"Sekretaris Buk?"
Betapa terkejutnya Lily, mendengar cetusan dari bibir atasannya.
Ia di tempatkan pada bagian yang berkaitan langsung dengan CEO dari perusahaannya.
Tidak ada lagi masa percobaan, karena mulai dari hari ini jam kerjanya berjalan.
"Iya. Kamu duduk di sini. Tugasmu, melayani keperluan Pak Axel. Ini daftar lengkap tugas-tugas mu sebagai sekretaris." Wanita itu menunjukkan meja kerja Lily yang tidak jauh dari ruangan Axel.
"B-baik Buk, siap!" Jujur saja Lily sangat senang namun lagi-lagi ia takut jika sampai Alex datang ke kantor dan kedapatan bekerja di sini.
Kriiiiiing....
Baru saja duduk di kursi, telepon di depannya berdering. Gegas Lily mengangkatnya. Dan menyapa sesuai arahan dari trainer.
"Selamat pagi Bapak, ada yang bisa saya bantu?"
📞 "Masuk ke ruangan ku." Suara Axel terdengar sama seperti suara Alex. Lily sampai bergetar mendengarnya.
"B-baik Pak." Bagaimana pun, Lily harus profesional. Gegas Lily menutup telepon, dan bergerak menuju ruangan milik sang Tuan muda.
Satu kali sentuhan saja pintu kaca itu terbuka lebar. Lily melangkahkan kakinya masuk. Di depan sana Axel menyambut dengan tatapan datar.
"Sudah tahu kan, mulai hari ini kamu sekretaris ku?" Axel mengangkat satu alisnya, menatap lekat wajah damai Lily.
"S-sudah Pak." Sejauh ini Lily belum pernah bisa santai menghadapi atasannya.
Axel menyodorkan satu gadget. "Jadwalkan pertemuan sesuai dengan urutan tanggal pembuatan janji. Catat selalu apa pun yang perlu kamu hapal selama kau mengikuti perjalanan meeting ku, selain itu kau akan berdampingan secara langsung dengan asisten personal ku, namanya Rudolf, tapi saat ini Rudolf sedang cuti." Jelasnya.
"Baik Pak." Lily meraih tab dari meja kerja atasannya. Tab itu lah yang akan membantunya mencatat segala sesuatu yang di perlukan.
Axel mengusir. "Sekarang lakukan tugas mu yang lain. Aku tunggu dokumen sortiran mu yang perlu pemeriksaan langsung."
"Baik." Lily menundukkan kepalanya khidmat, sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Lily tersenyum, syukurlah Axel tak seperti Alex yang sombong. Axel terkesan hormat pada wanita meski sedemikian dinginnya saat berbicara.
Lily meraih ponselnya, ia perlu memberi tahu Mitha, tentang jabatan yang saat ini ia sandang di perusahaan Millers-Corpora. Sekalian ingin meminta kabar Baby Livia.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Jam makan siang pun tiba, satu persatu karyawan Millers-Corpora berhamburan keluar dari masing-masing meja kerjanya.
Tak terkecuali Lilyana yang juga ikut serta menuju kantin. Segera Lily berdiri menunggu lift yang akan membawa banyak karyawan lainnya.
Di sana orang-orang menatap tidak suka padanya. Bagaimana tidak? Wanita berdandan biasa seperti Lily, bisa-bisanya dijadikan sekretaris pribadi sang Presdir.
Luna saja yang wanita tercantik di kantor ini, tidak pernah lolos seleksi, bahkan di pengajuan yang sudah kesekian kalinya.
Kenapa bisa, Lily yang baru diterima kerja, dijadikan sekretaris pribadi sang Presdir muda nan tampan?
Tentu saja keputusan Axel memilih Lily, membuat seluruh karyawan perempuan di kantor ini patah hati dan beramai-ramai membenci Lily.
Ting.... lift pun terbuka. Berbondong-bondong semua karyawan masuk ke dalam lift tersebut termasuk Liliyana.
Tiiiiiit.... Lift berbunyi setelah melebihi kapasitas semestinya. Semua orang saling melempar tatapan datarnya.
"Penuh, harus ada yang keluar!" Satu karyawan pria tak tahu malu berbicara seperti itu.
Luna mendorong tubuh Lily hingga keluar dari lift begitu saja. "Biar anak baru yang keluar! Pakai tuh tangga darurat!" Caci nya.
Semua orang tergelak menertawakan gadis tak seberapa cantik itu. Lily yang terbiasa mendapat perlakuan sebelah mata, ia hanya tersenyum tipis saja.
"Siang Pak Axel." Lily menyapa laki-laki yang baru saja tiba dengan menyertakan pesonanya.
