Baby Livia

Lilyana mengusap lembut pipi mulus bayi mungilnya. Syukurlah anak yang ia lahir kan tanpa ayah itu sehat dan semakin berat tubuhnya.

Baby Livia sudah berusia empat bulan. Dan uang tabungan dari ayah anak itu sudah ludes untuk keperluan sehari-hari mereka selama Baby Livia masih dalam kandungan, terlebih biaya melahirkan juga tidak sedikit.

Mau tidak mau, Lily juga harus bekerja demi bisa melanjutkan hidupnya bersama sang buah hati.

Lily memutuskan untuk merawat Baby Livia secara mandiri. Sebab ayah dari Baby Livia tak mau bertanggung jawab menikahinya.

Tepatnya satu tahun lalu. Di London Inggris. Lily mendatangi kelab malam yang cukup elit. Ia terpaksa harus masuk ke dalam sini demi menemui pemuda tampan yang dua bulan lalu tidur bersamanya.

Kelap-kelip lampu temaram menyambut netra kecoklatan miliknya. Lily asli warga Indonesia, Lily berada di negara ini pun karena beasiswa khusus dari yayasan panti asuhan tempat dirinya tinggal.

Hari kelulusan yang seharusnya membuatnya bahagia, ia justru menerima kenyataan pahit tentang berita kehamilannya.

Di sepanjang perjalanan. Tak ada satu pun bule laki-laki yang melirik kan mata genit, Lily bukan wanita yang menarik. Lilyana Bachir hanya gadis biasa. Bahkan dandanannya pun terkesan seperti pelayan toko pinggiran.

Setelah berkeliling bar, akhirnya mata sendu Lily menangkap sosok tampan yang sedari tadi ia cari. Alex duduk pada kursi bartender. Tertawa tawa bag manusia yang tak memiliki secuil pun dosa.

Berwajah gamang Lily mendekat, ia paham Alex tak mungkin senang dengan kedatangan dirinya. Dua bulan saat mereka tidur bersama, Alex berujar sinis.

Kau hanya wanita taruhan Lily cupu, kenapa juga kau harus menjebak ku dengan cinta satu malam hmm? Aku tidak berniat tidur bersama wanita seperti mu.

Saat itu Lily mengeluarkan kaca-kaca di matanya. Tak menyangka sama sekali naas ini terjadi padanya.

Jadi rupanya, di mata Alex ia hanya wanita taruhan saja. Setelah berhasil mendapatkan simpatik dari gadis yang terkenal paling cupu di kampusnya, Alex menang dan pergi.

Padahal, saat Alex menidurinya di gudang kampus, Lily yakin Alex tak mabuk sama sekali.

"Alex." Lily memanggil pemuda tampan yang masih duduk di kursi bartender.

Alex menoleh, dan senyum mencemooh ia sungging kan. Mungkin sudah tak heran melihat gadis mengejarnya. Alex memang terkenal playboy. "Hmm?"

Lily mendekat gamang. "Lex, I'am pregnant." Aku hamil. Berharap Alex berempati padanya. Nanar ia berujar tanpa mau basa basi.

Bicara soal percakapan sehari-hari mereka, tentu saja berbahasa Inggris.

Alex terdiam sejenak, tapi ia yakin, cepat atau lambat kabar ini akan terdengar setelah khilaf meniduri gadis cupu itu.

Ini memang bukan yang pertama kalinya Alex menjalin hubungan dengan wanita. Tapi meniduri, seingat Alex baru pertama kalinya. Bukan karena cinta, melainkan khilaf saja.

Tak mau lelah berpikir, Alex kemudian meraih sebuah dompet hitam dari saku belakang celananya. Ia ambil kartu kredit no limit lantas menyodorkannya.

"Pakai kartu kredit ini. Beli semua yang kau mau termasuk biaya abo-rsi mu."

"Abo-rsi?" Lily terperanjat. Lily tak habis pikir, Alex tega menyuruhnya abo-rsi setelah dirinya mengandung anaknya.

Tunggu. Ngomong-ngomong berapa wanita yang Alex suruh abo-rsi? Lily bergidik ngeri membayangkan nya. Apakah pantas calon anaknya mengenal ayah dengan kualitas seperti itu?

Segera Lily berputar haluan, ia kembali melengos dari hadapan laki-laki tak bertanggung jawab itu tanpa sepatah lagi pun kata.

