Malam salju

Cukup lama Alex bergeming di depan pintu apartemen Lily. Tergamam ia seorang diri setelah wanita yang dahulu pernah ia tiduri menggendong semungil kecantikan berupa bayi perempuan.

Tak mau dicurigai oleh petugas CCTV, dia lantas menenteng koper hitam miliknya untuk diberikan kepada sang asisten yang masih setia menunggu di sudut tempat.

"Kenapa dibawa lagi Tuan?" Pria itu bingung, padahal sebelumnya Alex memintanya menyiapkan uang-uang itu secara cepat, tapi kemudian dibawa kembali pulang.

"Simpan saja dulu!"

"Baik." Kembali Alex menaiki lift hingga naik ke lantai paling atas setelah asisten miliknya mengangguk kan kepala.

Setibanya di penthouse Alex menyinggahi dapur dan meraih air mineral bersegel dari dalam lemari es.

Satu tegukan, dua tegukan, tiga tegukan, entah kenapa haus tak hilang-hilang dari lehernya.

Brugh...

Alex buang botol plastik itu ke dalam tong sampah. Sejenak ia duduk di kursi meja makan, lalu tak lama ia bangkit kembali.

Kaki berjalan mondar-mandir, sebelah tangan menyugar rambut, desah kasar terdengar berkali-kali. Rasa aneh yang entah apa ini membuatnya terus melakukan hal itu.

"Siapa anak lucu itu? Livia? Baby Livia?"

Alex bergumam frustrasi sambil terus mengacak-acak rambut di bagian kepalanya.

"Anak itu milikku, ... atau korban lainnya?"

Masih tak tenang, Alex memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju kolam renang terbuka di sisi kanan ruang keluarga.

Di sofa putih Alex menjatuhkan tubuhnya, netra birunya menatap luasnya kolam yang di kelilingi kaca transparan.

Seharusnya ada sampanye di saat seperti ini, namun Axel tak menyediakan minuman-minuman memabukkan.

Angan melayang serampangan, di sinilah ia mengingat kembali peristiwa kelam di malam itu. Alex mencoba bermeditasi bertanya pada dirinya sendiri.

Kenapa pria populer, tampan, kaya raya seperti Alex bisa menjalin hubungan cinta satu malam bersama makhluk beasiswa seperti Lily?

Sampai sekarang Alex sendiri tak percaya, bahwa ia pernah menghabiskan satu malam dengan gadis paling cupu di kampusnya.

Tepatnya 18 bulan yang lalu, Alex tiba di kantin kampus. Semua temannya berjumlah enam orang laki-laki. Reymond, Ziudith, Morgan, Rego, Maxim, dan Kaisar dari Indonesia.

Mereka berkumpul sambil membicarakan gadis paling sulit didekati, namun bukan karena dia kaya dan cantik, justru gadis itu paling cupu dan tidak punya teman.

Tampilan sederhana gadis itu membuat Morgan yang asli dari Inggris itu tertarik menggaetnya. Namun, berkali-kali ia ditolak.

Menariknya adalah, semua teman Morgan justru penasaran ingin menjajal kemampuan merayunya, hingga tercetuslah pertaruhan diantara mereka.

"May I come try it?" Boleh aku ikut mencobanya? Alex menyengir, ia percaya diri sekali dengan ability nya dalam merayu wanita.

Semua temannya setuju untuk Alex maju. Dan sampailah pada peristiwa di malam kelam itu, 17 bulan yang lalu.

Brakkk... brakkk... brakkk...

Gudang kampus ini sengaja dijadikan basecamp oleh Alex dan teman-teman crazy rich nya. Alex terbangun oleh gedoran pintu yang begitu keras.

Bukan suara temannya melainkan suara lembut yang berteriak. Ada rintihan menangis juga yang terdengar.

Alex beranjak dari ranjang berukuran kecil itu lantas keluar dari ruangan tersebut, langkah kakinya pelan menuju pintu masuk utama gudang itu.

Benar dugaannya, rupanya suara Lily yang menangis ketakutan karena terkunci di ruangan ini. Alex tak heran, biasanya memang ada beberapa mahasiswi yang iseng.

"Diam lah!" Berbahasa Inggris Alex berucap.

Sontak, Lily menoleh ke arahnya. Terlihat sekali kelegaan yang Lily rasakan setelah melihat sosok Alex di sini. "Alex, syukurlah kamu di sini."

"Kau terkunci?"

"I-iya, ..." Lily mengangguk.

Gegas Alex berbalik ke ruangan miliknya diikuti oleh Lily yang terkagum melihat ruangan keren itu.

Lengkap seperti apartemen, ada sofa, ranjang, lemari es, meja, alat musik, mungkin hanya satu yang tidak ada di sana, yaitu penghangat ruangan.

Alex membuka kotak hitam, tempat di mana biasanya ia meletakkan kunci cadangan gudang ini.

Naasnya adalah, tak ada di mana pun benda kecil tersebut bahkan setelah ia mengobrak abrik tempatnya.

Melihat itu Lily bertanya. "Apa yang kau lakukan Lex?"

"Cari kunci untuk mu!" Alex terus menyingkirkan benda-benda yang berpotensi menyembunyikan kuncinya.

