Bab.2 Dia suamiku & dan dudamu

Promo novel

.

.

.

T**ok...tok...tok...tok...

"Masuk."

C**eklek

"Kenapa denganmu, apa ada sesuatu di wajah saya? Sudahlah, Saya tau wajah saya tampan, jadi tidak perlu menatapku seperti itu." Jawab Tansel narsis.

"Maaf ya, Tuan. Saya cuma mau mengantarkan kopinya tuan. Lagian ya, saya menatap Tuan itu bukan karna tampan, tapi saya lihat diwajah Tuan sudah mulai tumbuh keriput, jadi jangan kepedean deh, Tuan." Ucap Tina yang kesal dengan Tansel yang dianggap narsis.

"Haa..." kaget Tansel dengan perkataan Tina.

"Permisi Tuan, saya kembali bekerja dulu." Sambil membunggkukkan badan dan keluar dari ruangan Tansel dengan cengengesan karna melihat wajah Tansel yang kesal padanya.

Ruangan Tansel dan Seno hanya bersebelahan. Ketika Tina keluar dia melihat Sintia yang berdiri di depan ruangan Seno.

"Woy... kesambet loe, ngelamun aja. Udah masuk aja." Tegur Tina.

"Eh.., kagetin aja sih loe, hampir saja gue timpuk lue pakai jurus seribu bayangan." Sintia kaget saat seseorang memegang bahunya. "Na, temenin gue yuk masuk". Ajak Sintia

"Udah, loe masuk aja. Yakin nggak akan terjadi apa-apa, seperti yang di pikiran loe."

"Tapi Na."

"Udah, loe yang yakin dong. Gue slalu ada di pihak loe kok. Gue bantuin ketok pintu ya." Tutur Tina dan mengetuk pintu ruangan Seno.

Tok...tok...tok...tok...

"Masuk." Suara dari dalam ruangan.

"Si-si-ang Tuan. Apa anda memanggil saya?"

Seno menutup laptopnya saat melihat wanita yang dipanggilnya tadi. Dia berjalan kearah sofa, duduk sambil memangku sebelah kakinya.

"Sintia!"

"I-iya Tuan."

"Duduk." Pinta Seno. "Haish, kenapa kau duduk disitu?" Seno menurunkan sebelah kakinya dan meninju angin karna keluguan wanita ini, yg bukan duduk di sofa tapi di lantai.

"Trus, saya harus duduk di mana Tuan?"

"Tuh, duduk di situ." Pinta Seno dengan mengacung jarinya ke arah sofa depannya.

"Oh... bilang dong dari tadi kek."

"Haa..." Seno menganga karna gaya bicaranya.

"Kamu tau," Ucapan Seno terputus saat Sintia menyelahnya.

"Mana saya tau Tuan."

"Ya makannya dengerin dulu, jangan main potong aja." Kesal Seno.

"Oh..."

"Huuu...." Kesal Seno sambil meninju-ninju lengan sofa yg didudukinya.

"Kenapa tuan?" Tanya Sintia bingung.

"Akh... kamu tau, stop!" Sambil mengangkat lima jarinya saat Sintia akan bersuara. "Jangan bicara, biar saya selesaikan." Sintia hanya mengangguk.

"Saya punya penawaran buat kamu dan pilihannya cuma satu." Ujar Seno. Tiba-tiba Sintia melupakan ketegangannya tadi sebelum masuk.

"Ya Tuan, itu namanya bukan penawaran, tapi pemaksaan." Ucap Sintia.

"Saya tidak memaksa." Timpal Seno.

"Yeh.., Tuan dimana-mana itu orang kalo mau ngasih penawaran itu setidaknya pilihanya lebih dari satu." Bantah Sintia.

"Tidak, disini pilihan kamu cuma satu, yaitu setuju..." Ucap Seno lagi.

"Ha.., sudalah. Terus pilihan saya apa?" tanya Sintia.

"Kamu harus ikut dengan saya dan menjadi calon istri saya." Jawab Seno sambil tersenyum.

"Apaa..." Pekik Sintia kaget.

"Husst..." Seno berdiri sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Sintia. Saling menatap dari mata kemata seakan terpesona dengan pandangan masing-masing. 'T**ik tok tik tok' suara jam dinding, tak berapa lama kemudian mereka tersadar.

"Eh..," Sintia dan Seno menjadi salah tingkah.

"Duduk!" Pinta Seno.

Sintia duduk dan sambil menggosok-gosok telinganya. "Tuan, saya salah dengar ya, ini kuping minta operasi kali?"

"Tidak ada masalah dengan pendengaranmu, itu benar dan kamu harus setuju." Jawab Seno membenarkan.

'Duh gimana nih, gue harus cari alasan.' Batin Sintia.

"Tapi Tuan, saya sudah punya pacar." Ucap Sintia.

"Belum nikahkan?" Selah Seno.

"Haa.., B-belum Tuan."

