Derap langkah kaki besar Dhyrga Miller memasuki ruangan minim cahaya. Ruangan dengan satu lampu yang hanya menyorot satu spot saja.
Di bawah lampu gantung itu, Axel tengah berkutat mengayun-ayunkan sebilah pedang panjang miliknya. Pakaian khas hitam-hitam pun ia kenakan tanpa alas di kakinya.
Buliran keringat membasahi setiap lekukan wajah tampannya. Hantaman pedang miliknya membelah angin-angin tak kasat mata.
Desiran bebunyian yang tercipta terdengar begitu kerap. Suara teriakan Axel pun ikut mengiringi setiap gerakan benda tajam nan panjang itu.
Tak pelak, Axel memang menyukai seni bela diri bersenjata tradisional, seperti pedang dan sebagainya.
"Huaaaa!"
...Wuuuugghhh......
^^^Klenting...^^^
Bilahan pedang Axel terhempas serampangan. Pemuda berparas tampan itu tumbang di atas matras khusus miliknya. Terkapar ia di bawah lampu gantung tersebut.
Dhyrga tahu betul, bagaimana perilaku putra keduanya saat pemuda sedingin es itu tengah dirundung masalah.
Dhyrga berhenti langkah tepat di sisi matras tipis itu. Kedua tangannya tercekal di belakang punggung. Ia berdiri dengan posisi tegak sempurna, menatap sang putra Ter cinta.
"Kamu baik-baik saja?"
Tak lama terdengar kekehan kecil, Axel menolehkan kepalanya, pandangan yang semula terarah lurus pada ujung cahaya kini beralih menatap lenggang wajah damai sang ayah.
"Aku ditolak." Ujarnya. Bersamaan dengan itu, tersungging pula pahatan mencibir di bibirnya.
Dhyrga terkekeh. "Lily?"
Axel bangkit, ia duduk dengan satu kaki lurus sementara satunya lagi tertekuk. "Apa masuk akal menolak perasaan laki-laki hanya karena status sosial?"
"Menurut Daddy, apa aku terlalu sempurna untuknya?"
"Apa ada institusi yang membatasi ruang gerak hati laki-laki sukses, tampan, dan kaya raya seperti ku?
"Kalau ada, siapa pencetusnya?"
Pertanyaan demi pertanyaan kritis telah Axel rilis. Lantas, Dhyrga sendiri tampak melengkungkan bibirnya. "Jadi putraku patah hati?"
"Pertama kalinya aku menyukai perempuan, dan mungkin perasaan ini di mulai sudah sejak pandangan pertama, kesan awal Axel melihatnya, Lily cukup berbeda dari kebanyakan wanita di luar sana. Dia unik, sederhana, apa adanya, peduli, terlebih dia sangat bertanggung jawab, entah dengan pekerjaan atau pun putrinya. Aku jatuh cinta Daddy. Tapi dia menolak ku." Lirih Axel.
Dhyrga tersenyum mendengar rentetan kata pengakuan ketulusan seorang Axel. Cukup langka, karena ini untuk yang pertama kalinya.
"Mungkin belum," Sahut Dhyrga.
"Aku menciut." Axel berucap dengan nada serendah mungkin.
"Menolak bukan berarti dia tidak menyukai mu Axel. Wanita yang pernah mengalami trauma masa lalu akan lebih sulit diyakinkan. Sekarang coba kita pikirkan kemungkinan paling menyeramkan. Mungkin saja Livia hasil dari perkosaan, atau mungkin lebih parah dari itu. Jadi sangat wajar kalau Lily masih trauma membuka hatinya."
Mendengar kata demi kata ayahnya. Entah kenapa Axel seperti memiliki keberanian kembali. Bukankah itu masuk akal?
"Usaha lebih keras lagi." Telapak tangan Dhyrga mengusap pucuk kepala putranya. "Daddy merestui mu." Katanya.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Hari demi hari berganti. Minggu depan telah berubah status menjadi satu minggu yang lalu. Bulan pun begitu. Semua berjalan seperti biasanya.
Sepuluh bulan sudah Livia mengarungi fana nya dunia. Tubuhnya semakin berat, semakin pintar, bahkan sudah sangat jelas saat bicara.
"Mama, mamam, susu." Livia duduk di kursi makan khususnya. Ada Nina dan Mitha juga yang melingkari meja makan, mereka sudah bersiap untuk makan malam bersama.
"Baby Livia mamam dulu."
Lily tersenyum sembari menyodorkan semangkuk bubur nasi yang sudah sedikit kasar pada Livia, dilengkapi dengan sayuran dan daging untuk kuahnya.
Nina yang membantu anak asuhnya makan.
Sudah kelaparan, Mitha pun ikut meraih piring, sendok, nasi dan lauk pauk. Kening sedikit terkerut tipis melihat banyaknya menu yang terhampar di meja bundar.
"Kok kamu masak segini banyak Ly? Mau ada yang datang?" Tanya Mitha.