Disaat pintu lift karyawan baru akan tertutup, langkah gagah Axel berhenti tepat di depan tubuh Lily.
Axel harus turun ke lantai bawah dengan memakai lift ekslusif yang menghadap lift karyawan.
"Kenapa? Lift penuh?" Tegur Axel. Lily hanya meringis kecil tanpa banyak bicara.
Karyawan di dalam lift sempat melihat percakapan Lily bersama sang Presdir. Luna lantas berdecak. "Jangan bilang Pak Axel mau ajak cupu masuk ke lift khususnya lagi!"
"Aduh benci deh aku sama anak baru yang jelek itu!" Satu wanita lagi menyahut sinis.
"Awas ajah kalo sampe tuh cupu ikut masuk ke lift ekslusif bareng Pak Axel!" Kata Luna ketus.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Benar saja, Lily memang di ajak CEO tampannya ikut masuk ke dalam lift ekslusif yang tak pernah di masuki satupun karyawan biasa.
Di dalam sana Lily dan Axel hanya berdua, maklum asisten personal Axel masih mengurus beberapa hal penting terkait keluarganya di luar kota.
Dari lantai 18 ke lantai 4 tidak lah dekat. Lily hanya diam menatap bergantinya angka di layar monitor saja.
Axel berdiri tegak, menyimpan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Sengaja Axel mengajak Lily ikut ke dalam lift ekslusif ini.
Axel tahu semua karyawan wanita iri pada Lily. Tapi mau bagaimana lagi, Axel tak suka digoda oleh perempuan materialistik seperti Luna dan lainnya.
Axel sengaja merekrut Lily karena sedari awal pertemuan. Lily tak pernah menunjukkan raut menggoda pada dirinya. Jelas Lily berbeda dari kebanyakan orang.
Di sela perjalanan yang minus percakapan. Tak sengaja mata biru Axel menyisir seluruh lekukan tubuh gadis itu. Dari mulai sepatu heels murahnya, rok biasanya, blouse ala online shopnya.
Kening berkerut ketika mata itu pun menatap bagian berair yang muncul di puncak dada gadis tersebut. Seperti basah tapi bukan keringat.
Lily melirik sekilas pada wajah Axel, dan yah tatapan tidak sopan Axel menuju pada pucuk dadanya.
Sontak Lily menurunkan pandangannya ke arah yang sama. "Oh, ya ampun!" Dia seketika menutup dadanya setelah menyadari air susunya merembes keluar.
Ting....
Pintu lift terbuka. Axel sontak melangkah keluar kemudian Lily menyusul di belakangnya dengan langkah pelan dan gamang.
Benar saja, di luar sana karyawan dan karyawati telah berderet menunggu terbukanya pintu lift ekslusif.
"Tuh kan, Lily kurang ajar banget satu lift sama Pak Axel!" Luna kembali berdecak sinis. Semua orang juga mengarahkan tatapan tidak ramah pada sekretaris baru Axel.
Sementara Lily masih hanya melipat kedua tangannya demi menutupi buah dada yang basah. Saliva ia telan secara tercekat. Gemetar sudah pasti ia rasakan.
Bagaimana jika Axel tahu dirinya menyusui bahkan sudah memiliki seorang anak? Apakah ia harus jujur dan dipecat tepat di hari pertama kerjanya?
Axel yang peka dengan wajah gugup sekretaris barunya. Ia kembali menatap Lily dengan raut sehangat mungkin.
"Kamu tidak apa-apa?"
"I-ini, ..." Lily menderu napas kasar. Keringat dingin keluar berbulir-bulir.
Melihat itu Axel membuka jas miliknya lalu menyerahkan pada gadis itu.
"Pakai ini. Tutupi bagian itu, aku tahu itu bukan keringat." Axel pintar, ia segera tahu apa yang sedang Lily sembunyikan.
Dulu saat Kakak perempuannya menyusui keponakannya, ia juga sering mendapati kakaknya mengeluarkan asi tanpa di sadari.
Lily menggeleng. "Tapi nanti jas Bapak kotor."
"Kau kan bisa mencucinya!" Dingin Axel dengan suara yang ditekan lirih. Seketika ruangan ini terasa beku, seperti ada hawa kutub yang tersasar ke dalamnya.
"Tapi, ..." Lagi-lagi Axel berkerut kening, Lily ini begitu sulit diajak kekeluargaan.
"Kenapa lagi?" Ketus Axel kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuyu sri Rahayu
axel pengertian banget sich kamu/Facepalm/
2025-01-03
0
Hafsah Hafas
ya ampu. bisa bicor di depan bos😁
2025-03-07
0
Nanik Kusno
Axel.... perhatian banget ma orang lain...👍👍👍
2025-03-01
0