Sabtu, 17 desember 2022
Pagi ini Kenli tidak bekerja, anak-anak pun tidak sekolah. Fanti sudah bangun, membuat teh untuknya sendiri, seperti pagi-pagi biasanya.
Kenli sedang memperbaiki mainan mobil-mobilan milik Rici di depan pintu belakang. Fanti mengajak Kesyi untuk bersih-bersih rumah.
Fanti membuka penanak, nasi yang semalam masih banyak dan sudah di hangatkan. Penanak mereka memang sudah tidak baik lagi, hanya dapat memasak nasi saja tapi sudah tidak menghangat jika nasi sudah matang. Jika nasi sudah dingin maka tombol on di penanak maka harus di tekan lagi agar nasi menjadi hangat, walaupun bagian baqah nasi akan sedikit hangus, tapi hanya itu cara supaya nasinya dapat di panaskan lagi.
Fanti mengeluarkan Tahu dan Tempe yang di beli Kenli semalam. Fanti ingin memasaknya tapi maunya di masak dengan ikan supaya lebih, dan memasak hanya sekali, tidak berulang-ulang.
"Beli ikan dulu, mau di goreng sama Tahu dan Tempenya." Ujarnya pada Kenli yang sedang mengotak-atik mainan mobil-mobilan Rici.
Kenli tak menjawab iya, namun juga tak mengatakan tidak. Fanti berpikir, mungkin dia akan pergi setelah selesai dengan mobil-mobilannya.
Pagi ini Kenli tidak bekerja, anak-anak pun tidak sekolah. Fanti sudah bangun, membuat teh untuknya sendiri, seperti pagi-pagi biasanya.
Kenli sedang memperbaiki mainan mobil-mobilan milik Rici di depan pintu belakang. Fanti mengajak Kesyi untuk bersih-bersih rumah.
Fanti membuka penanak, nasi yang semalam masih banyak dan sudah di hangatkan. Penanak mereka memang sudah tidak baik lagi, hanya dapat memasak nasi saja tapi sudah tidak menghangat jika nasi sudah matang. Jika nasi sudah dingin maka tombol on di penanak maka harus di tekan lagi agar nasi menjadi hangat, walaupun bagian baqah nasi akan sedikit hangus, tapi hanya itu cara supaya nasinya dapat di panaskan lagi.
Fanti mengeluarkan Tahu dan Tempe yang di beli Kenli semalam. Fanti ingin memasaknya tapi maunya di masak dengan ikan supaya lebih, dan memasak hanya sekali, tidak berulang-ulang.
"Beli ikan dulu, mau di goreng sama Tahu dan Tempenya." Ujarnya pada Kenli yang sedang mengotak-atik mainan mobil-mobilan Rici.
Kenli tak menjawab iya, namun juga tak mengatakan tidak. Fanti berpikir, mungkin dia akan pergi setelah selesai dengan mobil-mobilannya.
Fanti meneruskan pekerjaannya, memotong-motong Tahu dan Tempe menjadi kecil-kecil kemudian menggorengnya. Seraya sedang menggoreng Fanti membuat bumbu untuk sambal saus ikan, Tahu, dan Tempe yang akan sudah di goreng nanti.
Kenli telah berpindah posisi di teras depan karena Kesyi yang sedang bersih-bersih di dapur. Selesai menggoreng Tempe dan Tahu, Fanti kembali pada Kenli dengan mempertanyakan ikan yang akan dibelinya.
"Tempe dan Tahu sudah masak, tinggal ikannya saja." Ujar Fanti.
"Buat apa ikan?" Tanya Kenli dengan dengan wajah yang menunjukan tidak senang.
"Jadi, kalau tidak mau beli ikan. Mau di makan seperti itu saja Tempe sama Tahunya." Ucap Fanti ketus.
Fanti kembali ke dapur dengan wajah yang tidak senang. Meneruskan membuat sambal untuk Tahu dan Tempe yang di gorengnya.
Setelah selesai, Kenli sedang duduk di sofa ruang tamu. Fanti yang sudah tidak tahan akhirnya mengekuarkan segala unek-uneknya pada Kenli.