Lily menggeleng. "Bukan mau datang. Tapi aku yang mau bawa masakan masakan ini ke lantai atas." Jawabnya seraya memindahkan masakannya ke dalam kotak.
"Lantai atas?"
Lily mengangguk. "Hari ini Pak Axel pindah rumah. Dia menempati penthouse di gedung ini. Terus tadi siang dia kasih aku banyak bahan makanan buat makan malamnya juga."
"Oh, pantesan," Mitha manggut-manggut. "Tapi bagus deh, biar kalian makin deket. Livia juga bisa main-main kalo lagi gabut."
"Kamu yakin belum mau menerima cintanya? Aku lihat seniat itu Axel jaga kamu Ly." Tambah Mitha.
Lily menghela. "Sudah berapa kali aku ngomong. Aku nggak mungkin menerimanya. Aku sama Livia mau pergi setelah punya cukup uang." Katanya.
"Uang kamu sudah cukup Ly. Kamu sadar nggak, kalo alasan kamu masih bekerja di perusahaan MC bukan karena uang, melainkan Axel." Sanggah Mitha.
"Mitha, please."
"Ya sudah lah. Aku males ikut campur terus. Sekarang terserah apa kata mu deh." Mitha merengut.
Lily menghela pelan. Ia lantas mengangkat satu set kotak makannya untuk di bawa keluar dari unit apartemen Mitha.
Sebelumnya Lily juga sudah memastikan Livia, Nina dan Mitha makan malam dengan aman dan nyaman.
Akses khusus sudah Lily kantongi. Dengan menenteng tas berisikan makanan Lily menaiki lift untuk bisa sampai ke lantai paling atas gedung ini.
Ting...
Tak terasa, kini raga Lily sudah berpindah ke lantai atas. Segera Lily memasuki hunian mewah milik sang CEO.
"Malam Pak." Terlihat, Axel terduduk lemah pada sofa ruang tamu. Mungkin Axel sudah sangat lapar.
Gegas Lily mengayunkan langkah menuju dapur, demi menyiapkan makan malam Axel dengan piring-piring cantik.
Axel beralih duduk pada kursi makan, sebelah tangannya menyangga dagu, lekat sekali ia menatap Lily berkutat dengan masakan- masakan lezat.
"Terima kasih." Axel tersenyum saat Lily menyodorkan piring padanya.
"Sama-sama." Baru saja Lily beringsut menjauh Axel kembali meraih pinggang ramping miliknya. "Ly."
"Hmm?" Tidak ada protes dari Lily. Sebab meski mulut menepis, sejatinya ada rasa nyaman saat bersama laki-laki itu.
"Kamu temani aku makan di sini."
Lily menggeleng. "Livia gimana Pak?"
"Ini perintah." Kata Axel. "Lagian sudah ku bilang, jangan panggil Pak di luar jam kerja. Pilihan sebutannya cuma ada tiga, Axel, Abang, atau Sayang."
Lily terdiam datar. Jujur ia bahagia mendapat perlakuan manis Axel, namun entah mengapa ia tak mampu menunjukkan rasa itu pada dunia.
Axel paham, ini bagian dari dampak traumatis yang Lily alami. Tak mau ambil pusing, Axel memulai ritual makan malamnya setelah Lily duduk di sisinya.
Brugh...
Suara gaduh terdengar dari sofa tamu. Ada ornamen penyekat yang memisahkan kedua ruangan itu, mereka tak bisa melihat siapa manusia yang baru saja memasuki hunian mewah ini.
"Siapa di luar?" Tanya Lily.
Axel meneguk minuman. "Mungkin Kak Cheryl. Dia bilang Ezra mau datang ke sini sekalian besuk Livia." Katanya.
"Oya," Lily sumringah. "Kalo gitu aku ajak mereka makan malam juga yah?"
"Hmm."
Melihat anggukan kepala Axel, Lily beranjak dari kursinya, langkah kaki ia ayunkan secara gontai menuju ruang tamu. Bibir tersenyum, bersiap menyambut kedatangan Ezra dan Cheryl.
"Stop. You're drunk Angel." Cukup. Kamu mabuk Angel.
Degup...
Lily terhenyak mendapati pergumulan sofa sepasang kekasih. Lily shock, waktu seakan terhenti, dunia seolah tak bersuara, raga ramping Lily seketika melunglai.
"Where are you taking me? I want you to take me to your parents' main house Lex." Kemana kau membawa ku? Aku mau ke rumah utama orang tua mu Lex.
Wanita cantik berpakaian seksi itu menindih tubuh pria yang sangat familiar di dalam ingatan Lily.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
yeni NurFitriah
Waduh Alek datang,gimana reaksinya kalau ketemu Lily,akan kah Axel tahu kalau Alex yg bikin Lily trauma.?
2024-11-01
0
Yuyu sri Rahayu
hadeeh gimana nich ketemu alek yang bikin lily trauma dan apakah alek akan mengenali lily
2025-01-04
0
Ana
hadeeeh kenapa harus bertemu alex
2024-11-11
0