Bisakah kita berteman?
Masih di Masion Haditama
Virgo segera berdiri, meninggalkan mereka tanpa bersuara.
Mira tak memperdulikan suaminya yang pergi tanpa sepatah kata pun. Mira pun langsung mengajak Claudya bicara tentang rencana perjodohan Adnan.
"Clau, bagaimana menurutmu jika tante menjodohkanmu dengan Adnan?" Ucap Mira, yang ingin mrnjodohkan Adnan dengan Claudya.
"Apa!! Tentu saja Tante. Aku dengan sukarela akan menerima perjodohan itu." Jawab Claudya, sumringah.
"Benarkah, tante senang jika kamu mau!" Mira, tersenyum.
"Apakah Adnan, sudah setuju? Tante!" Tanya Claudya, karena sejak dulu Adnan sangat susah untuk didekati.
"Pokoknya, kamu tenang saja. Tante akan bicara dengannya, dan dia pasti setuju." Mira yakin bahwa Adnan akan setuju dijodohkan dengan Claudya.
Kenapa tidak menurut Mira, Claudya adalah wanita sukses, seorang model, dan cantik.
......................
Perusahaan Ditama Group
Reina sedang berada di ruangan Adnan. Dia melihat seisi ruangan itu, begitu besar dan mewah menurutnya. Netra Reina tertuju pada kursi kebesaran Adnan. 'Ada cctv 'kah di sini' tanya Reina pada dirinya sendiri. Sambil melihat-lihat kearah atas ruangan.
"Ah, ternyata ada!" Gumam Reina. "Eh, tapi kok nggak nyala! Kayak yang lain." Gumamnya lagi penasaran.
"Rusak kali ya!" Ucap Reina sambil terkekeh. Dia memilki rencana, yang bisa di bilang sedikit usil. Tapi bukan untuk Adnan.
Reina maju menuju kursi kebesaran yang biasa Adnan duduki. Tanpa rasa ragu Reina duduk di kursi itu, sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan sambil terkekeh.
Dengan santai Reina duduk dan bersandar di kursi Adnan. Tiba-tiba mucul sesuatu di kepalanya.
Reina duduk tegap di kursi, lalu dengan ekspresi yang dibuat- buat. Reina mepraktekan gaya Adnan ketika bicara padanya tadi.
"Kamu! Pergi keruanganku sekarang. Jangan keluar sampai aku kembali!" Aju Reina sambil terkekeh geli saat menirukan suara Adnan.
"Eh, tapi gimana nasibku sekarang." Gumam Reina. Menyadari bahwa dia sudah melakukan kesalahan.
"Apa aku minta ampun saja ya!" Reina memikirkan cara agar dia tidak sampai di pecat. "Ahh..! Kenapa lagi, aku tuh cerobo bamget sih. Dasar gobl*k" marah Reina kepada diri sendiri.
"Huu..huu..." Reina mengaduhkan nasibnya dengan wajahnya yang menempel di atas meja dan kefua tangan yang di rentangkan. Seperti orang yang telah berputus asa.
"Ayah, tolong aku! Dari si bos yang kaya singa kelaparan itu." Gumam Reina.
Reina memang seperti itu. Saat kecil Reina selalu mengaduh pada ayahnya, jika ada masalah dan sulit di selesaikan, dia lebih suka bermanja ayahnya dari pada ibunya sendiri. Sampai dia berpikir jika ayahnya adalah pria pertama yang ada di hatinya.
Dari arah luar, terdengar suara kaki yang melangkah mendekat ke ruangan itu. "Apakah itu mereka!" Batin Reina. Segera dia bangkit berdiri dari kursi dan berpindah ke sofa. "Ahh, tidak-tidak." Reina kembali berdiri berpindah dari Sofa, dan berdiri di balik pintu.
Ceklek
"Auuwh" Reina meringis ketika pintu terbuka dan pintu itu pun mengenai jidatnya.
"Kau, kenapa kau selalu ceroboh!" Umpat Adnan yang melihat Reina memegang jidat dan meringis.
"Tidak apa-apa Tuan!!" Jawab Reina dengan menahan rasa sakit. Adnan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Reina.
Adnan masuk dan disusul oleh asistennya bersama Viko. Adnan langsung saja menuju kursinya dan duduk di sana sementara Viko dan Felix, duduk di sofa.
"Kau kemari!" Pinta Adnan.
"Saya Tuan?" Tanya Reina, saat melihat kedua lelaki yang bergeming di tempat duduk masing-masing.
"Menurutmu?" Jawab Adnan.
"Maaf Tuan." Reina segera melangkah menuju depan meja Adnan.
"Maaf, Tuan! Tapi kejadian tadi itu bukan sepenuhnya kesalahan Reina, namu ndia hanya membatuku saja." Selah Viko tiba-tiba berdiri mendekat ka arah Adnan.
"Apa aku memintamu untuk bicara?" Adnan menatap Viko dengan tatapan yang tidak suka dengan sikap menyelah Viko.
"Maaf!!" Jawab Viko.
Adnan begitu tegas dengan sesuatu yang terjadi di perusahaannya. Walaupun Adnan dan Viko adalah kakak beradik, namun Adnan Tidak membiarkan Viko semena-mena, di perusahaan. Saat Viko melakukan kesalahan pun Adnan akan memberikan peringatan bahkan hukuman jika Viko melakukannya.
"Jika tidak ada yang di perlukan lagi, sebaiknya kalian berdua kembali keruangan kalian!" Seru Adnan, pada Viko dan Felix. Mereka tahu bahwa Adnan tidak bisa dibantah saat berada di perusahaan. Mereka pun segera angkat kaki dari ruangan itu.
"Hei!!!" Adanan Berteriak saat melihat Reina mengekori Viko dan Felix dari belakang. "Apa kau mendengar ucapanku?" Tanya Adnan ketus, saat Reina berbalik menghadapnya.
"Maaf Tuan! Tadi anda berkata kembali ke ruangan!" Jawab Reina.
"Bukan kau! Tapi mereka. Apa mengatakan 'Kalian berdua' bukan bertiga." Jelasnya dengan kesal.
Reina menundukan kepalanya seraya meminta maaf. "Maaf Tuan!!" Ujar Reina.
Adnan berjalan menuju sofa yang berada di ruagannya. "Duduk!" Pinta Adnan.
Reina segera duduk, agar tak membuat bosnya itu kesal.
"Apa kau tau kesalahanmu tadi?" Tanya Adnan.
"Iya, Tuan! Untuk itu saya minta maaf. Sungguh saya tidak sengaja melakukannya." Ungkap Reina.
"Jelaskan dengan detail kesalahanmu, dan berikan alasan!" Jawab Adnan.
"Maksudnya, Tuan?" Tanya Reina kebingungan.
Adnan, menghembuskan nafas kasar, menatap Reina yang berdiri di depannya.
"Ba-baik Tuan!" Ucap Reina lagi gugup.
"Pertama, saya menerobos masuk di ruangan miting anda. Alasannya, karna saya tau hari ini ada miting dan Tuan Viko meninggalkan laptopnya di meja saya tadi. Yang ke-2," Ucapan Reina terputus karna mendengar suara Adnan.
"Apa kau dan Viko saling mengenal?" Tanya Adnan menyelah.
"Haa!! I-iya pak. Kami berteman." Jawab Reina.
"Lanjutkan," pinta Adnan.
"Emp... "
"Kenapa?"
"Saya boleh bertanya, pak?" Ujar Reina sambil mencondongkan badannya ke depan dengan kedua tangan ditumpuhkan di atas meja. Adnan memicingkan matanya menatap kearah Reina. "Ma-maaf pak!" Reina sadar atas apa yang di lakukannya.
"Katakan, pertanyaanmu?" Adnan memberikan ijin Reina untuk bertanya padanya.
"Ahh, sungguh 'kah?" Tanya Reina tersenyum sumringah bagai mendapatkan maskot, hanya karena di beri ijin untuk bertanya pada bosnya.
"Sebelumnya maaf, Tuan." Reina agak ragu dengan pertanyaannya, namun tetap dia lanjutkan. "Apa Tuan, tidak marah saya berteman dengan Tuan Viko.
"Apa!! Apa hanya itu pertanyaanmu?" Ketus Adnan.
Reina meringis dan menunduk mendapat bentakan dari Adnan. "Maaf Tuan. Saya bertanya seperti itu, karna saya tau Tuan Viko adalah adik anda." Jelas Reina lagi.
"Apa kau dan Viko begitu dekat?" Tanya Adnan lirih.
"Ahh, tidak Tuan." Jawabnya cepat. "Kami hanya berteman, tidak ada hubungan apa-apa!"
"Kalau begitu, bisakah kita berteman?" Lanjut Adnan lagi.
"Haa. Jangan bercanda Tuan. Lagi pula, saya berteman punya tim, dan harus dengan persujuan mereka juga." Jelas Reina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments