Owner rupawan

Karyawan dan karyawati di sekitarnya hanya diam tak mengerti apa yang sebenarnya mereka perdebatkan.

Lily menyengir kecil. "Biaya laundry jas Bapak pasti, mahal, dan, ..."

"Tidak perlu di cuci dengan laundry kalau begitu!" Sela Axel. "Apa kau tidak bisa mencucinya sendiri?"

Lily mengangguk. "Bi-biisa, tapi apa boleh?"

Tak mau berlama-lama bicara, Axel melempar jasnya pada kepala Lily. "Kau terlalu banyak berpikir!" Ketusnya dingin.

Lily meraih jas Axel dari kepalanya, lalu memeluk kain hitam nan mahal itu sembari mengayunkan langkah pelan.

Jangan ditanya bagaimana raut orang di sekitar yang seolah tidak menyukai keberadaannya.

Lily sudah sering mendapati hal itu. Yang aneh adalah, kenapa Axel sedemikian perhatian padanya. Lily justru takut jika manusia selain Mitha menaruh perhatian.

Jujur, kasusnya bersama Alex satu tahun lalu masih menyisakan trauma. Kala musim dingin Alex mendekatinya secara baik-baik, lalu meninggalkannya setelah malam kelam bersama.

Lily melamun di sepanjang perjalanannya, hingga tak sadar akan ke mana arah kakinya melangkah.

Axel melirik visus gadis itu. Dan yah, sebentar lagi mungkin kepala Lily terbentur pilar besar.

"Kamu mau ke mana?" Di tariknya kerah blouse Lily hingga terhenti langkahnya. Sepertinya Lily melamun cukup serius.

"Hah?" Lily baru menyadari bahwa di depannya ada pilar besar yang menyambut kepalanya untuk di benjol kan.

Axel mengernyit. "Kau ini kenapa aneh sekali? Kamu ke sini lupa membawa mata mu juga?"

Lily menyengir. "M-maaf, tidak fokus Pak."

Axel menghela nafas. "Dia punya nilai bagus di setiap transkrip akademiknya, tapi kenapa aneh sekali kelakuannya." Batinnya.

Lily lantas berpamitan untuk pergi ke toilet. Dan Axel hanya menggeleng ringan menatap punggung Lily yang tenggelam di balik pintu toilet.

Axel melanjutkan langkah menuju ruangan luas yang biasa disebut dengan kantin perusahaan, ada ruangan khusus untuk para dewan direksi ber istirahat makan.

...🎬🎬🎬🎬🎬...

Tak berapa lama, di salah satu bilik toilet, Lily sudah bisa bernapas lega, akhirnya ia berhasil menyedot sebagian asi yang mengeraskan buah dadanya.

Asi itu sudah berpindah pada botol-botol mahal yang diharapkan bisa mengawetkan makanan ekslusif Baby Livia.

Lily menata botol-botol tersebut ke dalam pouch khusus. Lalu keluar dari bilik toilet yang sudah lama dia kuasai sendiri.

"Lama banget sih!" Senior berbaju merah ketus. Beruntung wanita jutek itu sudah cukup kebelet, maka tak ada waktu untuk memarahi Lily.

Mereka segera bergantian. Lily mendatangi wastafel demi membersihkan tangannya. Ia sedikit menghela napas, berusaha sabar di hari pertama kerja yang tidak begitu baik.

Lily memakai jas atasannya, menenteng pouch Baby Livia, dan keluar dari toilet. Anehnya, suasana di luar ruangan berubah tenang.

Semua karyawan dan karyawati berdiri berjajar berhadap-hadapan. Sepertinya ada hal yang belum ia ketahui.

Lily menepuk pundak wanita berpakaian cleaning service (CS) demi memastikan keadaan aneh tersebut.

"Buk, maaf."

Wanita paruh baya bertubuh gemuk itu menoleh, "Iya, kenapa Dek?"

"Ini kok orang-orang pada diem tenang begini, memangnya ada apa?"

"Oh, tadi barusan ada informasi, katanya ada owner tempat ini lagi naik lift. Jadi sebentar lagi mereka datang ke lantai ini. Makanya kita siap-siap menyambut, jangan berisik. Tuan Dhyrga Miller ini, sangat perfeksionis sekali."

"Dhyrga Miller?" Lily gemetar.

Ibu CS menegur. "Tidak perlu khawatir begitu, yang penting diam, tenang, berikan sambutan senyum, Tuan Dhyrga tidak datang sendiri, dia datang bersama istrinya yang ramah."

"Be-begitu kah?" Lily justru semakin bergetar.

"Sudah ku bilang, santai saja." Sambung Ibu CS kembali.

"I-iya." Lily berdiri di sisi ibu-ibu cleaning service tersebut. Tangannya masih gemetar, jantung pun sudah tak keruan seperti mau lompat dari balik dadanya.

Bagaimana bisa Lily tenang. Mungkin ia bukan siapa-siapa di sini, tapi secara harfiah Lily melahirkan semungil cucu dari sepasang suami istri konglomerat yang sedang orang- orang sambut kedatangannya.

Ting....

Pintu lift ekslusif terbuka, Lily dan semua orang menoleh ke arah yang sama.

Terlihat laki-laki paruh baya nan tampan tengah mempersilahkan sang istri keluar terlebih dahulu.

Setelahnya, sepasang suami istri rupawan itu berjalan beriringan penuh kharisma membelah barisan para karyawan Millers-Corpora.

Lily ternganga, rupanya kakek dan nenek Baby Livia sangat cantik dan tampan. Mereka sudah berumur namun wajah masih tak mau kalah dengan usianya.

"Ya Tuhan, ..."

Ibu CS berbisik. "Yang cantik itu namanya Nyonya Queen, dia artis kawakan, juga pemilik production house X-meria. Nah, Om yang ganteng itu suaminya, Daddy dari Tuan muda Axel, mantan CEO kita."

"Mereka luar biasa Buk." Timpal Lily.

...🎬🎬🎬🎬🎬...

Dari sudutnya, wanita bernama lengkap Queen Kirana Rain ini berjalan gontai menuju kantin perusahaan. Yaitu tempat di mana sang putra pewaris berada.

Sepatu heels, busana formal Queen selaras dengan kemeja hitam milik suaminya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, pakaian yang mereka kenakan limited edition.

Tak seperti Dhyrga yang dingin, Queen justru menyisir senyum teruntuk para karyawan dan karyawati yang berjajar di sepanjang jalan.

Sampai lah mata biru milik Queen melirik pada sosok gadis berjas hitam, dan sekali lagi ia ulangi lirikannya setelah menyadari sesuatu.

"Daddy." Queen menepuk sebelah lengan Dhyrga pelan.

"Hmm?" Lelaki itu melirik wajah bingung istrinya. "Ada apa?"

"Kamu lihat jas yang dipakai perempuan tadi?" Queen sampai menoleh kembali demi memastikan sesuatu yang melekat pada gadis itu.

"Kenapa memangnya?"

"Itu jas punya Axel, kenapa bisa jas Axel di pakai perempuan? Apa dia kekasihnya?"

Rasanya mustahil jika pakaian milik Axel dipakai seseorang apa lagi perempuan. Seperti Dhyrga yang perfeksionis, begitulah Axel menuruninya.

Dhyrga yang penasaran, ia ikut menoleh pada sosok gadis yang kini menundukkan wajahnya secara khidmat.

"Benar, bukannya jas itu kado ulang tahun dari mu, Baby." Seketika Dhyrga dan Queen terkekeh bersamaan. "Mungkin dia calon menantu kita." Kelakarnya.

"Aamiin." Tersenyum sangat manis, Queen merangkul hangat lengan besar suaminya. "Syukurlah kalau begitu Daddy. Jadi Axel kita tidak menyukai sesama jenis kan?"

"Kamu ngaco!" Dhyrga tergelak.

Queen menghela. "Aku hanya takut, karena sikap kedua putra kita sangat bertolak belakang. Yang satunya over girlfriends, satunya lagi minus girlfriend." Lirihnya.

Terpopuler

Comments

karin Ke

karin Ke

calon istri axel plus ayah sambung baby Livia

2025-01-24

0

Hafsah Hafas

Hafsah Hafas

anaknya shanshan kan anak dari alex

2025-03-07

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Nantinya...Lily ma Axel or Alex???

2025-03-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!