Alex yang bingung, ia meraih lengan gadis itu untuk dihentikan langkahnya. "Mau ke mana hmm?"

"Pulang."

Alex meraih tangan Lily. Lalu meletakkan kartu kreditnya di sana. "Take this with you." Bawa ini bersama mu.

Lily menggeleng. "No, thank you." Tidak, terima kasih. Lirihnya.

Alex mengernyit. "Do I have to marry you? Jadi apa aku harus menikahi mu, begitu?

"Not." Tidak.

"Don't make me angry! Take this with you." Jangan membuat ku marah! Bawa ini bersama mu! Alex memaksa Lily menerima kartu kreditnya.

Setelah cukup lama terdiam, kembali Lily berpikir realistis. Jika tidak dinikahi, setidaknya uang bisa membeli segala keperluannya.

"Thank you!" Terima kasih. Lily menerima dan pergi dari hadapan Alex.

Tak ada percakapan lagi setelah hari itu. Lily membelanjakan kartu kredit tersebut banyak perhiasan. Dengan tujuan supaya bisa di jual kembali ketika ia memerlukan uang cash.

Lily wanita yang kuat, meski tidak terlalu cantik, Lily tak pernah mau memohon pada laki-laki.

Sebelumnya ia menyerahkan diri pada Alex hanya karena ia telah lama menaruh hati pada pemuda paling tampan di kampusnya itu.

Lily hanya akan mengatakan satu kali. Jika Alex tidak mau, Lily bertekad hidup sendiri dengan segala konsekuensi

Lily terbiasa mandiri, sedari kecil panti asuhan tempatnya bermain. Tak ada waktu untuk menangis, Lily harus bertahan dengan segala sesuatu sekuat hati.

"Bhip bhip bhip." Suara celotehan Baby Livia membuyar lamunannya. Lily tersenyum menatap wajah cantik putrinya.

Tak seperti dirinya yang standar pabrik, Livia di lahir kan dengan mata ber iris biru. Dan kecantikan paras yang luar biasa. Livia sangat mirip ayah biologisnya.

"Kamu sudah rapi Ly." Mitha baru terbangun setelah mendengar celotehan Baby Livia. Ia juga terbangun karena aroma candu yang menguar dari tubuh mungil bayi itu.

Lily sudah rapi dengan busana formal miliknya. Hari ini juga Lily akan mulai masuk kerja. Tak perlu berpikir sampai satu Minggu, Lily butuh banyak uang untuk bayi cantiknya.

"Iya, aku titip Livia ya. Stok ASI nya ada di kulkas. Sebelum aku bisa membayar baby sitter, mungkin kamu akan kerepotan." Kata Lily.

Mitha menyengir. "Santai lagi. Kayak sama siapa aja. Kamu berangkat gih. Aku jagain Livia kok. Kamu kan tahu, Om Rodeo cuma mau ketemu pas malem doang."

"Terima kasih banyak Sayang." Lagi dan lagi Lily memeluk sahabatnya. Ia kemudian menciumi seluruh wajah Baby Livia sebelum pergi dari apartemen milik Mitha.

Pagi ini Lily mengenakan pakaian pilihan Mitha. Tak hanya cantik, Mitha juga fashionable. Mitha sendiri yang memilihkan busana itu untuk hari pertamanya bekerja.

Rok span putih gading di atas lutut, blouse merah muda dengan aksen menawan tersemat di bagian dadanya, sepatu heels hitam, lalu tas kantor hitam yang tidak terlalu mencolok modelnya.

Lilyana menaiki transportasi umum untuk sampai ke perusahaan tempat dirinya bekerja.

Dalam hati selalu tercetus doa. Semoga lancar tanpa halangan sampai saatnya Alex lulus kuliah, dia sudah memiliki banyak tabungan dan membuka sendiri usahanya.

...Terima kasih dukungannya temen-temen kesayangan, jangan lupa tap love, dan like untuk mendukung karya ini....

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

aku baru baca novel ini suka sama lily yang tangguh dan g cengeng

2025-01-03

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Good...kamu harus kuat Lily ....bagus sekali pemikiranmu...👏👏👏👏👍👍👍👍

2025-03-01

0

Wahyu Kasep

Wahyu Kasep

nikah itu ribet aku se jalan depan mu 😊 ly

2024-12-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!