"Kamu itu marah hanya dengan hal sepeleh, kekanak-kanakan sekali sifatmu itu. Aku tau kamu marah sejak semalam karena uang yang kurang saat pergi berbelanja, sampai ikan pun tak di beli." Ujar Fanti dengan nada marah, namun suara pelan. "Itu adalah sifat kekanak-kanakan, kamu bisa bilang uangnya kurang. Tapi kamu hanya diam tak mau mengatakan, yqng kamu mau itu semua kesalahan jatuh sama aku, dan kamu tidak salah sedikit pun." Lanjut Fanti dengan mata berkaca-kaca namun masih di tahan. "Mulai sekarang ambillah semua uang ini, dan kamu atur semua pengeluaran rumah tangga. Kamu tau, aku pusing mengatur keuangan yang tak mencukupi, kamu tidak punya pekerjaan tetap, Kamu juga tidak mau mencari pekerjaan, hanya menunggu saja di rumah kalau ada yang ngajak kerja baru kamu pergi, kalau tidak, ya tidak kerja." Kenli hanya diam tanpa membantah ocehan Fanti. Entah dia mengerti atau tidak apa yang Fanti katakan.
"Kamu juga harus tau, kalau ini sudah hari sabtu. Jadi uang harus dihemat sampai kamu di ajak kerja lagi. Besok minggu, hari senin pun belum tentu kamu kerja, kalau tidak sampai kapan kita harus bertahan dengan uang yang tidak seberapa itu lagi." Ujar Fanti lagi. Karena tidak respon dari Kenli, Fanti mengakhiri ocehannya.
Setelah lelah mengoceh Fanti menyuruh semua anak-anak makan termasuk Rici yang sudah diambilkan makanan. Fanti pun menyusul mereka lalu makan bersama, walaupun makan mereka terpisah-pisah tetap saja makan bersama bagi mereka, karena waktu yang sama.
"Kes, ajak papa makan!!" Pinta Fanti.
"Dafa saja. Aku mau ambil makan dulu." Tolak Kesyi, karena sebenarnya dia kurang enak karena orangtuanya yang sedang bertengkar.
Fanti kembali ke depan ruang tamu dengan makanan di piringnya, kemudian menyuruh Dafa untuk mengajak Kenli makan. "Daf, ajak papa makan!!" Pinta Fanti.
"Emang papa di mana?" Tanya Dafa.
"Di kamar!" Jawab Kesyi cepat.
Dafa pun membangunkan Kenli di kamar depan untuk makan.
"Pa, makan. Makanan sudah masak!" Pinta Dafa.
"Makanlah dulu. Papa akan makan nanti." Jawab Kenli yang masih tiduran di ranjang.
Dafa pun mengambil makanannya sendiri. Di usia mereka yang seperti Dafa pun yang masih duduk di bangku sekolah Sd, mereka tidak bergabtung lagi pada Fanti. Saat makan mereka akan menyendok makanannya sendiri.
Fanti memang mengajarkan mereka agar tidak hidup dwngan ketergantungan, agar mereka tak merasa susah saat Fanti tidak ada. Fanti sering kali bekerja paruh waktu, dan di saat itu anak-anak akan ditinggal di rumah.
******
Sore hari di akhir pekan ini, Fanti ada kegiatan ibu-ibu PKK, pukul lima sore Fanti pergi. Tempatnya tidak jauh karena hanya di komplex, kira-kira 200 meter dari rumahnya.
Fanti dan Kenli hingga sore menjelang, hubungan mereka masih saja menegang. Mereka hanya bicara seperlunya saja, tidak ada panjang lebar atau canda tawa seperti biasanya.
Mereka berdua memang sering bercanda sampai tawa mereka terdengar sampai di tetangga-tetangga sebelah rumah, dan itu membuat mereka berpikir kalau hubungan keduanya sangat harmonis. Mereka tidak akan tau saat keduanya saling bertengkar, karena tidak akan ada suara yang akan terdengar saat mereka bertengkar. Tapi jika ada tamu yang datang ke rumah mereka akan bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
Hingga malam ini pun, Kenli dan Fanti masih saling diam tanpa saling menegur. Kenli dan Dafa tidur di kamar depan milik Kesyi, sedangkan Kesyi tidur bersama Fanti dan Rici di kasur depan tv.
.
.
.
.
By... By...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments