuka kemeja kotornya, segera Lily keluar dari ruangan meeting, dan berlari memasuki ruangan kerja Axel. Dari lemari kaca, ia meraih kemeja baru beserta dasinya.

Membawa baju ganti, kembali Lily berlari ke ruangan meeting. Terlihat di sisi meja Axel sudah polos ber-telan-jang dada.

Lagi, Lilyana mendekati atasannya, lengan demi lengan ia mulai memakaikan kemeja Axel.

Setelah rapi di bagian belakang, Lily beringsut ke depan tubuh Axel. Di mulai dari atas dahulu, satu persatu kancing putih itu Lily kaitkan.

Axel terdiam, terpaku, kagum akan kecantikan wanita itu. Sebelumnya Lily sudah cantik di matanya, namun perubahan hari ini cukup signifikan.

Degup....

Lirikan mata Lily mengarah kepada wajah tampan Axel, sesaat setelah mendapati deburan jantung di balik dada pria itu.

Sekejap Lily meraba sebelah dada Axel. Dan secara seksama Lily dengarkan degup tak biasa itu. "Mending besok nggak usah lagi minum kopi pagi-pagi deh Pak." Larangnya.

Axel mengernyit. "Why?" Kopi termasuk bagian dari semangat paginya. Jadi apa maksudnya Lily melarangnya minum kopi?

Lily meraih sebelah tangan Axel, untuk kemudian diletakkannya pada dada pria itu.

"Dengerin deh. Jantung Pak Axel jadi berdebar gini. Itu tandanya, Pak Axel nggak bisa mengonsumsi kopi di pagi hari, mending buang kebiasaan itu. Nggak usah ngopi pagi. Ini semua demi kebaikan Bapak." Katanya.

Axel mendengus, bukan soal kopinya, melainkan jantung itu berdetak lebih cepat di momen momen tertentu saja. Terlebih, saat saat bersama Lilyana seperti sekarang ini.

"Ly, .."

"Hmm?" Selesai memasukkan seluruh anak kancing pasa rumahnya, Lily meraih dasi lalu melingkarkan nya pada kerah leher Axel.

"Apa sekarang kamu tidak merasakan apa-apa?" Axel berujar dengan nada rendah, dan tatapan penuh arti.

Polos, Lily menatap Axel. "Merasakan apa? Maksud Pak Axel apa?" Tanyanya.

Axel berdecak. "Lupakan saja."

Belum selesai Lily menyimpulkan dasinya, Axel lebih memilih untuk memakainya sendiri. Wajah yang semula hangat, telah berubah menjadi dingin kembali.

"Bapak sakit?" Lilyana bingung. "Bapak ada keluhan?"

"Aku bilang lupakan." Axel kembali duduk di kursi miliknya, lalu seperti biasa Lily berdiri sigap di sisi lengannya.

Sesekali netra biru Axel melirik tubuh wanita itu. Jujur, ada rasa bahagia bisa melihat Lily secantik pagi ini, tapi juga ada rasa khawatir yang entah apa itu.

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

saking terpesonanya sampai minum kopi pada jatuh untuk g keselek atau menyembur tuh kopi/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ axel langsung jatuh cinta

2025-01-04

0

yeni NurFitriah

yeni NurFitriah

Axel yg duluan ada rasa ke Lily.

2024-11-01

0

Ana

Ana

🤣🤣🤣🤣kamu benar-benar polos ly

2024-11-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!