Lily tersenyum menunduk, Alex baik sekali mau menolongnya. Satu bulan sudah Alex mendekatinya, mungkinkah cintanya terbalas tanpa ia sadari?

Lily mendekat. "Kenapa kamu acak-acak tempat mu? Biar aku bantu cari." Katanya.

"Tidak ada," Alex menatap Lily sambil menggeleng. "Pasrah saja, kita tunggu sampai teman ku ada yang datang."

Alex duduk di sisi ranjang, "Duduklah dulu, mungkin juga ada petugas yang datang."

"Terima kasih." Lily menurut untuk duduk di sofa hitam. Tak ada percakapan lagi. Cukup lama keduanya terdiam di dalam sana.

Satu jam, dua jam, sampai malam tiba tak pula ada yang datang. Cuaca ekstrim meraibkan signal, akibatnya ponsel Alex tak bisa menghubungi siapa pun.

Sempat Alex memberikan makanan ringan yang tersisa di lemari es. Hanya ada satu lampu yang menerangi malam kedinginan mereka.

Alex memandang ke arah jendela. Di luar salju yang turun semakin deras, sementara di sofa Lily duduk bergeming bahkan sudah sedikit meringkuk karena pakaian Lily tidak terlalu tebal, hanya celana panjang dan kaos panjang saja.

Alex mendekat, ia membuka jaket tebal miliknya, lalu menyelimuti sebagian tubuh gadis itu.

Lily masih tak bicara, ia tahu Alex sudah tidak lagi mau mengobrol dengannya. Entah apa sebabnya, Lily pun tak tahu.

Tepatnya pukul sembilan malam, cuaca ekstrim benar-benar membekukan tubuh Lily.

Sekali lagi Alex mendekati gadis beku itu. Dia sentuh kulit-kulit tangan Lily yang dingin dan bibir yang membiru.

Alex mengernyit, Lily hidup di negara bersalju tapi terlalu ringkih menurutnya. "Hey, kamu baik-baik saja kan?"

"Aku kedinginan." Lily merintih kecil. Alex meraih kembali kain tipis milik Morgan untuk dibalutkan pada Lily.

"Apa ini lebih baik?" Lily mengangguk.

Namun, tak bertahan lama, Lily kembali merintih, menggigil, bahkan lebih parahnya lagi Lily meredup matanya seperti orang yang sudah akan pingsan.

"Lily."

Alex berusaha menyadarkan gadis itu. Dia genggam tangan mungil Lily lalu menggeseknya juga memberikan kehangatan lewat tiupan mulutnya.

"Kamu baik-baik saja kan?"

"Emmh."

Tak mau ambil resiko, Alex membalikkan tubuh Lily, ia lancang menyelusup kan kedua tangannya ke dalam kaos Lily.

Membuka pengait bra, lantas meraba bagian punggung, menggesekkan tangannya di sana secara berkala, dari situ Lily mulai terlihat baik.

"Kamu baik?" Selalu pertanyaan cemas itu yang Alex bisikan dan dijawab anggukan kepala Lily.

Alex tersenyum. Entah ada angin apa, perlahan Alex membawa kedua tangannya menuju bagian depan Lily yang membuntal padat.

"Alex."

Seketika Lily menoleh ke belakang, lalu pandangan mereka saling bertemu intens. Disaat itu pula Alex menyadari bahwa Lily tidak jelek, Lily menarik, Lily cantik.

Kendati wanita idaman Alex bukan wajah Asia seperti Lily, tapi Lily bukan wanita yang pantas dia abaikan satu malam ini.

"Aku bisa membuat mu lebih baik lagi." Alex pijat bagian dada Lily hingga desah samar keluar dari bibir gadis itu.

Terdengar candu, suara Lily begitu merdu, Alex terus memijat hingga Lily terbaring di sana.

Gairah menyengat, Alex menindih, bahkan mengganti pijatan dada Lily dengan pagutan bibirnya.

Lily mendelik. "Lex, ..." Napas gadis itu terdengar menggebu.

Alex tersenyum, ia sejajarkan wajahnya dengan Lily. "Ini akan membuat mu lebih hangat lagi."

Lily terdiam saat Alex menjatuhkan pagutan pada bibir ranumnya. Ini yang pertama, ini terlalu indah untuk ditolak.

Sudah sejauh itu kegiatan mereka seperti tak rela untuk disudahi begitu saja. Lily yang sudah sedari awal kagum pada Alex, tentu tak mampu menahan godaan laki-laki tampan itu.

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

yang sebenarnya korban tuh lily bukan kamu alek,kamu egois mentang2 kamu kaya raya seenaknya aja berbuat iseng tapi ngancurin hidup orang lain

2025-01-04

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Haishhhhh....kucing garong ...mana mau membiarkan dendeng nganggur di depannya....😡😡😡😡😡😡😡

2025-03-02

0

🌺𝕭𝖊𝖗𝖊-𝖆𝖟𝖛𝖆🌺

🌺𝕭𝖊𝖗𝖊-𝖆𝖟𝖛𝖆🌺

Lily knp km kayak Cheryl sich... gampang bnget nyerahin diri 🤦🏻‍♀️

2025-01-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!