"Ya sudah, sekarang kamu calon istri saya." Ucap Seno tak mau di bantah.

"Yaak.., Nggak bisa gitu dong Tuan." Sintia berdiri dan berteriak kepada Seno.

"Kok, kamu teriak? Ngak baik sama calon suami begitu, harus sopan." Ujar Seno.

"Haa..." Sintia shock dengan perkataan Seno.

"Tuan, saya nggak mau ya." Sintia menolak.

"Saya sudah bilang pilihan kamu cuma satu, mau nggak mau, suka nggak suka, kamu harus setuju." Pinta Seno.

'Gimana nih. Apa sih, maunya nih orang kok maksa banget? Pasti ada sesuatu!!!' Batin Sintia.

"Haish..." Sintia berdiri dan pamit. "Huu... saya permisi Tuan." Hendak pergi.

Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Seno masuk dalam pelukannya, memegang erat pinggang Sintia dengan tangan kirinya dan tangan kanan mengunci pergerakan Sintia yg hendak memberontak. Mata mereka saling memandang dalam, sepersekian detik kemudian

cup cup cup

Seno mengecup bibir Sintia, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, berpikir agar Sintia akan terbuai dengan perbuatannya tapi tiba-tiba Sintia berontak dan...

Plak....

Suara tamparan menggelegar di ruangan itu. Seno melotot, Sintia menamparnya. Seno merasa tak percaya. 'Wanita ini, dia menamparku.' Batin Seno.

Disisi Sintia, dia merasa sedikit takut dengan apa yang dilakukannya. Ya, dia takut kalau sampai dia di pecat, karna sesungguhnya dia sangat membutuhkan pekerjaannya sekarang, walau gajinya sedikit tapi bisa menghidupi dirinya dan membayar kontrakkan yang dia tinggali sekarang.

"T-Tuan.."

"Maaf!" Selah Seno yang seperti tau apa yang ingin di ucapkan Sintia, melihat raut wajah Sintia yang sedikit ada ketakutan. "Tapi kamu tetep tidak bisa menolak." Lanjut Seno.

"Ha... Tapi Tuan, bagaimana dengan pacar saya?" Karna yang sebenarnya Sintia memang sudah memiliki pacar.

"Masih pacarkan, bukan suami? Putuskan dia! Bilang kamu mau menikah." Jawab seno, yang terdengar seperti perintah.

"Tuan, tapi saya belum siap untuk menikah." Bantah Sintia.

"Sudah saya bilang pilihan kamu cuma satu, SE-TU-JU." Sambil mengeja kata setuju pada Sintia.

"Haish... Tuan, anda tidak tau apa-apa dengan kehidupan saya, dan anda dengan segampang itu mau menjadikan saya calon istri."

"Saya tidak peduli..." Balas Seno.

"Tuan, anda akan menyesal nanti. Kalau menjadikan saya sebagai istri anda." Jelas Sintia.

"Tidak, saya tidak akan menyesal!" Balas Seno, yang menyangka kalau Sintia hanya mencari-cari alasan.

"Apakah sudah selesai Tuan?"

"Hemm.."

"Hemm, apa maksudnya Tuan, Saya tidak mengerti?"

"Iya, sudah selesai. Tapi pulang nanti kembali ke mari dan pulangnya harus dengan saya. Tidak ada penolakan."

"Ya, baiklah." Sintia hanya bisa menerima, karna pria didepannya tidak bisa dibantah.

Sintia keluar, berjalan menyusuri lorong tanpa tau tujuannya. Hatinya galau tidak tahu apa yang harus di lakukan. Rasanya dia ingin lari saja, tapi kemana? tidak ada tujuan.

Bugh

"Ah, maaf Mbak!" Sintia tercengaang saat melihat seorang wanita cantik, tinggi, body aduhai sexy.

"Hey... Jalan pake mata." Bentak wanita itu.

"Maaf Mbak." Jawab sintia sambil menangkup kedua tangan didada.

Tanpa peduli wanita itu berjalan menuju masuk ruangan Seno.

"Dasar Playboy, udah punya kekasih masih mau tambah lagi." Kesal Sintia yang melihat wanita itu masuk keruangan Seno.

"Woy... Napa lue?". Tina menepuk bahu Sintia.

"Eh.. Ngagetin aja sih"

"Lue kenapa? Eh... kok loe lama di ruangan bos besar tadi? loe ngak di apa-apainkan? atau loe lagi yang ngapa-ngapain tuh bos bos besar." Cecar Tina dengan jiwa keponya.

"Eh.. Enak aja!! Fiktor loe. Dan loe kalo nanya itu satu-satu, mulut gue cuma satu kali buat ngejelasinnya. Tapi nanti deh gue cerita sama loe. Pikiran gue sekarang lagi jalan-jalan nggak di tempat nih." Jawab Sintia.

****

Diruangan Seno, dia sedang bertengkar dengan seorang wanita.

"Apa maumu Hanny?" Bentak Seno.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!